Pernikahan Siri Seorang Dokter

Pernikahan Siri Seorang Dokter
part 75. Gombalan Mahesa


Hari-hari terus berlalu, kehidupan Husna semakin hari semakin bahagia, banyak orang yang iri melihat kehidupan nya bahagia itu, orang cuma melihat kebahagiaan nya sekarang saja, kalau mereka melihat sebelum nya kehidupan Husna mungkin mereka akan merasa sedih.


Hari ini mereka akan menghadiri acara pernikahan Fajri dengan Claudia yang akan berlangsung di salah satu gedung milik keluarga Radyta.


Sebelumnya Adi sudah sembuh karena ia benar-benar di rawat di rumah sakit tempat Mahesa bekerja.


Saat ini keluarga kecil Husna itu lagi bersiap-siap untuk menghadiri acara pernikahan Fajri yang akan di mulai satu jam lagi.


Husna lagi kesusahan gara-gara putra dan suaminya itu, Mahesa yang dari tadi mencari baju batik yang akan ia gunakan ke pesta pernikahan Fajri, baju yang ia cari tidak ketemu oleh nya, sampai-sampai Husna juga repot membantu mencari baju milik Mahesa itu.


"Iiih... kamu kenapa tidak dari tadi carinya!" kesal Husna


"Dari tadi kok aku cari, tapi tidak ketemu juga!" alasan Mahesa sambil mencolek pipi Husna agar istrinya itu tidak marah-marah lagi.


Di lain sisi Ansel juga merengek karena ia di tinggal oleh bunda nya.


"Hiks... buna buna buna hiks..!" rengek Ansel memanggil bunda nya itu.


"Iya sebentar ya nak... bunda lagi bantuin ayah kamu!"


Husna sampai pusing dengan mereka berdua yang saling bersuara.


"Buna... hiks... buna buna buna hiks...!"


"Sebentar sel, bunda kamu lagi bantuin ayah nih, anak baik anak pintar jangan merengek dong, nanti ayah tidak beliin kamu mainan lagi lho!" tutur Mahesa


Ada-ada saja ancaman Mahesa itu untuk putra nya itu.


"Hiks... dak au buna sel au buna hiks...!" tangis Ansel meminta bunda nya itu memperhatikan nya


Begitulah anak dan ayah itu yang selalu meminta perhatian dari Husna, sampai Husna pusing dengan kelakuan mereka berdua, di tambah lagi anak yang Husna kandung ini lahir nantinya, tidak tau bagaimana report nya Husna nanti.


Karena kasihan dengan Ansel yang terus merengek akhirnya Husna meninggalkan Mahesa sendiri yang mencari baju nya itu.


Saking banyak nya baju Mahesa itu ia jadi lupa dimana ia menaruh baju batik nya itu, di dalam ruang ganti pakaian itu terlalu banyak koleksi baju Mahesa.


"Udah, kamu aja yang cari aku ke Ansel dulu!"


"Tapi bun, baju aku belum ketemu!"


"Cari aja sendiri, kasihan Ansel nangis terus!"


"Oke deh!"


Mahesa terpaksa mencari baju nya itu satu persatu, entah dimana ia taruh waktu itu.


Bukanya Husna yang lama dandan nya melainkan Mahesa yang sangat lama mencari baju nya itu, alhasil mereka datang terlambat di acara pernikahan Fajri itu.


"Mas, udah belum sih? ini sudah jam setengah sepuluh, bang Fajri nikahnya jam sepuluh, kapan kita sampai nya coba!" protes Husna


"Iya... ini baju nya baru ketemu!"


Mahesa keluar dari ruang ganti pakaian nya itu, ia sudah rapi dengan baju batik yang ia kenakan itu.


Mereka betul-betul terlambat hadir di acara ijab kabul Fajri itu, mereka sampai di sana saat semua orang memanjatkan do'a untuk kedua mempelai.


