
Sudah sehari saja mereka berpisah, Husna tidak bisa berdiam diri terus di rumah nya ini, ia mau mencari keadilan dan ia tidak mau di injak terus ia bertekad untuk mencari anak dan suaminya itu, biar bagaimanapun Husna masih berhak untuk anaknya itu.
Saat ini Husna sedang menyiapkan beberapa pakaian nya ia akan menyusul anak dan suaminya itu ke Jakarta, mungkin kali ini Husna akan sulit untuk menemukan anak dan suaminya itu karena ia tidak tau betul dengan keluarga suaminya itu, yang ia tahu Mahesa tinggal dan bekerja di Jakarta.
Husna mengunci semua jendela dan pintu rumah nya ini, kini ia sedang berdiri di halaman rumah seraya menatap rumah yang sudah jadi miliknya itu, dan tidak lupa pula Husna membawa bekas dan beberapa sertifikat yang Mahesa berikan padanya waktu itu, ia tidak butuh harta ini yang hanya ia butuhkan yaitu anaknya.
"Bunda akan mencari kamu nak, tunggu bunda!"
...
Di mansion Mahesa, anaknya sangat rewel dari kemarin saat Mahesa membawa anaknya itu ke rumahnya ini. Bik Yatri dan pelayan lain juga telah bergantian untuk mengasuh tuan muda mereka itu tapi tetap sama, Ansel kecil tetap menangis.
Amor sedikit kesal dengan putra nya itu, baru sehari cucunya di sini tapi malah ia tinggal, saat ini amor yang mengurus cucunya itu.
"Cucu nenek jangan nangis lagi ya, di sini ada nenek!" ujar amor pada cucu nya itu.
"Owek... owek... owek..." tangis Ansel itu terus saja tidak berhenti, amor menyuruh bik Yatri dulu yang menenangkan cucunya itu, ia ingin menelepon putra nya itu agar segera kembali.
"Kamu bagaimana sih hesa, anak sekecil itu sudah kamu tinggalkan saja, mama pusing dengar tangisan bayi kamu itu, cepat kamu kembali!" ujar amor di balik sambungan telepon itu.
'Baik ma, hesa akan pulang! jawab Mahesa di balik sambungan telepon mereka itu.
Amor memijat pelipisnya karena tangisan bayi itu tak kunjung berhenti dari tadi, amor sudah bertanya pada bik Yatri siapa ibu kandung dari cucunya itu, tapi bik Yatri tidak mau menjawab pertanyaan nyonya besarnya itu.
Mahesa sudah mengancam bik Yatri dan mang Udin, jika mereka memberitahu maka keluarga mereka yang ada di kampung di pastikan tidak bisa makan lagi, selama ini Mahesa lah yang membiayai kebutuhan keluarga bik Yatri dan mang Udin di kampung.
"Dia yang membuatnya kok aku yang repot!" gerutu amor
Tidak lama dari itu Mahesa sudah sampai di rumahnya ini, ia langsung ke kamar putra nya itu, bik Yatri langsung menyerahkan Ansel kecil kepada tuan nya itu.
"Dari tadi tuan muda tidak mau meminum susu yang sudah di buatkan tuan!" beritahu bik Yatri
"Mana susunya bik!" minta Mahesa
Bik Yatri memberikan susu dalam dot bayi itu kepada Mahesa, amor mengahmpiri putra nya itu yang lagi mengendong bayi nya itu.
"Owek... owek... owek..." tangis Ansel kecil terus menerus tanpa hentinya, mungkin bayi itu merasa tidak nyaman dengan suasana baru seperti ini, apa lagi ibu nya juga tidak berada di samping nya.
"Siapa sih ibu dari anak mu ini?" tanya amor lagi, mungkin ini pertanyaan amor yang ke sekian kalinya menanyakan siapa ibu dari anak ini.
Mahesa tidak mau memberi tahu mamanya itu siapa ibu dari anaknya ini, bagi Mahesa anaknya ini yang terpenting bukan yang lain.
"Di pisahkan dari ibu kandung, pantas rewel!" sindir amor
Mahesa tetap diam mengendong tubuh mungil putra nya itu seraya memberikan susu dari dot bayi itu ke mulut kecil putranya, amor menghela napas melihat kelakuan putra nya yang tidak baik itu, toh amor dan Radyta tidak akan marah jika Mahesa membawa ibu dari anak itu ke sini, yang sudah terlanjur mau marah pun tidak ada gunanya, hanya saja Radyta dan Amor sedikit kecewa dengan anaknya ini karena menikah secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tuanya, amor dan Radyta tidak bisa marah lagi karena anaknya itu sudah terlanjur menikah dan sudah memiliki keturunan.
Hanya saja jalan yang di ambil Mahesa sangat salah dan kurang baik.
"Anak ayah mimik susu nya ya...!" ujar Mahesa tapi putra nya itu tidak mau meminum susu formula itu, dari pertama lahir bayi itu sudah meminum asi ibunya mana mungkin bayi itu dengan mudah berpindah ke susu formula.
Amor mengambil alih cucunya itu lalu ia yang mengendong nya, dengan sangat hati-hati dan penuh kasih sayang yang amor tumpahan untuk cucu nya itu akhirnya Ansel kecil itu bisa tertidur juga, Mahesa merasa lega setelah ia tidak mendengar tangisan putra nya itu lagi.
Amor meletakkan Ansel kecil itu ke dalam box bayi, lalu ia membawa Mahesa ke kamar Mahesa. Amor menyipitkan matanya guna melihat anaknya itu.
