
Claudia senyum-senyum sendiri saat ia sudah berhasil berkenalan dengan Fajri, ia mengincar Fajri saat ia melihat Fajri menjadi wali nikah Husna waktu itu.
Ada ketertarikan sendiri saat Claudia melihat pertama kali Fajri itu, ia pikir untuk berkenalan dengan Fajri itu tidak ada salah nya bukan.
Waktu itu ia sendiri yang menabrak Fajri agar dia bisa berkenalan dengan Fajri, tapi mendekati Fajri sangatlah susah, ia tetap terus mengejar Fajri dan akhirnya Fajri mau berkenalan dengan nya.
Claudia sengaja memberikan baju nya yang terkena noda itu, ia memiliki beberapa rencana agar ia bisa bertemu dengan Fajri kembali.
Baju yang di berikan Claudia itu sampai sekarang masih di simpan oleh Fajri setelah ia mencuci sampai bersih baju itu.
Kalau di pikir-pikir kenapa Fajri sampai repot-repot mencuci baju Claudia itu, bisa saja ia membuang baju itu ke tong sampah, waktu itu ia kan pernah bilang kalau baju Claudia itu kurang bahan.
Entahlah kita juga tidak tau pikiran mereka berdua itu, yang satu ngebet banget pengen kenalan sama Fajri, dan yang satu lagi Fajri sangat dingin dan kaku kepada Claudia.
Saat ini Fajri sedang ada rapat di luar kantor ia akan bertemu dengan klien nya pada saat jam makan siang ini. Mereka akan rapat di sebuah restoran yang sudah di tentukan oleh sekretaris Fajri.
"Semuanya sudah kamu siapkan?"
"Sudah pak Fajri, bapak tinggal menunggu klien yang akan rapat bersama kita nanti!" jawab Naya
Mereka menunggu kedatangan klien yang akan rapat bersama mereka itu, Fajri duduk di kursi yang sudah di sediakan untuk rapat itu, sekali-kali dia melirik jam di pergelangan tangan nya.
"Apa sudah kamu hubungi? kenapa begitu lama? bukankah kita sebentar lagi akan ada rapat juga?" kesal Fajri menunggu lama klien nya itu.
"Maaf pak, tadi sudah saya hubungi beliau sedikit terlambat, katanya jalan begitu macet!" tutur Naya
Fajri menarik napas panjang, jam segini mana ada macet, apakah itu cuma alasan dan akal-akalan klien nya itu saja?
Fajri sangat benci memiliki klien seperti yang saat ini, terlebih lagi pemimpin perusahaan nya perempuan seperti klien nya sekarang.
"Ah, maaf ya terlambat!" ujar Claudia
Fajri merasa bau-bau tidak enak menghampiri nya, saat ia mendengar suara cempreng yang hampir saja mengubah kehidupan nya waktu itu.
Claudia duduk di depan Fajri itu sambil tersenyum lebar kepada Fajri, "selamat siang calon imam ku!" langsung di pelototi oleh Fajri, "ah maksud saya selamat siang pak Fajri!" sambung Claudia dengan mengedipkan sebelah matanya kepada Fajri
Sekretaris Naya sempat malu dengan melihat tingkah klien bos nya itu, sungguh tidak profesional!
"Bisa kita mulai saja? saya merasakan ada hawa yang mulai menyebalkan di sini!" tutur Fajri melirik Claudia yang matanya di kedip-kedipkan seperti sakit mata saja.
Mereka memulai rapat nya sedangkan Fajri terfokus dengan rapat ini, sementara itu Claudia senyum-senyum sendiri melihat betapa seriusnya Fajri dalam rapat ini.
Padahal kalaupun mereka tidak rapat, Claudia akan tetap siap menjalin kerjasama dengan perusahaan Fajri itu.
Jangankan menjalin sebuah pekerjaan menjalin sebuah hubungan rumah tangga bersama dengan nya pun Claudia akan siap.
"Jadi bagaimana ibu Claudia yang terhormat, apakah anda setuju?" ujar Fajri
Claudia mengangguk-angguk sambil tersenyum memperhatikan wajah Fajri itu, "saya siap kapan pun kamu mau!" seru Claudia membuat Fajri mengerenyitkan keningnya
"Ibu Claudia saya serius!" ujar Fajri
"Apa lagi saya pak, saya serius menjalin hubungan serius dengan anda!" ujar Claudia semakin ngawur saja.
