Pernikahan Siri Seorang Dokter

Pernikahan Siri Seorang Dokter
part 38. Puasa Pertama


1 minggu kemudian...


Ini merupakan hari pertama bagi Husna menjalankan ibadah puasa ramadhan setelah menikah, saat sahur menjelang tiba, Husna sudah duduk di ruang makan, Husna menatap makanan yang sudah di siapkan oleh bik Yatri itu.


"Kalau nyonya tidak sanggup puasa, nyonya boleh kok tidak puasa, ibu hamil tidak harus juga berpuasa di bulan Ramadhan ini, nyonya bisa menggantinya dengan membayar fidyah ke fakir miskin!" ujar bik Yatri


"Insyaallah Uus kuat bik, Husna pengen puasa juga!" ujar Husna


"Tapi kalau nyonya tidak sanggup, nyonya boleh membatalkan puasa nyonya!" ujar bik Yatri


Husna mengangguk kecil, ia tidak ingin bolong puasanya karena Husna sangat senang berpuasa, bulan ramadhan inilah yang di tunggu-tunggu oleh Husna karena di bulan puasa ini pula do'a-do'a kita akan di ijabah oleh Allah SWT, insyaallah.


Bik Yatri menemani nyonya nya itu untuk makan sahur, Husna sendiri yang menyuruh bik Yatri untuk menemaninya, sementara itu mang Udin lagi makan di pos satpam ia harus berjaga-jaga di gerbang rumah nya itu.


Husna memakan makanan nya dengan tidak nafsu karena dia teringat dengan suaminya, sudah satu minggu Mahesa meninggalkan Husna semenjak kejadian waktu itu, Husna masih teringat dengan bentakan Mahesa waktu seminggu yang lalu itu.


"Nyonya kenapa?, makanannya tidak enak ya?" tanya bik Yatri melihat nyonya nya itu hanya mengaduk-aduk makanan nya saja.


"Uus kepikiran sama mas Mahesa bik, dia apa kabar ya?, apa bik Yatri bisa menghubungi nya?" ujar Husna, ia sangat ingin mendengar suara Mahesa.


Bik Yatri berpikir sejenak lalu bik Yatri merongoh saku dasternya dan mengeluarkan handphone itu, bik Yatri memberikan telepon itu pada Husna, Husna tersenyum ia sangat antusias ingin menelepon suaminya itu.


Tut... Tut... Tut...


Aktif tapi tidak di angkat oleh Mahesa, Husna mengulang kembali menelepon Mahesa tetap sama Mahesa tidak mengangkat telepon dari Husna.


Husna mengembalikan handphone bik Yatri itu lagi, ia menghela napas dengan mimik wajah murung dan cemberut, bik Yatri jadi sedih melihat nyonya nya itu, suasana di ruang makan itu jadi sunyi dan sedih.


"Nasib kita sama nyonya!" ujar bik Yatri


Husna melihat bik Yatri dengan kening berkerut, "kepada begitu bik?" tanya Husna, bik Yatri tersenyum sendu, ia juga teringat dengan keluarganya di kampung, sudah lama bik Yatri tidak pernah merasakan makan sahur dengan anak suaminya dan berbuka puasa juga.


"Bibik juga merasakan seperti apa yang nyonya rasakan, bibik juga punya suami tapi di kampung, bibik kangen sama anak dan suami bibik di kampung, bibik kangen makan sahur dan berbuka puasa bareng mereka!"


Bik Yatri curhat dengan nyonya nya itu, bik Yatri sudah menganggap jika Husna itu anak nya sendiri, apa lagi Husna sangat baik pada bik Yatri.


"Husna pikir Husna sendiri yang merasakan seperti ini, ternyata orang terdekat Husna juga merasakan rindu pada keluarga nya!"


Mereka selesai makan sahur dan mereka tinggal menunggu azan subuh, Husna bersama bik Yatri bercerita tentang keluarga bik Yatri yang ada di kampung.


Sementara itu Mahesa sedang di awasi oleh amor mamanya Mahesa, amor bersama suaminya nginap di mansion anaknya ini karena mereka berdua ingin merasakan makan sahur bersama, semenjak Mahesa pindah ke rumahnya sendiri ia jadi jarang untuk ke rumah utama, terpaksa orang tuanya mengalah untuk menghampiri anak semata wayangnya itu ke rumah ini.


