Pernikahan Siri Seorang Dokter

Pernikahan Siri Seorang Dokter
part 50. Bertemu Kembali


Pagi pun tiba kembali, Husna kali ini pergi agak lambat dari biasanya, biasanya ia pergi jam tujuh pagi sekarang ia pergi jam sembilan pagi ke rumah sakit itu, tadinya ia sangat bersemangat untuk pergi ke rumah sakit itu pada jam tujuh pagi tadi, tapi tiba-tiba saja ia merasa pusing dan ia lebih istirahat terlebih dahulu.


Kini Husna sudah ke rumah sakit tempat suaminya bekerja itu, hari ini ia akan menyumbangkan asi nya itu ke rumah sakit itu lagi. Husna sedang di ruang untuk memompa ASI nya itu, entah sampai kapan ia seperti ini, menyumbangkan asi nya ke rumah sakit ini dan kapan juga ia kan bertemu dengan anaknya itu?


Setelah selesai menyumbangkan asi nya itu kini Husna berjalan di koridor rumah sakit itu, ia tidak menemukan siapa pun yang ia kenal di sini.


Ingin menyerah mana bisa ia harus berjuang demi anaknya.


Husna duduk sebentar di kursi tunggu yang ada di koridor rumah sakit itu, ia merasa lelah karena dari kemarin ia hanya mengisi perutnya sedikit makanan, setiap makanan yang ia masukkan ke mulut nya pasti tidak bisa karena pikiran nya terus tertuju pada putra nya itu.


"Aku tidak boleh sakit, aku harus bertemu dengan anak ku!"


"Ya Allah... berikanlah petunjuk bagi hamba, agar hamba bisa bertemu dengan putra hamba!"


Husna keluar dari rumah sakit itu karena ia tak ingin Mahesa melihatnya ada di sini, bisa-bisa Mahesa mengusir nya, Husna kembali memantau rumah sakit itu dari kejauhan, matanya saat ini lagi memperhatikan rumah sakit itu.


...


Saat ini Mahesa sedang melakukan operasi kepada pasien nya itu, ia sangat sibuk dan sangat teliti dengan operasi yang ia lakukan kepada pasien nya itu.


Operasi berjalan dengan lancar hanya saja pasien nya saat ini kritis karena kekurangan darah, beruntung saja stok kantong darah masih tersisa untuk pasien nya ini, kini pasien itu di pindahkan ke ruang ICU karena pasien sangat memerlukan alat medis yang sesuai dengan nya.


Kini Mahesa lagi di ruang ICU itu untuk memeriksa pasien yang ia operasi tadi, saat Mahesa memeriksa pasien ini ia jadi langsung ingat dengan Husna.


Bukankah saat Husna melahirkan ia sendiri yang membantu istrinya itu, bahkan ia sendiri yang memasangkan alat-alat medis ke tubuh istrinya waktu itu.


"Dok, apa pemeriksaan nya sudah selesai? saat ini dokter harus memeriksa pasien lain!" ujar Sinta


"Ya, baiklah!" jawab Mahesa singkat


Mereka pergi dari ruang ICU itu kini Mahesa berjalan di koridor rumah sakit itu berdua dengan perawat Santi, Mahesa masuk ke ruang rawat pasien yang lainnya.


Santi memang tidak pernah bosan menatap dan memperhatikan dokter Mahesa ini, ia bahkan terus saja mepet dengan dokter Mahesa ini.


"Santi, tolong beri vitamin pada pasien!" ujar Mahesa


Santi tidak mendengarkan ucapan dari dokter Mahesa itu karena ia sibuk memperhatikan wajah dokter Mahesa, karena tidak ada jawaban dari Santi, Mahesa melirik Santi sekilas yang ternyata memperhatikan nya.


"Kerja profesional!" ujar Mahesa dingin lalu Mahesa pergi dari ruang rawat itu karena merasa kesal dengan wanita yang selalu melihat wajah nya, Mahesa merasa heran dengan kaum hawa ini, kenapa setiap ia lewat ataupun berbelanja di supermarket pasti wajahnya yang di perhatikan, ada apa dengan wajah nya itu?


