Pernikahan Siri Seorang Dokter

Pernikahan Siri Seorang Dokter
part 67. Resepsi


Acara resepsi pernikahan terus berlangsung dengan lancarnya, semua tamu undangan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka itu.


Teman-teman kerja Mahesa juga berdatangan di hari spesial nya ini, banyak sekali orang-orang yang memberikan selamat kepada mereka.


"Ini baru Mahesa, mengumumkan pernikahannya di depan orang banyak, mantap bro gue bangga sama lo, laki-laki sejati!" ujar Hendri


Mahesa tersenyum kecil saja ia juga merasa lega sudah melepaskan rahasia nya ini, semuanya sudah berakhir dan ia ingin membuka lembaran baru dengan Husna.


"Selamat ya pengantin baru!"


"Selamat ya!


Semua tamu undangan itu bersalaman dengan kedua pengantin itu.


Dari tempat kursi tamu itu Fajri memperhatikan adik sepupu nya itu, ia tersenyum bahagia melihat adik nya itu bahagia.


Selama ini dia mendapatkan kesengsaraan saja dalam hidupnya, derita yang ia alami dulu sekarang sudah berubah menjadi sebuah kebahagiaan.


Sekarang tinggal hidupnya yang mulai di hantui rasa bersalah kepada orang tua nya itu, dia bahkan tega meninggalkan kedua orang tuanya karena merasa muak dan benci, padahal itu semua di lakukan untuk kebahagiaan nya juga.


Fajri masih belum bisa memaafkan orang tuanya yang serakah itu, ia masih ingat bagaimana cara orang tua nya itu ingin menguasai harta yang bahkan tidak menjadi hak dan miliknya.


Bahkan kedua orang tua nya itu sangat tega sekali dengan Husna yang tidak tau apa-apa, Husna di jadikan pembantu di rumahnya sendiri, bahkan Husna selalu di jadikan babu, tidak di kasih makan jika pekerjaan tidak selesai tidak boleh istirahat jika tak selesai pekerjaan nya, begitulah kehidupan Husna saat orang tua nya itu ingin menguasai harta keponakan nya sendiri.


Fajri merasa bersalah dengan adik sepupu nya itu, di saat Husna membutuhkan nya waktu itu ia bahkan tidak bisa membantu nya karena kejam nya orang tua nya itu.


Ingin sekali Fajri melindungi adiknya itu waktu itu tapi tidak bisa, dan sekarang Fajri juga tidak bisa melindungi adiknya itu karena sudah ada laki-laki lain yang melindungi Husna yaitu Mahesa.


Jauh dalam lubuk hati Fajri ia menyimpan sebuah perasaan lain terhadap adik sepupu nya itu, tapi itu mana mungkin dia ungkapkan karena perasaan itu perasaan terlarang.


Fajri bangkit dari duduknya itu ia ingin mengucapkan selamat atas pernikahan adik sepupu nya itu.


"Selamat ya Mahesa, jaga adik saya, saya titipkan adik saya kepada kamu!" ujar Fajri


"Itu tentu saja, kamu tidak usah khawatir!" jawab Mahesa dengan tatapan sinis


Dari awal pertemuan, Mahesa memang tidak suka jika Fajri terlalu dekat dengan Husna, dia merasa Fajri itu memiliki perasaan terhadap Husna.


Kini Fajri berpindah pada Husna, "selamat ya, kamu sudah bahagia sekarang, Abang senang melihat kamu bahagia, semoga pernikahan kalian ini bahagia sampai kakek-nenek!" tutur Fajri


"Terima kasih bang, Husna juga senang karena Abang mau jadi wali nikah Husna!" ujar Husna dengan mata berkaca-kaca


"Abang boleh peluk Husna? tanya Fajri


Husna mengangguk-angguk lalu Husna menghambur dalam pelukan Abang sepupu nya itu, sudah lama ia tidak pernah merasakan pelukan seperti ini dengan Abang nya.


Mungkin waktu kecil mereka terakhir berpelukan, dan sekarang momen itu terulang kembali, Husna menangis dalam pelukan Abang nya itu.


Mahesa memelototi matanya ia ingin melerai pelukan Fajri terhadap Husna nya itu, tapi di tahan oleh amor dan Radyta.


"Biarkan saja, mereka mau melepaskan rindu mereka, lagi pula Fajri itu Abang nya, apa salah nya juga!" ujar amor


Mahesa menarik napas ia tidak jadi melerai pelukan Fajri terhadap Husna itu.


