Pernikahan Siri Seorang Dokter

Pernikahan Siri Seorang Dokter
part 57. Hati Dan Pikiran Munafik


Husna terdiam saat apa yang di bilang oleh Mahesa tadi ada benarnya juga, ia melihat Mahesa yang sedang menggendong putranya itu.


"Kamu yakin mau memakai baju seragam art itu!" sekali lagi Mahesa bilang seperti itu.


Husna mengangguk kecil.


"Tentu, aku harus seperti mereka juga agar mereka tidak curiga dengan ku!" balas Husna sangat percaya diri memakai seragam art ini.


Sebenarnya ia juga kurang nyaman dengan baju yang sedikit mencetak lekuk tubuh nya ini, tapi ini demi rahasia yang tak ingin terbongkar.


"Ada apa sebenarnya? kenapa kamu mau memakai seragam seperti ini? selama ini kamu nyaman dengan pakaian gamis kamu, lantas kenapa sekarang kamu ingin memakai seragam yang sama seperti mereka?" tanya Mahesa lalu ia duduk di sofa itu sambil bermain dengan Ansel.


Husna diam, tidak mungkin ia mengadu kepada Mahesa jika art yang lain pada mencaci dan menghina nya, Husna tidak mungkin tega dengan pembantu yang lain, jika ia mengadu tidak tutup kemungkinan Mahesa akan marah bahkan akan memecat pembantu nya itu.


"Kenapa? apa alasan nya kamu mau memakai seragam ini?" tanya Mahesa lagi ia melirik Husna yang hanya terdiam saja.


"Aku hanya seperti mereka mas, aku hanya pembantu di rumah ini kesannya aku harus mengunakan pakaian yang sama seperti mereka, oh iya aku akan bekerja seperti mereka juga setelah Ansel tidur nanti aku akan ke bawah untuk membantu-bantu mereka juga, aku tidak boleh santai karena aku juga sama seperti mereka!" tutur Husna


Mahesa menghela napas ia tidak ingin melibatkan Husna dalam pekerjaan rumah ini, ia hanya ingin Husna mengasuh dan mengurus putra nya ini saja.


"Ini perintah dari saya Husna, kamu tidak boleh melakukan pekerjaan apapun itu kecuali mengurus dan mengasuh Ansel!" kata Mahesa memberikan Ansel kepada Husna.


"Maaf mas, Uus tidak bisa menuruti keinginan mas, Uus tidak ingin mereka menaruh curiga kepada kita!" tutur Husna


Mahesa menghela napas, ia juga tidak bisa melarang Husna, benar yang di katakan oleh Husna jika nanti mereka pada curiga bagaimana.


"Baiklah!" tutur Mahesa


"Jaga tubuh mu dari pandangan laki-laki lain selain saya, tubuh mu hanya milik saya!" bisik Mahesa di telinga Husna itu.


Husna merinding dengan ucapan Mahesa barusan seakan Mahesa berhak atas dirinya itu, memang berhak Mahesa berucap seperti itu karena Mahesa itu suami nya.


Sesuai dengan ucapan nya itu, Husna benar-benar bekerja seperti pembantu pada umumnya di rumah ini, bahkan ia juga rela mengepel lantai dan membersihkan debu-debu yang ada di sudut rumah ini, ia ikhlas melakukan ini agar art yang lain tidak curiga.


Bik Yatri menghampiri Husna yang lagi mengepel lantai yang sangat luas itu, bik Yatri membawakan Husna segelas air, tentu saja Romlah, Siti dan art yang lain tidak mengetahui jika bik Yatri sedang membawakan Husna minuman, jika mereka tau sudah di pastikan Husna kena bully mereka berdua lagi.


"Nyonya, istirahat lah dulu, bibik sudah membawakan air minum untuk nyonya!" ucap bik Yatri berdiri di dekat Husna.


Husna memberhentikan aktifitas mengepel lantai nya ia mengusap peluh yang mengalir di dahinya itu.


"Bibik, Husna di sini sama seperti kalian, jadi bibik tidak usah repot membawakan Husna minuman, nanti mereka melihat kita bagaimana bik!" tutur Husna sangat takut sambil celingak-celinguk melihat orang lain yang tidak akan melihat mereka berdua.


"Tenang saja nyonya, mereka sudah kembali ke mansion belakang, setelah pekerjaan mereka telah usai maka mereka akan balik ke mansion belakang, nyonya tidak usah khawatir, di sini hanya kita berdua!" tutur bik Yatri sambil tersenyum.


Barulah Husna bernapas lega.


"Hmm... baiklah bik!"


Husna duduk di sofa ruang keluarga itu ia sangat lelah karena pekerjaan nya sangat banyak hari ini.


"Nyonya istirahat saja bila perlu nyonya kembali ke kamar sebelum tuan pulang!" tutur bik Yatri


"Lalu siapa yang mengepel lantai ini bik?" tanya Husna


"Biar bibik saja yang melanjutkan nya, lebih baik nyonya ke kamar saja!"


Husna mengangguk kecil sambil tersenyum jika tidak ada bik Yatri mungkin hidupnya sudah luntang lantung di jalanan, karena bik Yatri lah Husna bisa tinggal di rumah Mahesa ini, karena bik Yatri juga Husna bisa berkumpul dengan anaknya ini, karena bik Yatri yang membela bahkan memohon kepada Mahesa agar Husna tetap tinggal di sini.


Husna sangat berterima kasih dengan kebaikan bik Yatri selama ini.


Husna membawa Ansel ke gendongan nya karena putra nya itu ingin menyusu.


"Pipimpimpim... aaa... pipimpimpim...!" celoteh bayi itu sangat lucu sekali melihat nya berceloteh.


Muach


Muach


Husna mencium pipi putranya itu dengan gemasnya.


