
Mahesa menunggu Husna selesai sholat magrib, ia ingin makan bersama-sama dengan Husna tapi Hudan masih lama kembali nya, bagaimana tidak lama sedangkan Husna masih mengintip Mahesa di sebalik tembok yang menghubungkan ruang keluarga dengan ruang makan itu.
Husna menitikkan air matanya karena melihat suaminya itu tak mau berubah, "Husna pengen melihat kamu berubah, jika Husna tidak bersama kalian lagi seenggaknya Husna tenang melihat kamu bisa mengajari anak kamu tentang agama!" Husna terus memperhatikan Mahesa yang dari tadi menunggu nya.
Sekiranya sudah lama ia berdiri di situ kini Husna menghapus bekas air matanya itu barulah ia menghampiri Mahesa.
"Mas belum makan?" basa-basi Husna
"Belum, nungguin kamu!" jawab Mahesa
"Ngapain nunggu aku, kamu bisa makan sendiri kok, lagi pula aku sering makan sendiri tanpa di temani siapapun, kamu juga begitu kan di rumah kamu yang di Jakarta!" ujar Husna
Mahesa menghela napas nya, ia memang sering makan sendiri di mansion nya itu, apa lagi jika mama dan papanya tidak menginap di sana, Mahesa sangat kesepian.
Maka dari itu Mahesa juga ingin memiliki keturunan segera agar ada yang menemaninya nanti.
Mereka makan malam dengan diam, keheningan di meja makan ini membuat Husna tambah bersedih saja, suatu saat ia akan kehilangan semua ini, bahkan ia juga tak akan pernah merasakan makan malam bersama keluarga seperti lagi.
"Ya Allah... hati Uus sangat sedih untuk menerima kenyataan ini, Uus merasa tidak sanggup ya Allah...!
Mahesa lebih dulu menyelesaikan makan malam nya ia pergi begitu saja meninggalkan Husna tanpa berkata apapun, ada apa lagi dengan dia? pikir Husna melihat kepergian Mahesa itu.
"Sedikit saja kamu menghargai ku itu lebih dari cukup!" Husna menghembuskan napas panjang.
Husna berkeinginan untuk sholat tarawih di mesjid dekat rumah mereka ini, tapi mana mungkin Mahesa mengizinkan Husna untuk pergi keluar, jangan kan untuk keluar saja, menginjakkan kaki di pagar rumah tanpa sepengetahuan Mahesa saja, Husna pasti kena amukan Mahesa.
Beruntung saja mang Udin bisa membawakan sholat tarawih tersebut, jadi bik Yatri, Husna dan mang Udin sholat tarawih di rumah saja.
Selesai mereka sholat tarawih kini Husna pergi ke kamar nya ia tidak mendapati Mahesa berada di dalam kamar.
"Kemana dia?"
Husna keluar dari kamar itu lalu ia mencari Mahesa ke ruang kerjanya.
Mahesa di ruang kerjanya itu sedang membaca berkas yang di berikan oleh Hendri waktu itu, ia sedang meneliti apakah ada yang kurang aset yang akan di berikan ke pada Husna nantinya.
Waktu itu Mahesa berubah pikiran ia sendiri yang menyimpan berkas itu dan ia tidak jadi menyimpan berkas itu di rumah yang di Jakarta.
Mahesa sudah jauh-jauh hari menyiapkan ini semua untuk Husna, ia merasa lega jika separuh asetnya di berikan kepada Husna nantinya, Mahesa meninggalkan Husna dengan begitu banyak harta, ia meninggalkan Husna tidak dalam keadaan kekurangan melainkan Mahesa sangat baik hati memberikan separuh dari aset nya itu.
Mulai dari mobil, rumah, tanah dan masih banyak lagi Mahesa memberikan aset nya untuk Husna, ia merasa lega sudah memindahkan separuh aset itu atas nama Husna.
Mahesa masih membaca berkas itu dan ia juga melihat isi surat perjanjian yang pernah ia buat bersama Husna.
"Setidaknya saya memberikan kamu hal yang sangat baik, saya merasa senang jika meninggalkan kamu nanti, saya banyak berterima kasih kepada kamu!"
Cklekk
Pintu ruang kerja itu di buka oleh Husna, Mahesa langsung melihat ke arah pintu yang di buka, Husna berdiri di ambang pintu sedangkan Mahesa sudah sangat marah melihat Husna yang datang dan main buka pintu begitu saja.