Karena terlalu lama mereka berpelukan akhirnya Fajri lebih dulu melepaskan pelukan dari Husna itu,


"Adik, Abang! jangan nangis lagi, ini hari spesial kamu bukan, jadi kamu harus bahagia!" tutur Fajri menghapus air mata Husna itu.


Mahesa merasa cemburu saat air matanya itu di hapus oleh Fajri, dia sebagai suami merasa tidak peka dengan ini semua.


"Semoga keluarga kalian bahagia selamanya!" ujar Fajri lalu Fajri turun dari pelaminan itu.


Mahesa menggenggam tangan Husna itu dengan eratnya, pertanda ia tidak ingin istrinya itu di ambil oleh orang lain.


Di sisi lain, Santi si perawat yang selalu mengangumi Mahesa itu dan selalu ikut saat Mahesa bekerja, saat ini dia sedang merana melihat betapa bahagianya pengantin itu.


Dia merasa kecewa saat mendengar jika Mahesa akan menikah, selama ini dia memendam perasaan itu ternyata perasaan nya itu hanya bertepuk sebelah tangan.


"Semoga kalian bahagia, aku tidak akan menganggu kebahagiaan kalian itu!"


Berbeda lagi dengan Claudia dia sangat senang melihat kebahagiaan pasangan itu, sampai-sampai dia juga ikut merasakan kebahagiaan itu.


"Mahesa, aku sangat bangga sama kamu akhirnya kamu menemukan cinta sejati mu, hmm... kapan ya aku bisa nyusul!" tutur Claudia memberi selamat kepada kedua pengantin itu.


"Jodoh tidak akan kemana!" ujar Mahesa


"Iya, tapi kan hilal jodoh aku belum kelihatan!" sela Claudia


"Sudahlah aku malas bicara sama kamu!" lanjut Claudia lalu ia memberi selamat kepada Husna.


"Husna...!" Claudia memeluk Husna, "aku sangat senang akhirnya Mahesa mau mengakui kamu, walaupun cara kami untuk membongkar rahasia kalian itu sedikit menyakiti perasaan kamu, aku minta maaf ya atas cara kami itu!" tutur Claudia, mulutnya dari tadi komat-kamit tidak mau berhenti


"Aku sudah memaafkan kamu, aku juga berterima kasih kepada kamu karena kamu akhirnya mas Mahesa mau mengakui ku!" ujar Husna


"Iya, kami sangat senang dengan terbongkar nya rahasia kalian itu, kalau tidak ada kami mungkin rahasia kalian itu masih terjaga!" tutur Claudia


"Sekali lagi aku berterima kasih dengan kalian!" ujar Husna, Claudia mengangguk-angguk kecil.


Setelah semua tamu mengucapkan selamat kini sesi foto-foto keluarga dan foto berdua pengantin itu.


Husna dan Mahesa saat ini sedang melakukan sesi foto berdua, Mahesa mencium kening Husna itu lalu tukang potret foto itu mengambil foto mesra mereka.


Setelah itu kini semua keluarga dari pihak laki-laki dan perempuan yang melakukan foto bersama.


Kini Mahesa, Husna dan putra nya itu yang di foto, mereka sangat bahagia dalam potretan foto itu.


Kedua pengantin itu sangat bahagia saat ini.


Berbeda lagi dengan Claudia yang sedang memaki-maki seorang laki-laki yang tidak sengaja menabrak nya sehingga air minum yang di bawa laki-laki itu tumpah di baju Claudia.


"Duh... kenapa kamu tidak lihat-lihat sih, jadi basah baju ku!"


"Cik! kenapa hidup ku merasa s*al sih hari ini, gara-gara bertemu dengan kamu!" maki Claudia


"Lihatlah bagaimana baju ku ini, jadi basah!" marah Claudia


"Saya minta maaf, saya tidak sengaja!" ujar Fajri


Ya, yang menambak Claudia itu ialah Fajri, sebenarnya bukan Fajri yang salah tapi Claudia yang salah kenapa dia tidak melihat-lihat dulu saat jalan, jadinya dia menabrak Fajri yang sedang memegangi minuman nya itu.


"Maaf, maaf, emangnya dengan kamu meminta maaf bisa mengembalikan baju aku seperti semula, malah kena noda lagi!" gerutu Claudia berusaha membersihkan baju nya itu.