"Alhamdulillah hirobbil alamin"


Husna tersenyum bahagia karena Abang nya itu sudah menemukan jodohnya itu, awalnya Husna dan Mahesa tidak percaya dengan ucapan Fajri jika ia menikahi Claudia.


"Jodoh itu unik ya mas, aku kira bang Fajri bakalan berjodoh dengan orang lain eh malah larinya ke kak Claudia!" tutur Husna


"Iya, aku juga tidak menyangka jika kamu jodoh ku, aku berdo'a kepada Allah ta'ala semoga kamu tetap jodohku di akhir nanti!" ujar Mahesa


"Aamiin... semoga saja!"


Mereka menghampiri Fajri dan Claudia yang sudah naik ke pelaminan itu, orang yang paling bahagia di sini yaitu Husna ia melihat kebahagiaan itu datang bertubi-tubi pada nya.


"Selamat ya bang!" tutur Husna


"Terima kasih Uus, Abang senang akhirnya kamu datang!" ujar Fajri


"Aku pasti akan datang bang, masa di acara pernikahan Abang aku sendiri aku tidak datang, sekali lagi selamat ya bang!" ujar Husna menangis bahagia


Fajri mengangguk dan merangkul adik nya itu, sambil mengusap air mata Husna, "adik manis Abang jangan nangis lagi ya, kita kan sudah melewati masa-masa sulit kita, hari ini merupakan hari bahagia kita!" ucap Fajri


Husna mengangguk kecil sambil tersenyum, Claudia juga ikut tersenyum melihat Husna yang tampak bahagia itu, mendengar cerita kehidupan Husna dulu membuat Claudia juga ikut merasakan sedih.


"Selamat ya kak Claudia!" ujar Husna


"Iya terima kasih Husna, kamu banyak mengajarkan pada kami tentang betapa pentingnya kehidupan itu, aku bangga memiliki adik seperti kamu, jangan bersedih lagi ya, karena Mahesa sudah menganggap kamu!" imbuh Claudia


"Iya kak, terima kasih juga karena kakak sudah membuat mas Mahesa mau mengakui ku!" ujar Husna


"Iya kak!"


...


Setelah menghadiri banyak rangkaian acara pernikahan Fajri dan Claudia, kini mereka berpamitan kepada anggota keluarga kedua mempelai. Husna juga tidak boleh terlalu capek karena kondisi kandungan nya masih rentan.


"Husna pulang dulu ya bibi, jaga diri bibi ya!" ujar Husna berpamitan dengan Inah


"Iya nak, kamu juga jaga diri kamu ya nak, terlebih lagi kamu sedang berbadan dua!" ujar Inah


"Iya bi!" Husna berpelukan dengan bibi nya itu.


"Paman, Husna pamit pulang dulu, jaga kondisi paman ya agar paman tidak sakit lagi, karena hanya kalian keluarga Husna satu-satunya, Husna sangat menyayangi kalian!" ujar Husna


"Iya nak, terima kasih ya kamu sudah mau membantu paman, paman sangat menyesal dulunya sudah menjahati kamu, maaf sekali lagi ya nak!" tutur Adi


Husna mengangguk kecil sambil tersenyum.


"Paman bibi saya pamit pulang dulu, kalian jaga kesehatan!" ujar Mahesa juga berpamitan


"Iya, terimakasih nak, kamu sudah mau membantu kami, jaga keponakan kami ya, jangan pernah menyakiti perasaan Husna lagi, cukup kami yang sudah menjahati nya waktu itu, jangan di ulangi lagi kesalahan yang pernah kamu lakukan!" ingat Inah


"Saya berjanji pada diri saya untuk selalu menyayangi Husna sampai kapanpun itu!" tutur Mahesa


...


Hari-hari berlanjut begitu saja, saat ini usia kandungan Husna sudah menginjak ke sembilan bulan, sebentar lagi Husna akan melahirkan.


Mahesa sebagai suami yang siaga ia meminta cuti 2 minggu agar dia bisa menemani Husna, terlebih lagi usia kandungan Husna itu sudah memasuki usia melahirkan.


