
Sudah satu hari saja mereka berada di rumah mereka waktu itu, hari ini Husna ingin mencari paman dan bibi nya itu. Ia sedikit kesulitan mencari informasi tentang paman nya itu.
"Mas, apa paman sama bibi aku masih tinggal di sekitaran sini ya?" tanya Husna
"Aku juga tidak tau, yang pasti coba saja kita cari terlebih dahulu siapa tau mereka masih tinggal di sekitaran sini!" tutur Mahesa
Mahesa bersama Husna sudah sampai di rumah peninggalan orang tua Husna itu, Husna menatap rumah dimana ia di besarkan oleh paman dan bibi nya itu. Banyak sekali kenangan indah di rumah ini, terlebih lagi rumah ini rumah orang tua nya, Husna jadi mengingat memori lama nya tentang ayah dan ibu nya.
Dari ia bayi sampai dia masuk sekolah dasar orang tua nya itu selalu menyayangi nya bahkan juga memanjakan nya juga, apa pun yang Husna inginkan pasti akan di turuti.
Sampai di suatu ketika kedua orang tua nya itu mengalami kecelakaan pesawat yang naas merenggut nyawa kedua orang tua nya yang sangat ia sayang itu. Di sanalah titik paling hancur Husna, harus kehilangan kedua orang tuanya sekaligus.
Dada Husna terasa sesak saat ia mengingat kenangan itu, ia teringat dengan orang tua nya, bahkan bagaimana bentuk wajah kedua orang tua nya itu ia masih ingat.
Mahesa menyadari itu jika Husna sedang menangis, Mahesa mendekati Husna lalu ia memeluk tubuh yang sedang di guncang kesedihaan itu, Mahesa memberikan ketenangan untuk Husna.
"Hiks... mas... hiks... ayah sama ibu, aku merindukan mereka mas!" adu Husna
"Sssttt... mas tau bagaimana kerindua kamu terhadap mereka, tapi kita bisa apa sayang, kita hanya bisa mendo'akan mereka dari sini!" tutur Mahesa
Sangat lama sekali Husna menahan rasa rindu itu, ingin sekali ia memeluk, mencium kedua orang tua nya itu, tapi itu bagaimana bisa ia lakukan.
"Hiks... Husna pengen memeluk ayah sama ibu mas, hiks... Husna rindu dengan semuanya mas hiks...!" adu Husna
Mahesa tidak bisa berkata-kata lagi ia hanya bisa memberikan Husna kenyamanan dan ketenangan di dalam dekapan nya ini, semoga dekapan nya ini bisa mengurangi kerinduan nya terhadap ayan dan ibu nya.
Terlalu lama ia menangis dan pada akhirnya Husna melepaskan pelukan dari Mahesa, Husna menatap wajah Mahesa yang ikut merasakan kesedihan itu, saat ini wajah Husna kelihatan sembab akibat menangis tadi.
Mahesa mengusap air mata Husna itu, "jangan nangis lagi ya, ingat sama anak yang kamu kandung!" tutur Mahesa, Husna mengangguk kecil.
"Bolehkah Husna masuk ke rumah Husna?" izin Husna ingin masuk ke rumah nya yang seperti rumah tinggal itu.
Mahesa mengangguk lalu ia mengandeng tangan Husna.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah yang sudah lama di tinggalkan itu, debu dan sarang laba-laba sudah memenuhi setiap sudut rumah ini. Husna tersenyum dia sangat bahagia karena rumah ini masih jadi milik dia, dia tidak tau kalau tidak ada Mahesa sudah pasti rumah ini di beli oleh orang lain.
Husna melirik Mahesa sekilas ia sangat berterima kasih banyak kepada suaminya itu, Mahesa banyak sekali membantu nya.
Husna mengelilingi semua ruangan setiap rumah nya ini, ia berhenti di depan pintu kamar orang tua nya itu. Kamar ini tidak pernah di huni oleh semua anggota keluarga nya waktu itu, bibi nya itu mengunci kamar orang tua Husna ini, selama ini Husna ingin masuk ke kamar orang tua nya ini.