"Kenapa kamu yang salahin saya? seharusnya kamu yang salah karena kamu yang nabrak saya, sudah beruntung saya mau minta maaf duluan, ini tidak, siapa yang salah siapa yang marah-marah, seharusnya saya yang marah sama kamu!" sungut Fajri


"Tidak, disini yang salah itu kamu, kamu yang sudah menabrak aku terlebih dahulu, pokoknya kamu harus bersihin baju ku seperti semula lagi!" tutur Claudia


"Masih untung aku minta di bersihkan saja baju ku kena noda ini, untung aku tidak minta ganti atau aku tuntut kamu!" sambung Claudia


Fajri geleng-geleng kepala, kenapa ada ya wanita seperti dia ini! pikir Fajri


Fajri beranjak pergi saja dari sana, dia malas meladani wanita seperti itu.


Claudia merasa tidak di hargai dia mengejar Fajri sampai ke toilet pria.


"Kamu harus bersihin baju ku!" ujar Claudia mencekal tangan Fajri


Fajri sampai kaget dengan kehadiran wanita ini yang ternyata mengikuti nya sampai ke toilet.


"Kamu apan sih? saya tidak salah jadi saya tidak akan repot-repot membersihkan baju kurang bahan kamu itu!" ujar Fajri menepis tangan Claudia itu.


"Ha? apa kamu bilang! baju kurang bahan kamu bilang, jelas-jelas ini model keluaran terbaru, kamu bilang kurang bahan!" cemooh Claudia


"Memang betul kurang bahan kok, itu saja baju kamu hanya sebatas lutut, tidak tahu malu!" cela Fajri


"Dasar, laki-laki bengek!" umpat Claudia


"Terserah kamu!" ujar Fajri


Claudia merasa kesal dengan pria ini, ia sengaja menyender di dinding dan ia langsung menarik Fajri.


"Aaaa.... tolong... tolong saya, laki-laki ini mau berbuat tidak senonoh dengan saya!" teriak Claudia sangat histeris


Fajri memelototi matanya, beruntung saja teriakan Claudia tidak di dengar oleh orang, Fajri langsung membekap mulut Claudia dengan tangan nya.


"Saya akan bertanggung jawab, tolong jangan teriak lagi!" Fajri sangat ketakutan, jika saja orang mendengar teriakan dari gadis yang sedang dengan nya ini, bisa-bisa mereka akan di nikahi


Claudia tersenyum penuh kemenangan, lalu ia menyeret paksa Fajri ke parkiran mobil, ia akan mengganti pakaian nya dengan baju yang selalu ia bawa kemana-mana.


"Tunggu di sini, aku ganti baju ku dulu!" ujar Claudia lalu ia menukar bajunya di dalam mobilnya itu, beruntung kaca mobil nya itu tidak bisa di lihat dari luar karena kaca mobilnya ini di lapisi dengan kaca berwarna hitam.


Selesai Claudia menukar baju nya itu lalu ia menyerahkan baju yang terkena tumpahan air minum tadi kepada Fajri.


"Ini, bersihin sampai noda nya tidak kelihatan lagi!" Claudia menyerahkan baju nya itu.


Fajri terpaksa menerima baju itu ia berharap setelah ini tidak akan bertemu lagi dengan manusia macam Claudia ini.


"Oh iya, nama aku Claudia, kalau kamu?" tanya Claudia


"Fajri!" jawab Fajri lalu meninggalkan Claudia itu, ia membawa baju wanita itu ke mobil nya.


"Harap-harap aku tidak bertemu dengan dia lagi!" gerutu Fajri


"Harap-harap aku bisa ketemu dengan dia lagi, ah tampan sekali!" harap Claudia bisa bertemu lagi dengan Fajri


Kembali lagi dengan kedua pengantin itu, mereka sedang duduk di kursi pelaminan itu, Ansel juga berada di tengah-tengah mereka berdua itu.


"Owalah... pengantin nya sudah punya buntut ya!" ledek para tamu undangan


"Iya, Mahesa itukan sudah menikah duluan, anggap saja ini resepsi pernikahan mereka yang tertunda!"


"Tapi anak mereka sangat tampan ya, ah kita jadi pengen punya cucu seperti itu!"


Husna merasa hari ini merupakan hari yang sangat bahagia nya setelah apa yang selama ini ia rasakan.


...


Bersambung...


Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan jejak kalian, tidak ada komentar maka author tidak akan update cerita ini.


Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, yang panjang kek komentar nya, jangan satu kata saja🤔🙄🤨