Pernikahan Siri Seorang Dokter

Pernikahan Siri Seorang Dokter
part 33. Nanti Menyesal


Jam delapan pagi Hendri sudah sampai saja di rumah Mahesa, sesuai yang ia katakan malam tadi jika ia akan membawa berkas-berkas untuk di tanda tangani oleh Mahesa.


"Mas, di luar ada teman kamu waktu itu!" ujar Husna karena Husna melihat Hendri berdiri di depan pintu.


"Kenapa tidak kamu suruh masuk?" ujar Mahesa menghampiri Hendri di depan pintu.


Husna tidak mengizinkan Hendri masuk karena dia belum mendapatkan izin dari suaminya, ia juga takut jika ia mengizinkan orang lain masuk ke sini tanpa sepengetahuan Mahesa.


"Bukan begitu mas!" lirih Husna melihat suaminya sudah pergi dari tempatnya.


Mahesa menyuruh Hendri masuk, mereka berdua langsung menuju ke ruang kerja Mahesa, Mahesa menghampiri Husna terlebih dahulu.


"Kamu di sini saja, jangan ikuti saya, apa lagi mengintip dan mendengar percakapan kami!" ujar Mahesa lalu meninggalkan Husna kembali.


Husna mengangguk paham ia tidak mungkin juga mengintip apa lagi mendengar pembicaraan orang tanpa sepengetahuan orang itu, itu sama saja kita mencuri bukan.


Sebelum mereka berdua berbicara bik Yatri sudah membawakan tamu Mahesa itu minuman berserta cemilan, setelah bik Yatri keluar barulah mereka berbicara.


"Lo kesini tadi tidak ada orang yang mengikuti atau mencurigakan kan?" tanya Mahesa terlebih dahulu


"Aman!" jawab Hendri


Mahesa menghela napas lega.


"Gimana?, apa sudah selesai, terus kuasa hukum gue gimana katanya?" tanya Mahesa


"Ya begitulah, separuh dari aset lo akan di atas namakan Husna, terus rumah yang pernah lo bilang ke gue itu, sudah atas nama Husna juga, semuanya sudah beres seperti yang gue bilang kemarin!" ujar Hendri mengeluarkan berkas-berkas yang harus di tanda tangani oleh Mahesa.


"Kuasa hukum lo sudah meresmikan ini ke pihak yang berwenang, lo yakin ingin memberi Husna separuh dari aset lo?" tanya Hendri tidak yakin dengan keputusan Mahesa ini secara separuh dari aset Mahesa itu sangat banyak lho, apa lagi rumah mewah yang ini akan di berikan ke Husna dan masih ada lagi tanah beserta mobil yang Husna dapatkan.


"Yakin, dia sudah banyak membantu gue, gue hanya ingin anak dan sekarang dia memberikan keturunan sama gue, gimana gue nggak bakalan kasih separuh aset gue untuk nya, secara dia kan ibu dari anak gue juga!" ujar Mahesa sambil menandatangani berkas itu.


"Yakin ibu dari anak lo aja!" ujar Hendri memberhentikan Mahesa yang sedang memandangi berkas itu, Mahesa menatap Hendri dengan penuh tanda tanya.


"Maksud lo?" tanya Mahesa


"Yakin dengan keputusan lo ini, apa lo nggak akan menyesal?, penyesalan itu datangnya selalu di akhir lho!" ujar Hendri


"Gue yakin!" ujar Mahesa tanpa keraguan mengatakan jika ia bisa hidup tanpa ada Husna.


"Ya sudah kalau begitu lo memang yakin dengan keputusan lo ini, gue dukung-dukung aja!" ujar Hendri seraya menyeruput secangkir teh yang di buatkan oleh bik Yatri tadi.


Selesai Mahesa menanda tangani berkas itu, lalu ia memberikan berkas itu kepada Hendri lagi, Hendri mengerutkan keningnya karena Mahesa memberikan berkas itu padanya lagi.


