Pernikahan Siri Seorang Dokter

Pernikahan Siri Seorang Dokter
part 37. Sikap Mahesa Kembali Berubah


Mahesa mengangguk kecil mereka berdua menuju mobil, saat mereka masuk ke mobil seseorang memanggil Husna.


"Uus!"


Husna menoleh ke belakang saat namanya di panggil, Husna kaget dengan apa yang ia lihat, "bang Fajri!" Husna berlari ke tempat Abang sepupunya itu, saat pernikahan itu terjadi Husna tidak pernah bertemu lagi dengan Abang sepupu nya ini, saat ini lah mereka bertemu.


"Husna, ini kamu kan?" tanya Fajri saat Husna sudah berada dekat dengan Fajri, Husna mengangguk kecil, matanya sudah berembun karena senang bisa bertemu dengan Fajri di pemakaman ini.


Husna sendiri sebenarnya ingin mencari Fajri waktu itu, tapi Husna tidak punya kesempatan untuk bisa bebas dari rumah Mahesa itu.


"Abang apa kabar?"


"Alhamdulillah Abang baik Uus, Uus sendiri apa kabar?, pasti Uus sudah bahagia dengan suami Uus ya!"


Husna menghapus air matanya itu ia tidak menjawab apa yang abangnya itu ucapkan, mau bilang bahagia, Husna tidak pernah merasakan bahagia hidup dengan Mahesa sampai saat ini saja Husna masih mati-matian untuk mengejar kebahagiaan itu.


"Bibi sama paman sehat kan bang?" tanya Husna mengalihkan pembicaraan


Fajri dapat menangkap perubahan sikap dari adik sepupu nya itu, Fajri akan selalu bisa membaca situasi yang orang alami, ia sangat mudah membaca situasi apapun yang ada di sekitarnya termasuk sikap Mahesa terhadap adiknya itu.


Fajri menghela napas berat ia terpaksa berpura-pura tidak tau dengan situasi yang ada di sekitarnya ini, Fajri memegang bahu Husna.


"Bibi sama paman baik-baik saja, kamu jangan pikirkan mereka!, ujar Fajri lalu ia melanjutkan ucapannya dalam hati karena mereka tidak pernah memikirkan kamu Husna!" batin Fajri


Fajri sangat sedih melihat adik sepupunya ini, ingin sekali ia membantu Husna untuk keluar dari situasi yang di hadapi oleh Husna tapi dia tidak bisa membantu Husna, apa lagi Fajri merasa bersalah dengan Husna karena ia tidak bisa mencegah ayah dan ibu nya itu untuk tidak menjual rumah peninggalan orang tua nya itu.


Fajri terpaksa diam dan tidak mau membahas rumah peninggalan orang tua Husna itu, kalau Fajri menceritakan jika rumah itu tidak menjadi rumahnya lagi maka Husna akan sedih, karena hanya rumah itu saja peninggalan orang tua Husna yang ada.


"Bang Fajri ke sini bersama siapa?, paman sama bibi ikut juga ke sini kan?, Uus kangen dengan mereka!"


Fajri menatap adiknya itu dengan iba, Husna masih saja memikirkan paman dan bibinya itu sedangkan mereka tidak pernah peduli pada Husna.


"Abang ke sini cuma sendiri, ayah sama ibu lagi sibuk mengurus kedai nasi mereka!" selama ini paman dan bibinya itu membuka warung nasi, bahkan Husna tidak tau jika paman dan bibinya itu membuka warung nasi.


"Paman sama bibi membuka kedai nasi?, Alhamdulillah, apa kedai nasi paman ramai bang?" tanya Husna sangat antusias bertanya.


"Alhamdulillah lumayan lah!"


Husna mengangguk-angguk seraya tersenyum pada Abang nya itu, "lalu Abang ke sini mau ziarah ke makam siapa?, makam ayah sama ibu Uus?" tanya Husna


Fajri mengangguk kecil, memang benar Fajri mau berziarah ke makam paman dan bibi nya itu, sudah lama Fajri tidak berziarah cuma hari ini waktu senggang bagi Fajri untuk berziarah.


Mahesa menatap Husna dan Fajri itu dari tadi, Husna mengabaikan Mahesa yang dari tadi memperhatikan nya.


"Itu suami mu?" tanya Fajri melihat Mahesa yang sedang memangku tangannya ke dada lalu kaca mata hitam menutupi matanya itu.