Atau wajahnya itu kelewat tampan atau bagaimana?


...


Jam sudah menunjukkan waktu bergantian sif, Mahesa bersiap-siap untuk balik ke mansion nya, ia tidak sabar akan bertemu dengan putra kecilnya itu.


"Ayah pulang sayang!" gumam Mahesa sambil melihat foto putra nya itu di galeri handphone nya.


Mahesa melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil, ia di antar oleh mang Udin, Mahesa terus tersenyum senyum nya itu jadi pusat perhatian semua orang terutama kaum hawa.


"Kita langsung pulang ya mang!" ujar Mahesa lalu ia naik ke mobil yang sudah mang Udin bukakan pintu mobilnya itu, mang Udin mengangguk seraya tersenyum.


Di sisi lainnya Husna sedang memperhatikan rumah sakit itu karena ia nampak pekerja rumah sakit itu sudah ada yang pulang, saat ini Husna sudah menyewa tukang ojek agar ia bisa membututi mobil Mahesa nantinya, kemarin Husna sudah menyewa ojek juga, tapi Mahesa nya yang tidak dapat ia lihat waktu itu.


Mobil Mahesa pun keluar dari pekarangan rumah sakit itu, Husna memperhatikan setiap mobil yang keluar masuk dari pekarangan rumah sakit itu.


Entah kebetulan atau benar-benar Allah memberikan ia petunjuk dan jalan supaya bertemu dengan anaknya segera, ia melihat mobil yang tak asing baginya, ya ia melihat mobil Mahesa keluar dari pekarangan rumah sakit itu.


"Itu, itu mobil mas Mahesa!" gumam Husna terus memperhatikan mobil itu.


"Pak, buntuti mobil itu!" ujar Husna menunjuk mobil Mahesa, tukang ojek itu membututi mobil Mahesa itu


Husna membututi mobil Mahesa itu, sekali-kali mereka ketinggalan jauh oleh mobil Mahesa, tapi mereka masih bisa membututi mobil itu, Mahesa tidak tahu jika Husna membututi mobilnya.


Mobil itu masuk ke perumahan yang sangat elit di kota ini, ojek yang Husna itu di cegah oleh satpam kompleks karena satpam itu tak pernah melihat mereka sebelum nya.


"Maaf, kalian mau cari siapa?" tanya satpam itu


Husna sedikit ragu dan gugup karena ia takut tidak bisa menemukan mobil Mahesa itu di komplek perumahan yang sangat luas ini.


"Maaf pak sebelum nya, tapi rumah saya di sini juga, apa bapak lupa?" ujar Husna terpaksa berbohong tapi ia tidak juga sepenuhnya berbohong karena rumah suaminya memang ada di komplek ini juga, Husna sangat yakin jika mobil tadi itu mobil milik Mahesa.


Satpam berkepala botak itu mengaruk-garuk kepalanya yang botak itu, karena ia tak pernah melihat wajah Husna sebelumnya.


"Saya istrinya Mahesa Radyta!" ujar Husna mengakui karena satpam itu tidak mudah percaya dengan ucapan Husna tadi.


"Oh, dokter Mahesa Radyta, baiklah silahkan masuk bu!" ujar satpam itu karena satpam itu sangat mengenal Mahesa.


Di kompleks perumahan ini siapa sih yang tidak kenal dengan dokter Mahesa yang super duper tampan dan baik hati itu, kaum ibu-ibu yang ada di kompleks itu sangat kenal baik dengan Mahesa, apa lagi Mahesa juga terkenal paling kaya di kompleks ini.


Husna kehilangan mobil Mahesa tadi, ia ingin menangis rasanya karena kehilangan jejak yang sangat jelas jika itu benar mobil Mahesa, biar bagaimanapun mata Husna tidak buta karena ia sangat hafal dengan plat nomor mobil suaminya itu.


"Ya Allah... pertemukan lah hamba dengan anak hamba!"


