
6 bulan kemudian...
Sudah enam bulan saja Husna mengasuh putra nya ini, apa lagi umur putranya sudah tujuh bulan saja.
Saat ini Husna sedang mengajak putranya itu ke taman belakang, ia duduk di bangku taman itu seraya bermain dengan Ansel itu, tangan kecil putra nya itu sedang memegang tangan bunda nya.
"Masya Allah... Husna, bibik senang melihat kalian bisa berkumpul gini!" tutur bik Yatri mengahmpiri Husna yang lagi bermain dengan Ansel itu.
"Aduh... tuan muda lucu sekali ya!"
Husna memberikan Ansel itu kepada bik Yatri, putra nya itu menangis karena Husna tidak mengendong nya.
"Hiks...buna... hiks...!" tangis Ansel mengulurkan tangannya kecilnya itu kepada Husna.
"Eh, tuan muda tidak mau ya di gendongan sama bibik?" tutur bik Yatri menggoyang-goyangkan tubuh mungil Ansel itu dalam gendongan nya.
"Buna... hiks... buna...!" tangis Ansel tak mau berhenti seakan dia tidak mau lepas dari bundanya itu.
"Iya... bunda di sini kok, Ansel kenapa nangis nak, bunda di sini temani Ansel, Ansel jangan nangis lagi, bunda tidak akan meninggalkan Ansel lagi, bunda sayang Ansel!"
"Bunda?" timpal Romlah
Romlah mendengar Husna memanggil dirinya dengan sebutan bunda, apa telinga nya tidak salah jika Husna memanggil dirinya bunda.
"Eh, kamu cuma pengasuh tuan muda, jadi jangan sok berlagak kau ini ibu kandung nya!" hardik Romlah
"ROMLAH!" bentak bik Yatri memelototi matanya kepada Romlah, ingin sekali bik Yatri memberitahu semua orang jika Husna ini istri majikan nya itu, apa lagi bik Yatri sangat marah mendengar Romlah menghardik nyonya nya sendiri.
"Bik Yatri kenapa membela pengasuh tuan muda ini? aku perhatiin bik Yatri selalu membela perempuan tidak jelas ini!" timpal Siti
"Berani kalian melawan ucapan ku!" bentak bik Yatri lalu mengembalikan Ansel kepada Husna.
"Ini bukan soal melawan bibik ya, kami ini hanya protes saja, kenapa perempuan ini selalu bibik membela nya, memang dia siapa bik? mentang-mentang dia ini keponakan bibik, bibik selalu membela nya!" tutur Romlah
Bik Yatri terdiam sejenak.
"Kapan aku selalu membela nya? aku juga sering memarahi nya, dia juga sering membuat salah aku juga memarahinya!" kilah bik Yatri
"Alah! kapan bibik membela perempuan ini?" ucap Siti
"Lihatlah dia tidak seperti pembantu seperti kami, dia selalu di kamar mengasuh tuan muda saja sedangkan pekerjaan juga banyak di rumah ini, terlebih lagi dia juga tak memakai baju art seperti kami!" timpal Romlah
"Dan kau, kau hanya pengasuh tuan muda di sini, jadi kau jangan berlagak seperti nyonya di sini!" bentak Siti menunjuk-nunjuk ke arah Husna
Dari tadi Husna hanya diam dengan pertengkaran yang juga melibatkan dirinya ini, kata-kata Romlah dan Siti ini ada benarnya juga, dia di sini hanya berperan sebagai pengasuh tuan muda, tidak lebih dan tidak kurang.
Dan inilah yang ditakutkan oleh Husna, jika saja Mahesa tidak melarang dirinya untuk membantu-bantu art lain mungkin mereka tidak akan curiga seperti ini, apa lagi art lain juga merasa iri karena Husna terlalu dekat dengan majikan mereka.
"Cuih! ludah Romlah
"Tuan muda tidak pantas memanggil diri kau dengan sebutan bunda, kau hanya pembantu hanya pembantu, kau dengar kan apa yang saya ucapkan!" hardik Siti
Husna menghela napas, kenapa dia bisa se-ceroboh seperti ini seharusnya dia tidak memanggil dirinya bunda jika di luar kamar seperti ini, jadinya semua orang pada mendengarkan nya.
"Bubar kalian!" terik bik Yatri karena kasihan melihat nyonya nya ini di bentak bahkan di caci oleh pembantu yang lain.
Art yang lain pada bubar kecuali Romlah dan Siti yang masih di sini menatap Husna dengan tatapan sinis.
"Kau hanya pembantu, jadi kau jangan berlagak seperti nyonya di sini!" tutur Siti lalu mendorong tubuh Husna
"Ayo Rom!" ujar Siti lalu mereka berdua pergi dari sana.
Bik Yatri tidak bisa membela Husna ia merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi saat ini, bik Yatri membawa Husna ke kamar dan juga Ansel.
"Maafkan bibik, nyonya, bibik tidak bisa membantu nyonya saat nyonya di caci oleh mereka maafkan bibik!" ucap bik Yatri seraya menangis.
