
Malam harinya mereka berdua masih ngobrol secara akrab, yang dulunya mereka saling menjauh dan saling tidak mengenal satu sama lain, sekarang kebalikan nya, mereka mengobrol secara akrab. Mereka berdua ngobrol dari hati ke hati.
Saat ini Mahesa menatap dalam mata indah Husna itu, matanya sangat jernih dan banyak cinta untuk nya. Mahesa jadi menyesal telah menyia-nyiakan istri sebaik Husna.
Andai dia bisa memutar waktu mungkin dia tidak akan menyia-nyiakan Husna waktu itu.
"Maaf ya, selama ini saya banyak salah sama kamu terutama saya tidak pernah menganggap kamu, saya terlalu egois untuk menyatakan perasaan saya, saya tidak tau harus berbuat apa-apa untuk menebus kesalahan saya selama ini, atau kamu beri hukuman pada saya agar kamu puas" tutur Mahesa sangat menyesal dengan apa yang telah ia perbuat selama ini pada Husna.
Husna hanya tersenyum sambil mengusap punggung tangan Mahesa itu, lalu ia menatap wajah Mahesa yang penuh penyesalan itu.
"Aku tidak akan memberi kamu hukuman dan asal kamu tau aku sudah memaafkan kamu, melihat kamu menyesal seperti ini saja sudah cukup membuat aku senang, terutama kamu sudah mengungkapkan kebenaran ini di depan semua orang, aku bahagia mas karena kamu mau menganggap aku dari sekian lama aku menanti bahagia itu!" tutur Husna memberikan sebuah kesempatan bagi Mahesa untuk memperbaiki sikap nya.
Mahesa tersenyum karena ia mendapatkan sebuah kesempatan dari Husna, maka kesempatan ini ia pergunakan sangat baik-baik agar ia tidak kehilangan lagi dalam hidupnya.
Selama ini ia merasakan bagaimana kehilangan rasa kepercayaan itu dari Husna untuk nya, maka ia akan berjanji untuk mengubah sikap nya ini.
"Saya akan berjanji akan mengubah sikap saya dan saya akan membahagiakan kamu dengan anak kita!" tutur Mahesa sangat sungguh-sungguh
Husna mengangguk ternyata Mahesa mengunakan kesempatan yang ia berikan itu, inilah yang Husna mau dari dulu, ingin mendapatkan ruang dalam hati Mahesa itu untuk nya.
Ternyata cinta yang tersemat dulu untuk Mahesa masih ada di dalam hatinya itu, bahkan ia tidak bisa menghilangkan rasa itu untuk Mahesa, begitu besar cinta Husna untuk Mahesa.
Kini mereka berdua lagi melihat putranya itu yang lagi tertidur, betapa bahagianya mereka berdua karena memiliki keluarga yang utuh untuk saat ini, berbeda pada saat mereka belum mengungkapkan kebenaran ini di depan orang banyak.
"Sekali lagi terima kasih mas, kamu sudah menerima aku di keluarga ini, terlebih lagi kamu sudah mengakui ku di depan orang banyak, aku sangat senang mas, baru sekali ini aku merasakan kesenangan itu, berjanjilah pada ku mas untuk tidak menyakiti hati ku lagi!" ucap Husna sangat ingin mendapatkan keadilan, cinta yang suci dari suaminya itu.
Mahesa merangkul pundak Husna ia menghela napas panjang, "saya berjanji untuk itu Husna, saya akan membahagiakan kalian, dan berjanjilah kamu pada saya untuk selalu ada buat saya, selama ini saya sangat tersiksa dengan sandiwara yang saya buat sendiri!" ujar Mahesa memeluk Husna dari belakang
Husna mengangguk-angkuk sambil mengusap sudut matanya yang basah.
Sangat lama mereka menyalurkan rasa kerinduan dan rasa yang entah apa yang mereka rasakan itu.
"Apa aku boleh meminta sesuatu pada mu?" tanya Husna sangat ingin mendapatkan jawaban yang sesuai dengan keinginan nya itu.
"Mintalah, saya akan mengabulkan nya untuk mu, sayang!" tutur Mahesa sangat lembut.
"Bisakah kamu mengubah panggilan diri mu itu tidak memanggil saya lagi, aku ingin mendengarkan panggilan yang lain dari kamu, aku tidak suka kamu memanggil diri mu sangat formal kepada ku, aku bukan pengasuh anak mu lagi bukan!" tutur Husna tersenyum sangat manis kepada Mahesa.
Mahesa ikut tersenyum sambil mengangguk.
"Aku akan mengubahnya untuk mu, apakah kamu suka dengan sebutan tadi?" tanya Mahesa
"Sangat suka!" jawab Husna mengusap pipi Mahesa
...
Pagi harinya Husna sudah seperti istri sungguhan untuk Mahesa, pagi ini ia sudah menyiapkan pakaian kerja Mahesa bahkan ia sudah menyiapkan sarapan pagi untuk Mahesa.
