
Malam harinya Husna kembali cemberut karena Mahesa tidak menuruti kemauan nya itu, Husna sampai menangis karena Mahesa tidak mau menuruti keinginan nya itu.
"Hiks... bibik... hiks... bik, mas Mahesa tidak mau menuruti keinginan Uus!" tangis Husna mengadu pada bik Yatri
Bik Yatri jadi bingung dengan nyonya nya ini yang datang tiba-tiba lalu langsung menangis dan memeluk bik Yatri, pikir bik Yatri tertuju pada tuanya yang memarahi nyonya itu lagi.
"Nyonya, nyonya kenapa, apa tuan memarahi nyonya kembali?"
Husna tidak menjawab hanya suara tangisan saja yang keluar dari mulutnya, bik Yatri kan tambah bingung dengan nyonya nya itu, malah Husna ingusnya nempel lagi di jilbab bik Yatri.
"Hiks... hiks... hiks...!" bik Yatri merasa sedih dengan tangisan nyonya nya ini, terlalu sering bik Yatri mendengarkan nyonya nya ini menangis, bik Yatri mengusap punggung Husna untuk memberikan ketenangan.
Mahesa menggeleng-nggelengkan kepalanya saat ia melihat Husna lagi mengadu pada bik Yatri, beberapa kali Mahesa menghela napas kasar karena bingung dengan permintaan Husna itu.
"Bik!" ujar Mahesa
Husna tetap memeluk bik Yatri, "iya tuan!" ujar bik Yatri mengisyaratkan dengan mata nya jika Husna sedang menangis.
"Uus!" panggil Mahesa seraya berkacak pinggang
"Hiks... nggak, mas jahat masa kemauan dedek bayi nggak mau di turuti!" ujar Husna melepaskan pelukan nya dari bik Yatri.
Mahesa membawa Husna jauh dari bik Yatri agar bik Yatri tidak mendengar ucapan mereka, Husna menepis tangan Mahesa itu.
"Lepas, nggak usah pegang-pegang!" ujar Husna menggenggam tangan nya yang sempat Mahesa pegang tadi, tangan Husna memerah karena Mahesa terlalu kuat mencengkram tangan nya tadi.
"Apa?" ujar Mahesa memelototi mata nya pada Husna, Husna tidak takut dengan tatapan mematikan Mahesa itu malahan ia menatap nya.
"Jangan minta aneh-aneh malam ini ya Uus, saya mau istirahat, capek dari tadi siang kamu selalu nyusahin saya!"
"Tapi dedek bayinya yang minta mas hiks... kamu kenapa pelit sih sama anak sendiri!" rengek Husna
Mahesa mengepalkan tangannya karena emosi dengan ngidam Husna ini, tidak di turuti malah ngeces di turuti malah ngelunjak, Mahesa memukulkan kepalan tangannya itu ke dinding.
Husna takut melihat kemarahan Mahesa itu ia langsung berlari ke kamarnya untuk menghindari amukan dari Mahesa.
"Kamu jangan minta aneh-aneh sama ayah kamu itu, ayah kamu suka emosi dan marah!" ujar Husna mengusap perut nya itu.
Mahesa menghampiri Husna yang lagi duduk di tepi ranjang itu, ia juga ikut duduk di samping Husna, "anak ayah jangan minta sesuatu malam-malam gini ya, ayah capek pengen istirahat!" ujar Mahesa dengan lembutnya ia mengusap perut Husna itu.
"Aku hanya menjalankan perintah anak kamu saja, bukan aku yang meminta nya, aku juga tidak tau dengan kelakuan anak kamu ini, seperti nya ia sangat suka menganggu ketenangan kamu!" ujar Husna
Mahesa mengangguk paham dengan maksud Husna itu, ia juga tau jika bukan Husna yang selalu menganggu dia tapi anak yang ada di dalam kandungan Husna itu yang meminta ayahnya untuk tidak istirahat.
"Sekarang anak ayah mau apa?" tanya Mahesa
"Bakso dengan sambal yang banyak!" ujar Husna
Mahesa menatap Husna tidak percaya, "ini permintaan kamu atau anak saya?" ujar Mahesa
"Aku dan anak kamu!" jawab Husna apa adanya karena Husna juga mau juga makan bakso malam gini.
Terpaksa jam sebelas malam Mahesa keluar untuk mencari bakso untuk Husna, lumayan jauh Mahesa mencari bakso itu akhirnya ia mendapatkan juga.
"Berapa pak?" tanya Mahesa ke pedagang bakso itu.
"15 ribu pak!"