"Untuk gue?" tanya Hendri


"Lo tolong simpan di rumah gue, gue nggak mungkin simpan berkas ini di sini, secara Husna keluar masuk ke ruangan ini, nanti ia menemukan berkas ini bagaimana?" ujar Mahesa sudah memikirkan terlebih dahulu di mana dia akan menyimpan berkas itu agar Husna tidak tau, yang paling aman ya di rumahnya yang di Jakarta.


"Oh!" jawab Hendri singkat


Mereka berdua keluar dari ruangan itu, kebetulan juga Husna keluar dari dalam kamar ia melihat Mahesa dan teman suaminya itu, Husna menundukkan pandangan nya saat Hendri melihat nya.


"Cewek baik-baik kayak lo nggak pantas di perlakukan seperti ini!" batin Hendri


Mahesa mengantarkan Hendri ke depan pintu rumahnya, "hati-hati lo di jalan!" pesan Mahesa, Hendri mengangguk kecil.


"Lo yakin hesa mau meninggalkan dia setelah dia melahirkan anak lo nanti?" tanya Hendri sekali lagi


"Yakin!" jawab Mahesa tanpa beban sekali pun.


"Nanti lo menyesal lho!" ujar Hendri


"Itu urusan gue bukan urusan lo, hidup gue yang jalani bukan lo!" ujar Mahesa langsung membuat Hendri terdiam.


Mahesa masuk ke dalam rumahnya di sofa ruang tengah sudah ada Husna yang menunggu suaminya itu.


"Kalian ngobrol tentang apa?" tanya Husna ingin tahu tentang apa yang mereka obrolan sehingga Husna tidak boleh mendengarkan nya.


"Bukan urusan mu!" jawab Mahesa tidak sesuai ekspektasi Husna, Husna menghela napas mana mungkin Mahesa mau menjawab pertanyaan Husna ini.


Husna mengangguk kecil, "mas belum sarapan, sarapan yuk!" ajak Husna kepada Mahesa karena Mahesa belum sarapan sama sekali.


Mahesa menghela napas ia menuruti perintah Husna itu, kini Mahesa sedang makan di meja makan, Husna memperhatikan Mahesa sedang makan karena Husna sudah lebih dulu sarapan dari Mahesa.


"Seandainya kamu menjadi suami utuh bagiku dan tidak akan meninggalkan ku, tapi perjanjian itu tidak bisa aku ganggu, kamu yang punya kuasa atas itu!" batin Husna


"Mas baliknya kapan?" tanya Husna saat Mahesa menyelesaikan sarapan nya.


"Lusa!" jawab Mahesa


"Berarti Jum'at besok ya!" ujar Husna


"Kenapa?" tanya Mahesa melihat perubahan wajah Husna


"Tidak, hanya saja Uus pengen pergi ke makan ayah dan ibu, kalau mas mau mengizinkan Uus!" ujar Husna sangat ingin pergi ke makan orang tua nya yang sudah lama tak pernah ia kunjungi


"Kapan?" tanya Mahesa


"Hari Jum'at, Uus sebenarnya pengen mengajak mas, tapi mas tidak bisa, ya sudahlah, mungkin lain kali saja Uus ke sana nya!" ujar Husna


"Kata siapa?, saya yang akan mengantar kamu!" ujar Mahesa sekali-kali menyenangkan hati ibu hamil ini sekaligus menyenangkan hati istri.


Rasulullah SAW bersabda "Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku" (HR. At-Tirmidzi no 3895, Ibnu Majah no 1977.)


Husna tersenyum karena Mahesa mau menemani dia nanti untuk pergi ke makan orang tua nya untuk berziarah, Mahesa memperhatikan senyum indah yang terukir di sudut bibir istrinya itu.


"Manis sekali!" batin Mahesa


Hampir saja Mahesa terlena akan kemanisan senyum istrinya itu, tapi ia langsung menepis pikiran nya yang tertuju pada senyum manis Husna itu, sudah beberapa kali Mahesa melihat senyum manis Husna itu, sudah sekian kali juga Mahesa terlena akan kemanisan senyum istri siri nya itu.


Bukankah Mahesa sangat munafik pada dirinya sendiri?


...


Bersambung...