Pernikahan Siri Seorang Dokter

Pernikahan Siri Seorang Dokter
part 65. Ngidam Menyiksa


Hari-hari terus berlanjut, Husna mendapatkan kebahagiaan itu dari orang yang pernah menyakiti nya dulu, sekarang ia sudah mengakui Husna di depan orang tua nya dan beberapa teman nya.


Mahesa ingin menikahi Husna yang kedua kalinya, kali ini ia akan menikahi Husna secara sah dimana negara dan tidak di mata agama saja.


Orang tua Mahesa sudah mempersiapkan pernikahan mereka, mereka sudah menyewa gedung untuk pernikahan yang kedua kali putranya itu, mereka ingin mengenalkan ke semua orang tentang menantu nya itu.


Husna merasa tidak enak saat ia menikah tapi pernikahan mereka ini di adakan di sebuah gedung yang mewah, mereka akan mengadakan pesta pernikahan juga di sana.


Menurut Husna itu terlalu berlebihan tapi menurut orang tua Mahesa itu hanya hal biasa saja, karena ia ingin melihat putra semata wayangnya menikah dan di hadiri banyak tamu undangan.


Kini Husna sedang menunggu suaminya pulang, sejak di akui di keluarga ini Husna jadi lebih bahagia dari biasanya, hanya saja art di rumah ini ada yang kurang menyukai Husna, seperti Siti dan Romlah mereka berdua masih belum bisa mengakui jika Husna itu ialah nyonya nya.


"Kenapa harus dia menjadi nyonya di sini? seharusnya aku yang menjadi nyonya di rumah ini!" ngedumel Romlah sambil mencuci piring


"Ketinggian impian lo itu Rom, udah lo nggak usah mikirin itu lagi, percuma saja lo mikirin yang belum tentu bisa lo dapetin, tuan kita tidak salah pilih tuan kita itu memilih sesuai dengan selera dan kriteria nya!" nasehat siti, ia merasa bosan dengan ocehan Romlah yang tidak henti-hentinya memiliki impian setinggi langit.


"Seharusnya gue Siti yang jadi nyonya di rumah ini, bukan wanita tidak tau asal usul nya itu!"


"Kepedean lo Rom, cita-cita lo terlalu tinggi, tidak akan bisa lo gapai juga!" sindir Siti


Semua art sudah pergi ke mansion belakang karena sebentar lagi tuan mereka akan pulang, Husna dari tadi menunggu kedatangan Mahesa itu.


"Ayah kamu kenapa pulangnya lama ya?"


"Yah... yah... yah...!" oceh Ansel berlonjak-lonjak kecil


"Iya ayah kamu pulangnya lama!"


Tidak biasanya Mahesa pulang telat atau dia masih memiliki pekerjaan di rumah sakit sehingga dia sedikit lambat pulang nya, pikir Husna


Tidak lama dari itu mobil yang biasa Mahesa bawa akhirnya masuk juga ke pekarangan rumah nya itu, Husna tersenyum lega saat suaminya itu pulang.


"Assalamualaikum... ayah pulang!" ucap salam Mahesa, setiap pulang pasti Mahesa tidak akan lupa bersuara jika ia pulang.


"Wa'alaikumussalam...!" jawab Husna mengendong tubuh mungil Ansel membawa nya menuju pintu utama.


Husna menyambut hangat suaminya itu, ia memberikan senyum termanis nya saat Mahesa pulang, itulah yang membuat Mahesa tidak mau berlama-lama di luar karena di rumahnya ini sudah ada bidadari dan malaikat kecil nya yang selalu menunggu nya.


Husna mencium punggung tangan suaminya itu tidak lupa pula Mahesa mencium balik tangan istrinya itu beserta kecupan di kening Husna, dan pastinya ia juga tidak lupa dengan jagoan nya itu.


"Yah... buna... gen..." oceh Ansel memberitahu ayahnya itu jika bunda nya kangen.