"Nay, lebih baik kita balik saja, kita batalkan saja kerjasama dengan perusahaan dia!" kesal Fajri
Claudia pulih seperti semula ia bersikap profesional, "jika anda memutuskan kerjasama ini, maka perusahaan anda yang akan rugi!" tutur Claudia dengan bernada serius
"Saya akan pastikan perusahaan anda tidak akan berkembang lagi!" ancam Claudia
Fajri menghela napas kasar ia sebenarnya juga takut dengan ancaman Claudia ini, perusahaan nya masih di bawah naungan perusahaan Claudia ini, mau tidak mau ia harus menerima kerjasama ini.
"Baiklah!" ujar Fajri
Senyum Claudia langsung mengembang.
"Pemimpin yang sangat bagus, memikirkan nasib karyawan nya, very good!" ujar Claudia
Pertemuan mereka kali ini sudah selesai, Fajri akan kembali ke perusahaan nya, Claudia akan kembali juga ke perusahaan nya, mereka berdua saling bertemu di parkiran mobil.
"Baju saya mana?" minta Claudia
Fajri bersikap seperti biasa saja dengan wajah datar, ia mengambil baju Claudia yang selalu ia bawa itu, entahlah kenapa juga ia repot-repot membawa baju kurang bahan itu setiap hari.
"Baju kurang bahan!" sindir Fajri
Lalu Claudia memutuskan untuk pergi kalau di sini terus yang ada hubungan mereka akan tambah parah lagi, yang ada mereka akan seperti tom and jerry saja.
"Oke, saya pergi dulu calon imam ku, bey!" ucap Claudia lalu ia masuk ke mobil nya.
Lagi-lagi Fajri menghela napas kasar, kenapa dia harus ketemu dan memiliki sebuah kerjasama antara perusahaan nya dengan perusahaan dia, yang ada mereka akan sering bertemu.
"Gadis kepedean!"
Claudia tersenyum puas karena ia sudah bisa masuk ke perusahaan Fajri itu, akan ia pastikan Fajri bisa ia dapatkan dengan mudah.
"Secara aku kan cantik, modis, ah pokoknya banyaklah yang ada pada ku!"
Mungkin kalau di bilang Fajri itu cinta pandangan pertama Claudia, tapi kalau Fajri melihat Claudia pandangan pertama bikin hidupnya hampir berubah 180⁰.
...
Lagi-lagi mereka bertemu kembali, hari sabtu pagi ini Fajri bertemu dengan Claudia di sebuah taman kota, biasanya di sini tempat orang-orang joging di pagi hari.
Fajri memutar balik tubuhnya ia joging di tempat yang jauh dari Claudia itu, tapi Claudia mana mau di tinggal oleh Fajri ia terus mengikuti kemana pun Fajri joging.
"Bukankah ini kesempatan baik di pagi hari?"
Claudia juga berlari-lari kecil akhirnya ia berlari samaan dengan Fajri.
"Pagi ganteng!" sapa Claudia
Fajri terlihat jutek dan dingin
"Ternyata calon imam ku suka olahraga juga ya, jadi idaman aku banget!" ujar Claudia
Prett
"Nikah yuk bos!" ujar Claudia
Fajri berhenti berlari dan menatap wajah Claudia dengan tatapan serius.
"Yuk!"
Jederr
Bagaikan di sambar petir di pagi hari, Claudia sampai tidak bisa berbicara.
Glukk
Claudia susah payah meneguk air ludahnya, niat hati cuma bercanda tapi kenapa Fajri kelihatan serius sekali bilang 'yuk' nya.
"Kapan? sekarang? yuk!" ujar Fajri masih dengan tatapan serius
Claudia cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya, "canda faj!" tutur Claudia
Mimpi apa dia semalam kalau benaran Fajri mau menikahi nya gara-gara di pagi hari ini dia cuma berkata candaan nya saja.
"Nikah bukan soal bercanda, kamu sendiri yang mau!" ujar Fajri
"Tapi saya cuma bercanda!" kilah Claudia
"Saya tidak suka bercanda, saya akan datang ke rumah mu untuk melamar mu, malam ini!" ujar Fajri lalu meninggalkan Claudia yang mematung bagaikan di sambar petir benaran.
"Aaaaa... ini tidak mungkin!"
"Tidak mungkin, dia tidak tau rumah ku kan?"
Claudia merasa lega karena Fajri tidak akan tau dimana rumahnya, jadinya malam ini ia tidak akan melamar.
"Ah iya benar dia tidak tau rumah ku!"
....
Bersambung...
Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan jejak kalian, tidak ada komentar maka author tidak akan update cerita ini.
Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, yang panjang kek komentar nya, jangan satu kata saja🤔🙄🤨