Amor dan Radyta juga nginap di rumah Mahesa ini, mereka tidak ingin melewatkan kesempatan ini karena ia tidak pernah melihat cucu pertama nya itu lahir, kesempatan ini lah yang mereka tunggu-tunggu.


"Kalau kamu merasa mau melahirkan kamu jangan tahan ya nak, bilang saja kepada kami agar kami membawa kamu ke rumah sakit!" tutur amor


"Iya mama!" ujar Husna


Husna merasa memiliki ibu kandung sungguhan karena amor selalu ada buat nya selama ini, amor juga menyanyangi Husna seperti anak nya sendiri. Husna merasa nyaman dengan kasih sayang yang selalu amor berikan kepadanya itu, ia benar-benar merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu itu.


Semenjak kepergian orang tua nya itu ia merasa sendiri dan tidak ada kasih sayang orang tua nya lagi sampai ia benar-benar menemukan kasih sayang itu kembali.


Sangat bersyukur sekali karena Mahesa lah yang membawa nya ke tempat kebahagiaan itu. Ia pikir Mahesa tidak akan pernah peduli dengan nya, ternyata kesabaran dan ketabahan Husna membuat hati Mahesa luluh juga, terlebih lagi dengan cara Husna membuat Mahesa jatuh cinta kepada nya itu.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tutur Mahesa membuat lamunan panjang Husna buyar.


"Karena kamu!" ujar Husna


"Karena aku?" tanya Mahesa mengerutkan keningnya


"Iya karena kamu mau menganggap aku, aku sangat berterima kasih kepada kamu mas, ternyata aku bisa meluluhkan hati kamu juga, aku pikir kita tidak akan pernah bersua kembali setelah kamu meninggalkan aku waktu itu, aku pikir hidup ku akan telentara karena kamu tidak ada di samping ku, ternyata kita masih bisa sama-sama kembali!" ujar Husna tersenyum


"Tapi kamu nya bikin aku geregetan terus, sikap dan sifat kamu sulit aku tebak waktu itu, kadang kamu baik dan perhatian sama aku, kadang kamu jahat suka membentak ku!" imbuh Husna mengutarakan isi hatinya yang pernah Mahesa lakukan dulu pada nya


Mahesa cengengesan dengan apa yang Husna ucapkan itu, ternyata Husna sangat sulit menebak sikap nya dulu.


"Maaf ya, dulu itu aku suka gengsi sama kamu, sebenarnya aku dulu itu sudah ada perasaan kepada kamu, tapi aku takut mengutarakan isi hati ku itu, aku takut kejadian masa lampau itu terjadi lagi!" ujar Mahesa


Mahesa menceritakan kepada Husna kalau dia pernah di tolak oleh orang yang pernah ia suka dulu, itulah yang membuat nya tidak mau mencintai perempuan lagi, hatinya seakan sudah mati karena cinta nya di tolak dulu.


"Lemah!" sindir Husna


"Ya aku pikir juga begitu!" ujar Mahesa


"Tapi yakinlah sayang ku, cinta ku, bidadari surga ku, kamulah cinta sejati ku saat ini, kan aku mencintai kamu karena Allah subhana wa ta'ala!" sambung Mahesa


Husna tersenyum dengan penuturan suaminya nya itu yang sangat tulus mencintai nya.


"Dengar ini!" ujar Mahesa


"Apa?" tanya Husna


"Walaupun cintaku tersembunyi bagaikan Alif lam syamsiyah, tapi perhatianku padamu seperti Alif lam Qomariah, terbaca jelas!" ucap Mahesa


"Gombal!" senyum Husna malu-malu dengan pipi sudah bersemu merah.


...


Bersambung...


Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan jejak kalian, tidak ada komentar maka author tidak akan update cerita ini.


Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, yang panjang kek komentar nya, jangan satu kata saja🤔🙄🤨