
Husna masih belum sadar dari bangun nya sementara itu Mahesa masih setia menunggu di sana, sebenarnya Mahesa memang memiliki pekerjaan yang sangat penting, nanti nya Mahesa akan melakukan operasi kepada pasien nya, itulah kenapa Mahesa tadi sangat marah dengan Husna karena Husna mengikut campuri urusan nya.
Padahal Husna bertanya baik-baik dan ingin tau suaminya kemana, tapi Mahesa malah memarahi dan membentak Husna, apa salahnya Mahesa memberitahu jika ia akan melakukan operasi kepada pasien nya, tapi Mahesa malah membentak Husna.
Bagaimana tidak sakit hati seorang istri karena di bentak oleh seorang suami, setiap istri itu pasti ingin tahu dengan suaminya, tapi Mahesa malah berbeda dari yang lain.
Selang infus menusuk tangan putih mulus Husna, ia masih terbaring lemah di atas brankar, Mahesa mengusap perut Husna itu.
"Maafkan ayah yang tidak pernah menuruti kemauan mu, ayah terlalu egois dengan kamu, baik-baik ya di sana jangan menyusahkan bunda kamu!" ujar Mahesa
Mahesa bukan menyayangi istri sirinya ini, hanya saja Mahesa menyayangi anak yang ada di dalam kandungan Husna, Mahesa sama sekali tidak memiliki perasaan spesial untuk Husna tapi Mahesa juga tidak tau dengan perasaan aneh ada pada dirinya untuk Husna.
Mahesa tidak mempedulikan perasaan aneh itu, ia hanya fokus dengan anak yang di kandung oleh Husna.
Kriing Kriing Kriing
Telepon genggam milik Mahesa berbunyi ternyata yang meneleponnya yaitu pihak rumah sakit, dari tadi Mahesa di telepon terus oleh pihak rumah sakit tapi ia tidak sempat untuk menerima telepon itu karena ia sangat khawatir dengan kandungan Husna.
Mahesa pergi keluar kamar rawat ini untuk menerima panggilan telepon tersebut karena Mahesa tidak mau menganggu tidur Husna.
"Dokter Mahesa segera di butuhkan karena ini sangat urgen dokter, pasien harus di operasi segera karena keadaan nya sudah sangat parah!"
"Saya akan ke sana sekarang!" ujar Mahesa
Setelah memutuskan panggilan telepon itu kini Mahesa menghubungi bik Yatri untuk menemani Husna.
"Saya harus pergi sekarang, jadi bik Yatri tolong ke rumah sakit xxx untuk menemani Husna!" ujar Mahesa di sebalik telepon
"Baik tuan saya akan ke sana sekarang!"
Setelah panggilan berakhir kini Mahesa kembali masuk ke dalam kamar rawat Husna, Mahesa duduk kembali di kursi yang berada di samping brankar tempat Husna berbaring.
"Anak ayah harus sehat-sehat di dalam sana, ayah akan segera kembali untuk menemani kamu, jadi kamu harus sehat-sehat!" ujar Mahesa mengusap perut besar Husna itu, tiga kali Mahesa melabuhkan ciuman di perut Husna itu.
"Saya harus pergi kamu jaga diri baik-baik, saya akan segera kembali, nanti bik Yatri akan ke sini untuk menemani kamu!" ujar Mahesa kepada Husna yang masih tidur.
Entah kenapa Mahesa mau melabuhkan ciuman ke dahi Husna, walaupun ciuman itu cuma ciuman singkat.
Mahesa pergi keluar kamar rawat itu, bik Yatri belum tiba di rumah sakit ini karena rumah sakit ini lumayan jauh dari tempat tinggal mereka.
Setelah itu Mahesa kembali lagi ke kamar rawat Husna, masih sama Husna masih belum sadarkan diri. Ada sesuatu yang Mahesa selipkan di tangan Husna.
Lalu Mahesa kembali lagi keluar rawat itu, ia tidak bisa berlama-lama lagi di sini karena tenaga nya sangat di butuhkan di rumah sakit tempat ia bekerja.
Mahesa lebih memilih pergi terlebih dahulu karena waktunya tidak banyak lagi, apa lagi perjalanan Mahesa dari Bandung ke Jakarta membutuhkan waktu setidaknya 2 jam.
...
Bik Yatri sampai di rumah sakit yang telah Mahesa beri tahu, setelah menanyakan ke resepsionis dimana ruang rawat Husna kini bik Yatri buru-buru pergi ke sana.