"Bunda kangen sama ayah?" tanya Mahesa


Husna hanya tersenyum malu-malu, semenjak mengandung anak kedua mereka Husna jadi tidak ingin jauh-jauh dari Mahesa, tapi dengan keadaan Mahesa harus bekerja jadinya Husna mengerti akan hal itu.


Mahesa mengambil alih Ansel dari gendongan Husna itu, lalu Husna mengambil tas yang sering Mahesa bawa saat ke rumah sakit.


"Mas mau teh atau kopi atau air putih aja?" tawar Husna menawarkan minuman untuk suaminya yang lelah bekerja seharian.


"Hmm... air putih biasa aja ya bun, biar sehat kurangi minum-minuman yang manis tidak sehat untuk kesehatan!" tutur Mahesa mencolek hidung Husna


Husna tersenyum kecil menampakkan gigi putih yang tersusun rapi itu, "Uus letak tas mas dulu!" Husna bergegas meletakkan tas kerja suaminya itu di ruang kerja suaminya, ia kembali lagi dengan membawa satu gelas air putih biasa yang di minta Mahesa tadi.


"Silahkan diminum!" imbuh Husna


"Makasih bunda!"


"Yah... mimi... yah..." Ansel meminta minum yang di minum oleh ayah nya itu, Mahesa tersenyum lalu memberikan air minum sisanya itu kepada putra nya itu.


Husna diam memperhatikan buah hati nya itu sedang bermain dengan ayah dari anaknya ini.


Mahesa mengetahui Husna yang lagi melamun itu.


"Kenapa melamun, Husna?" tanya Mahesa


"Tidak, aku hanya memperhatikan kalian saja, senang melihat kalian bermain!" sahut Husna


Mahesa melepaskan putra nya itu ia membiarkan Ansel bermain sendiri, lalu ia duduk di sebelah Husna.


"Mikirin apa?" tanya Mahesa


Terlihat jelas dari wajah Husna itu ia lagi memikirkan sesuatu.


"Emang jelas ya aku lagi mikirin apa?" Husna balik bertanya menatap wajah tampan Mahesa itu.


"Jelas banget!" tutur Mahesa


"Hmm... aku lagi mikirin acara pernikahan kita mas!" ujar Husna


Dari tadi Husna menunggu kepulangan Mahesa itu ia hanya ingin berbicara dengan Mahesa tentang acara pernikahan mereka yang akan di adakan seminggu lagi, ia merasa tidak enak saja dengan acara yang begitu mewah.


"Emang kenapa?" tanya Mahesa


"Tidak enak aja gitu mas, aku merasa terlalu berlebihan, sebenarnya tidak masalah bagi ku tapi merasa tidak enak aja sama orang tua kamu, apa sebaiknya kita batalkan saja acara resepsi nya, akad nikah tetap berjalan sebagaimana mesti nya tapi resepsi nya jangan ya mas!" pinta Husna merasa tidak enak hati dengan orang tua Mahesa.


"Apa kamu mau mama sama papa marah pada mu sayang?" goda Mahesa menaikan sebelah alisnya.


Husna langsung menggeleng.


"Apa boleh buat, aku terpaksa setuju!" ujar Husna


"Good!"


...


Malam harinya Husna meminta di buatkan rujak pada Mahesa karena ia sangat ingin memakan rujak itu.


"Apa rujak?" kaget Mahesa


"Hu'um!" angguk Husna dengan wajah memohon


"Rujak kecut gitu kamu pengen makan nya? aku sih tidak mau!" tutur Mahesa sudah terasa gimana rasa kecut-kecut dari rujak itu.


"Pengen mas, kamu yang buatin ya!" pinta Husna


Mahesa menghela napas ia pergi ke dapur demi membuatkan rujak untuk istrinya yang lagi ngidam itu, jangan di salahkan lagi Mahesa ini bisa membuat rujak jangan kalian pikir tugasnya hanya berkutik di rumah sakit mengobati pasien dan mengoperasi pasien, Mahesa juga jago dalam hal dapur, sejak kecil amor selalu mengajarkan kepada Mahesa agar bisa mengerjakan tugas seorang wanita.


