
Hari-hari terus berlanjut tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, umur anaknya sudah berusia sembilan bulan saja. Saat ini Ansel sedang belajar berjalan, Husna memegangi kedua tangan putranya itu agar Ansel bisa belajar berjalan.
Kamar putranya ini sudah di beri karpet karet oleh Mahesa agar saat Ansel jatuh tidak akan merasakan sakit.
Mahesa juga berada di kamar ini ia juga melihat bagaimana bayi kecilnya dulu sekarang sudah mulai bisa berjalan, walaupun satu langkah kaki mungil itu akan jatuh saat melangkahkan kakinya satu langkah atau dua langkah.
"Yee... anak bunda sudah bisa jalan ya!"
Mahesa tersenyum melihat anak dan istrinya itu. Kini mereka berdua duduk agak jauh dari putranya itu, Ansel akan mengejar bunda dan ayahnya itu ia akan melangkahkan kakinya agar sampai ke tempat bunda dan ayahnya itu.
"Ayo sayang sini kejar bunda nak!" Husna melambai-lambaikan tangannya agar putranya itu ke tempat nya.
"Jangan, jagoan ayah harus ke tempat ayah, sini Ansel kejar ayah!" Mahesa tidak mau kalah ia juga mau putranya itu mengejarnya.
"Sini sayang sama bunda aja!"
Entah apa yang ada di pikiran Mahesa itu ia lebih mendekat pada Husna karena di ujung sana putranya itu hanya terdiam memperhatikan ayah dan bunda nya itu, untuk memancing agar Ansel mau berjalan ke tempat mereka, Mahesa berinisiatif memeluk Husna agar putra nya itu mau berjalan.
"Ke sini sayang, kalau tidak... ayah akan...! Mahesa sudah memeluk Husna bahkan dia juga tak segan mencium pipi Husna sekilas.
Husna melebarkan matanya karena dapat serangan tiba-tiba dari Mahesa, putra mereka itu langsung menangis melihat Husna di ambil oleh ayahnya.
"Hiks... buna... hiks... buna..." tangis Ansel ia merangkak menuju bundanya itu, Ansel tidak jadi berjalan karena ulah ayahnya.
"Iya... sini sama bunda!" putra nya itu langsung memeluk leher Husna bahkan tangan mungil itu menjambak rambut ayahnya saking kesalnya mungkin dengan ayahnya ini karena telah mengambil bundanya.
"Aduh... aduh... rambut ayah kenapa kamu tarik?" protes Mahesa pada bayi berumur sembilan bulan itu.
"Buna... cel buna cel, yah gi yah gi..." celoteh Ansel menyuruh ayahnya pergi.
Husna hanya tersenyum kecil melihat ayah dan anak itu lagi memperebutkan dirinya, sangat bahagia sekali melihat momen seperti ini, entah kapan lagi Husna akan merasakan momen bahagia seperti ini, lambat laun pasti ia akan tersingkirkan juga posisinya ini.
"Sudah... sudah sini sama bunda, ayah pergi aja deh anaknya nggak mau sama ayah!" tutur Husna memanggil Mahesa dengan sebutan ayah
"Tapi kan ayah mau main sama Ansel, bunda!" tutur Mahesa juga memanggil Husna dengan sebutan bunda.
"Nanti saja, jelas-jelas anaknya tidak suka di jahili eh kamu malah menjahili nya!" protes Husna
Ansel masih menggantung di leher bunda nya itu, sekali-kali bayi berusia sembilan bulan itu mengecup pipi bundanya.
"Buna... mimi... buna mimi...!" celoteh Ansel ingin minta susu pada bunda nya itu.
"Haus ya? jagoan bunda haus?"
Husna membenarkan posisi duduknya lalu ia menatap Mahesa yang masih setia duduk di hadapan nya itu.
"Kenapa lihatin saya seperti itu?" tanya Mahesa
"Kamu tidak dengar kalau putra kamu lagi haus dan minta di susui?" tutur Husna
"Kali ini saya tidak akan memenuhi permintaan kamu itu, apa salahnya ayahnya sendiri melihat putra nya menyusu!" bantah Mahesa tidak ingin menuruti permintaan Husna itu lagi, toh Husna itu kan istrinya kenapa juga dia harus menuruti keinginan Husna itu.
