Pernikahan Siri Seorang Dokter

Pernikahan Siri Seorang Dokter
part 24. Mental Terus-Terusan Di Hajar


Husna masih setia duduk di brankar itu, sekali-kali ia menghapus air matanya yang terus saja menetes, kadang ia merasa lelah dengan semua ini tapi dia harus tetap kuat untuk menerima ini, di balik penderitaan yang di alami nya saat ini suatu saat pasti akan ada bahagia yang menghampiri nya.


"Bunda capek sayang bunda tidak sanggup lagi seperti ini, bunda harus bagaimana?"


Husna sangat-sangat lelah dengan drama dalam rumah tangga nya ini, walaupun dramanya tidak terlalu menyiksa fisik tapi drama yang di hadapi nya berupa batin yang terus-terusan di hajar, bagaimana Husna tidak stress dan banyak pikiran jadinya.


Karena sudah tidak merasakan sakit lagi di bagian perut bawah nya kini Husna pergi dari ruang praktek Mahesa itu, ia tidak ingin berlama-lama lagi di sini.


"Mas!" ujar Husna saat ia melihat Mahesa sudah rapi dengan jas dokter nya, sudah di pastikan jika Mahesa akan meninggalkan Husna kembali.


Baru kemarin Mahesa pulang untuk mengunjungi istri sirinya ini kini ia hendak pergi lagi, bagaimana tidak Husna terus-menerus sakit hati, bukanya memperbaiki hubungan mereka yang masih renggang dari awal pernikahan ini, tapi Mahesa malah membiarkan hubungan nya dengan Husna tetap seperti ini, hubungan mereka bisa di bilang ibaratkan di ujung tanduk, tidak bisa di perbaiki lagi walaupun tetap di paksakan.


Mahesa memberhentikan langkah kakinya di pertengahan anak tangga, Husna menghampiri suaminya itu.


"Mau kemana kamu mas?" tanya Husna


"Kamu tidak lihat saya sudah rapi gini tapi masih saja bertanya!" jawab Mahesa tidak sesuai ekspektasi Husna


"Kerja lagi di saat hubungan kita seperti ini?, aku tau aku ini hanya istri siri dan istri tidak di butuhkan tapi apa kamu tidak berpikir sedikit jika anak yang aku kandung sangat membutuhkan kamu!" ujar Husna di sulut emosi, Husna tidak bisa menahan ucapan yang selalu mengganjal hatinya ini.


"Pekerjaan saya lebih penting dari pada kamu, soal anak yang kamu kandung itu mungkin itu akal-akalan kamu saja menahan saya di sini, bukan anak itu yang butuh saya tapi kamu, jangan jadi munafik seperti ini!" ujar Mahesa membuat Husna sangat sakit hati.


Plakk


Husna menampar pipi Mahesa sangat keras, air matanya menitik begitu saja saat perkataan menyakitkan itu keluar dari mulut Mahesa.


"Hiks... kamu jahat mas kamu tega hiks... kamu tidak pernah memikirkan perasaan orang lain hiks... asal kamu tau aku tidak akan mau menahan-nahan kamu kalau bukan karena anak ini, aku tidak akan sudi hiks... aku tidak akan sudi memiliki kamu hiks... laki-laki jahat seperti kamu tidak pantas untuk di miliki hiks... kalau kamu pergi silahkan!" ujar Husna dengan terisak-isak


Husna balik ke kamar setelah ia mengeluarkan unek-unek nya kepada Mahesa, di dalam kamar Husna menangis terisak-isak. Sementara itu Mahesa termenung di pertengahan anak tangan ia menggusar-gusar wajah nya karena ia berbuat salah lagi dengan istrinya itu.


Mahesa menghela nafas ia tidak jadi pergi ia malah memilih untuk tidak pergi karena Mahesa tidak bisa meninggalkan Husna dalam keadaan seperti tadi.


"Ck!" decak Mahesa


Di dalam kamar Husna sedang terisak-isak menangis, kenapa lagi dengan Mahesa yang tadinya sudah mendingan sekarang malah menyakiti hati Husna kembali.


"Kamu yang munafik mas hiks... kamu kenapa kembali berubah aku pikir kamu sudah mengubah sikap cuek, dingin dan tidak peduli kamu itu, tapi itu hanya menenangkan hati ku saja yang sempat kamu sakiti, kamu sangat munafik dengan ku hiks... andai aku bisa pergi dari sini mungkin aku telah melakukan nya dari dulu, tapi tidak bisa karena kamu mengancam keluarga ku.


Ayah mu sangat tega dengan bunda, bunda sudah memberikan segalanya untuk ayah mu tapi ayah mu tidak menghargai perasaan bunda sedikit pun, ayah mu sungguh egois, bukankah ayah mu itu yang munafik!" ujar Husna


Sudah banyak kemauan Mahesa yang di berikan oleh Husna, tapi Mahesa tidak pernah menghargai itu, ia hanya mementingkan kepentingan nya sendiri, bukankah itu sama saja dengan egois?


Karena Mahesa sangat takut terjadi sesuatu lagi dengan Husna, ia menghampiri Husna di kamar mereka itu, Mahesa melihat Husna yang sedang menangis terisak-isak, tidak ada rasa penyesalan bagi Mahesa untuk Husna, yang ada hanya rasa muak yang Mahesa rasakan.


