
"Kedatangan saya ke mari saya mau melamar putri bapak dan ibu!"
Claudia melongo saja saat Fajri memang betul-betul datang ke rumah nya dan melamar nya. Dia pikir Fajri tidak akan tau dimana rumah nya tapi dengan begitu mudahnya Fajri datang ke rumah nya ini.
"Saya memang baru kenal dengan anak bapak, tapi saya yakin dia wanita yang sangat baik untuk saya, terlebih lagi dia sangat cantik!"
Glekk
Lagi-lagi Claudia susah payah menelan ludah nya, bagikan mimpi saja dia saat ini.
"Kami baru beberapa kali bertemu pak, tapi saya sudah yakin dia wanita yang sangat baik, jadi apakah bapak menerima lamaran saya ini?"
Claudia tersenyum kikuk di hadapan kedua orang tua nya itu, selama ini dia tidak pernah memiliki sebuah hubungan dengan laki-laki mana pun, dan sekarang ada saja seorang laki-laki yang mau melamar nya.
Claudia memelototi matanya ia tidak mau di lamar begitu cepat oleh Fajri.
Iya dia ingin sekali jadi pendamping hidup Fajri tapi tidak seperti ini juga, terlalu cepat bukan?
"Papa mama please jangan terima lamaran ini, aku memang suka sama dia tapi masa harus sekarang juga, tidak mungkin bukan?" batin Claudia
Wijaya menatap putri semata wayangnya itu, ia tersenyum kepada Claudia, jika di pikir Claudia ini sudah cukup matang untuk berumah tangga, umur nya saja sudah hampir menginjak kepala tiga, bagaimana tidak cepat-cepat orang tua nya menikah kan nya.
Sudah ada calon maka harus di terima bukan, untuk apa di tunda-tunda lagi.
Dea sangat setuju untuk menikahkan anaknya cepat, biar bagaimanapun Dea sudah cukup tua ia juga ingin mengendong cucu.
"Terima aja pa!" ujar Dea
"Papa pikir juga begitu ma!" ucap Wijaya
"Pa... ma... jangan lakukan itu jangan terima lamaran dia!" batin Claudia
Claudia sudah panas dingin ia ingin menghilang saja dari bumi ini.
Kenapa juga dia bercanda tadinya kan namanya senjata makan tuan.
"Faj, kamu serius?" tanya Claudia
Fajri tersenyum, "kalau sudah sejauh ini apa kamu meragukan ku?" tanya Fajri seolah-olah Fajri merasa tidak di terima oleh Claudia, terlebih lagi Fajri memasang tampang iba.
"Claudia jangan begitu nak, kalau nak Fajri mau melamar kamu apa salahnya sih? dia termasuk laki-laki sejati yang berani datang untuk melamar kamu!" ujar Dea
Claudia hanya bisa tersenyum di buat-buat saja, kenapa harus jadi begini?
"Kamu tidak mau menjadi pendamping hidup ku?" ujar Fajri dengan ekspresi wajah berubah pias
"Bukan begitu!" sela Claudia
"Lalu?"
Claudia merasa frustasi dengan ucapan nya tadi pagi, kalau bisa ia ingin menarik ucapan nya itu kembali.
"Baiklah, kami menerima lamaran nak Fajri!" ujar Wijaya
Jederr
Sekali lagi tubuh Claudia terasa di sambar oleh petir.
"Ini pasti mimpi, bagaimana bisa lamaran seperti beli bawang sekilo aja!" batin Claudia
Fajri melakukan ini karena dia merasa hidupnya sudah perlu ada yang memperhatikan, ia sudah siap juga berumah tangga, dengan adanya Claudia dia merasa tidak perlu repot lagi mencari wanita yang lain, walaupun dia hanya mengenal Claudia secara kebetulan.
Dia pikir mungkin Claudia ini memang jodohnya yang di berikan oleh Allah SWT kepada nya.
