
Entah kebetulan entah memang ada waktu senggang akhirnya Mahesa dapat juga waktu untuk pergi mengunjungi istri sirinya itu ke Bandung. Siang harinya Mahesa pergi ke Bandung untuk mengunjungi Husna, dalam keadaan berpuasa Mahesa mengendarai mobilnya itu, sebenarnya Mahesa merasa lelah karena panas juga terik hari ini, ia ingin cepat-cepat berbuka puasa tapi waktu berbuka puasa itu belum tiba.
Magrib masih lama, dan Mahesa harus menunggu sekiranya 4-5 jam lagi, Mahesa sudah keluar dari tol Cipularang itu, saat ini ia sudah sampai di Bandung tapi rumah nya masih sangat jauh, sekitar setengah jam barulah Mahesa sampai di rumah itu, sudah satu minggu ia tidak menginjakkan kakinya di rumah istri sirinya ini.
Mahesa memarkirkan mobilnya di halaman rumah yang sangat luas itu, ia melihat rumah ini senyap seperti tidak ada penunggunya saja.
"Mang!" panggil Mahesa
Mang Udin tergopoh-gopoh menghampiri tuanya itu, "iya tuan, ada bisa saya bantu?"
"Husna selama ini tidak banyak tingkah kan?" tanya Mahesa, mang Udin tersenyum tipis seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Saya kurang tahu tuan, selama ini hanya bik Yatri saja yang tahu, saya bekerja selalu menjaga gerbang, dan tidak tahu soal nyonya!" ujar mang Udin
Mahesa mendengus sebal saja lalu ia masuk ke dalam rumahnya itu, di dalam rumah nampak sepi saja tidak ada orang, biasanya Husna akan selalu duduk di teras rumah untuk menunggu Mahesa tapi sekarang dia malah tidak ada.
Mahesa masuk ke dalam kamar ia membuka pintu kamar itu hal pertama yang ia lihat yaitu Husna yang lagi tertidur di atas kasur, Mahesa menghampiri Husna.
"Ternyata dia tidur!"
Mahesa juga ikut tidur di samping Husna yang masih ada luang itu, tangan kekar Mahesa memeluk pinggang Husna dan tidak lupa juga dia mengusap perut besar Husna itu.
"Anak ayah apa kabar, sudah lama ayah tidak bersama kamu!"
Husna merasakan ada seseorang di samping nya, apa lagi ia samar-samar mendengar orang berbicara, ia membuka matanya untuk melihat siapa orang itu.
"Mas Mahesa!"
Mahesa menyingkirkan tangan nya di perut Husna itu ia kembali duduk dan menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Kapan pulang nya?" tanya Husna
"Baru aja!" jawab Mahesa menatap wajah bantal Husna itu.
"Kamu puasa?" tanya Mahesa
Husna mengangguk-angguk kecil sambil merapikan jilbabnya, ia juga ikut duduk dan arah pandangnya memandang wajah Mahesa yang selama ini ia rindukan.
"Bukankah ibu hamil itu tidak boleh berpuasa?, dia juga bisa mengganti puasa Ramadhan nya dengan bayar fidyah!" ujar Mahesa
Mahesa merasa cemas dengan Husna yang berpuasa, mengingat Husna pernah mengalami pendarahan yang hebat waktu itu, Mahesa menelisik wajah Husna yang kelihatan pucat.
"Bayar fidyah saja ya, saya tidak mau melihat anak saya kenapa-napa!" ujar Mahesa nampak khawatir
Husna tersenyum kecil, mana mau dia melepaskan puasa pertamanya, Husna menggelegkan kepalanya, "Uus sanggup kok mas!" ujar Husna, Mahesa menghela napas ia juga tidak mungkin juga memaksa Husna.
...
Sore harinya Mahesa pergi keluar rumah tanpa sepengetahuan Husna, Husna di tinggal oleh Mahesa untuk membeli makanan untuk berbuka. Husna baru selesai menunaikan sholat ashar, tapi ia tidak menemukan keberadaan Mahesa yang tadinya duduk di sofa kamar mereka itu.
