
Mereka berdua keluar dari ruang dokter kandungan itu, Husna berjalan beriringan dengan Mahesa yang sangat overprotektif terhadap Husna itu, sampai-sampai Husna jadi jengah sendiri dengan Mahesa.
"Jangan berlebihan dengan aku mas, aku baik-baik saja!" tutur Husna
"Tidak, aku harus menjaga kamu dengan baik-baik agar anak kedua kita ini tidak kenapa-napa!" tegas Mahesa
Husna menghela napas biasanya Mahesa tidak terlalu perhatian dengan dirinya saat hamil anak pertama mereka dulu, mungkin dulu itu Mahesa hanya menganggap Husna sebagai ibu untuk melahirkan anaknya saja, sekarang keadaan nya sudah terbalik, saat ini Mahesa sudah mengakui semua kesalahannya kepada semua orang.
"Anak ayah di sana baik-baik ya, jangan nyusahin bunda kamu!"
"Iya ayah...!"
Benar saja apa yang Mahesa ucapkan waktu itu jika Husna sedang mengandung anak kedua mereka, tebakan dokter tidak pernah salah bukan. Husna sampai tidak mempercayai jika dirinya berbadan dua tadinya.
Mahesa mengantarkan Husna sampai di parkiran mobil karena ia harus bekerja di rumah sakit ini.
"Mang Udin, hati-hati ya bawa mobilnya, nyonya kalian lagi hamil!" ujar Mahesa
"Siap tuan!"
Mahesa menatap wajah Husna itu ia memberi senyum pada istri tercinta nya itu, "sampai di rumah kamu jangan capek-capek ya, langsung istirahat, aku akan usahain pulang cepat!" tutur Mahesa
"Iya!" jawab singkat Husna lalu ia mencium punggung tangan Mahesa.
Mahesa lebih dulu masuk ke rumah sakit itu karena ia di panggil oleh perawat untuk melaksanakan tugasnya untuk mengoperasi pasien nya.
"Aku masuk dulu ya, ingat jangan kecapekan!" ujar Mahesa
"Iya mas...!"
Husna menghela napas sambil mengusap perut ratanya itu, tidak bisa di bayangkan bagaimana bahagia nya saat ini, semuanya yang ia lalui dulu penuh dengan penderitaan kini penderitaan itu sudah berganti dengan kebahagiaan yang ia dapatkan.
Husna hendak naik ke dalam mobil, namun saja ada seseorang yang memanggil nya.
"Husna!"
Husna menoleh ke belakang, matanya terbelalak tatkala ia melihat sesosok laki-laki yang sangat ia kenali bahkan ia juga rindui.
"Bang Fajri!"
Ya, laki-laki yang memanggil Husna itu ialah Fajri yang selama ini mencari Husna, secara kebetulan Fajri bertemu dengan adik sepupu nya itu di depan rumah sakit ini.
"Alhamdulillah... akhirnya Abang bisa menemukan kamu!" tutur Fajri menghampiri Husna
"Abang, Uus kangen sama Abang, Abang apa kabar bang? bibi sama paman apa kabar?" tanya Husna
Husna masih saja ingat dengan paman dan bibi nya itu, sesering apa perlakuan tidak baik paman dan bibinya itu terhadap nya tapi ia masih saja tetap ingat dengan paman dan bibi nya itu.
Husna tidak pernah merasa dendam kepada paman dan bibi nya itu hanya saja ia merasa kecewa saat dirinya menjadi jaminan hutang paman dan bibi nya itu, mungkin itu hal yang tak pernah Husna lupakan dengan bertemu nya dirinya dengan Mahesa hidupnya seakan berubah drastis, walaupun dari awal ia menjalankan hidup nya itu penuh penderitaan yang selalu Mahesa lakukan pada nya, tapi lihatlah saat ini Husna mendapatkan kebahagiaan nya itu dari Mahesa yang telah mengakui dirinya di depan semua orang.
Fajri menggeleng-nggelengkan kepalanya ia juga tidak tau bagaimana keadaan ayah dan ibu nya saat ini, sudah lama ia meninggalkan ayah dan ibunya itu.
"Maksud Abang apa bang? kenapa bang Fajri menggelengkan kepala Abang?" tanya Husna tidak mengerti
"Abang meninggalkan mereka Uus, karena Abang merasa muak dengan mereka yang selalu memikirkan soal harta!" pengakuan Fajri
Husna merasa shock dengan apa yang di bilang oleh Abang sepupu nya itu, bagaimana bisa Fajri meninggalkan orang tuanya, setahu Husna, Fajri sangat menyayangi orang tua nya itu.