Tapi sayangnya Mahesa belum juga bangun padahal jam sudah menunjukkan pukul 06.00 wib. Husna sudah membangunkan Mahesa tadi tapi dia malah tertidur lagi.
Saat ini Husna lagi menyusui putra nya itu karena Ansel juga sudah bangun.
"Bunda akan selalu ada buat kamu karena bunda sudah di anggap oleh ayah kamu, bunda sangat senang sayang, karena kamu bunda di akui oleh ayah kamu di keluarga nya!" curhat Husna pada bayi berusia 9 bulan itu.
"Buna... yah... yeye... Buna...!" celoteh bayi itu seperti nya bayi itu juga merasakan kelengkapan keluarga nya itu.
Selesai juga Husna memandikan putra nya itu, tapi Mahesa masih bergulung di bawah selimut tebal nya itu, Husna geleng-geleng kepada melihat betapa susahnya membangun kan bayi besar nya itu.
Husna meletakkan Ansel di samping Mahesa, putra nya itu memukul-mukul ayahnya untuk membangunkan nya.
"Yah... gun... yah... gun...!" celoteh Ansel itu di telinga ayahnya tentu saja Husna yang mengajarkan pada putra nya itu untuk bersuara di telinga Mahesa.
"Bangun atau aku siram!" ancam Husna karena Mahesa sangat susah untuk di bangunkan.
"Bangun, tadi kata kamu akan berangkat pagi, ini sudah jam setengah tujuh mas, masa setelah sholat subuh kamu langsung tidur lagi, nggak baik untuk kesehatan!" tutur Husna
"Iya!" jawab Mahesa singkat
Ansel putra mereka itu sedang tiduran di dekat ayahnya itu, ia juga ikut-ikutan tidur lagi setelah melihat ayahnya tidur lagi.
"Tuh, Ansel sampai meniru kamu lho!"
Mahesa melihat ke samping ternyata putranya itu lagi tersenyum padanya, "anak ayah ikut bobok juga ya!"
Setelah selesai ia mandi kini ia memasang baju kemeja nya itu, Husna masih di sana bermain dengan anak mereka, setiap kali Husna membereskan tempat tidur nya itu ia selalu di ganggu oleh putra nya itu.
"Sebentar, Ansel jangan ganggu bunda dulu!"
Mahesa dari tadi siap-siap untuk berangkat ke rumah sakit, pagi ini pasien nya akan di operasi jadinya dia sedikit terburu-buru.
"Husna, tolong aku dong!"
"Tolong apa?" tanya Husna
"Tolong masukin alat-alat kedokteran ku itu ke tas aku itu ya, aku buru-buru banget nih!" tutur Mahesa
Husna mengangguk sambil memasukkan alat-alat kedokteran seperti Stetoskop, Termometer, Tensimeter, Senter Medis Oksimeter, Sudip Lidah. Selesai ia memasukkan barang itu kini ia membantu Mahesa yang sedang memasang jas nya, Husna tinggal membersihkan sedikit saja.
"Maaf ya sayang, aku tidak bisa sarapan di sini tapi kamu boleh buatkan aku bekal siang!" ujar Mahesa
"Iya tidak masalah mas!"
Husna pergi ke dapur untuk menyiapkan bekal siang yang di minta Mahesa tadi, Mahesa menunggu Husna di pintu utama sambil mengendong Ansel.
"Bunda... sudah belum?" teriak Mahesa melihat jam di pergelangan tangan nya itu.
Husna terburu-buru menyiapkan bekal itu, kini ia membawakan bekal itu pada Mahesa.
"Makanya apa kata aku, jangan tidur lagi selepas sholat subuh akhirnya kamu buru-buru gini kan!" protes Husna
"Iya maaf besok aku ulang lagi!" tutur Mahesa sambil nyengir lalu ia memberikan Ansel ke gendongan Husna.
"Di bilangin malah ingin mengulangi kembali!" sela Husna
"Aku pergi dulu ya, jaga Ansel!"
"Ayah pergi dulu ya!" sambung Mahesa mencium pipi Ansel dan beralih mencium kening Husna.
"Assalamualaikum!" pamit Mahesa
"Wa'alaikumussalam!"
Begitu cepat perubahan sikap Mahesa ke yang lembut pada Husna, mungkin ia menggunakan kesempatan itu dengan baik, biar bagaimanapun ia banyak salah kepada Husna, walaupun Mahesa masih sedikit kaku kepada Husna tapi itu tidak di permasalahkan oleh Husna, ia hanya ingin melihat Mahesa berubah dan ia juga memegang janji Mahesa tadi malam.
"Bunda senang banget nak bisa berkumpul bareng kalian tanpa ada rahasia-rahasian lagi!"
...
Bersambung...
Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan jejak kalian, tidak ada komentar maka author tidak akan update cerita ini.
Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, yang panjang kek komentar nya, jangan satu kata saja🤔🙄🤨