"Mama tau kamu sudah menikah tapi siapa gadis yang kamu nikahi itu hesa?, kamu kenapa tega memisahkan anak kamu dari ibunya hah? tanya amor pada anaknya itu.
Mahesa punya alasan tersendiri kenapa ia tidak mau mencintai perempuan dalam hidup nya.
"Dari awal kamu berkata jujur mungkin mama tidak akan marah sama kamu hesa, mama tidak akan melarang kamu dalam memilih pasangan hidup, mama memberi kamu kebebasan, tapi tidak seperti ini juga hesa, kamu telah menyakiti hati gadis yang telah kamu nikahi itu, mama kecewa dengan tindakan kamu ini!" ujar amor sangat kesal dengan Mahesa, bila di tanya Mahesa seperti patung yang tidak mau menjawab pertanyaan orang. Mulutnya seakan terkunci.
"Siapa ibu dari anak kamu itu?" tanya amor sekali lagi.
Amor menghela napas lalu terduduk lemas di tepi ranjang milik putra nya itu.
"Keras kepada, seperti papa nya!" gerutu amor
...
Saat ini Husna sedang berjalan menuju ke terminal, ia akan ke Jakarta naik bus, saat Husna berjalan ia tidak sengaja bertemu dengan dua teman nya yang selama ini tak pernah ia temui lagi, mereka sudah lama tidak berkomunikasi lagi.
"Husna...!" teriak Chintya melambaikan tangannya kepada Husna, Husna mendengar suara yang tak asing baginya itu lalu ia menoleh mencari sumber suara itu.
"Husna... ini kami!" ujar shilla
Teman nya itu menghampiri Husna yang lagi mematung melihat teman-teman lamanya itu, Husna merasa sedikit lega karena teman-teman nya itu tidak memusuhi dirinya yang tidak ada kabar selama setahu lebih ini.
"Masya Allah... Husna... kami telah lama mencari mu, akhirnya kami menemukan kamu di sini!" ujar shilla memeluk tubuh Husna.
Kini mereka bertiga sedang duduk di restoran, apa lagi jam sudah menunjukkan jam makan siang, mereka terlebih dahulu makan, sementara itu Husna hanya makan sedikit saja karena ia masih teringat dengan anaknya yang entah apa kabarnya.
Mereka semua sudah selesai makan siang nya, kini Shilla dan Chintya meminta penjelasan kepada Husna kenapa dia menghilang selama setahu lebih ini.
Husna memulai bercerita tentang bibi dan pamannya yang meminta nya untuk menikah dengan Mahesa agar hutang paman dan bibinya bisa segera lunas, tidak hanya itu saja Husna juga menceritakan tentang pernikahan siri yang ia jalani selama setahun lebih ini, Husna juga menceritakan bagaimana kejamnya Mahesa yang membawa paksa anaknya dari nya.
"Astagfirullah alhazim... tega sekali suami kamu Uus!" ujar Chintya merasa iba dengan sahabat nya itu.
"Lalu?" tanya shilla ingin tau kelanjutannya cerita teman nya itu, Husna melanjutkan ceritanya dan sampai ia ingin mencari anak dan suaminya itu.
"Kalau boleh tau siapa nama suami mu?" tanya shilla
"Namnya Mahesa Radyta!" jawab Husna
Shilla dan Chintya mengerutkan keningnya mereka merasa tidak asing dengan mana Mahesa Radyta itu.
"Radyta!" gumam shilla mengingat-ingat kembali nama belakang itu.
Shilla mengeluarkan handphone nya lalu ia mencari nama Radyta itu, tidak salah lagi jika nama itu merupakan nama pengusaha sukses yang sangat kaya raya, ya keluarga Radyta itu merupakan keluarga yang sangat kaya raya siapa sih yang tidak tau dengan keluarga yang satu itu.
"Yang ini bukan, anaknya bapak Radyta ini, anaknya itu berprofesi sebagai dokter di salah satu rumah sakit yang sangat terkenal di Jakarta, apa lagi kemampuan dokter itu yang tidak bisa di katakan lagi, dokter Mahesa Radyta!" ujar Shilla melihatkan kepada Husna tentang suaminya itu yang sangat terkenal, selama ini Husna tidak tau tentang suaminya itu yang ia tau dari Mahesa itu jika dia seorang dokter umum biasa saja, tapi ternyata suaminya itu sangat terkenal di kalangan masyarakat.
"Aku boleh minta alamat tempat dia bekerja tidak!" ujar Husna ia sangat ingin bertemu dengan anaknya itu.
Shilla mengangguk lalu ia mencatat di kertas alamat tempat Mahesa bekerja itu.
"Aku pamit untuk mencari anak ku dulu ya, terima kasih kalian masih mau berteman dengan ku!" ujar Husna memeluk kedua teman nya itu, Husna pamit kepada teman-teman nya itu untuk mencari anaknya ke Jakarta.
"Bismillah Husna, pasti kamu bisa ketemu dengan anak dan suami kamu!" sorak Chintya saat Husna mau menaiki bus yang akan membawa dia ke Jakarta itu, Husna mengangguk seraya melambai-lambaikan tangannya kepada kedua temannya itu.
"Aku harus bisa menemukan keberadaan anak ku, tunggu bunda sayang, bunda akan menjemput mu!" batin Husna
...
Bersambung...
Komentar, like, berserta vote nya ya!!!
Jangan jadi pembaca gelap saja.
jangan lupa mampir di cerita baru author yang tak kalah menariknya dari cerita ini, dengan judul (istri bercadar tak dianggap) mampir ya readers.