Dua puluh menit berkutat di dapur akhirnya rujak yang ia buat jadi juga, Mahesa membawa rujak itu dan segelas air putih.


"Habisin ya!" ujar Mahesa memberikan rujak itu pada Husna


Mata Husna langsung berbinar tatkala mendapatkan apa yang ingin ia makan, ia mencicipi sepotong buah kedondong itu lalu ia cocol dengan bumbu rujak yang Mahesa buatkan tadi.


"Asem...! Husna merem melek merasakan asam dari buah kedondong itu, ia memakan rujak itu hanya dua potong saja, Mahesa juga ikut merasakan bagaimana rasa asem itu masuk ke mulut nya, membayangkan nya saja sudah asem banget apa lagi ia memakan nya.


Husna memberikan piring berisi rujak itu pada Mahesa, "habisin jangan sampai tersisa, mubazir nanti!" ujar Husna


Mahesa memelototi matanya karena Husna menyuruh dia untuk menghabiskan rujak yang tak pernah ia sukai ini.


"Aku? tunjuk Mahesa pada dirinya, "habisin ini?" sambung Mahesa, "yang benar aja, sayang, aku tidak suka makanan kecut gini!" tolak Mahesa


Husna langsung cemberut, "tapi ini anak kamu yang minta, ayahnya aja yang habisin rujak ini!" rengek Husna seperti anak kecil.


Mahesa tidak percaya akan merasakan rujak ini yang seumur-umur tak pernah ia cicipi sama sekali.


"Ayo mas... ini permintaan anak kamu!" desak Husna


"Tapi aku tidak suka rujak, sayang, seumur-umur mana pernah aku makan rujak gini!" tolak Mahesa meletakkan piring berisi rujak itu di atas nakas.


"Kamu tega sama baby kita? kamu tidak kasihan sama anak kita? ini permintaan baby kita lho mas...!" cemberut Husna sambil mengeluarkan air mata nya.


Mahesa tidak tega melihat Husna menangis seperti itu, ia terpaksa harus menuruti keinginan dari baby nya itu, Mahesa mulai mencicipi sepotong buah kedondong yang rasanya sangat kecut itu.


"Aaah... sayang kecut banget...!" keluh Mahesa sudah memakan satu potong kedondong yang sudah ia lumuri dengan bumbu rujak itu.


Husna tertawa kecil melihat bagaimana ekspresi wajah Mahesa itu.


"Ayo makan lagi!" pinta Husna


"Asem banget, udah ah aku nggak mau lagi!" tolak Mahesa


Husna tambah cemberut karena Mahesa tidak lagi memakan rujak itu, Mahesa menghela napas sebisa mungkin ia menghabiskan rujak yang terasa kecut-kecut gimana gitu.


1 jam kemudian...


Akhirnya rujak itu habis tanpa ada sisa sedikit pun, Mahesa meminum air sampai habis.


"Sudah, sudah puas kah anak ayah yang di perut bunda ini!" tutur Mahesa mengusap perut Husna itu.


"Puas sekali ayah... terima kasih sudah menuruti keinginan dedek!"


Mulut Mahesa masih terasa kecut-kecut akibat terlalu banyak memakan rujaknya, "oh Tuhan ngidam apan ini? batin Mahesa


Husna tersenyum manis kepada suaminya itu, "lain kali kalau ngidam jangan rujak lagi ya sayang, aku nggak kuat makan nya!" ujar Mahesa


"Tergantung dedek bayi nya mas, aku hanya menjalankan perintah dari anak kita aja!" ujar Husna


Lagi-lagi Mahesa menghela napas nya, "ngidam menyiksa!" ngedumel Mahesa sangat frustasi.


...


Bersambung...


Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan jejak kalian, tidak ada komentar maka author tidak akan update cerita ini.


Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, yang panjang kek komentar nya, jangan satu kata saja🤔🙄🤨