Pernikahan Siri Seorang Dokter

Pernikahan Siri Seorang Dokter
part 21. Salah Paham Sudah Usai


Karena menangisi buah-buahan tadi mata Husna jadi sembab akibat menangis terlalu lama, ia tidak mau melihat buah-buahan itu terbuang cuma-cuma apa lagi mubazir, mubazir itu kan sifat setan.


"Udah nangis nya?" tanya Mahesa saat ia baru masuk ke kamar, dari tadi Mahesa menghindar karena suara tangis Husna membuat dia muak saja.


Husna tidak menjawab nya hanya saja isakan kecil masih terdengar dari nya, Mahesa menggeleng-nggelengkan kepalanya karena tingkah ibu hamil satu ini.


Mahesa duduk di depan Husna ia menatap wajah Husna yang memerah akibat menangis tadi, Mahesa ingin menghapus sisa-sisa air mata itu tapi ia sangat gengsi untuk melakukan nya.


Sudah empat bulan lamanya Mahesa tidak melihat istri sirinya ini, ia sangat menyesal karena tidak ada di saat-saat anak mereka berkembang di dalam perut Husna, lihatlah sekarang ini perut Husna sudah membesar saja.


"Maaf ya ayah selalu meninggalkan kamu, lihatlah sekarang pasti di dalam sana kamu sudah besar!" ujar Mahesa mengusap perut besar Husna itu.


Husna memperhatikan Mahesa yang terus mengusap perut nya itu, dari sekian lamanya Husna menanti baru sekali ini Mahesa memegang perut nya saat sudah membesar, begitulah penantian Husna selama empat bulan di tinggal oleh suaminya.


"Kamu dari mana saja?" tanya Husna akhirnya buka suara karena hatinya tidak tahan lagi ingin bertanya kemana saja Mahesa selama empat bulan ini.


Mahesa tidak menjawab ia juga bingung harus menjelaskan seperti apa kondisi nya waktu itu, selama empat bulan itu Mahesa memang di sibukkan oleh pekerjaannya.


"Mas jawab!" ujar Husna karena tidak dapat jawaban apapun dari Mahesa.


"Kerja!" jawab Mahesa singkat dengan dingin


"Kerja!" beo Husna


Ia tidak percaya dengan jawaban Mahesa itu, Husna berpikir mana ada bekerja selama empat bulan lamanya tanpa memberi kabar dia juga, Husna tidak bisa menahan rasa sakit di hatinya itu, berbagi suami tidak pernah ia bayangkan dan ia rasakan.


"Kamu bersama istri pertama kamu kan!" tebak Husna


Mahesa mengerutkan keningnya, kenapa Husna berkata seperti itu, jelas saja Mahesa tidak mengerti dengan maksud dari ucapan Husna ini, istri pertama apa? pikir Mahesa


"Istri pertama!" lirih Mahesa


Husna mengangguk sambil mengusap air matanya yang sudah mengalir, ia tidak sanggup mendengar jika suaminya selama empat bulan ini menghabiskan waktu bersama dengan istri pertama nya.


Mahesa langsung paham dengan ucapan Husna ini, Mahesa hanya diam tanpa memberikan kebenaran apa pun untuk Husna, ia hanya membiarkan pikiran Husna tentang istri pertama itu yang jelas tidak ada. Kesimpulan yang tidak menarik dan tidak masuk akal bukan! pikir Mahesa


Sungguh jahat kamu Mahesa membiarkan istri mu dilanda rasa penasaran!


"Mas!" ujar Husna menggoyang-goyangkan tangan Mahesa, Husna sangat ingin tahu kebenaran nya.


"Apa?" ujar Mahesa mampu membuat Husna terdiam


Mahesa tersenyum sinis saat ia keluar dari kamar mereka itu, "istri pertama ya!" gumam Mahesa meninggalkan kamar itu.


Husna menangis di dalam kamar mereka, ia tidak menyangka harus berbagi, dalam impian pernikahan yang telah ia bayangkan sejak dulu ia tidak mau berbagi suami apa lagi menjadi istri simpanan seperti ini, ternyata impian untuk memiliki suami seutuh dan satu-satunya tidak berhasil Husna dapatkan.


Begitulah pikiran picik Husna yang tidak lepas dari kata istri pertama, ia terus terus tersiksa dengan kenyataan pahit ini.


"Kamu kenapa jahat Husna!" ujar Husna


"Seharusnya kamu menolak untuk tidak menikah dengan suami orang, sekarang kamu menghancurkan hati seorang istri, kamu sangat jahat sekali!" ujar Husna menyalahkan diri nya yang tidak salah.


Husna hanya salah paham saja, seharusnya Mahesa memberi tahu dari awal kalau dia masih lajang saat ijab kabul di ucapkan, tapi ia merahasiakan itu semua sehingga Husna menarik kesimpulan jika suaminya adalah suami orang yang ia rebut.