Husna bersama tukang ojek yang membawa nya itu mengelilingi kompleks perumahan elit ini, dominan rumah yang ada di kompleks ini sangat megah-megah, tapi ada salah satu rumah yang sangat megah dari rumah-rumah lainnya yang terletak paling ujung.


Husna terus memperhatikan setiap rumah itu, siapa tau dia bisa melihat mobil Mahesa tadi, dan sampailah Husna di salah satu rumah yang sangat besar dan megah apa lagi gerbang berwarna hitam yang sangat tinggi itu.


Husna menyuruh tukang ojek itu berhenti agak jauh dari rumah itu, entah kenapa firasat nya jika di rumah itu ada putra nya, Husna melihat dengan jeli rumah itu ternyata ia tidak salah karena memang betul jika itu rumah Mahesa, terbukti dengan adanya mobil Mahesa yang terparkir di depan rumah besar itu. Mata Husna berkaca-kaca karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan putra nya.


Untuk hari ini Husna tidak pergi ke rumah itu, ia balik lagi ke kontrakan nya karena barang-barang nya masih di kontrakan tempat ia tinggali itu, besok rencananya Husna akan masuk ke rumah itu apa pun akan ia lakukan agar ia bisa masuk ke rumah itu.


"Alhamdulillah... akhirnya aku menemukan keberadaan putra ku!"


...


Saat ini Husna sudah berdiri di pagar rumah yang sangat tinggi itu, Husna melihat keadaan rumah besar itu terlebih dahulu.


Sepi!


Ya rumah Mahesa sangat sepi jika di lihat dari luar tapi aslinya sangat ramai di dalam rumahnya itu, Mahesa memiliki 10 art dan 5 tukang kebun untuk membersihkan pekarangan rumah.


Husna langsung masuk saja ke pekarangan rumah itu, karena tidak ada satpam yang menjaga gerbang, jadinya ia bisa lolos dan bisa menginjakkan kakinya di rumah Mahesa ini.


"Bunda di sini sayang!" gumam Husna menatap rumah itu.


"Mbak, mbak siapa? main masuk-masuk rumah orang saja!" ujar satpam itu baru menampakkan batang hidungnya.


Husna sedikit kaget dengan satpam itu, kali ini ia tidak bisa memberikan penjelasan jika ia istrinya Mahesa, jika ia salah bicara yang ada Mahesa akan marah besar.


"Mbak, ayo keluar kenapa mbak bisa masuk ke sini sih!" ujar satpam itu memaksa Husna untuk keluar.


"Jangan, saya ke sini hanya ingin cari pekerjaan!" ujar Husna memohon.


"Maaf mbak, di rumah ini sudah banyak art, majikan saya tidak menerima art lagi!" ujar satpam itu.


Husna menggeleng-nggelengkan kepalanya hampir menangis, masa sudah sampai di depan rumah Mahesa ini ia tidak bisa masuk, ia akan melakukan apa pun itu agar ia bisa masuk dan menjadi bagian di rumah ini, menjadi pembantu pun tidak apa-apa asalkan dia bisa bertemu dengan anaknya.


Husna menginjak kaki satpam itu, ia berlari masuk ke pekarangan rumah itu, "mbak, berhati mbak, di sini sudah tidak ada lowongan lagi, mbak ini kenapa memaksa sekali!" ujar satpam itu menahan Husna agar Husna tidak bisa masuk.


Bik Yatri yang mendengar ada ribut-ribut di luar jadi penasaran ada apa di luar, pikir nya.


Betapa terkejutnya bik Yatri saat satpam itu menyeret nyonya nya dengan paksa, bik Yatri berlari ke tempat nyonya nya itu.


"Astagfirullah nyonya!" gumam bik Yatri


Bik Yatri khawatir dengan apa yang di lakukan oleh satpam itu kepada nyonya nya, "Ujang apa yang kamu lakukan!" pekik bik Yatri


Satpam yang bernama Ujang itu jadi berhenti menyeret Husna, karena mendengar pekik an bik Yatri.