Bukankah Mahesa sangat munafik pada dirinya?, tadi ia sangat khawatir bahkan dia merasa bersalah kepada Husna tapi kenapa sekarang malah kebalikannya?


"Saya muak dengan tangis mu itu, bisakah kamu tidak menangis saat saya membentak mu?" ujar Mahesa


Mahesa sangat muak melihat wanita menangis di hadapan nya, apa lagi wanita itu gampang lemah itulah yang membuat Mahesa merasa muak, Mahesa ingin melihat Husna menjadi wanita kuat tidak lemah seperti ini.


"Seharusnya kamu tidak membentak ku, aku punya perasaan mas aku juga punya hati, tidak seperti kamu yang tidak punya perasaan dan hati!" ujar Husna


"Maka dari itu saya mau kamu jadi wanita kuat tidak lemah seperti ini!" ujar Mahesa


"Apa maksud mu? aku lemah karena mental ku terus-terusan kamu hajar, aku menjadi wanita lemah seperti ini karena kamu!" ujar Husna


"Maka dari itu kamu harus kuat!" ujar Mahesa tidak tau maksud dan tujuan Mahesa bicara seperti itu.


Husna menepis tangan Mahesa itu, "kamu tidak perlu mempedulikan kami, pergi saja, urusan pekerjaan mu lebih penting dari pada anak kamu ini!" ujar Husna


Mahesa langsung diam, Husna masih menitikkan air matanya ia masih sakit hati dengan ucapan Mahesa tadi, kenapa Husna harus mempercayai sikap manis Mahesa kemarin seharusnya dia tau kalau Mahesa hanya berpura-pura menjadi baik di hadapan nya.


"Maaf kalau ucapan saya tadi menyinggung kamu!" ujar Mahesa merendahkan harga diri nya demi meminta maaf kepada Husna


Husna tidak menggubris ucapan Mahesa ia lebih memilih membaringkan tubuhnya karena perutnya merasakan sakit lagi.


"Astagfirullah... kenapa sakit lagi!" lirih Husna


Mahesa belum menyadari kalau Husna perutnya sakit kembali, Mahesa menekukkan kepala nya ke bawah.


"Hiks... sakit sekali astagfirullah alhazim... sakit nya kenapa bertambah!" lirih Husna


Karena tidak bisa menahan rasa sakit itu terpaksa Husna meminta tolong pada Mahesa, kebetulan Mahesa berada sangat dekat dengan nya.


"Mas... sakit...!" ujar Husna mencengkram tangan Mahesa


Mahesa langsung melihat Husna, keringat sebesar biji jagung membasahi pipi dan dahi Husna karena menahan sakit.


"Hiks... sakit mas... Uus tidak tahan rasa sakitnya melebihi dari tadi!" beri tahu Husna


"Coba tarik nafas lalu buang, rileks kan tubuh mu!" ujar Mahesa sangat khawatir tapi khawatir nya itu tidak ia perlihatkan di depan Husna.


"Nggak bisa hiks... sakit mas... hiks... Uus tidak tahan mas... hiks... mas sakit sekali!" tangis Husna


Kalau seperti ini Mahesa juga tidak bisa lagi ia memilih membawa Husna untuk ke rumah sakit, Mahesa tidak mau terjadi sesuatu yang tidak di inginkan dari kandungan Husna yang masih lima bulan ini.


Mahesa membawa mobil dengan kecepatan tinggi, Husna sudah menangis sangat kencang karena sakit yang ia rasakan tidak main-main.


Sesampainya mereka di rumah sakit Husna langsung di bawa ke ruang UGD Mahesa menunggu Husna di luar ruang UGD itu, tidak lama setelah pemeriksaan dokter yang biasa mengecek kandungan Husna pun keluar dari ruang UGD itu.


"Anda suami dari pasien?" tanya dokter itu


Mahesa mengangguk ia sangat cemas saat ini, sampai-sampai Mahesa tidak bisa mengeluarkan suaranya karena cemas.


"Kondisi ibu dan calon anak anda baik-baik saja, beruntung anda membawa pasien ke rumah sakit tepat waktu, kalau tidak mungkin janin yang di kandung tidak akan bisa di selamat kan!" ujar dokter itu


Mahesa merasa lega karena kandungan Husna masih bisa di selamatkan, "t-terus kenapa i-istri saya bisa seperti itu dok?" tanya Mahesa


"Ada beberapa faktor yang mengalami si ibu seperti ini, apa si ibu selalu stress dan banyak pikiran?" tanya dokter itu


Mahesa tidak bisa menjelaskan karena memang benar Husna banyak pikiran dan stress itu semua ulah Mahesa. Setelah berbicara dengan dokter tadi kini Husna di pindahkan ke ruang rawat, Mahesa duduk di kursi samping brankar Husna.


"Maafkan saya!" ujar Mahesa


"Saya terlalu egois sama kamu dan anak yang kamu kandung, maafkan saya!" ujar Mahesa


Husna tidur karena dokter memberikan obat penenang untuk Husna tadi.


...


Bersambung...