"Hiks... kamu jahat Uus hiks... seharusnya kamu tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang hiks... kenapa kamu begitu tega dengan seseorang itu, hiks... kenapa kamu tega Uus...!" tangis Husna sampai di dengar oleh bik Yatri


Bik Yatri sangat khawatir dengan suara tangis nyonya nya yang tidak biasa bik Yatri dengar, tangis Husna kali ini terdengar sangat pilu dan menyakitkan, bik Yatri membuka pintu kamar itu ia melihat Husna yang terduduk di lantai.


"Astagfirullah alhazim nyonya!" pekik bik Yatri


Bik Yatri menghampiri nyonya nya yang terduduk di lantai sambil terisak-isak itu, Husna melihat bik Yatri ia langsung memeluk tubuh wanita paruh baya itu.


Bik Yatri juga memeluk tubuh nyonya nya itu, bik Yatri mendengarkan keluh kesah yang di ucapkan oleh Husna, apa yang dimaksud dengan menjadi duri dalam keharmonisan rumah tangga mereka? pikir bik Yatri


"Nyonya sudah nyonya, tidak baik menangis saat lagi hamil gini, kasihan bayi yang nyonya kandung!" ujar bik Yatri


"Uus jahat bik hiks... Uus jahat sekali dengan mereka hiks...!" tangis Husna


Mahesa kembali ke kamar ia melihat Husna dan bik Yatri saling berpelukan, Mahesa sedikit khawatir dengan Husna yang menangis itu.


"Ada apa bik?" tanya Mahesa dengan raut wajah khawatir


"Tidak tau tuan, bibik lihat nyonya sudah menangis saja!" ujar bik Yatri


Husna memeluk erat tubuh bik Yatri karena ia tidak ingin bicara dengan suaminya ini, Husna sangat malu dengan diri nya sendiri karena kemunafikan diri nya ini.


Di satu sisi dia tidak mau kehilangan suaminya ini karena beberapa waktu yang lalu Mahesa berhasil membuat Husna jatuh hati, di sisi lain Husna sangat sakit hati menerima kenyataan ini.


Mahesa membopong tubuh istri sirinya itu ke atas tempat tidur, bik Yatri di suruh keluar oleh Mahesa, Mahesa ikut berbaring di samping Husna.


Husna menjauh saat Mahesa mendekati nya, Mahesa melihat wajah sembab Husna itu ada rasa sedih juga yang ia rasakan.


"Kamu kenapa lagi ha?" tanya Mahesa pada Husna


Husna tidak menjawab ia membuang muka saat Mahesa menatap wajah nya, isakan kecil masih terdengar darinya, dengan gerakan cepat Mahesa membawa Husna dalam dekapan nya, Husna memberontak karena tidak ingin di peluk oleh Mahesa.


Husna masih dilanda rasa bersalah dalam dirinya ini, dia merasa sangat munafik dengan dirinya sendiri, di satu sisi ia mau di peluk oleh Mahesa karena sudah lama ia tidak merasakan dekapan suaminya ini, dan di sisi lainnya ia merasa bersalah dengan dirinya karena ia berpikir dialah perusak rumah tangga orang lain.


"Jangan sentuh aku!" ujar Husna


"Kenapa begitu? aku ingin memeluk anak ku lewat kamu!" ujar Mahesa


"Tidak, jangan peluk aku!" ujar Husna


Mahesa tidak menggubris permintaan Husna yang ingin lepas dari dekapan nya itu, Husna memaksa Mahesa untuk melepaskan nya sampai-sampai Husna memukul dada bidang suaminya itu.


Ada rasa bersalah pada istrinya ini karena ia tidak jujur tentang istri pertama yang Husna bilang tadi, Mahesa menarik nafas ia mengusap kepala Husna yang di tutupi oleh hijab nya.


"Istri pertama kah yang membuat kamu mengamuk dan jadi keras kepala gini?" tanya Mahesa


Husna menghentikan memukul dada bidang suaminya itu saat Mahesa membahas tentang istri pertama.


"Kamu tidak perlu takut dengan istri pertama saya, karena istri pertama saya berada dekat dengan saya!" ujar Mahesa tidak dapat di mengerti oleh Husna


"Apa maksud mu? apa istri pertama kamu ada di sini juga?" tanya Husna, sudah dari tadi mereka bersama tapi semenjak tadi Husna tidak melihat wanita lain selain bik Yatri dan diri nya di rumah ini.


Mahesa tertawa kecil, Husna sangat heran dengan tawa Mahesa yang pertama kali ia dengar.


"Istri pertama saya ya kamu, tidak ada istri lain selain kamu, kamu istri pertama saya!" jelas Mahesa


Husna langsung bungkam dengan penjelasan Mahesa, istri pertama nya adalah Husna!


Mahesa mengakui jika Husna lah istri pertamanya, tidak ada lagi selain dirinya.


"Aku!" lirih Husna


Mahesa diam masih memeluk tubuh Husna, kenapa Mahesa harus repot-repot memberi tahu Husna jika Husna lah istri pertamanya nya, apakah Mahesa sudah mulai ada rasa juga sama seperti Husna yang sudah mulai ada rasa juga untuk Mahesa?


...


Bersambung...