Sampai nya bik Yatri di kamar rawat itu ia tidak melihat Mahesa lagi, bik Yatri sudah tau pasti tuan nya itu sudah pergi ke Jakarta.
"Kasihan sekali kamu Uus!" lirih bik Yatri melihat Husna terbaring lemas di brankar itu.
Bik Yatri duduk di kursi tepat di samping brankar itu, ia memperhatikan wajah Husna yang pucat.
"Kenapa tuan Mahesa sangat membenci kamu, sementara kamu wanita baik, Sholehah, tidak banyak nuntut, siapapun laki-laki yang menemukan wanita seperti kamu pasti laki-laki itu tidak akan pernah menyia-nyiakan itu, tapi entah kenapa tuan sangat tidak ingin memiliki kamu?" ujar bik Yatri
"Bik...!" ujar Husna dengan suara lirih
Bik Yatri tersenyum kecil antara sedih dan bahagia karena Husna sudah sadar, mata Husna mengelilingi ruangan yang asing baginya ini.
"Uus dimana?" tanya Husna
"Nyonya lagi di rumah sakit!" ujar bik Yatri
Seketika Husna teringat dengan kejadian tadi yang dimana Mahesa harus membawanya ke rumah sakit, sekali lagi mata Husna mengelilingi ruangan ini tapi ia tidak dapat menangkap sosok Mahesa ada di ruangan ini.
"Tuan sedang pergi ke Jakarta nyonya, karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan, jadi bibik di suruh menjaga nyonya di sini!" beritahu bik Yatri karena tau nyonya nya ini lagi mencari Mahesa.
Husna mengangguk sambil memperbaiki tidurnya karena merasa tidak nyaman, Husna mengangkat tangan yang tertancap oleh jarum infus, ia masih sedih dengan perlakuan Mahesa yang membentak dirinya.
"Kenapa Uus harus merasakan pahit kehidupan terus ya bik?, apa Uus pernah melakukan dosa waktu dulu nya, rasanya Uus tidak bisa bertahan lagi bik!" ujar Husna
"Jangan bilang seperti itu nyonya, suatu saat kebahagiaan itu pasti akan datang pada nyonya dengan sendirinya!" ujar bik Yatri
Husna menggeleng-nggelengkan kepalanya antara yakin dan tidak yakin, ia baru sadar kalau dari tadi ia menggenggam sebuah kertas putih yang terlipat seperti surat.
"Kertas apa ini bik?" tanya Husna saat ia memperlihatkan kertas putih terlipat seperti surat itu ke bik Yatri
Bik Yatri menggeleng tidak tahu, Husna membuka kertas yang terlipat itu, di sana sudah ada coretan pena berisi tulisan yang sangat rapi.
"Surat!" lirih Husna, ia membaca isi surat itu
...Isi surat : Maaf saya harus pergi, saat ini saya memiliki pekerjaan yang tidak dapat saya tinggal, saya berjanji akan pulang secepatnya, kali ini janji saya akan saya tepati!!!...
Selesai membaca secarik kertas putih itu, kini Husna masih menggenggam kertas berisi surat itu, ia akan memegang janji Mahesa yang ia tulis di kertas putih ini.
"Aku pegang janji kamu!" batin Husna
Dokter masuk ke ruang rawat Husna ia akan mengecek kondisi Husna.
"Saya dan kandungan saya baik-baik saja kan dok?" tanya Husna
Dokter wanita paruh baya itu memberikan senyumnya kepada Husna, "Alhamdulillah kandungan anda baik-baik saja, saya sarankan anda jangan banyak pikiran apa lagi sampai stres, itu tidak baik untuk kandungan anda!" ujar dokter itu
Husna mengangguk paham, kini dokter tersebut pergi dari ruangan itu.
Bagaimana Husna tidak banyak pikiran karena Mahesa sendiri yang membuat dia banyak pikiran, Mahesa tidak pernah peduli dengan kondisi Husna yang hanya ia pedulikan hanya anak yang ada dalam kandungan Husna.
Bukankah pikiran Mahesa sangat picik? karena dia tidak pernah memikirkan kondisi Husna yang bisa membuat anak yang ada dalam kandungan Husna bisa kenapa-napa, banyak pikiran apa lagi sampai stres akan berpengaruh kepada janin yang ada dalam kandungan Husna.
Bukankah Mahesa harus banyak bersabar untuk menikmati hasil?
...
Bersambung...
IG : purna_yudiani
fb : purna yudiani