"Kamu punya handphone dua?, untuk apa?" tanya amor mulai curiga dengan putra nya itu.


"Apa wanita simpanan mu itu yang menelepon?" tebak Radyta


Mahesa menghela napas, ia berusaha tetap tenang dan santai walaupun tebakan dari papa nya itu benar.


"Terserah hesa mau punya handphone berapa, lagi pula uang, uang hesa yang beli bukan uang kalian!"


Amor menyipitkan matanya melihat Mahesa yang kelihatan menyembunyikan sesuatu dari mereka, selama ini Radyta sudah menyelidiki putra nya itu, tapi hasilnya nihil anak buah Radyta tidak bisa menemukan apa pun yang di tutupi oleh Mahesa.


"Kepo banget sama kehidupan hesa!"


"Perjodohan itu bagaimana?" ujar Radyta membuat langkah kaki Mahesa terhenti.


"Perjodohan apa maksud papa?"


"Kamu akan di jodohkan dengan anak teman papa!" ujar Radyta


"Apa-apaan sih pa?, hesa tidak suka di jodohkan!" ujar Mahesa dengan nada datar lalu ia pergi dari sana.


Mahesa sampai di kamarnya ia melihat ada beberapa panggilan masuk ke handphone nya itu, Mahesa mengerututi diri nya karena ia lupa untuk menonaktifkan handphone nya itu.


"Hampir saja ketahuan!"


Sebelum Mahesa menonaktifkan handphone nya itu, ia terlebih dahulu mengirim pesan ke handphone bik Yatri.


"Bik tolong bilang sama Husna, jika saya baik-baik saja, saya akan usahakan untuk berkunjung ke sana tapi tidak sekarang~ Mahesa


Mahesa mengirimkan pesan itu pada nomor bik Yatri, barulah Mahesa menonaktifkan handphone nya itu, Mahesa menghela napas berat, ia sebenarnya ingin ke sana untuk berkunjung tapi waktunya sangat mepet dan tidak ada waktu senggang juga.


Husna membaca pesan yang di kirimkan oleh Mahesa itu, ia menghela napas dan mengerti dengan situasi suaminya itu.


"Husna paham kok dengan situasi mas Mahesa!"


Bik Yatri mengangguk seraya tersenyum tipis, akhirnya azan subuh berkumandang mereka menunaikan ibadah sholat subuh, Husna menunaikan sholat subuh nya di kamar nya.


Selesai ia sholat ia membaca Al-Qur'an, kali ini Husna membaca ayat Al-Baqarah ayat 183 yang menjelaskan tentang berpuasa di bulan Ramadhan.


"Audzubillahiminasyaitonirrojim"


"Bismillahirrahmanirrahim"


"Yaa ayyuhal laziina aamanuu kutiba 'alaikumus Siyaamu kamaa kutiba 'alal laziina min qablikum la'allakum tattaquun."


Yang artinya "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Surat Al-Baqarah ayat 183.


"Shadaqallahul azhim"


Husna mencium Al-Qur'an itu selesai ia membaca Al-Qur'an, ia meletakkan Al-Qur'an itu di tempat semula, dan kini Husna sedang termenung duduk di sofa kamarnya itu.


"Ayah kamu kapan ya bisa melihat bunda jika bunda ini ada di samping nya, bunda ingin sekali mendapatkan cinta dari ayah kamu, tapi mungkin itu hanya mimpi bunda saja, bunda ini hanya ibu yang akan melahirkan kamu ke dunia setelah itu bunda akan berpisah dengan kamu, berat hati bunda untuk melepaskan kamu, tapi perjanjian tetaplah perjanjian bunda mana bisa menolak itu lagi, bunda juga tidak bisa melawan ayah kamu, seandaikan bunda punya kekuatan untuk melawan ayah kamu itu, mungkin sudah dari dulu bunda melawan ayah kamu itu!"


Husna menghela napas, begitulah kehidupan Husna saat ini, ia selalu berandai-andai jika memiliki kekuatan ia akan melawan Mahesa, tapi kekuatan apa yang ia miliki?, sementara ia hanya berdiam diri di rumah ini saja.


...


Bersambung...


Senang, puas aja gitu setelah buat cerita ini🤭


Semoga kalian suka sama alur acak adul ini ya hehe...😁