
Mahesa benar-benar membawa Adi dan Inah itu untuk bertemu dengan Husna, saat ini Adi dan Inah sedang bersiap-siap untuk berangkat ke tempat Husna.
Kini mereka berangkat ke tempat Husna itu.
Saat mereka sampai di depan rumah Mahesa itu, Inah dan Adi merasa senang karena keponakan nya hidup bahagia.
"Kalian tinggal di sini?" tanya Inah
"Tidak, kami hanya berlibur di sini tempat tinggal asli kami di Jakarta!" jawab Mahesa
Mereka berdua mengangguk-angguk kecil.
Saat ini Husna bersama putra nya itu lagi bermain kejar-kejaran, saat ini Ansel memang lagi aktif-aktif nya, kadang Husna kesusahan untuk menjaga putra nya itu.
"Sudah ya sayang, bunda capek kejar kamu terus, kamu tidak kasihan sama dedek kamu yang di dalam perut bunda ini?"
Ansel berhenti dan ia menatap bunda nya itu, ia seakan merasakan lelah bunda nya itu.
"Buna... buna...!" Ansel menghampiri bunda nya itu sambil merentangkan kedua tangannya.
Husna tersenyum dan membawa Ansel dalam dekapan hangat dan nyaman nya itu.
"Buna... sel ma af!"
"Uluhuluh... pintar sekali anak bunda ini, iya bunda maafin, makin sayang bunda sama Ansel!"
Mereka berdua tertawa kecil penuh kebahagiaan di dalam nya.
Inah bersama Adi melihat kebahagiaan keponakan nya itu, mereka baru tau jika Husna sudah memiliki anak, bahkan anaknya sudah besar saja.
"Ayah, itu cucu kita!" tutur Inah
"Iya buk, kita sudah memiliki cucu!"
Mahesa membawa paman dan bibi Husna itu ke tempat Husna yang lagi bermain bersama Ansel.
"Assalamualaikum..." ucap salam Mahesa
"W-wa'alaikumussalam... paman bibi!" lirih Husna melihat orang yang selama ini ia cari berada di depan nya.
"Paman! bibi!" teriak Husna lalu Husna menghampiri paman dan bibi nya itu yang sudah ia anggap seperti orang tua nya.
Husna memeluk paman dan bibi nya itu secara bersamaan, ia sangat rindu dengan mereka berdua, Inah dan Adi menangis saat Husna memeluk nya itu.
Ternyata keponakan yang selalu ia jahati itu masih mempedulikan nya, bahkan Husna masih sayang dengan mereka.
"Husna... maafin bibi ya nak!" tangis Inah bertekuk lutut di depan Husna itu begitupun dengan Adi yang bertekuk lutut di depan Husna itu.
"Maafin paman, Husna, paman sangat berdosa paman selalu jahat dengan kamu!" tutur Adi
"Paman! bibi!" Husna ikut menangis lalu Husna mengambil tangan paman dan bibi nya itu ia membantu Adi dan Inah untuk berdiri.
"Jangan seperti ini paman bibi!" tutur Husna
"Kami mengaku salah Uus, kami banyak dosa kepada kamu, maafin bibi ya yang sangat tega dengan kamu, tidak seharusnya bibi berlaku jahat sama kamu!" tangis Inah itu dengan betul-betul meminta maaf
"Paman juga minta maaf Husna, paman tega sama kamu, bahkan paman menjadikan kamu jaminan hutang paman agar hutang-hutang paman terlunasi, paman sangat berdosa sama kamu, kami bahkan mengambil hak kamu yang bukan hak kami, kami juga telah menjual rumah peninggalan orang tua kamu, maafkan kami Husna!" ujar Adi mengakui kesalahannya selama ini.
"Kami sangat serakah Husna, kami bahkan mengambil hak anak yatim piatu seperti kamu, kami sangat berdosa Husna!" timpal Inah
Husna mengangguk sambil tersenyum kecil, akhirnya paman dan bibi nya itu mau mengakui kesalahannya, bahkan mereka berdua juga meminta maaf akan kesalahan yang pernah mereka perbuat.
