
Husna terus saja memperhatikan putra nya yang lagi tidur itu, ia sangat senang dan bersyukur bisa bertemu dengan putra nya kembali. Tapi yang ia takutkan bagaimana jika Mahesa mengusir nya nanti dan tidak mengizinkan dia untuk membesarkan anaknya ini, dia sangat tau bagaimana watak dan sikap Mahesa selama ini, ia sangat pemarah dan keinginan nya tidak bisa di bantah sedikit pun.
Husna menghela napas seraya mengusap pipi putra nya itu.
"Bunda akan selalu bersama kamu nak, bunda janji tidak akan ada siapapun yang bisa memisahkan kita, termasuk ayah kamu!" ujar Husna
Husna terus memperhatikan buah hati nya yang lagi tidur itu seakan dia tidak ingin menjauh lagi dengan anaknya itu.
Di lantai bawah semua art rumah ini pada heboh dengan kehadiran Husna apa lagi mereka merasa curiga dengan kondisi saat ini, masa ada seorang wanita yang mau menyumbangkan asi nya ke tuan kecil mereka, aneh bukan pikir art yang pada kepo ini, terlebih lagi Romlah dan Siti yang tak habis-habisnya mau ikut campur urusan orang saja.
"Bibik kenapa mau sih menerima orang asing itu di sini, entah-entah wanita itu modus lagi!" ujar Romlah
Bik Yatri sebenarnya malas meladani Romlah dan Siti ini, pengen bik Yatri memecat mereka berdua tapi bik Yatri merasa sedih juga dengan mereka yang selama ini merekalah yang menghidupi adik-adik nya di kampung.
Bik Yatri sebagai kepala art di rumah ini memiliki wewenang untuk memecat art yang tidak ada gunanya apa lagi menganggu kenyamanan di rumah ini, bik Yatri termasuk tegas dengan bawahan nya ini.
"Entah, untuk apa bibik menerima wanita itu, apa lagi wanita itu mau menyumbangkan asi nya pada tuan muda, aneh sekali!, kenapa dia tidak menyusui anak dia sendiri sih!" ujar Siti
Bik Yatri menutup kedua daun telinga nya karena ocehan mereka berdua ini membuat telinga berdenging saja.
"KEMBALI BERKERJA!" bentak bik Yatri, toh bik Yatri tidak mau juga menceritakan kepada mereka siapa sebenarnya Husna.
Romlah dan Siti langsung tertunduk karena di bentak oleh bik Yatri, "mau saya pecat?" ujar bik Yatri membuat mereka berdua gemetaran karena takut.
"Jangan bik!" mohon mereka berdua.
"Cepat kembali bekerja kalau tidak, saya akan pecat kalian berdua!" mereka berdua langsung berlari ke belakang.
"Heran deh sama mereka, suka kepo sama urusan orang, di pecat malah kasihan tidak di pecat malah ngelunjak!" gerutu bik Yatri.
Kini bik Yatri sedang menemui Husna yang lagi menunggu anaknya di kamar itu, betapa senang nya bik Yatri melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah nyonya nya itu.
"Nyonya!" ujar bik Yatri
Husna menoleh kebelakang, "eh bik!" ujar Husna
"Bik, jangan panggil Uus dengan sebutan nyonya, Uus tidak mau ada orang yang tau jika Uus istri siri mas Mahesa itu, Uus juga takut nanti mas Mahesa marah sama Uus!"
Husna menghela napas ia sangat takut saat Mahesa pulang nanti, ia pasti akan di usir.
"Anggap saja Uus sebagai art juga di sini!" ujar Husna
"Tapi nyonya tetaplah nyonya nya bibik, bibik tidak bisa memanggil nyonya dengan sebutan nama saja!"
"Tidak masalah bik, aku di sini juga art seperti kalian!" ujar Husna
Mereka berdua saling melihat Ansel yang lagi tertidur itu, Husna di ajak oleh bik Yatri ke luar kamar, untuk melancarkan sandiwara ini, Husna seolah-olah juga harus bekerja seperti art juga.
Kini bik Yatri membawa Husna ke dapur, keadaan dapur sudah bersih saat ini art rumah ini sudah kembali ke mansion yang berada di belakang rumah besar ini, setiap hari art rumah ini akan seperti itu. Pagi harinya art akan ke mansion utama dan sore harinya mereka akan beristirahat di mansion di belakang.
"Tuan kapan pulang bik?" tanya Husna harap-harap cemas dengan kedatangan Mahesa nanti, ia sangat was-was.
"Tuan pulangnya sebentar lagi nyonya eh Husna maksud nya!" ujar bik Yatri tersenyum kikuk saat memanggil nyonya nya dengan sebutan nama saja.
