Pernikahan Siri Seorang Dokter

Pernikahan Siri Seorang Dokter
part 32. Kapan Menghargai Perasaan Husna?


Malam harinya Mahesa tidak menampakkan batang hidungnya di meja makan, Husna sama bik Yatri padahal sudah menyiapkan makan malam untuk Mahesa, tapi Mahesa tidak kelihatan.


Permintaan Husna tadi sudah ia lupakan bahkan ia sudah melupakan sakit hatinya karena Mahesa bentak tadi, bukan melupakan nya juga sih tapi lebih tepatnya ia tidak mau memikirkan nya lagi.


"Nyonya, tuan tidak ikut makan?" tanya bik Yatri saat bik Yatri meletakkan sambal di meja makan itu.


"Uus tidak tau bik!" ujar Husna


"Sebaiknya nyonya mencari tuan, ajak sekalian makan nyonya, dari tadi pasti tuan belum makan!" ujar bik Yatri


Husna mengangguk kecil sebenarnya Husna juga ingin menjauh dari Mahesa terlebih lagi mereka baru bertengkar hebat tadi siang, Husna membuka pintu kamarnya tapi tidak ada Mahesa di dalam sana, Husna mencari Mahesa di ruang kerjanya, saat Husna ingin membuka pintu itu Mahesa lebih dulu membuka pintu itu.


Husna langsung menundukkan kepalanya sama seperti pertama kali mereka bertemu, Mahesa menghela napas karena Husna menghalangi jalan nya.


"Minggir!" ujar Mahesa dengan suara dingin


Husna menyingkirkan dari jalan Mahesa itu, Mahesa melewati Husna tanpa berbicara, hanya kata 'minggir' itu saja yang Mahesa ucapkan.


Husna menghela napas ia mengikuti langkah kaki Mahesa, Mahesa duduk di kursi meja makan itu kali ini Mahesa sendiri yang mengambil makanan nya, Husna hanya diam menatap wajah datar Mahesa itu.


Husna mengaku salah dengan permintaan nya tadi, perjanjian tetaplah perjanjian, tapi Husna malah menyinggung tentang perjanjian kontrak itu, selesai makan Mahesa langsung beranjak dari meja makan itu.


"Nyonya!" ujar bik Yatri


Husna tersentak dari lamunannya ia menoleh pada bik Yatri, "eh, iya bik!" ujar Husna, bik Yatri sudah tau kalau nyonya dan tuan nya itu sedang ada masalah.


"Nyonya istirahat saja ya, biar bibik saja yang membereskan piring ini!" ujar bik Yatri


"Terima kasih bik!" ujar Husna sambil tersenyum, hari Husna juga merasa lelah dengan apa yang terjadi.


Husna masuk ke kamarnya ia tidak melihat Mahesa di dalam kamar, sudah di pastikan jika Mahesa sedang di ruang kerjanya.


Di dalam ruang kerjanya itu Mahesa sedang melihat map berisi surat perjanjian kontrak itu, Mahesa tersenyum licik.


"Saya tidak akan pernah menuruti kemauan kamu, perjanjian tetaplah perjanjian, mana mungkin saya menghilangkan isi perjanjian poin terakhir ini!"


Mahesa menutup map itu lagi ia masukkan ke dalam laci mejanya, kini Mahesa sedang menelepon Hendri.


"Bagaimana, apakah sudah selesai?"


"Sudah tuan, apakah tuan butuh bantuan saya lagi!" ujar Hendri di balik sambungan telepon mereka.


"Pemindahan aset atas nama Husna apakah sudah selesai?, waktu saya tidak banyak lagi tinggal 2 bulan lagi, saya tidak mau pemindahan aset itu sangat lama, karena saya tidak mau berurusan dengan dia lagi!, oh iya apakah rumah peninggalan orang tua Husna yang di jual oleh pamannya sudah kamu tuntaskan, apakah rumah itu sudah jadi milik dia sekarang?" tanya Mahesa


"Semua nya sudah selesai tuan, tinggal tanda tangan tuan saja, apakah saya harus mengantarkan semua berkas itu untuk tuan tanda tangani?"


"Boleh, kamu kemari saja!" ujar Mahesa


"Baik tuan!"


Panggilan telepon di matikan, separuh dari aset Mahesa ia pindahkan atas nama Husna, perjanjian usai maka aset atas nama Husna akan jadi miliknya sepenuhnya, Mahesa tidak hanya meninggalkan Husna dengan hidup kekurangan, melainkan ia memberikan Husna kemewahan.


Husna tidak tau menau tentang aset yang akan Mahesa berikan padanya nanti, Husna juga tidak tau jika rumah peninggalan orang tua nya itu sudah jadi miliknya, Mahesa akan memberikan aset itu ketika ia akan membawa anaknya nanti.