Tidak ada salahnya untuk mencoba lebih mengenal Claudia lebih lanjut lagi, ia sengaja mengikat Claudia dengan lamaran sekaligus tunangan ini agar dia lebih akrab lagi dengan Claudia.
Ternyata diamnya Fajri memiliki rencana yang tidak terduga juga.
Claudia sengaja membawa Fajri ke belakang rumah nya untuk berbicara empat mata.
"Astogee... pak, emang bapak pikir ini bercanda?" cerocos Claudia
"Lah kata siapa ini bercanda, bukankah pagi tadi kamu ajak saya nikah?, saya sih oke oke aja!" ujar Fajri
Claudia menyipitkan matanya lalu ia tersenyum, "tidak di duga ternyata bapak Fajri juga memiliki perasaan yang sama dengan saya!" tutur Claudia
Fajri terasa tersedak dengan air ludah nya, bagaimana mungkin Claudia menebak jika dia memiliki perasaan dengan Claudia, dia melakukan ini karena dia sudah pantas untuk menikah. Kalau soal hati mungkin itu urusan belakangan.
"Kepedean!"
"Bukan ini bukan kepedean pak, ini jelas kalau bapak punya perasaan sama saya, haha... jodoh emang tidak kemana ya, duh jadi pengen cepat-cepat di nikahi sama kamu!" ujar Claudia
Fajri sedikit tersenyum, dari awal mereka bertemu entah kenapa Fajri merasa ada sesuatu dari Claudia ini.
"Besok kita nikah ya pak!" sambung Claudia
"Besok saya memiliki beberapa urusan, saya hari ini cuma melamar kamu saja, kapan nikahnya saya belum pastiin!" tutur Fajri
Besok itu Fajri berencana ingin pulang kampung ia akan meminta maaf kepada ayah dan ibu nya, semua kekesalan yang ia pendam sudah mulai ia lepaskan, Husna saja bisa memaafkan ayah dan ibu nya itu, masa ia sendiri tidak bisa.
"Tapi kita akan nikah kan?" kini Claudia sendiri yang ngebet pengen nikah
"Sudah saya lamar kenapa tidak jadi!" tutur Fajri
"Fix, cowok idaman aku banget, aduh aduh nggak sabar dapat yang muda!" tutur Claudia
Memang betul kalau Fajri itu lebih muda dua tahun dari Claudia, yang namanya jodoh soal umur pun tidak diketahui.
Setelah berbicara serius itu mereka berdua kembali ke tempat orang tua nya itu.
Saat lamaran ini yang mendampingi Fajri hanya teman nya saja.
Besok ia akan ke tempat orang tua nya ia berencana ingin membawa orang tua nya ke sini dan mengenalkan orang tua nya dengan Claudia dan keluarga Claudia juga.
"Kalau begitu saya pamit dulu ya om tante!" ucap Fajri
"Iya.. hati-hati di jalan ya nak!"
"Assalamualaikum!" ucap salah Fajri
"Wa'alaikumussalam!" jawab mereka
Claudia masih berdiri di luar rumah nya ia tidak menyangka bisa seperti ini, pagi itu memang niat nya bercanda tapi bercanda nya itu membawa ke hal yang serius.
Tidak tau berucap apa, yang ia bisa hanya berucap syukur kepada sang ilahi yang telah mengabulkan do'a nya segera menikah.
Kalau di ceritakan kepada teman-teman mungkin teman-teman nya tidak akan percaya dengan hal candaan ya tadi itu.
"Candaan ku membawa ke hal serius aja, duh mimpi apa ya aku semalam? Claudia Claudia!" tawa Claudia menertawakan dirinya yang absurd.
Bisa-bisa nya dirinya ngajak orang nikah saat joging lagi, apa kata teman-teman nya nanti?
Seorang CEO cantik ngajak orang nikah saat joging di taman kota, mungkin itu julukan yang sangat cocok untuk Claudia.
...
Bersambung...
Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan jejak kalian, tidak ada komentar maka author tidak akan update cerita ini.
Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, yang panjang kek komentar nya, jangan satu kata saja🤔🙄🤨