"Mahesa Radyta!" gerutu Husna
"Iya, Husna Tri Hanasari!" tutur Mahesa juga menyebut nama lengkap Husna, ini merupakan ke dua kalinya Mahesa menyebut nama lengkap Husna itu setelah ia mengucapkan ijab kabul waktu itu.
Husna pindah dari sana ia duduk di sofa dan mulai menyusui putra nya itu, Mahesa juga menghampiri Husna ia bahkan duduk di depan Husna itu.
Husna menghela napas dan mengatur napasnya ini karena Mahesa ia jadi grogi sesaat.
...
Sore harinya Mahesa kedatangan tamu, tamu itu tak spesial sama sekali oleh Mahesa karena tamu itu sangat sering datang ke sini, saat Mahesa bekerja saja tamu itu juga sering datang ke sini, alih-alih ingin bertemu dengan Ansel.
"Claudia, kenapa kamu ke sini lagi?" tanya Mahesa tidak terlalu suka dengan kedatangan teman semasa kuliahnya dulu. Terlebih lagi Claudia ke sini akan menganggu waktu berdua nya dengan Husna.
"Lah, kenapa kakak sewot sekali? aku ke sini bukan bertemu dengan kakak, jelas-jelas aku ingin bertemu dengan si kecil!" tutur Claudia mencibirkan lidahnya pada Mahesa
Sebenarnya Mahesa tidak mempermasalahkan jika Claudia datang ke sini, tapi yang salahnya itu terletak pada mama dan papa nya yang mau menjodohkan nya dengan Claudia ini.
"Ansel... aunty Claudia ke sini lagi...!" Claudia menaiki anak tangga itu menuju kamar Ansel.
Husna yang mendengar suara Claudia itu jadi menghela napas, waktunya berduaan sama putra nya ini akan hilang karena di ambil alih oleh Claudia. Inilah yang di takuti oleh Husna jika posisi nya benar-benar di gantikan oleh Claudia nanti apa dia akan bisa bertemu lagi dengan putranya ini?
Pintu kamar itu di buka oleh Claudia ia langsung masuk dan merebut Ansel dari gendongan Husna.
"Aduh... kamu semakin berat saja ya, aunty jadi kesusahan mengendong kamu!"
"Maaf nona, tuan muda harus menyusu terlebih dahulu!" tutur Husna yang tidak jadi menyusui putra kandung nya itu karena keburu Claudia datang ke dalam kamar ini.
"Eh, hehe... maaf... maaf, saya pikir si kecil sudah kamu susui!" tutur Claudia mengembalikan Ansel kepada Husna.
Semua orang sudah tau jika Husna ini pengasuh dan jadi ibu susu Ansel, jadi mereka tidak terheran-heran lagi jika Husna menyusui Ansel langsung dari sumbernya nya.
Claudia memperhatikan cara Husna yang sangat telaten mengurus bayi itu, ia jadi tersenyum kecil.
"Kamu pintar ya mengurus bayi!" celetuk Claudia
Husna tersenyum kecil saja, "nona bisa saja!" tutur Husna
"Iya lho, kamu pintar mengurus bayi, sedangkan saya tidak bisa mengurus bayi, bisa-bisa bayi itu akan menangis jika saya mengasuh nya!" cerewet Claudia
"Kenapa begitu?"
"Ya, karena saya tidak mengurus bayi makanya bayi itu bisa menangis di tangan saya!" ungkap Claudia
Mereka berdua ngobrol secara akrab, sementara itu Mahesa ikut masuk ke kamar ini.
"Astagaa... kakak kenapa ke sini, Ansel lagi menyusu!" teriak Claudia mendorong tubuh Mahesa keluar dari kamar ini.
"Tidak tahu malu sekali kamu, jelas-jelas pengasuh putra kamu itu lagi menyusui putra kamu, eh kamu malah nyelonong masuk saja, dasar buaya kamu!" protes Claudia menutup pintu itu dan menguncinya dari dalam.
