
Pagi harinya rumah Mahesa sudah bersih saja karena art rumahnya ini sangat banyak, Mahesa turun dari lantai dua ia hendak berangkat ke rumah sakit untuk berkerja.
"Sarapan dulu hesa!" ujar amor
"Kalian sarapan saja duluan, aku buru-buru!" ujar Mahesa.
Amor dan Radyta hanya mengalah saja, Mahesa melangkahkan kakinya menuju pintu utama, ia berhenti karena lupa sesuatu lalu ia berbalik ke tempat orang tua nya itu.
"Mahesa nanti tidak pulang!" ujar Mahesa berucap empat kata lalu ia berbalik dan pergi lagi, amor dan Radyta menatap putra nya itu mereka berdua menghela napas.
Mahesa ingin pulang ke tempat Husna karena sudah dua hari ia tidak berkunjung ke sana.
...
Husna mematung duduk di sofa dalam kamarnya itu, ia masih menggunakan mukenah nya, Husna mengusap perutnya itu dengan kasih sayang.
"Anak bunda sehat-sehat ya di sana, bunda tidak sabar ingin bertemu kamu!"
Saat ini Husna tidak kepikiran dengan Mahesa lagi, ia merasa lebih senang jika Mahesa tidak ada di sini, Husna merasa bebas saja, dia bisa melakukan apa pun itu tanpa sepengetahuan Mahesa.
Husna menghela napas jika di pikir-pikir lagi kenapa dia bisa jatuh cinta dengan laki-laki seperti Mahesa itu?.
Kini Husna menjahit pakaian yang tidak sempat ia jahit waktu itu, Husna meneliti terlebih dahulu bagian mana yang belum ia jahit, ia tersenyum saat menjahit pakaian yang hampir selesai itu. Husna berhenti menjahit karena ia lupa sesuatu, Husna beranjak dari duduknya itu ia mengambil sebuah pernak-pernik yang bik Yatri belikan waktu itu.
Husna memasang beberapa pernak-pernik di baju gamis yang ia buat, ia tersenyum melihat hasil jahitan nya sangat rapi.
"Ini baju bibik, nyonya?" tanya bik Yatri saat bik Yatri tidak sengaja lewat di ruangan Husna menjahit.
"Iya bik, ini sudah selesai, bik Yatri bisa memakainya!" ujar Husna memberikan baju yang baru selesai ia jahit itu pada bik Yatri.
"Masya Allah bagus banget nyonya, terima kasih nyonya!" ujar bik Yatri sangat gembira.
Husna tersenyum, "sama-sama bik!" ujar Husna
Husna masih kepikiran dengan mesin jahit ini, siapalah yang mempunyai mesin jahit ini, tidak mungkin Mahesa membelinya jika tidak ia gunakan, Husna juga lupa menanyakan tentang mesin jahit ini kepada Mahesa.
Kini Husna kembali ke sofa ruang tv, ia duduk di sana sambil memakan buah strawberry dan semangka, tidak ada hari yang Husna lewati tanpa buah semangka dan strawberry ini, setiap dia santai pasti Husna akan ngemil buah kesukaan dia saat hamil ini, dulunya Husna tidak menyukai buah strawberry ini, tapi semenjak ia hamil ia jadi menyukai buah strawberry yang rasanya asam ini.
"Anak bunda suka buah strawberry ya!" ujar Husna mengusap perut buncitnya itu.
Husna termenung ia kepikiran lagi dengan suaminya yang tidak pulang sudah dua hari ini, setiap kali Husna menghubungi nomor ponsel suaminya itu pasti tidak aktif, selama ini Husna tidak di perbolehkan oleh Mahesa untuk memegang handphone, handphone Husna di pegang oleh Mahesa, Husna sendiri tidak tau dimana Mahesa menyembunyikan handphone nya itu, kemarin malam Husna meminjam telepon bik Yatri guna untuk menelepon suaminya itu, tapi nomor telepon Mahesa tidak aktif.
"Ayah kamu kenapa tega sama bunda ya, pegang handphone saja tidak di perbolehkan apa lagi bunda selalu di kurung di dalam rumah ini, bunda pengen melihat alam terbuka juga, ayah mu tidak peduli sama bunda yang ayah mu pedulikan hanya kamu nak hanya kamu!" Husna menitikkan air matanya saat teringat Mahesa yang tidak pernah peduli padanya.