"Kenapa begitu bang?" tanya Husna
Fajri menghela napas panjang, "kita cari tempat yang nyaman untuk berbicara!" ujar Fajri karena mereka masih berdiri di tempat parkiran mobil.
Mereka berdua memilih duduk di kantin rumah sakit ini untuk berbicara, sekali-kali Fajri menghela napas kasar dan berat.
"Jawab pertanyaan Uus tadi bang, kenapa bisa Abang meninggalkan bibi dan paman?" ujar Husna
Fajri mulai menceritakan semua kejadian yang terjadi pada hidup nya itu, sampai ia merasa benci dan muak dengan kehidupan orang tua nya itu dan ia memilih untuk pergi meninggalkan ayah dan ibu nya.
"Tapi mereka membutuhkan Abang!" ujar Husna
"Abang capek Husna, Abang mau memberikan mereka pelajaran agar mereka bisa berubah, saat Abang meninggalkan mereka usaha mereka sudah di ambang kebangkrutan, jadi Abang tidak pernah lagi bertemu dengan dia, sebenarnya Abang ingin bertemu dengan ayah dan ibu tapi rasa benci Abang masih ada untuk mereka!" ujar Fajri
Bagaimana tidak merasa muak dengan kehidupan orang tua nya yang tidak henti-hentinya memikirkan soal harta.
"Apa kamu tidak membenci mereka? Abang yakin kamu pasti membenci ayah dan ibu Abang, secara mereka sudah tega menjual kamu, kamu sering di perlakukan tidak adil oleh ayah dan ibu, Abang sendiri yang menyaksikan itu sangat sakit hati Husna!" ujar Fajri
Husna tersenyum kecil, "Husna tidak membenci paman dan bibi bang, hanya saja Husna merasa kecewa saja dengan apa yang telah mereka perbuat terhadap Husna dulu, Husna merasa senang juga bang karena paman dan bibi menjual Husna kepada mas Mahesa, mas Mahesa sangat baik pada Husna walaupun dulu ia pernah menyakiti Husna!" kini Husna yang menceritakan kehidupan nya yang selalu menderita itu.
Husna menceritakan kehidupan awal ia di pertemukan dengan Mahesa dan sekarang ia merasa bahagia.
"Insyaallah tidak bang, mas Mahesa sangat baik sama Husna saat ini, kami hidup bahagia bang di tambah lagi Husna sekarang lagi hamil anak ke dua!" ujar Husna
Fajri merasa senang mendengar kebahagiaan adik sepupu nya itu, "semoga kamu bahagia selalu dengan Mahesa!" ujar Fajri
"Aamiin...!"
"Lalu apa rencana Abang selanjutnya, apa Abang mau bertemu dengan paman dan bibi? tanya Husna
Fajri menggeleng-nggelengkan kepalanya ia masih belum bisa menerima dengan apa yang telah ayah dan ibu nya lakukan dulu, hati nya masih sakit untuk menerima nya.
"Entahlah!"
"Kalau kamu, apa kamu mau memaafkan ayah dan ibu Abang?" sambung Fajri
"Husna sudah lama memaafkan mereka bang, untuk apa menyimpan dendam yang tak akan pernah bisa habis-habis nya, lebih baik memaafkan dari pada tidak sama sekali, Uus saja bisa memaafkan paman dan bibi masa Abang sendiri tidak bisa, Abang anak satu-satu mereka lho!" tutur Husna
Fajri menghela napas nampak raut wajahnya yang seakan berpikir keras untuk memaafkan orang tua nya itu.
"Husna ingin bertemu dengan paman dan bibi bang, Husna ingin sekali bertemu dengan orang yang telah menjaga Husna sedari kecil sampai sebesar ini, mereka sudah Husna anggap sebagai ibu dan ayah Husna sendiri!"
Lagi-lagi Fajri menghela napas panjang, ia tidak tahu terbuat dari apa hati adik sepupu nya ini, kenapa Husna dengan mudahnya bisa memaafkan paman dan bibi nya yang jelas-jelas sudah jahat pada nya dulu, sedangkan Fajri yang merasa muak dan benci dengan gaya hidup orang tua nya itu, ia tidak bisa memaafkan nya dengan semudah itu.
