
Husna menangis sejadi-jadinya diruang persalinan itu, ia tidak dapat mengadu ke siapa pun itu, yang ada hanya sakit yang ia rasakan sampai remuk ke tulang-tulang nya, begitulah rasa sakit saat melahirkan, seorang ibu harus rela mempertaruhkan nyawa nya demi buah hatinya yang akan lahir ke dunia ini.
Dunia Husna terasa hancur saat momen melahirkan ini tidak ada siapa pun orang terdekat nya menemaninya, Husna menangis kesakitan di dalam ruang persalinan ini. Bahkan suaranya menjadi parau akibat terlalu kerasnya ia menangis.
"Hiks... dokter saya tidak kuat hiks... ayah... ibu... sakit sekali hiks...!" tangis Husna memanggil ayah dan ibu nya yang telah tiada.
Mahesa sudah sampai di rumah sakit yang di beritahu bik Yatri tadi, ia berlari ke ruang persalinan saat ia menanyakan ke resepsionis tadi. Ada rasa khawatir yang menghantam tubuh Mahesa saat ini.
"Aah... s*al dimana sih ruangan nya?" umpat Mahesa karena ia tidak menemukan ruang bersalin tempat Husna melahirkan.
Mahesa berlari ke sana ke sini melewati koridor rumah sakit itu, sampai akhir nya ia bisa bertemu dengan bik Yatri yang ada di depan ruang bersalin itu.
Mahesa berlari menghampiri bik Yatri.
"Bik Husna mana?" tanya Mahesa dengan napas naik turun akibat berlari tadi.
"Nyonya di dalam tuan!" ujar bik Yatri
Bik Yatri merasa lega karena Mahesa tepat waktu datang nya, tidak perlu menunggu lama lagi Mahesa langsung saja menerobos pintu ruang bersalin itu.
Perawat yang ada di dalam sana langsung menghalangi Mahesa yang ingin bertemu dengan Husna.
"Maaf selain keluarga pasien di larang masuk!"
"Saya suaminya!" bentak Mahesa
Mahesa langsung saja menghampiri Husna yang lagi menangis mengejan agar anaknya bisa segera lahir ke dunia ini.
Mahesa menghampiri Husna ia langsung menggenggam tangan Husna yang sudah dingin itu.
"Hiks... hiks... sakit mas... hiks... Husna tidak kuat lagi mas!" ujar Husna mengadu pada Mahesa yang baru datang itu.
Husna pikir ia akan melahirkan anaknya ini tanpa di temani oleh Mahesa, tapi pikiran nya itu salah, buktinya Mahesa dengan sudah payah ke sini untuk menemaninya melahirkan.
"Kamu harus kuat demi anak kita!" bisik Mahesa sangat lembut memberi kekuatan pada Husna.
Hati Husna langsung menghangat mendengar kata-kata suaminya itu, dengan kekuatan yang di berikan oleh Mahesa itu akhirnya Husna memiliki tenaga untuk melahirkan anaknya ke dunia ini.
Mahesa terus berbisik di telinga Husna agar dia tetap kuat untuk melahirkan anak mereka ke dunia ini.
"Hiks... sakit mas... hiks...!" tangis Husna semakin lirih, Husna menggenggam tangan Mahesa begitu kuatnya karena sakit yang ia tahan sangat lah dahsyat.
"Kamu harus kuat, ini demi anak kita, saya yakin kamu kuat Husna!" bisik Mahesa terus menerus ke telinga Husna itu.
Husna mengejan sekuat tenaga agar anak mereka itu lahir, Mahesa sangat khawatir melihat keadaan Husna yang semakin melemah.
"Berikan oksigen pada istri saya!" teriak Mahesa karena Husna susah bernapas.
Karena perawatan itu sedang sibuk membantu dokter yang membantu Husna melahirkan itu jadinya mereka kekurangan tenaga medis. Mahesa sendiri yang turun tangan untuk memberikan alat pembantu untuk bernapas itu kepada Husna, ia juga memasang infus pada Husna agar Husna memiliki tenaga lagi, jiwa kedokteran Mahesa ketika keluar untuk menolong istrinya sendiri.
Husna melihat itu ia melihat betapa hebatnya suaminya saat ini membantu nya, Husna tersenyum samar pada Mahesa.
Karena sudah memiliki tenaga kembali akhirnya Husna dapat melahirkan anaknya itu ke dunia.
"Owek... owek... owek...!" tangis anak mereka memenuhi ruang persalinan itu.