"Iya, itu mas Mahesa!" ujar Husna memperkenalkan Mahesa pada Abang sepupu nya itu, selama ini Fajri tidak pernah tau siapa suami Husna sekarang dia baru melihat sesosok laki-laki yang menjadi suami adik sepupunya itu.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Fajri membuat mimik wajah Husna langsung berubah, Fajri sengaja bertanya lagi tentang kehidupan Husna.


"Maksud bang Fajri apa?, jelas-jelas Uus baik-baik saja, bahkan Uus sudah bahagia sekarang bang!" ujar Husna pandai menutupi semua yang terjadi pada hidupnya belakangan ini.


"Dari dulu sampai sekarang kamu sangat pandai menutupi kesedihaan kamu Husna, Abang sangat bersalah sekali dengan kamu, andai waktu bisa Abang putar mungkin kamu tidak akan se-sengsara seperti ini!" batin Fajri


Husna menoleh ke belakang guna melihat suaminya itu, "pulang yuk, sudah terlalu panas!" ujar Mahesa, memang betul cuaca hari ini sangat terik sekali.


"Padahal Husna mau bicara banyak sama bang Fajri, tapi Husna tidak banyak waktu bang!" ujar Husna dengan wajah sendu, baru sebentar ia bertemu dengan Abang sepupunya kini ia sudah terpisah kembali.


"Kapan-kapan kita bisa bertemu kembali!" ujar Fajri memberikan kartu namanya kepada Husna, Husna menerima kartu nama dari Fajri itu.


"Jangan lupa hubungi Abang!" ujar Fajri saat Husna sudah mau pergi, Husna mengangguk seraya tersenyum tipis.


Mahesa melajukan mobilnya itu meninggalkan pemakaman umum itu, Husna memegang kartu nama yang di berikan oleh Fajri kepadanya.


"Apa itu?" ujar Mahesa merebut kartu nama itu dari tangan Husna, Husna kaget dengan Mahesa yang tiba-tiba saja merebut kartu nama itu.


"Mas kembali kan!" ujar Husna meminta untuk dikembalikan, tapi Mahesa malah membuang kartu nama itu ke jalan.


"Mas, kenapa di buang?" ujar Husna melihat kartu nama itu terbang tertiup angin di jalanan.


"Kamu tidak pantas berhubungan dengan mereka lagi!" marah Mahesa


"Tapi mereka keluarga aku satu-satunya mas!" ujar Husna menatap tajam ke arah suaminya itu.


"CUKUP HUSNA!" bentak Mahesa


Husna langsung terdiam, air mata nya keluar begitu saja saat Mahesa membentak dirinya, sudah lama Husna tidak pernah di bentak oleh Mahesa lagi dan sekarang Mahesa membentak Husna kembali, ada apa sebenarnya ini?, kenapa Mahesa begitu marah jika Husna berhubungan dengan keluarga nya sendiri?


"Sekali lagi kamu berhubungan dengan mereka, kamu akan tau akibat nya!" ancam Mahesa, Husna terkejut-kejut dari ucapan Mahesa itu.


"Dari sekian lama kamu tidak pernah membentak ku, tapi saat ini kamu membentak ku lagi!" batin Husna


Sampai di rumah, Husna langsung keluar dari mobil Mahesa itu, ia langsung menuju ke kamarnya, Husna mendiami Mahesa sampai saat ini.


Bik Yatri memperhatikan nyonya nya yang lagi-lagi berubah menjadi murung itu.


"Ada apa lagi dengan tuan dan nyonya?"


Mahesa juga ikut masuk ke kamar, ia melihat Husna yang lagi membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sementara itu Mahesa membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


Selesai Mahesa membersihkan tubuhnya dan memakai pakaian formal dan jas dokternya, siang ini Mahesa akan pergi ke Jakarta karena masa cutinya sudah berakhir.


Mahesa keluar dari kamar itu tanpa berpamitan terlebih dahulu pada Husna, pintu kamar di tutup oleh Mahesa secara kasar.


Brakk


"Astagfirullah alhazim...!" istighfar Husna karena kaget dengan suara pintu yang di hempaskan terlalu kuat oleh Mahesa itu.


"Hiks... kamu kenapa sih mas, kemarin kamu berlaku baik padaku, sekarang kamu malah memarahi ku lagi karena aku bertemu dengan keluarga ku, aku tidak tau maksud dan tujuan kamu untuk memisahkan ku dengan mereka hiks...!" isak Husna di kamarnya itu.


...


Bersambung...