Saat ini Husna sedang menyusui putra nya itu karena putra nya itu menangis, "anak bunda haus ya!" gumam Husna mencolek-colek pipi Ansel.
"Bunda sayang kamu nak, tidak akan ada siapapun yang bisa memisahkan kita, bunda akan tetap di sini menemani kamu tumbuh dewasa nantinya!"
Mahesa sampai di mansion nya setiap pulang bekerja pasti ia akan selalu menyempatkan diri nya ke kamar putra nya itu, hari ini suasana hati Mahesa sedang baik.
Mahesa masuk ke kamar putra nya itu, ia mematung saat melihat seorang wanita yang sangat ia kenal berada di kamar anaknya itu, apa lagi wanita itu sedang menyusui putra nya itu.
Husna masih belum sadar jika Mahesa berada di belakang nya, Husna terus bermain dengan putra nya itu.
"Lucu sekali putra bunda!"
Mahesa melangkahkan kakinya perlahan menghampiri Husna, semakin ia mendekat semakin aneh saja perasaan nya saat ini, seakan ia sangat senang jika ada Husna di sini.
Mahesa menghela napas ia kembali bersikap dingin dan tidak pedulinya itu.
"Mau apa kamu ke sini hah?" ujar Mahesa
Tubuh Husna langsung menegang tatkala mendengar suara Mahesa berada tepat di belakang nya, ia menyudahi menyusui putra nya itu lalu ia meletakkan Ansel ke box bayi itu lagi, bertepatan dengan itu bik Yatri masuk ke dalam kamar itu karena ia juga takut jika tuannya itu menyeret Husna keluar, jadi bik Yatri mau membantu Husna agar Mahesa mau mengizinkan Husna tetap di sini.
"Tuan!" lirih Husna langsung tertunduk.
"Bik Yatri kenapa perempuan ini ada di sini? tanya Mahesa dengan suara dingin
"Maafkan bibik tuan, bibik lancang menyuruh nyonya masuk ke sini, tapi bibik hanya kasihan dengan tuan muda yang selalu rewel dan tidak bisa diam jika di asuh dengan art yang lain, tadi saat nyonya ke sini tuan muda langsung diam di gendongan nyonya, tuan muda kecil sangat membutuhkan ibunya tuan, maaf kalau bibik lancang tuan!" ujar bik Yatri menjelaskan semuanya pada Mahesa, tapi Mahesa menatap kebencian pada Husna.
Husna menangis sesenggukan karena ia takut akan di usir oleh Mahesa, Husna langsung bertekuk lutut di hadapan Mahesa, ia memegangi kaki Mahesa itu.
"Tuan, izinkan saya bekerja di sini, saya siap jadi art di sini asalkan saya bisa melihat anak saya, saya tidak mau berpisah lagi dengan anak saya tuan, saya mohon tuan berikan saya ruang di tengah-tengah keluarga tuan ini, apapun itu akan saya lakukan asalkan saya bisa melihat anak saya!" tangis Husna bertekuk lutut di kaki Mahesa itu.
Mahesa hanya diam melihat keseriusan dan kegigihan Husna ini, ia menghela napas.
"Berdiri!" titah Mahesa dengan suara dingin
"Husna, berdiri!" ujar Mahesa sekali lagi
Perlahan Husna berdiri dan ia memberanikan dirinya untuk menatap sepasang mata elang suaminya itu.
"Izinkan saya tuan untuk bekerja di sini!" ujar Husna sekali lagi.
Bik Yatri meneteskan air matanya saat melihat nyonya nya memohon kepada Mahesa, "tuan, berilah izin untuk nyonya tuan!" ujar bik Yatri
Mahesa nampak berpikir sejenak lalu ia menghembuskan napas nya.
"Baik, saya akan memberikan kamu izin untuk tinggal di sini dengan syarat kamu tidak boleh berbicara ke siapapun itu siapa diri kamu sebenarnya, kamu saya pekerjakan di sini hanya untuk mengasuh anak saya tidak yang lain!" ujar Mahesa lalu ia pergi dari sana, Mahesa lewat di pintu penghubung antara kamar nya dengan kamar putra nya itu.
"Bibik!" Husna langsung memeluk bik Yatri karena Mahesa mau mengizinkan dia tinggal di sini untuk mengasuh anaknya sendiri.
....
Malam harinya Husna di kamar putra nya itu ia sedang menidurkan bayi nya itu, dari tadi putra nya itu tidak mau tidur entah kenapa bayi itu tidak mau tidur, atau bayi itu juga ikut merasa senang jika bunda nya mendapatkan izin dari ayahnya untuk tinggal di sini?