"Ini bik, wanita ini sangat pemaksaan, saya bilang jika tuan tidak membutuhkan art lagi tapi dia malah memaksa!" ujar Ujang.


Bik Yatri sangat takut dengan apa yang dilakukan oleh Ujang kepada nyonya nya sendiri, jika Mahesa tahu kalau Ujang menyeret Husna bisa habis mereka kenal pecat oleh majikan nya itu.


"Dasar Ujang, jelas-jelas ini nyonya dia sendiri!" batin bik Yatri


"Sudah lah, dia ini keponakan bibik dari kampung, bibik yang menyuruh dia ke sini!" ujar bik Yatri memainkan sandiwara nya agar Husna tidak lagi di seret oleh Ujang.


"Owalah... bilang dong dari tadi!" ujar Ujang


Bik Yatri membawa Husna masuk ke dalam rumah, "nyonya bagaimana bisa nyonya sampai ke sini?" tanya bik Yatri membuatkan Husna minuman.


"Husna mencari alamat mas Mahesa sendiri bik, dengan bantuan teman Husna juga!" ujar Husna akhirnya dia bisa masuk ke rumah Mahesa ini.


Semua art yang ada di rumah Mahesa ini jadi melihat Husna.


"Eh, apa itu art baru?" tanya Romlah


"Mana saya tau!" ujar Siti


"Jangan bilang dia itu akan mengambil tuan Mahesa dari ku!" ujar Romlah


"Kepedean banget situ Rom, muka tak seberapa selera lu tinggi juga!" sindir Siti


"Idih, wajah gue cantik ya dari wanita itu!" ujar Romlah


Romlah dan Siti termasuk art Mahesa yang sangat ingin tau dengan urusan majikan nya, apa lagi si Romlah yang sangat centil dengan Mahesa.


Kini Husna di bawa ke lantai dua oleh bik Yatri untuk melihat Ansel yang lagi tidur, Husna sampai di dalam kamar putra nya, ia langsung mengambil Ansel yang lagi tertidur itu.


"Masya Allah... anak bunda, hiks... bunda sangat merindukan kamu nak, hiks... terima kasih ya Allah... Engkau telah mempertemukan Husna dengan putra ku!" tangis Husna saat mengendong bayi nya itu.


"Owek... owek... owek...!" putra nya itu menangis, Husna tersenyum karena ia masih bisa mendengar suara putra nya itu.


"Ini bunda sayang, bunda sangat merindukan kamu!"


Husna duduk lesehan karena di kamar ini tidak ada sofa ataupun tempat tidur, bik Yatri juga ikut duduk lesehan bersama Husna, bik Yatri tersenyum bahagia melihat kegigihan nyonya nya itu yang berkeinginan mencari anak nya itu dan pada akhirnya mereka berdua di pertemukan kembali.


"Bik, apa boleh Uus menyusui nya?" tanya Husna, bik Yatri tersenyum lebar.


"Tuan muda kan putra nyonya, jadi nyonya boleh saja menyusui putra nyonya sendiri!" ujar bik Yatri.


Husna menyusui putra nya itu sampai akhirnya Ansel tertidur lagi dalam gendongan nyaman bunda nya itu, Husna kembali meletakkan putra nya itu dalam box bayi.


Mereka berdua masih duduk lesehan, Husna menghela napas lega karena ia bisa bertemu kembali dengan putra nya itu.


"Bik bagaimana nantinya mas Mahesa marah dengan Uus karena Uus ke sini, apa lagi mas Mahesa tidak tahu!" ujar Husna.


Husna memikirkan Mahesa yang akan marah padanya nanti karena ia sangat berani masuk ke rumah Mahesa itu tanpa sepengetahuan Mahesa.


"Nyonya jangan takut, biar bibik yang ngomong sama tuan, insyaallah tuan mengizinkan nyonya untuk tinggal disini!" ujar bik Yatri.


...


Bersambung...


**Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan jejak kalian, tidak ada komentar maka author tidak akan update cerita ini.


Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, yang panjang kek komentar nya, jangan satu kata saja🤔🙄🤨**