"Huff... terdengar helaan napas panjang Claudia
"Apa Mahesa sering seperti itu?" tanya Claudia
"T-tidak nona!" dusta Husna gugup, malahan Mahesa sering melihat putranya itu lagi menyusu dengan Husna.
"Syukurlah... saya pikir Mahesa seperti itu!" helaan napas Claudia masih terdengar.
"Beruntung saya ada di sini jika tidak, saya tidak tau lagi deh!" sambung Claudia
Husna memberikan Ansel itu kepada Claudia karena ia sudah selesai menyusui putranya itu, Claudia membawa Ansel ke tempat Mahesa.
"Hello, uncle ayah lagi apa?" ujar Claudia mengajarkan bayi itu dengan menyebut ayahnya dengan sebutan 'uncle ayah'
"Elah, kakak kenapa suka marah-marah sih? biasanya kakak suka berkata lembut dan ramah, lah sekarang suka marah-marah, apa jangan-jangan setelah punya anak, kakak jadi suka marah-marah gini? imbuh Claudia
"Ck...!" decak Mahesa
"Cepat, pulang saja kamu dari sini, aku tidak suka mempunyai tamu cerewet seperti kamu!" sungut Mahesa
"Eh, aku tidak cerewet!" bantah Claudia melempari Mahesa dengan bantal sofa itu.
Mereka jadi main lempar-lempar bantal, alhasil mereka saling tertawa dengan kelakuan kekanak-kanakan mereka itu. Dari kejauhan Husna menatap Mahesa dan Claudia itu ada rasa perih di hulu hatinya ini melihat kebahagiaan mereka itu terlebih lagi putra nya juga ada di sana, mereka sudah terlihat seperti kelurga kecil yang sangat bahagia saja, apa lagi Mahesa nampak senang dan tertawa dengan Claudia itu.
"Apa posisi ku akan di gantikan oleh nona Claudia itu?" Husna berusaha tidak meneteskan air matanya tapi sangat sayang sekali air mata itu tetap tak bisa ia tahan.
"Sakit sekali melihat mereka tertawa bahagia seperti itu!"
Selama ini ia sangat jarang mendapatkan momen seperti mereka itu, bahkan saat Husna mengandung dulu Mahesa sering meninggalkan nya bahkan sering memarahi nya.
Husna kembali ke kamar ia menangis di sana, hatinya sangat sakit melihat anak dan suaminya tertawa dengan wanita lain.
"Hiks... kenapa harus aku yang menjalani ujian hidup seperti ini, hati aku sangat sakit melihat mereka!"
...
Malam harinya Husna tampak murung dan tidak banyak bicara, bahkan ia juga cuek kepada Mahesa.
Mahesa juga heran dengan perubahan sikap Husna, tadi saja Husna baik-baik saja bahkan ia juga banyak celoteh dengan Mahesa tapi sekarang Husna banyak diam.
"Husna!" panggil Mahesa
"Hmm!" hanya kata hmm itu saja keluar dari mulut Husna.
"Tidur yuk!" ajak Mahesa
Husna tidak menjawab ia lebih memilih tidur di kasur kecil itu ketimbang tidur di kamar Mahesa, untuk saat ini suasana hatinya tidak membaik.
"Lho kok kamu tidur di sini sih!" protes Mahesa
Husna juga tak bergeming menjawab pertanyaan Mahesa itu. Ia menutup matanya agar ia cepat tertidur.
"Kamu marah?" entah kenapa Mahesa melontarkan pertanyaan seperti itu.
Tetap sama Husna tetap diam membisu.
"Kamu cemburu ya?" tutur Mahesa
Husna langsung bangkit dari tidurnya lalu menatap Mahesa, "untuk apa saya cemburu dengan tuan, saya ini hanya pembantu dan tidak berhak cemburu pada tuan, saya sadar diri tuan!" tutur Husna
"Terserah tuan mau berpikir apa tentang saya, saya tidak peduli, toh sebentar lagi tuan akan menikah dengan nona Claudia itu kan, dan...!" Husna menjeda ucapan nya ia menghela napas terlebih dahulu.
"Ceraikan saya!" pinta Husna
Mahesa melebarkan matanya saat permintaan Husna itu ia dengar, bagaimana mungkin ini!