"Hiks... Uus takut jika mas Mahesa membawa bayi ini, Uus tidak sanggup kehilangan bayi Uus, ya Allah luluhkan lah hati mas Mahesa agar bayi kami tidak ia bawa!"
Kenapa setiap kali Husna berbicara sendiri bik Yatri selalu melihat nya, bik Yatri selalu menyaksikan langsung kesedihan yang di alami oleh nyonya nya itu, suasana di sana sangat sedih terlebih lagi Husna menangis.
...
Malam begitu cepat tiba, Mahesa tidak bisa mengunjungi Husna karena dia di tugaskan kembali di luar kota, entah kapan Mahesa akan nugas di sana.
Husna menyingkap gorden jendela guna untuk melihat ke arah keluar rumah, setiap malam Husna akan melihat ke arah luar berharap suaminya akan pulang, tapi lagi-lagi tanda Mahesa akan pulang itu tidak ada.
Karena sudah lelah untuk berdiri Husna memutuskan untuk pergi ke kamar nya, Husna sudah pindah kamar, kini letak kamar mereka itu di lantai satu, di kamar Husna menyenderkan tubuhnya pada kepala ranjang, ia melihat ke samping kanannya, biasanya Mahesa akan tidur di samping kanan Husna.
"Anak bunda baik-baik di sana ya, ayah belum pulang, kita berdo'a bersama-sama agar ayah kamu pulang cepat dan selamat!"
Husna menghela napas ia merebahkan tubuhnya di kasur guna beristirahat, ia menutup matanya berharap hari esok Mahesa akan pulang mengunjungi dirinya.
Lagi-lagi hari begitu cepat saat ini Husna sedang menunaikan ibadah sholat subuh, setelah usai menunaikan sholat subuh ia berbalik berharap Mahesa akan ada di belakang nya, tapi kenyataannya tidak ada.
Husna menghela napas nya ia melipat mukenah dengan lemah, tatapan nya terus tertuju pada pintu kamarnya, berharap Mahesa akan masuk ke kamar mereka itu, tapi kenyataannya tidak ada juga.
Husna memanyunkan bibirnya karena harapan nya tidak terkabulkan, ini merupakan hari ketiga Mahesa tidak pulang, Husna merasa tidak nyaman jika tidak ada Mahesa.
Walaupun Mahesa tidak menganggap dirinya ada tapi Husna menganggap Mahesa itu selalu ada buatnya, tidak ada Mahesa membuat hidup Husna kacau.
"Mas... kenapa kamu tidak pulang?"
Untuk melupakan kejenuhan nya itu ia pergi ke dapur untuk membantu bik Yatri, bik Yatri sudah berkutat di dapur sejak ia menyelesaikan sholat subuh nya.
"Bik!" sapa Husna
"Eh nyonya, ada yang bisa bibik bantu?" ujar bik Yatri
"Tidak, Uus mau bantu-bantu aja!" ujar Husna mengambil wortel dari tangan bik Yatri.
"Jangan nyonya, nanti tuan marah!" ujar bik Yatri
"Tidak akan bik, selama bibik tidak memberitahu mas Mahesa, dia pasti tidak kan marah, lagi pula mas Mahesa tidak ada di sini juga kan!" ujar Husna
"Tapi ini pekerjaan bibik, nyonya!" ujar bik Yatri
"Biar Uus yang kerjain bik Yatri, silahkan bersih-bersih rumah!" ujar Husna sangat pemaksa.
"Tidak nyonya, nyonya harus istirahat, nyonya tidak boleh melakukan apapun!" larang bik Yatri
"Uus ngidam memasak bik!" ujar Husna berbohong agar bik Yatri mengizinkan nya untuk memasak.
"Oh, iyakan nyonya!" ujar bik Yatri
"Iya, dedek bayinya pengen masak!" ujar Husna sambil tersenyum berhasil menipu bik Yatri
"Baiklah, bibik akan mengizinkan nyonya!" ujar bik Yatri pasrah.
Bik Yatri terpaksa bersih-bersih rumah, Husna tertawa kecil karena alibinya berhasil juga, Husna berhenti tertawa karena pikiran nya tertuju pada Mahesa lagi, untuk melupakan Mahesa, Husna lebih memilih untuk memasak, tapi memasak pun ia tidak bisa melupakan Mahesa.
Hidup Husna terasa sepi karena tidak ada Mahesa selama tiga hari ini, kesepian yang Husna alami ternyata membuat dirinya semakin banyak pikiran.
...
Bersambung...