...


Husna terbangun saat azan subuh berkumandang, ia tidak menemukan Mahesa berada di samping nya, sudah di pastikan Mahesa tidak tidur di kamar ini malam tadi.


Husna beranjak dari tidurnya ia memilih untuk berwudhu, kini Husna melaksanakan sholat subuh nya, selesai sholat Husna melipat sajadah dan mukenah nya.


Kini Husna mencari Mahesa di ruang kerjanya, Husna mendapati Mahesa yang lagi tidur sambil menumpukan tangannya di atas meja lalu kepalanya ia letakkan di atas tangan nya itu, Husna mendekati Mahesa yang tertidur itu, karena tidak tega melihat Mahesa tidur seperti ini, Husna membangunkan suaminya itu agar pindah di tempat tidur.


"Mas!" ujar Husna mengusap kelapa Mahesa dengan lembut.


"Mas, bangun pindah ke kamar yuk!" ujar Husna


"Huamm..." Mahesa melenguh karena tidurnya di ganggu oleh seseorang, Husna tidak pernah takut membangunkan Mahesa padahal Mahesa sering memarahi nya saat ia membangunkan Mahesa.


"Mas, pindah ke kamar yuk!" ujar Husna sekali lagi, Mahesa mengangkat kepala nya ia melihat Husna, wajah bantal Mahesa saat bangun tidur menjadi kesenangan tersendiri bagi Husna melihat nya.


"Kenapa?" ujar Mahesa karena Husna menatap Mahesa dengan terlalu intens.


"Tidak!" ujar Husna


"Tidurnya nyenyak?" tanya Mahesa


Husna mengangguk-angkuk kecil, ia tersenyum pada Mahesa karena Mahesa tidak marah lagi dengan nya.


"Pindah ke kamar aja ya, pasti kamu tidurnya tidak nyaman!" ujar Husna


Mahesa mengangguk ia mengikuti langkah kaki Husna, sampai di kamar Mahesa menyuruh Husna untuk duduk di samping nya yang lagi berbaring, seperti biasa Mahesa meletakkan kepalanya di paha Husna, kebiasaan nya ini sudah sangat nyaman saja bagi Mahesa, paha Husna jadi bantal untuk Mahesa.


"Eh, dedek bayinya nendang!" ujar Mahesa saat Mahesa meletakkan tangannya di perut Husna itu, Husna juga merasakan anak yang ada di dalam perutnya itu nendang-nendang.


"Kamu nakal ya, bunda nya sakit tuh!" ujar Mahesa dengan tersenyum.


"Dia sering nendang-nendang mas!" beri tahu Husna


"Kenapa saya baru tahu!" ujar Mahesa, tentu saja Mahesa tidak tau dengan perkembangan calon anak mereka sedangkan dia sering meninggalkan Husna, mana tau dia selama ini apa yang di alami oleh istri sirinya itu.


Husna tidak menjawab nya malahan Husna hanya diam memperhatikan apa yang Mahesa lakukan, "dia sangat aktif ya, seperti nya dia cowok!" filing Mahesa, Husna menggelengkan kepalanya, saat pemeriksa ke dokter saja Husna lebih memilih untuk tidak mengetahui jenis kelamin anak pertama mereka ini, yang penting calon anak mereka sehat hanya itu saja yang Husna inginkan.


"Anak ayah harus cowok!" ujar Mahesa


"Kalau cewek apa kamu tidak menerimanya?" tanya Husna dengan tatapan sedih, pasalnya Mahesa terus meminta anaknya berjenis kelamin cowok.


Di surat perjanjian tidak di tuliskan jenis kelamin anak yang di minta Mahesa, tapi ucapan Mahesa tentang anak laki-laki seolah-olah Mahesa sangat mengharapkan anak laki-laki.


"Kata siapa saya tidak menerima nya, cewek ataupun cowok dia itukan anak saya!" ujar Mahesa


"Aku kira kamu hanya menginginkan anak cowok!" ujar Husna


"Ayah macam apa saya jika saya tidak menerima darah daging saya sendiri, saya ayah yang bertanggung jawab!" ujar Mahesa.


Semoga saja ucapan Mahesa itu ia tempati untuk menjadi ayah yang bertanggung jawab, hanya saja Husna bersedih karena Mahesa tidak membahas dirinya.


"Cowok maupun cewek ayah akan tetap menerima kalian!" ujar Mahesa mengusap-usap perut besar Husna itu, Husna merasa tidak dihargai oleh Mahesa.


Kapan Mahesa akan menghargai perasaan Husna ini, kapan juga Mahesa akan berubah pikiran, atau selama-lamanya Mahesa akan seperti ini terus dengan Husna?.


...


Bersambung...