Mahesa tersenyum senang karena ia dapat melihat anaknya itu lahir, sementara itu Husna pingsan habis melahirkan apa lagi tenaga nya terkuras habis juga.
"Alhamdulillah...!" ucap Mahesa
Mahesa mengecup sekilas kening Husna, ini kali pertamanya Mahesa mengecup kening Husna itu, "terima kasih kamu telah melahirkan anak saya!" bisik Mahesa di telinga Husna, genggam tangan Husna masih kuat menggenggam tangan Mahesa walaupun ia dalam keadaan pingsan.
Mahesa tambah senang lagi karena Husna memberikan nya keturunan seorang anak laki-laki, Mahesa tak henti-hentinya bersyukur karena mendapatkan anak laki-laki.
Husna sudah di pindahkan ke ruang rawat sementara itu Mahesa sedang mengazani anaknya itu di ruang NICU itu.
Selesai Mahesa mengazani anaknya itu kini ia balik ke ruang rawat Husna, bik Yatri yang semula menjaga Husna kini ia pergi karena tuan nya sudah kembali lagi.
"M-mas...!" ujar Husna dengan suara pelan nan lemah.
Mahesa mengusap punggung tangan Husna itu, Husna menatap Mahesa yang lagi di samping nya itu.
"Anak kita mana mas?" tanya Husna
"Dia lagi di ruang NICU!" jawab Mahesa
"Apa yang kamu rasakan?"
"Lemas aja sih!"
Mahesa mengangguk kecil saja lalu ia menyingkirkan tangan nya yang semula mengusap tangan Husna.
Cklekk
Pintu ruang rawat itu di buka ternyata dokter dan satu perawat yang membawa bayi mereka itu, Husna tersenyum melihat anak nya itu.
"Anak bunda!" ujar Husna saat perawat itu memberikan anaknya itu kepada nya.
"Ibu, harus menyusui bayi nya ya!" ujar dokter wanita itu seraya tersenyum.
Husna mengangguk lalu ia melihat pada Mahesa yang masih berdiri di dekatnya, Husna merasa malu jika menyusui bayinya ini di depan Mahesa, Mahesa yang tau maksud Husna lalu ia keluar dari ruang rawat itu.
Husna menghela napas dan ia bisa leluasa menyusui bayinya itu, selesai bayi itu menyusu lalu bayi itu di bawa lagi ruang NICU, Mahesa masuk ke ruang rawat itu sambil membawakan makanan untuk Husna dan tidak lupa pula ia membawakan semangka dan strawberry untuk Husna.
"Makan dulu, ini saya bawakan makanan untuk kamu!" ujar Mahesa dengan nada datar
Husna mengangguk-angkuk lalu ia mengambil makanan itu.
"Makasih mas!" ujar Husna
"Hmm!
Bagaimana jadinya jika Mahesa benar-benar membawa anak mereka itu pergi? apa Husna merelakan anak nya itu pergi di bawa oleh Mahesa, ya walaupun Mahesa itu ayah kandung dari anaknya itu.
Husna berhenti makan karena ia tidak sanggup untuk melepaskan anaknya kepada Mahesa.
"Kamu tidak lupa kan sama perjanjian itu!" ujar Mahesa mengingatkan perjanjian itu, Husna menghela napas.
"Ya! jawab Husna singkat
"Jadi tunggu apa lagi!" ujar Mahesa membuat Husna menatap Mahesa dengan tatapan tajam.
"Apa maksud mu?" tanya Husna
"Aku baru melahirkan mas, baru saja, apa kamu tega memisahkan ku dengan bayi kita? apa kamu tidak bisa menunggu dulu!" ujar Husna
"Lebih cepat lebih baik bukan!" ujar Mahesa dengan nada datar.
Seketika mata Husna berair dengan ucapan Mahesa itu, bagaimana bisa ia melepaskan bayinya kepada Mahesa sedangkan ia baru melahirkan bahkan ia baru pertama kali melihat putra nya itu.
...
Bersambung...
Komentar, like, berserta vote nya ya!!!
Jangan jadi pembaca gelap saja.
jangan lupa mampir di cerita baru author yang tak kalah menariknya dari cerita ini, dengan judul (istri bercadar tak dianggap) mampir ya readers.
Double up ya readers
Kurang baik apa lagi author sama kelean, author rela ngetik demi kalian lho, jadi jangan lupa like, komen dan vote nya!!!.