
Tatapan mata Husna masih menerawang jauh, ia bahkan tidak sadar jika Mahesa memperhatikan wajah nya itu, satu tangan Mahesa terangkat ia ingin menggapai pipi Husna itu tapi ia urungkan dan Mahesa menggenggam jari jemari nya itu.
Husna tersentak dari lamunan panjang nya, ia menghapus air mata yang tergenang di sudut matanya, Mahesa berpura-pura tidur di atas paha Husna itu.
"Dia tidur?"
Tangan Husna bergerak untuk mengusap rambut Mahesa itu, entah apa yang ia pikirkan sehingga ia tersenyum sendiri, jika Mahesa melihat senyum manis Husna ini mungkin Mahesa sampai terpesona melihat nya, tapi sayang sekali Mahesa berpura-pura tidur.
"Anak bunda di sana baik-baik saja ya, ayah kamu sudah pulang, waktu itu kita berdua sangat merindukan ayah kamu ini, sekarang bunda senang akhirnya ayah kamu pulang juga!" ujar Husna mengusap perutnya dengan tangan nya yang satu lagi.
Mahesa dapat mendengarkan ucapan Husna itu, ia masih berpura-pura tidur agar ia bisa mendengar keluh kesah Husna.
Lama Mahesa berpura-pura tidur tapi Husna tidak berbicara lagi, perlahan Mahesa membuka matanya ia melihat Husna yang tatapan nya kosong lagi.
"Hekhem!" Mahesa sengaja berdehem, Husna menghela napas karena sedikit terkejut dengan deheman Mahesa itu.
Tangan Husna seketika berhenti mengusap rambut Mahesa itu, ia melihat Mahesa, tatapan mereka saling beradu, dengan cepat Mahesa memutuskan kontak mata itu.
Mahesa bangkit dari paha Husna itu, ia duduk seperti biasa dan menghadap ke Husna.
"Apa waktu berbuka masih lama?" tanya Mahesa untuk mengalihkan perhatian Husna, ia tidak mau melihat Husna termenung terus menerus.
"Hmm... tidak tau!" jawab Husna tidak sesuai ekspektasi Mahesa, Mahesa menghela napas lalu ia melihat jam di handphone nya, kira-kira 20 menit lagi mereka akan berbuka puasa.
"Masih lama?" tanya Husna melihat Mahesa yang memfokuskan dirinya pada benda pipih berbentuk persegi panjang itu.
"Dua puluh menit lagi, hmm... bagaimana kita menyiapkan menu untuk berbuka terlebih dahulu!" ujar Mahesa, entah kenapa dia memiliki inisiatif untuk meluangkan waktunya bersama Husna, walaupun menyiapkan makan untuk berbuka puasa saja.
Husna mengangguk lalu mereka pergi ke dapur untuk menyiapkan menu makanan berbuka mereka, bik Yatri ternyata lebih dulu menyiapkan makan untuk berbuka puasa majikan nya itu.
"Ah, tuan dan nyonya sudah sampai, tadi bibik mau memanggil kalian, sebentar lagi waktu berbuka puasa akan tiba!" ujar bik Yatri
Mereka berdua mengangguk, lalu bik Yatri pergi dari meja makan itu membiarkan tuan dan nyonya nya itu berdua saja, tidak lupa pula bik Yatri mengintip tuan dan nyonya nya itu.
"Bibik merasa senang melihat tuan dan nyonya akur begitu, semoga saja tuan bisa selama-lamanya akur dengan nyonya!"
Mahesa mengambil sup buah yang ia beli khusus untuk Husna tadi, ia meletakkan sup buah itu di hadapan Husna.
"Ini khusus untuk kamu!" ujar Mahesa dengan senyum manis yang ia perlihatkan kepada Husna, Husna melongo saat melihat senyum manis Mahesa yang sangat jarang bahkan tidak pernah Husna lihat itu.
"Sup buah, kelihatan nya segar sekali!" ujar Husna merasa deg-degan berdekatan dengan Mahesa.
"Iya, isi sup buah itu semangka dan juga strawberry, pasti anak saya suka!" ujar Mahesa membuat Husna menghela napas, bukan anaknya saja yang suka tapi Husna juga menyukainya.