"Maukah kamu memaafkan kami?" tanya Inah
Husna mengusap air matanya, "Husna sudah memaafkan kalian, saat ini kalian lah keluarga Husna, Husna juga meminta maaf karena Husna meninggalkan kalian di saat kalian membutuhkan Husna!" ujar Husna
"Tidak nak, kamu tidak salah kami yang salah, kami pantas mendapatkan ini semua!" tutur Inah
Husna sudah tau kalau Fajri meninggalkan mereka berdua, karena Fajri sendiri yang menemui Husna untuk menceritakan paman dan bibi nya ini.
"Kami berdua sangat merindukan Fajri!" timpal Adi
Husna dapat merasakan bagaimana kerinduan mereka berdua ini, ia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali Fajri sendiri yang mau datang ke sini untuk menemui orang tua nya.
Setelah meminta maaf dan mengakui kesalahannya kini Husna menyuruh paman dan bibi nya itu untuk beristirahat.
Kini Husna bersama Mahesa lagi duduk di sofa ruang tv itu, kali ini Mahesa yang akan meminta izin kepada Husna agar rumah peninggalan orang tua nya itu di huni kembali oleh Adi dan Inah.
"Sayang!"
"Hmm!"
"Kok hmm aja sih!" kesal Mahesa
"Terus apa? kamu sih tidak bilang dulu kalau kamu sudah bertemu dengan paman dan bibi, dari tadi aku nungguin kamu agar kita secepatnya mencari paman sama bibi, eh tau-taunya kamu sudah bawa mereka aja ke sini, kan kesal!" protes Husna
Mahesa jadi gemas sendiri dengan Husna, sudah di bawa ke sini masih saja ingin repot-repot mencari paman dan bibi nya itu.
"Jadi cerita nya kamu ngambek?" tanya Mahesa
Husna menggeleng.
"Oh iya, kan mereka sudah meminta maaf dan mengakui kesalahannya terus mereka sudah mau jadi orang baik juga, bagaimana kamu menyuruh mereka untuk tinggal kembali di rumah peninggalan orang tua kamu itu, dari pada rumah itu kosong tidak ada penghuninya lebih baik kita suruh saja mereka tinggal di sana!, gimana? kamu setuju?"
Husna nampak berpikir, jika di pikir-pikir juga tidak ada salah nya mereka menghuni rumah itu lagi, dari pada rumah itu kosong.
"Hmm... boleh, bagus dong kalau paman sama bibi tinggal di sana, jadinya rumah itu tidak kosong aja!" setuju Husna
...
Pagi harinya Husna mengantarkan paman dan bibi nya itu ke rumah peninggalan orang tua nya itu, rumah ini sudah di bersihkan oleh orang suruhan Mahesa.
Saat ini mereka berdiri di halaman rumah yang terbilang luas itu.
"Paman sama bibi boleh tinggal di sini, dari pada rumah ini kosong lebih baik kalian tinggal di sini lagi!" ujar Husna
"Tapi--!"
"Tidak usah tapi-tapian bi, Husna membolehkan kalian untuk tinggal di sini!" potong Husna
Adi dan Inah menangis karena keponakan nya itu masih peduli dengan nya, bahkan keponakan nya itu memberikan mereka kehidupan yang layak.
"Hiks... terima kasih Husna!" tangis Inah memeluk Husna
Husna tersenyum sambil mengusap air matanya, "sama-sama bi!"
Mereka berdua merasa sangat bersyukur karena Allah SWT masih memberikan mereka kesempatan untuk merubah hidup nya jadi yang lebih baik lagi, Allah SWT juga mengirimkan orang yang baik kepada mereka berdua.
"Terima kasih ya Allah...!" rintih mereka berdua
Husna jadi merasa lebih tenang dan bahagia karena orang terdekatnya sudah mendapatkan kehidupan yang layak, selama ini Husna masih merasa hidupnya yang kurang karena paman dan bibi nya itu belum ia temukan, sekarang ia merasa lega dengan ini semua.
"Semoga kalian bahagia!" tutur Inah
"Aamiin...!"
....
Bersambung...
Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan jejak kalian, tidak ada komentar maka author tidak akan update cerita ini.
Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, yang panjang kek komentar nya, jangan satu kata saja🤔🙄🤨