"Apa?" kaget Mahesa
"Ya, sebentar lagi tuan akan menikah dengan nona Claudia, jadi saya minta kepada tuan untuk menceraikan saya agar saya tidak memiliki hubungan dengan tuan lagi, tuan jangan takut saya tidak akan membawa Ansel dari tuan, karena perjanjian kita memang seperti itu kan, saya tidak akan menuntut tuan!" tutur Husna dengan perasaan sedih dan kacau balau.
Mahesa mengepal kuat tangan nya, ia sudah mulai merasa nyaman dengan ini semua tapi tiba-tiba saja Husna meminta cerai.
"Apa maksud mu hah?" ujar Mahesa mendekati Husna ia mencengkram bahu Husna.
"Saya tidak bermaksud apa-apa!" Husna sudah takut dengan Mahesa.
Mata Mahesa sudah memerah karena menahan emosinya, ia mendorong tubuh Husna dan menghimpit nya, entah apa yang ada di pikiran nya itu.
"Tuan lepaskan saya! lirih Husna tak berdaya lagi karena Mahesa tidak bisa ia lawan.
"Hiks... lepaskan saya tuan, saya tidak mau hiks...!" tangis Husna
...
Pagi pun tiba Husna menangisi kesesalan nya tadi malam, seharusnya ia tidak berbicara seperti itu alhasil Mahesa mengulangi nya kembali.
"Sudah bangun?" tanya Mahesa saat melihat Husna di samping nya sudah duduk.
Tidak ada rasa bersalah sama sekali yang Mahesa tunjukkan kepada istrinya itu, ia sudah membuat Husna tidak berkutik lagi dengan aksinya semalam tadi.
"Pergi kamu hiks...!" tangis Husna
"Ya, saya akan pergi karena pagi ini saya akan bekerja, jangan lupa menyiapkan pakaian saya!" tutur Mahesa lalu ia pergi dari kamar ini.
Husna pergi ke kamar mandi ia mensucikan dirinya terlebih dahulu barulah ia akan menunaikan ibadah sholat subuh nya.
Husna melaksanakan sholat subuh nya terlebih dahulu, setelah selesai sholat ia melihat putra nya yang masih nyenyak tidur di box bayi itu.
Mahesa kembali lagi ke kamar itu karena Husna belum juga menyiapkan pakaian kerja nya.
"Kenapa begitu lama sekali? saya sudah menunggu mu!" tutur Mahesa menghampiri Husna di dekat box bayi itu.
Husna hanya diam terus memperhatikan putra kecilnya itu.
"Husna, buruan siapkan baju saya!" titah Mahesa tidak butuh banyak percakapan lagi Mahesa menyeret paksa Husna.
"Lepas, apa anda tidak puas menyiksa saya?" ujar Husna dengan suara serek khas habis menangis.
"Kapan saya menyiksa mu?" Mahesa balik bertanya
"Saya tidak suka ada orang membantah ucapan saya , jadi kamu siapkan baju saya sekarang!" titah Mahesa
Plakk
Tangan Husna langsung saja menampar pipi bagian kanan Mahesa itu, "kamu kenapa selalu bersikap seperti ini kepada saya? seolah-olah kamu tidak memiliki kesalahan sedikit pun, saya capek Mahesa saya capek, coba sedikit saja kamu memikirkan perasaan saya ini, seolah-olah kamu memberikan perhatian manis kepada saya! untuk apa kamu memberikan perhatian itu kepada saya, ujung-ujungnya kamu hanya ingin menyakiti saya, saya tau Mahesa saya ini hanya wanita untuk melahirkan anak kamu, saya bukan apa-apa bagi kamu, tapi kenapa sikap kamu ini sangat rumit untuk saya tebak? tutur Husna mencurahkan isi hatinya yang sakit semalam.
Mahesa diam sesaat karena ucapan Husna itu sangat menyakiti hatinya, entah kenapa ia tidak bisa mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya kepada Husna.
"Maaf!" hanya maaf yang bisa Mahesa ucapakan untuk saat ini.
...
Bersambung...
Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan jejak kalian, tidak ada komentar maka author tidak akan update cerita ini.
Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, yang panjang kek komentar nya, jangan satu kata saja🤔🙄🤨