Mahesa mengeluarkan uang sebesar seratus ribu, ia memberikan uang itu kepada pedagang bakso itu, "kembalian nya ambil saja!" ujar Mahesa buru-buru masuk ke mobilnya karena sudah mulai gerimis.
Mahesa menjalankan mobilnya melewati gelapnya malam ini akibat hujan deras, Mahesa menghela napas berat, "demi anak agar tidak ngeces nantinya saya rela membelikan apa yang dia mau!" gumam Mahesa
Sesampainya di rumah, Mahesa melihat Husna yang lagi tertidur di sofa ruang tengah.
"Sampai ketiduran!" gumam Mahesa menggeleng-nggelengkan kepalanya
Mahesa membangunkan Husna untuk memakan bakso pesanan dia tadi, Husna membuka matanya ia melihat Mahesa berada tepat di depan nya.
"Kok lama?"
"Nyarinya nggak gampang!"
"Di ujung gang ada!"
"Sudah pindah!"
"Ya udah aku nggak mau bakso nya, udah nungguin nya lama sampai ketiduran lagi!" ujar Husna lalu ia pergi ke kamar tapi Mahesa langsung mencengkram erat tangan Husna.
"Apa kamu bilang tadi?, tidak mau!" ujar Mahesa dengan wajah sudah berapi-api.
"Nggak ada nafsu makan bakso lagi!" ujar Husna melepaskan cengkraman tangan Mahesa itu.
"Makan!" ujar Mahesa
"Nggak!"
"Makan atau besok saya tidak mau menemani kamu ke makam orang tua mu!" ancam Mahesa
Husna menghela napas lalu ia duduk di samping Mahesa.
"Gitu dong, emang kamu bilang cari bakso itu gampang apa, malah kena hujan lagi!" ujar Mahesa
"Kan naik mobil!" ujar Husna
Mahesa menghela napas karena Husna selalu menjawab ucapan Mahesa terus, Mahesa memindahkan bakso itu ke mangkok dan memberikan nya pada Husna.
"Makan!" titah Mahesa karena Husna hanya melihat bakso itu saja.
"Uus!" gertak Mahesa
"Iya, iya!" ujar ibu hamil itu seraya menyuap bakso dalam mangkok itu.
Husna memuntahkan bakso itu tepat di kaki Mahesa, Mahesa menatap kakinya lalu gantian menatap wajah Husna tanpa dosa itu, ingin sekali Mahesa berteriak mengerututi nasibnya pada malam ini.
"Maaf nggak sengaja, kan Uus udah bilang kalau Uus nggak nafsu makan bakso lagi, tapi mas ngeyel sih, jadinya gini kan Uus muntahin kaki mas!" ujar Husna tanpa merasa bersalah sekali pun.
Mahesa menghela napas lagi ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci kakinya yang terkena muntaha Husna, kini Mahesa membaringkan tubuhnya di atas ranjang, ingin dia memarahi Husna tapi entah kenapa ia merasa sedih jika air mata Husna itu keluar gara-gara dia.
Selesai Husna membereskan muntahnya itu kini ia juga ikut tidur di samping Mahesa, saat Husna naik ke atas tempat tidur, Mahesa langsung memunggungi Husna.
"Maaf mas!" ujar Husna tapi Mahesa tidak menjawab nya.
"Uus tidak sengaja, mas sih ngeyel sama Uus, tadi kan Uus tidak mau ya tidak mau!" ujar Husna masih saja menyalahkan Mahesa, di sini mereka berdua lah yang bersalah bukan Mahesa saja.
"Uus minta maaf ya mas!" ujar Husna
"Tidur!" ujar Mahesa dengan nada datar
"Tapi maafin Uus ya!" ujar Husna mencolek pangkal tangan Mahesa
Mahesa tidak menjawabnya, "iih ayah kamu selalu gitu sama bunda, bunda sudah minta maaf tapi ayah kamu tida mau memaafkan!" ujar Husna mengajak anak yang ia kandung itu berbicara.
Husna menghela napas ia melihat suaminya itu dengan tatapan sedih, kapan ia akan merasakan sikap tulus dan manis Mahesa itu padanya, semakin hari semakin Mahesa menjauh saja dari nya, Mahesa mendekati Husna karena Mahesa ingin berdekatan dengan anaknya saja bukan karena Husna.
Setiap kali Husna ingin mendapatkan cinta suami nya itu setiap itu juga Mahesa akan selalu menjauh dari Husna, kadang Husna sendiri sangat sulit untuk menggapai Mahesa.
"Mas aku harap kamu ada juga perasaan untuk ku, aku ingin hidup bersama mu, membesarkan buah hati kita bersama-sama!" batin Husna
...
Bersambung...