Husna tersenyum kecil, "tidak usah mintak maaf bik, bibik tidak salah, Uus yang salah karena Uus terlalu percaya diri!" ujar Husna mengusap punggung bik Yatri
"Tapi bik Yatri tidak bisa membela nyonya saat nyonya di perlakukan seperti tadi, bibik merasa bersalah nyonya!" tutur bik Yatri
"Tidak apa-apa bik, Husna tidak apa-apa kok, lagi pula ucapan mereka itu ada benarnya juga kok, Husna terlalu berlagak seperti nyonya di rumah ini!" tutur Husna menghela napas
"Tapi memang betul nyonya itu nyonya di rumah ini, andai saja bibik bisa berucap jika nyonya itu istri tuan, mungkin mereka akan bungkam bahkan syok mendengar nya!" tutur bik Yatri
"Sudahlah bik, Husna pembantu di sini jadi bibik jangan merasa bersalah seperti itu!"
...
Setelah kejadian tadi siang kini Husna banyak murung dan melamun, ia jadi kepikiran dengan ucapan mereka tadi.
Mahesa baru saja pulang ia setiap kali ia pulang pasti ia akan mengunjungi kamar putra nya itu.
"Ayah pulang...!" ucap Mahesa
Husna masih melamun sementara itu ia membiarkan Ansel yang lagi tiduran di karpet bulu itu dengan beralas kasur kecil milik Ansel itu.
Mahesa melihat Husna yang melamun itu terlebih lagi ia tidak menyahut saat Mahesa pulang tadi.
"Bunda kamu kenapa melamun?" ucap Mahesa membawa Ansel ke gendongan nya.
"Aaaa... yah... aaa... pipimpimpim...!" celoteh bayi berusia tujuh bulan itu seakan ia mau memberi tahu kepada ayahnya jika bunda nya itu sedang bersedih karena ucapan art tadi siang.
"Aduh...duduh... lucu sekali jagoan ayah ini!"
Husna kaget dengan kehadiran Mahesa di kamar ini.
"Astagfirullah alhazim...!" ucap istighfar Husna seraya memegangi dadanya.
"Kamu kenapa?" tanya Mahesa lalu meletakkan Ansel ke tempat semula.
"Tidak!" jawab Husna
"Lalu kenapa kamu melamun?"
"Aku tidak apa-apa!"
"Yakin kamu tidak apa-apa?"
Husna menghela napas kasar.
"Aku juga ingin memakai baju seragam yang di gunakan oleh art lain!" tutur Husna
Mahesa mengerutkan keningnya kepada tiba-tiba Husna mau memakai baju seragam seperti art lainnya?
"Kenapa kamu kepikiran untuk memakai seragam seperti mereka? tanya Mahesa
"Karena aku juga pembantu di sini, aku tidak ingin mereka curiga kepada ku!" ucap Husna
Mahesa mengangguk kecil saja, malam ini mereka tidur berdua lagi karena Mahesa tidak ingin tidur sendirian lagi, untuk apa gunanya istri jika tidak kita pakai, pikir Mahesa.
...
Pagi ini Husna memakai baju seragam yang sama seperti art lainya, bik Yatri sebenarnya melarang Husna untuk memakai seragam ini karena tidak pantas seorang nyonya memakai baju sama seperti mereka.
"Nyonya yakin memakai baju ini? tidak pantas nyonya memakai baju seragam seperti kami, nyonya!" usul bik Yatri
Husna tersenyum kecil, "tidak masalah bik!" jawab Husna
Bik Yatri kembali ke bawah untuk melakukan pekerjaan nya.
Mahesa masuk ke kamar putra nya itu, ia sedikit tidak suka melihat Husna memakai baju art seperti itu, mana lagi baju itu kecil di tubuh Husna dan memperlihatkan lekuk tubuh Husna itu.
"Ganti baju kamu!" titah Mahesa
Husna langsung menoleh ke belakang tatkala mendengar suara Mahesa di belakang nya.
"Kenapa?" tanya Husna
"Tidak cocok di pakai oleh mu, baju apa itu? memperlihatkan aurat kamu!" tegur Mahesa
Memang benar sekali baju itu sangat tidak cocok untuk Husna, apa lagi baju nya itu begitu ketat dan memperlihatkan lekuk tubuh Husna.
"Tapi mas, aku tidak mau berbeda dengan art yang lainnya!" bantah Husna
Mahesa menghela napas nya, memaksa Husna untuk tidak mengenakan pakaian itu maka akan membuat mereka berdua bertengkar.
"Terserah kamu, jika aurat kamu di lihat oleh lelaki lain maka itu akan berdosa, aku sebagai suami sudah memperingati kamu!" tutur Mahesa
Husna langsung terdiam ia juga tak memiliki pilihan lain selain memakai seragam pembantu ini, agar semua rahasia nya tetap tertutup rapat.
...
Bersambung...
Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan jejak kalian, tidak ada komentar maka author tidak akan update cerita ini.
Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, yang panjang kek komentar nya, jangan satu kata saja🤔🙄🤨