Pernikahan Siri Seorang Dokter

Pernikahan Siri Seorang Dokter
part 27. Anak Kita!


Menjelang azan subuh, Husna sudah terbangun dari tidurnya, hal pertama yang ia lihat yaitu wajah tampan nan damai Mahesa saat tidur, Husna tersenyum melihat wajah bantal Mahesa menurut nya sangat imut itu.


"Wajah mu sangat tampan!" gumam Husna mengusap wajah Mahesa, Mahesa menggeliatkan tubuhnya karena ada sesuatu di wajahnya yang membuat dia terusik.


Perlahan Mahesa membuka matanya ia kaget karena wajah Husna sangat dekat dengan nya, apa lagi Husna tersenyum manis pada Mahesa, pagi hari Mahesa sudah di suguhkan saja oleh senyum manis istri sirinya itu.


"Jam berapa sekarang kenapa kamu sudah bangun?" ujar Mahesa mengambil telepon genggam nya di atas nakas guna melihat jam.


Jam menunjukkan pukul 04.20 pagi buta, Husna sudah terbangun saja karena ia merasa haus, Mahesa menghela nafas ia memeluk Husna guna untuk mengantar nya tidur lagi.


"Aku haus!" ujar Husna tidak bisa bergerak karena Mahesa terlalu kuat memeluknya, Mahesa melepaskan pelukan nya dari Husna lalu ia mengambilkan air minum di atas nakas untuk Husna.


Husna meneguk seperempat gelas air minum itu, lalu Mahesa mengambil minum itu ia letakkan kembali ke atas nakas itu.


"Tidur lagi!" ujar Mahesa


"Tidak, sebentar lagi subuh!" ujar Husna


Mahesa mengangguk kecil ia memilih untuk tidur, tangan besar Mahesa bertengger di pinggang Husna, Husna membiarkan nya saja Husna hanya berpikir kenapa sikap Mahesa berubah jadi perhatian seperti ini lagi?.


Husna menatap wajah Mahesa yang kembali tidur, seandainya Mahesa tidak membohongi Husna atas sikap perhatian pura-pura nya itu, mungkin sampai saat ini Husna akan tetap percaya pada Mahesa, tapi Mahesa sendiri yang membuat Husna menaruh curiga untuk nya.


"Seandainya kamu tidak membohongi ku mungkin aku akan tetap percaya dengan sikap manis mu itu, tapi kamu sendiri yang malah membuat kepercayaan ku hilang untuk mu!" batin Husna


Azan subuh berkumandang, Husna turun dari tempat tidur ia akan melaksanakan sholat subuh, entah kenapa Husna merasa mual kembali dari sekian lamanya dia tidak pernah merasakan morning sicknees ini lagi.


"Huek!"


Mahesa terbangun karena ia mendengarkan seseorang yang lagi muntah, Mahesa melihat ke kamar mandi ternyata Husna yang muntah sepagi ini.


"Huek!"


Mahesa langsung memijat tengkuk leher Husna, Husna terus muntah-muntah yang ia muntahkan tidak keluar apa-apa tapi rasa mual menyerang nya.


Mahesa mengerutkan keningnya, banyak pertanyaan menyerang benak Mahesa, seharusnya Husna tidak mual lagi karena ia sudah melewati trimester pertama dan kedua, usia kandungan nya saja sudah masuk lima bulan lebih.


"Bukankah kamu sudah lewat masa trimester ini ya?" ujar Mahesa


"Belum mas, kata dokter sampai melahirkan aku akan merasa mual-mual gini juga, tapi jarang juga!" ujar Husna


Mahesa membulatkan mulut nya seperti huruf o, Mahesa kembali ke kamar karena Husna mau ambil wudhu, Mahesa tidak bisa menutup matanya kembali karena terganggu terus, ia memperhatikan Husna yang lagi sholat subuh.


Heran sama Mahesa ini sudah sering istrinya menunaikan sholat di depan nya, tapi kenapa hatinya tidak tergerak sama sekali untuk melakukan sholat.


Selesai Husna sholat ia lebih memilih untuk membuka Al-qur'an untuk ia baca, kali ini Husna membaca surat Al-isra'.


"Audzubillahiminasyaitonirrojim"


"Bismillahirrahmanirrahim"


"Sub-haanallaziii asroo bi'abdihii lailam minal-masjidil-haroomi ilal-masjidil-aqshollazii baaroknaa haulahuu linuriyahuu min aayaatinaa, innahuu huwas-samii'ul-bashiir. ١


"Wa aatainaa muusal-kitaaba wa ja'alnaahu hudal libaniii isrooo-iila allaa tattakhizuu ming duunii wakiilaa. ٢


"Zurriyyata man hamalnaa ma'a nuuh, innahuu kaana 'abdang syakuuroo. ٣


"Shadaqallahul adzim! sebagai penutup bacaan Al-qur'an yang di baca Husna, Husna menutup Al-qur'an nya lalu ia meletakkan kembali pada tempat nya, saat Husna berbalik ia tidak melihat Mahesa lagi.