"Allahu Akbar... Allahu Akbar"
Suara azan magrib berkumandang di masjid terdekat rumah mereka ini, bahkan suara azan itu sangat merdu sekali.
Mereka berdua membatalkan puasa nya karena azan magrib sudah berkumandang, seharian penuh mereka menahan rasa lapar dan dahaga ini akhirnya puasa pertama mereka berjalan dengan lancar.
Mahesa memperhatikan Husna yang lagi memakan sup buah yang ia belikan tadi, senyum manis tersungging dari kedua sudut bibirnya, Mahesa merasa senang karena Husna menerima pemberian nya ya walaupun cuma sup buah saja.
"Makasih ya mas!" ujar Husna selesai ia memakan sup buah itu, Mahesa mengangguk kecil saja menanggapi nya.
"Ayah kamu sangat perhatian ya sama kamu, bunda juga ikut senang!" ujar Husna mengusap perut nya itu.
Mahesa tersenyum simpul hatinya juga merasa senang bisa membuat buah hatinya jadi senang.
Jika di pikir-pikir apakah Mahesa selama ini memiliki perasaan lebih terhadap Husna?, soalnya kalau di lihat lagi Mahesa sudah terlalu banyak memperlakukan Husna sangat manis ya kadang Mahesa juga suka membentak Husna juga, tapi jika di lihat lagi Mahesa lebih banyak menemani Husna saat ini dari pada yang hari-hari waktu itu.
Mahesa menghela napas ia meneguk teh yang di buat oleh bik Yatri tadi, kini Husna lebih memilih untuk sholat magrib terlebih dahulu.
"Mas sholat yuk!" ajak Husna, mungkin ini yang ke tiga kalinya Husna mengajak Mahesa sholat setelah lama ia tak pernah mengajak Mahesa sholat karena waktu itu Mahesa pernah membentak Husna.
Mahesa menghela napas, "apa pendosa seperti saya ini, Allah masih menerima sholat saya?" ujar Mahesa merasa kecewa dengan dirinya yang sering meninggalkan sholat wajib nya.
"Soal Allah menerima sholat kita atau tidak nya itu urusan belakangan, yang penting kita mau melakukan perintah Allah, soal di terima atau tidak nya itu urusan Allah SWT, yang paling terpenting itu ialah kita mau mengerjakan perintah Allah dengan penuh keikhlasan terhadap Allah SWT!" ujar Husna memberi pengajaran sedikit kepada suaminya itu.
Mahesa mengangguk kecil seraya menghela napas nya, Husna terlebih dahulu meminta izin kepada Mahesa untuk sholat magrib, sementara itu Mahesa masih duduk di kursi meja makan itu.
"Tuan!" sapa mang Udin saat masuk dari pintu samping rumah ini.
"Iya mang!" ujar Mahesa seraya mengangguk
Husna baru saja selesai menunaikan sholat magrib nya, ia merasa sedih saat Mahesa tidak mau melaksanakan sholat magrib, ia merasa iba dengan suaminya itu.
"Kapan kamu bisa berubah ke lebih baik mas, apa lagi sebentar lagi kamu akan memiliki anak, terus anak mu nanti bertanya soal agama dan lain sebagai halnya apa yang harus kamu katakan nanti nya, aku juga tidak tau entah aku benar-benar berpisah setelah melahirkan anak ini atau kamu tetap mempertahankan ku, aku juga tidak tau apa kamu nantinya melupakan tentang perjanjian itu atau bisa jadi tidak!"
Husna menghela napas, ia seakan sudah pasrah dengan semua yang akan terjadi pada hidup nya, mau nangis darah pun ia pada Mahesa, tetap Mahesa tidak akan mau mendengar nya.
"Uus juga tidak tau, apa esok ini Uus akan kuat menghadapi nya atau tidak, seenggaknya Uus sudah berusaha untuk mempertahankan anak ini!"
Husna kembali ke meja makan ia mengintip Mahesa yang dari tadi duduk di sana, berkali-kali Husna menghela napas panjang.
"Semoga kamu mendapat hidayah dari Allah SWT mas, aku hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk kamu!"
...
Bersambung...