"Abang tidak tau terbuat dari apa hati kamu Husna, kenapa kamu dengan mudahnya memaafkan orang yang sering menyakiti kamu, menyiksa bahkan mereka tidak segan-segan menjual kamu demi hutang mereka lunas!"
"Husna tidak mau menyimpan dendam bang, Husna mau hidup Husna tenang dan bahagia, memaafkan bukan hal yang buruk juga bang!" ujar Husna
Setelah pertemuan nya dengan Fajri kini Husna ingin balik ke rumah nya, ia merasa lega karena ia sudah berjumpa dengan Fajri hanya saja Husna masih kepikiran dengan paman dan bibi nya itu, ia tidak tau bagaimana kehidupan paman dan bibi nya itu lagi.
"Astagfirullah alhazim... kenapa kamu masih di sini sayang?" Mahesa baru saja selesai mengoperasi pasien nya, ia hendak ke kantin tapi ia malah di kejutkan dengan istrinya yang masih saja berkeliaran di rumah sakit ini, berarti sudah dua jam saja Husna dan Fajri berbicara tadi.
Husna tidak kalah kagetnya tatkala Mahesa tiba-tiba saja berada di hadapan nya.
"Mas, hehe... aku tadi ngobrol dulu dengan bang Fajri!" beritahu Husna sambil nyengir
Mahesa menatap laki-laki yang pernah ia lihat waktu itu di TPU tempat orang tua Husna di makamkan.
Fajri mengulurkan tangannya kepada Mahesa ia ingin memperkenankan diri nya kepada suami adik sepupunya itu, Mahesa menatap Fajri dengan sinisnya, Mahesa menerima jabatan tangan Fajri itu.
"Saya Fajri, sepupu nya Husna!" ujar Fajri memperkenalkan diri nya.
"Mahesa!" jawab Mahesa dengan judes
"Uus, Abang pergi dulu ya, Abang mau membesuk teman Abang dulu, jaga diri kamu baik-baik ya!" ujar Fajri mendapatkan tatapan tajam dari Mahesa.
"Anda tenang saja, ada suaminya yang selalu melindungi nya!" ujar Mahesa lalu Mahesa mengecup sekilas pipi Husna, ia mau menunjukkan kepada Fajri kalau dia akan menjaga istrinya dengan baik-baik.
Fajri tersenyum bahagia melihat kebahagiaan yang di dapatkan oleh adik sepupu nya itu.
"Laki-laki sejati memang pantas menjaga istrinya, jangan ulangi sikap kasar kamu itu kepada adik saya, jika kamu mengulangi nya saya pastikan anda tidak akan lagi bertemu dengan nya!" tutur Fajri lalu ia pergi meninggalkan Mahesa dan Husna.
"Eh, apa maksudnya!" sungut Mahesa sudah mengepalkan tangannya ingin menuju mulut Fajri itu, bagaimana bisa ia menyia-nyiakan kesempatan yang sudah Husna berikan pada nya itu.
"Sudah mas, kamu apan sih, cemburu kok sama Abang aku sendiri!" ledek Husna menahan tawanya, sangat lucu sekali melihat kecemburuan Mahesa itu.
"Bagaimana tidak cemburu, istri cantik mas tidak akan bisa lepas dari mas, kamu hanya milik mas seorang!" pengakuan Mahesa sangat serius dari lubuk hati nya paling dalam sedalam samudra Pasifik.
Sayang nya Husna meledek suaminya itu, "ha, masa sih mas?" ledek Husna membuat Mahesa memelototi matanya kepada Husna.
"Sudah kamu pulang saja di sini tidak aman untuk bidadari ku, di sini banyak mata yang akan menggoda bidadari ku ini!" kesal Mahesa menuntun Husna balik ke parkiran mobil.
"Langsung pulang jangan kelayapan, Ansel pasti sudah menunggu kamu, putra kita membutuhkan kamu sayang, jadi kamu jangan kelayapan ke sana ke sini!" racau Mahesa
"Iya aku pulang, Ansel pasti sudah menunggu bunda nya ini!" ucap Husna
Sekali lagi Husna mencium punggung tangan suaminya itu, "Uus pulang dulu, Assalamualaikum!" ucap salam Husna
"Wa'alaikumussalam!
Mahesa melihat kepergian mobil yang di naiki oleh istrinya itu.
...
Bersambung...
**Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan jejak kalian, tidak ada komentar maka author tidak akan update cerita ini.
Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, yang panjang kek komentar nya, jangan satu kata saja🤔🙄🤨**.