"Anak ciapa ini... kenapa tampan sekali anak bunda ini... muach!"


Bayi berusia tujuh bulan itu tertawa dengan suara bayi nya. Sangat beruntung sekali Husna dapat melihat perkembangan bayi nya ini, apa lagi di bawah pengawasan nya sendiri.


...


Mahesa sangat lelah sekali hari ini ia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga itu dengan gontai. Malam ini ia langsung masuk ke kamar nya ia tidak menyempatkan diri nya untuk melihat putra nya itu karena ia sangat lelah sekali.


Mahesa langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur nya, ia membuang jas dan sepatunya itu di sembarangan saja.


Husna merasa khawatir dengan Mahesa karena ia belum mendapati Mahesa yang akan selalu muncul jika sudah pulang.


"Dia kenapa belum pulang?"


Karena Ansel sudah tidur akhirnya Husna dapat bergerak lebih leluasa, Husna membuka pintu penghubung antara kamar putranya dan kamar Mahesa.


Ia tersenyum karena mendapati Mahesa yang tertidur di atas kasurnya itu, Husna masuk ke kamar itu, ia sudah sering keluar masuk ke kamar Mahesa ini jadinya ia tidak terlalu canggung lagi.


"Seperti nya dia sangat lelah!" Husna menarik selimut lalu ia menyelimuti Mahesa.


Mahesa belum sepenuhnya tertidur ia masih terjaga tapi ia pura-pura tidur saat Husna masuk tadi.


Husna mengambil jas dokter itu dan sepatu Mahesa yang sembarangan saja ia letakkan, Husna meletakkan jas dokter itu di keranjang baju kotor dan meletakkan sepatu Mahesa ke tempat semula.


Husna kembali lagi ke tempat Mahesa itu, ia hanya senyum melirik Mahesa itu.


"Wish you sweet dreams!"


Husna berniat kembali ke tempat putranya itu tapi tangannya langsung di cekal oleh Mahesa.


"Kamu tidak berniat tidur dengan saya?" tutur Mahesa membuka matanya


"Lho, kamu belum tidur?" sentak Husna merasa terkejut


"Sudah tadi, tapi karena kamu datang saya jadi kebangun lagi!" dusta Mahesa


"Tidak mas, aku tidur di kamar Ansel saja!" tolak Husna lalu melepaskan tangan Mahesa yang masih memegang tangan nya itu.


Mahesa menghela napas melihat kepergian Husna itu, ia tidak bisa tinggal diam ia mengikuti Husna sampai ke kamar Ansel itu.


"Karena kamu tidak mau tidur di kamar saya, jadi kita tidur di sini lagi!" tutur Mahesa lebih dulu naik ke atas tempat tidur berukuran kecil itu.


"Mas, jangan gini dong, sempit tau!" protes Husna


"Nggak, muat kok, sini!" ujar Mahesa menarik Husna sampai Husna terduduk di samping nya itu.


Terpaksa mereka tidur lagi di kasur yang sempit itu, tapi itu tidak di permasalahkan oleh Mahesa karena dia sangat nyaman tidur menyempit seperti ini apa lagi berdua dengan Husna.


Husna sudah bergerak sedikit saja ia bergerak maka ia bisa jatuh, tapi itu tak di biarkan oleh Mahesa, Mahesa menahan tubuh Husna agar tidak jatuh.


"Mas, please jangan kayak gini, susah tau tidur sempit kayak gini!" bujuk Husna


"Kemarin-kemarin itu tidak susah, kenapa kamu sekarang banyak protes!" tutur Mahesa


Iya juga yang di bilang Mahesa waktu itu mereka juga tidur berdua di kasur kecil ini bahkan mereka fine-fine saja tuh, lah sekarang kenapa Husna banyak protes?


Mahesa duduk sebentar karena baju kemeja nya belum ia lepas, ia melepas baju nya itu dan tidak berbaju lagi, ia hanya menggunakan celana dasar yang ia pakai ke rumah sakit tadi.


Husna jadi malu karena Mahesa tidak mengunakan atasan nya itu, ia memejamkan matanya agar matanya ini tidak ternodai oleh perut kotak-kotak Mahesa itu.


...


Husna menunaikan sholat subuh di kamar nya itu, selesai ia menunaikan sholat subuh ia melirik pada Mahesa.


"Sampai kapan kita akan seperti ini mas? aku juga ingin kamu menganggap ku ada aku juga ingin menjadi menantu di kelurga ini mas, sampai kapan kamu akan menutupi rahasia pernikahan kita ini dari keluarga kamu mas? aku sudah lelah seperti ini terus mas, lelah berjuang sendiri, semuanya sudah lelah mas!, aku tidak tau dengan sikap kamu saat ini seolah-olah kamu memperhatikan ku dan memberikan kasih sayang layaknya seperti istri sungguhan kamu, aku kadang berpikir kenapa kamu bisa seperti ini kepada ku?


Aku tidak tau dengan sikap kamu itu, seakan-akan sikap kamu itu menunjukkan jika aku tidak boleh pergi dari hidup mu, jika di katakan aku ingin lepas dari kamu mas, karena apa? karena aku sudah lelah berjuang sendirian. Kamu tidak pernah memikirkan gimana perasaan ku selama ini gimana derita yang aku alami selama ini, kamu tidak pernah mengerti itu mas! batin Husna


Husna mengusap air matanya yang mengalir di pipi nya itu, jika di katakan ia ingin melepaskan Mahesa saja, tapi hati dan pikiran nya itu sangat munafik. Rasa cinta itu masih ada untuk Mahesa.


...


Bersambung...


Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan jejak kalian, tidak ada komentar maka author tidak akan update cerita ini.


Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, yang panjang kek komentar nya, jangan satu kata saja🤔🙄🤨