"Bobok ya sayang, sekarang waktunya kamu bobok!"
Husna mengendong bayi nya itu yang dari tadi menatap wajah bunda nya itu, Husna jadi merasa senang dan juga bahagia saat ini.
"Maaf ya bunda waktu itu tidak bisa mencegah ayah kamu untuk tidak membawa kamu, tapi sekarang kita tidak akan berpisah lagi, bunda sayang, Ansel!"
"Hekhem!" Mahesa berdehem lalu ia ikut bergabung dengan anak dan istri nya itu, Husna langsung menundukkan kepalanya.
"Tuan!" ujar Husna
Mahesa menaikan sebelah alisnya karena panggilan tuan itu kembali Husna lontarkan kembali padanya, sedikit aneh rasanya saat Husna memanggil Mahesa dengan sebutan tuan, mereka seperti atasan dan bawahan jadinya.
"Panggil saya seperti biasa!" ujar Mahesa ia tidak suka mendengar Husna memanggil dia dengan sebutan tuan.
"Tapi kita bukan suami istri lagi, lagi pula saya hanya pengasuh anak tuan di sini, tidak enak dengan yang lain jika saya memanggil tuan dengan sebutan berbeda!" ujar Husna
"Kapan saya menceraikan kamu?" tanya Mahesa, saat Mahesa pergi meninggalkan Husna ia tidak pernah sama sekali mengucapkan kata talak untuk Husna, ia hanya pergi dan membawa anaknya itu saja.
Husna diam sesaat lalu ia mengeluarkan sebuah berkas berserta sertifikat dari dalam tasnya, "saya tidak butuh ini, saya hanya butuh anak saya, saya kembalikan ini kepada tuan!" ujar Husna mengembalikan apa yang pernah Mahesa berikan kepada Husna waktu itu.
Mahesa hanya melihat berkas dan sertifikat itu, "itu sudah jadi milik kamu, simpan baik-baik!" ujar Mahesa, Husna mengerutkan keningnya
"Tapi saya tidak butuh ini!" ujar Husna
Mahesa tidak menjawabnya lalu ia pergi ke box bayi itu guna melihat Ansel yang sudah tertidur.
"Tidur ya nyenyak putra ayah!" ujar Mahesa mencium pipi putra nya itu.
"Kamu tidur lah, besok pekerjaan kamu harus mengasuh putra saya!" ujar Mahesa
Husna mengelilingi kamar ini dengan matanya, tidak ada tempat tidur ataupun sofa yang bisa ia jadikan tempat tidurnya, Mahesa melihat Husna yang masih berdiam diri di belakang nya.
"Kenapa tidak tidur?" tanya Mahesa
"Gimana mau tidur, kasur atau sofa saja tidak ada di sini, iih orang kaya pelit!" gerutu Husna dalam hati.
"Tempat tidur nya tidak ada ya tuan?" tanya Husna memberanikan diri untuk bertanya.
"Tidur dengan saya malam ini!" ujar Mahesa membuat Husna langsung memelototi mata nya, Husna menggeleng-nggelengkan kepalanya.
"Tidak tuan, kita bukan siapa-siapa lagi!" ujar Husna menolak, bukan kah Mahesa sudah menjelaskan kepada Husna jika ia belum menceraikan Husna lalu kenapa Husna berucap seperti itu lagi.
"Apa kamu lupa jika saya tidak menceraikan kamu!" ujar Mahesa
"Lagi pula kalau kamu tidur di kamar ini, lalu dimana kamu akan tidur hah? di lantai ini!" ujar Mahesa, Husna menelan ludah nya karena ucapan Mahesa itu ada benarnya, masa ia akan tidur di lantai.
Husna terpaksa harus tidur bersama dengan Mahesa kembali, Husna mengikuti Mahesa mereka melewati pintu penghubung antara kamar Mahesa dengan kamar putra mereka, Mahesa sengaja membuka pintu penghubung itu jika Ansel menangis nanti bisa terdengar oleh nya.
Baru pertama kali ini Husna masuk ke kamar Mahesa yang nampak rapi dan wangi ini, kamar Mahesa lebih besar dari kamar putra nya itu.
"Tidur!" titah Mahesa menunjuk kasur king size nya itu, Husna dengan ragu naik ke atas kasur itu, Mahesa juga naik ke atas kasurnya itu.
"Tidur, jangan bengong aja!" ujar Mahesa
Husna mengangguk kecil lalu ia merebahkan tubuhnya di samping Mahesa itu.
...
Bersambung...
Di baca!!!!👇
Besok author sambung ya, sekarang author pengen kumpulin ide-ide dulu.
Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggal kan komentar panjang kalian, tidak ada komentar tidak akan author update.