"Mas Mahesa kemana?" gumam Husna


Saat Husna memulai membaca Al-Qur'an tadi, Mahesa memilih untuk pergi keluar kamar, ia merasa sangat berdosa sekali karena sering meninggalkan kewajiban sebagai hamba Allah Subhana wa ta'ala.


Husna pergi ke bawah untuk membantu bik Yatri saat di pertengahan anak tangan Husna bertemu dengan Mahesa.


"Mas!" sapa Husna lalu Husna menuruni anak tangga dengan langkah hati-hati.


"Hati-hati!" ujar Mahesa mengingatkan Husna


Lagi-lagi Mahesa terasa aneh dengan hatinya itu, melihat senyum manis Husna membuat jantungnya berdebar.


"Mas!" panggil Husna saat Mahesa hendak melangkahkan kakinya, Mahesa melihat Husna yang tersenyum itu.


"I love you!" ujar Husna dengan senyum malu-malu nya, lalu Husna mempercepat langkah nya agar dia bisa terhindar dari Mahesa.


Mahesa mematung dengan ucapan Husna tadi, tidakkah Husna tau jika jantung Mahesa berdebar sangat kencang.


"Apa ini!" ujar Mahesa memegang dadanya


"Istri nakal!" ujar Mahesa tanpa sadar bibirnya melengkung ke atas membentuk senyum.


Di dapur Husna sedang tersenyum malu-malu karena kekonyolan dia tadi, entah dari mana Husna bisa mengucapkan kata i love you kepada suaminya itu.


Bik Yatri menyaksikan sendiri jika nyonya nya itu senyum-senyum sendiri, bik Yatri juga ikut tersenyum melihat Husna.


"Lagi bahagia ya nyonya!" ujar bik Yatri


"Eh bik!" ujar Husna lalu menyembunyikan senyum nya itu.


Selesai Husna membantu bik Yatri kini ia menyajikan makanan di atas meja makan, ternyata Mahesa sudah lebih dulu duduk di meja makan itu.


Husna sempat gelagapan karena Mahesa menatap dirinya, ia masih ingat dengan kekonyolan dia tadi.


"Mas!" ujar Husna


"Mau bilang i love you lagi?" tanya Mahesa sengaja untuk menggoda istri sirinya itu.


Wajah Husna memerah seperti kepiting rebus, ia berbalik memunggungi Mahesa saking malunya.


"Siapkan sarapan saya, saya akan berangkat!" ujar Mahesa


Tidak ada badai tidak ada hujan tidak ada hujan halilintar angin ribut, Mahesa mau sarapan walaupun dia keburu dengan waktu kerja nya. Husna dengan senang hati menyiapkan sarapan untuk Mahesa.


Selesai ia sarapan Mahesa buru-buru pergi tanpa pamit terlebih dahulu dengan Husna, Husna menghela nafas lalu ia mengikuti langkah Mahesa itu.


"Mas kapan kamu akan ke sini lagi?" tanya Husna


Mahesa memberhentikan langkah kakinya, ia memutar tubuhnya untuk melihat Husna, "saya tidak tau pasti kapan saya akan ke sini lagi, tunggu saja saya!" ujar Mahesa, Husna mengangguk kecil dengan wajah sedih, baru saja Mahesa mengunjungi nya sekarang ia malah pergi lagi.


"Anak ayah sehat-sehat di sana, tunggu saja ayah ya!" ujar Mahesa ke perut besar Husna itu, tidak lupa pula Mahesa memberikan kecupan di perut Husna itu, jika orang lain yang melihat kejadian ini pasti mereka akan beranggapan Mahesa suami yang sangat perhatian dan harmonis, tapi aslinya tidak.


"Saya pergi dulu!" ujar Mahesa melangkahkan kakinya ke arah mobilnya, Husna mengejar Mahesa lalu memeluk Mahesa dari belakang, Mahesa menghela nafas melepaskan pelukan dari Husna itu.


"Saya harus pergi kamu jaga diri kamu baik-baik, tunggu saja saya!" ujar Mahesa mengusap puncak kepala Husna.


"Jangan lama-lama!" ujar Husna


"Saya tidak tau pasti lama atau tidaknya, yang pasti tunggu saja saya!" ujar Mahesa


Husna mengangguk-angkuk kecil sambil melemparkan senyum yang sangat manis untuk suaminya ini.


"Jaga anak saya!" ujar Mahesa


"Anak kita!" ujar Husna memperbaiki ucapan Mahesa


"Yang pasti kamu tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat-berat!" ujar Mahesa


"Iya!" jawab Husna


...


Bersambung...