"Mas, kamu lagi apa?" tanya Husna
"SIAPA SURUH MASUK?" marah Mahesa langsung membuat Husna kaget dengan bentakan Mahesa itu.
"M-maaf!" lirih Husna langsung menundukkan kepalanya karena air matanya sudah menetes.
"Astagfirullah alhazim... sakit sekali hati hamba saat mas Mahesa membentak hamba! batin Husna
"Keluar!" bentak Mahesa tidak sekeras tadi suaranya.
Husna mundur ke belakang lalu ia berputar balik untuk keluar dari ruang kerja Mahesa itu, Husna sedikit berlari ke kamar.
"Hiks... kenapa dia memarahi ku, hiks... apa salahnya dia berucap pelan saja dan tidak membentak ku hiks... aku tau aku salah tapi kenapa dia begitu marah?"
Husna berbaring di ranjang seraya menangis karena Mahesa memarahi dia tadi, di ruang kerja Mahesa sedang menghela napas.
"Beruntung dia tidak melihat nya, tidak aman jika berkas ini di simpan di rumah ini, kapan pun Husna pasti akan keluar masuk ke sini, tadi saja ia sangat berani masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu!"
Mahesa menggusar wajahnya, "aaakh...!" dia sangat kesal saat ini, lalu Mahesa pergi ke kamar ingin melihat Husna yang ia bentak tadi, apa lagi ia juga melihat Husna menangis tadi.
"Cengeng banget sih!" gerutu Mahesa saat melihat Husna sedang berbaring sambil terisak.
Mahesa mendekati Husna lalu ia duduk di sebelah Husna, ia menghela napas lalu tangan nya terulur ke wajah Husna dan menghapus air mata istri sirinya itu.
"Tidak usah cengeng!"
"Hiks... hiks... hiks...!" Husna tambah menangis karena ia merasa kesal juga dengan Mahesa.
"Diam gih, saya nggak suka dengar cewek nangis!" ujar Mahesa
Husna membalikkan tubuhnya menghadap Mahesa ia menepis tangan Mahesa saat Mahesa ingin mengusap pipinya yang basah itu.
"Kalau tidak suka dengar aku nangis, terus kenapa kamu marahi aku terus-menerus, aku punya hati dan perasaan mas, aku sering nangis saat kamu membentak ku, saat aku tak kamu anggap aku juga sering menangis, kamu pikir aku apan hah?, aku juga manusia yang ingin di hargai dan di anggap juga, emang kamu pikir aku patung yang seenak kamu saja memarahi ku dan membentak ku, aku ini ibu dari anak kamu yang akan aku lahirkan ke dunia ini, coba saja kamu menghargai aku sedikit!" ujar Husna dalam hati.
Ingin sekali Husna mengutarakan isi hatinya itu tapi ia tidak mempunyai pendirian dan keberanian untuk mengucapkan itu kepada Mahesa--suaminya.
"Sudah nangis nya?" ujar Mahesa menatap wajah Husna
Husna memalingkan wajahnya dari Mahesa, ia sakit hati dengan semua perlakuan suaminya ini.
Siapa yang tidak sakit hati saat suami sering membentak dan memarahi, siapa pun yang mengalami nya pasti akan sakit hati juga.
"Maaf!" ujar Mahesa
Mahesa sangat sering berucap maaf pada Husna, tapi ia akan mengulangi lagi nantinya membentak Husna bahkan Mahesa tidak segan-segan menyakiti fisik Husna. Bisa di bilang jika Mahesa ini memiliki sikap temperamental tinggi, ia akan mudah marah begitu cepat dan bahkan dia bisa menyakiti orang-orang di sekitar nya.
"Sekarang kamu minta maaf, terus besok kamu akan mengulangi lagi!" ujar Husna menatap Mahesa seakan mencemooh.
"Karena kamu berulah, makanya saya marah bahkan menyakiti fisik mu saya tidak segan-segan!" ujar Mahesa
"Temperamental mu sangat tinggi!" ujar Husna mendorong tubuh Mahesa yang ingin berdekatan dengan Husna.
...
Bersambung...
**Mana nih para penyemangat author, nggak kasihan apa sama author ini yang kadang lelah berfikir tapi hanya dapat angin saja, mana suaranya nih para mom dan bunda², dan sahabat author lainnya nih???
Suara kalian mana???
Author capek kalau nulis tanpa ada dukungan kalian, apa lagi bulan puasa gini, capek pikiran capek fisik dan capek semuanya, semangati dongg**.....!!???