Mahesa mengikuti Husna lalu ia memegangi pundak Husna, Husna sedikit kaget saat Mahesa tiba-tiba saja memegangi pundak nya itu.
"Mau masuk?" tanya Mahesa, Husna mengangguk kecil
"Ini kamar orang tua Husna, dari dulu Husna ingin masuk ke kamar ini tapi Husna di larang oleh bibi!" beritahu Husna
Mahesa tersenyum, "sekarang kamu sudah bisa masuk ke kamar ini, karena rumah ini sudah jadi milik kamu!" ujar Mahesa
Husna membuka kunci pintu kamar itu, ia memutar handle pintu itu. Kamar ini terlihat sangat gelap, cahaya matahari tidak masuk ke kamar ini, lampu kamar ini juga sudah rusak. Husna membuka jendela kamar itu, barulah cahaya matahari masuk ke dalam kamar.
"Berdebu sekali!"
Husna mengelilingi kamar ini dimana ia selalu tidur dengan orang tua nya sewaktu ia masih kecil dulu. Kembali lagi Husna meneteskan air mata nya teringat akan kedua orang tua nya yang telah tiada.
Jadi pertanyaan bagi Husna kenapa bibi nya menyimpan begitu banyak foto orang tua nya di sini!
Sedikit terobati saat melihat foto orang tua nya yang masih utuh dan bersih itu.
"Ayah, ibu, Husna merindukan kalian!"
"Ayah sama ibu kenapa tega meninggalkan Husna? Husna masih kecil sudah kalian tinggalkan saja, Husna masih butuh kasih sayang kalian!" tangis Husna mengusap foto orang tua nya itu.
Mahesa juga ikut menitikkan air matanya ia tidak kuasa juga menahan rasa sedih itu, pasti sangat sakit sekali menahan rindu itu.
"Husna!" lirih Mahesa
Husna mendongakkan kepalanya guna melirik Mahesa.
"Mas... hiks... Husna rindu sama ayah ibu Husna hiks... mereka tega meninggalkan Husna di saat Husna masih membutuhkan mereka!" tangis Husna mengadu pada Mahesa
"Istighfar Husna... sudah ya jangan nangis lagi, ini semua sudah takdir kita tidak bisa melawan takdir yang sudah di tentukan oleh Allah SWT!" tutur Mahesa membawa Husna dalam dekapan nya.
"Astagfirullah alhazim, astagfirullah alhazim, astagfirullah alhazim!" ucap istighfar Husna
Terlalu banyak kesedihan yang di alami Husna semenjak orang tua nya tiada, di situlah kesedihan itu di mulai.
"Mari kita keluar dari sini!" ajak Mahesa
Husna hanya diam lalu Mahesa membantu Husna berdiri, Husna menahan tangan Mahesa saat mereka mau keluar dari sana.
"Kenapa?"
"Uus boleh bawa satu foto ayah sama ibu, Uus tidak mas?" tanya Husna
Mahesa tersenyum, "boleh, pilih saja yang mana yang akan kamu bawa, foto ini semuanya milik kamu!" tutur Mahesa
Husna mengangguk ia mengambil foto orang tua nya itu.
"Besok mas akan menyuruh orang suruhan mas untuk membersihkan rumah ini!" ujar Mahesa
"Makasih ya mas!"
"Tidak perlu mengucapkan terima kasih, apa pun itu akan aku lakukan demi kebahagiaan kamu dan anak-anak kita!" tutur Mahesa
Mereka kembali keluar rumah, untuk hari ini Mahesa melarang Husna untuk mencari paman dan bibi nya itu, bukan apa-apa tapi Mahesa tidak mau membuat Husna capek terlebih lagi Husna sedang berbadan dua.
Besok mereka akan mencari paman dan bibi nya itu, hari ini Husna sudah terlalu banyak mengeluarkan tenaga nya, Mahesa sendiri tidak mau membuat istrinya kenapa-napa.
...
Bersambung...
Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan jejak kalian, tidak ada komentar maka author tidak akan update cerita ini.
Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, yang panjang kek komentar nya, jangan satu kata saja🤔🙄🤨