"Ayah kamu pergi lagi tanpa memberitahu bunda, kenapa ya bunda ini tidak berarti bagi ayah kamu, bunda tau kok kalau bunda ini hanya istri di atas kertas saja tapi apa ayah kamu tidak memiliki perasaan sedikit pun untuk menghargai bunda saja, kalau ayah kamu tidak bisa mencintai bunda, bunda hanya ingin ayah kamu menghargai bunda saja, hanya itu saja...!"
Siapa sih yang tidak mau di hargai oleh seorang suami, semua orang pasti minta di hargai itu saja kok tidak lebih, kita sudah mati-matian menghargai seseorang tapi kenapa orang itu tidak menghargai kita?, atau ada yang salah dengan cara kita menghargai orang?
Kadang kita juga merasa heran dengan orang yang kita hargai itu, kita sudah menghargai nya tapi dia tidak menghargai kita!
"Bunda sadar nak jika bunda hanya wanita yang di pilih oleh ayah kamu untuk melahirkan kamu ke dunia ini, bunda tidak minta banyak dari ayah kamu, hanya saja bunda minta di hargai, ayah kamu sangat jarang menghargai bunda, sementara bunda sangat menghargai dia bahkan menghormati nya!"
Lagi-lagi Husna curhat dengan anak yang ia kandung itu, ia hanya bisa bicara banyak dengan anaknya ini saja, tidak tau harus mengadu ke siapa lagi, ke bik Yatri ia mengadu mana bisa, ia hanya bisa curhat sedikit saja.
Mahesa kembali ke rumah dengan membawa beberapa jajanan untuk berbuka puasa nanti, ia juga membeli sup buah yang isinya buah strawberry dan semangka, Mahesa membelikan sup buah itu khusus untuk Husna.
Ia menyimpan makanan itu di kulkas lalu Mahesa pergi ke kamar ia ingin mandi karena tubuhnya sudah terasa lengket saat berkeringat tadi.
Cklekk
Pintu kamar di buka oleh Mahesa ia melihat Husna yang sedang menangis duduk di tepi ranjang, karena Mahesa khawatir ia berlari ke tempat Husna.
"Kenapa menangis?" tanya Mahesa berdiri di depan Husna, Husna kaget karena Mahesa datang tiba-tiba, ia pikir Mahesa pergi ke Jakarta tau-taunya Mahesa balik lagi.
"K-kamu tidak ke Jakarta?" tanya Husna
Mahesa mengerutkan keningnya, "kenapa? kamu mau mengusir saya?" tanya Mahesa
"Tapi tadi itu kamu kemana?"
"Saya habis beli jajanan untuk berbuka nanti, kenapa kamu berpikiran jika saya pergi ke Jakarta lagi?"
"Biasanya kan kamu begitu, setiap pergi pasti tidak beri tahu aku dulu, sebenarnya aku ini siapa kamu sih mas?" tanya Husna membuat Mahesa terdiam.
Mahesa diam tidak menjawab pertanyaan Husna, dia juga tidak tau harus menjawab apa, kalau Mahesa bilang kalau Husna itu istrinya bisa-bisa Husna akan besar kepala, apa lagi Mahesa sangat gengsi untuk mengakui nya.
"Kenapa diam?"
Mahesa lebih memilih untuk pergi ke kamar mandi, ia tidak dapat menjawab pertanyaan Husna itu.
Selesai Mahesa mandi ia duduk di tepi ranjang dimana Husna masih duduk di sana, seperti biasa Mahesa akan selalu meletakkan kepalanya di paha Husna.
"Anak ayah apa kabar ya, ayah pengen kamu cepat keluar, pengen ayah gendong!" ujar Mahesa mengusap perut Husna itu.
Husna hanya terdiam, tatapan matanya sangat jauh menerawang, Mahesa terdiam ia menatap wajah Husna yang kelihatan bersedih itu.
"Maaf!" batin Mahesa
...
Bersambung...