Oh My Teacher

Oh My Teacher
Bertemu kembali.


"Crazy!!!" pekik Sofia.


"Lo, tuh yang crazy!" ketus Vin-vin sambil menutup pintu kamarnya.


Saat ini, Vin-vin, Sofia dan Ami sudah sampai di rumah dan mereka berada di kamar Vin-vin.


"Don't play-play with me! (jangan macam-macam denganku) " kesal Sofia.


"tell me the truth!(katakan yang sebenarnya)."


"Apaan sih?" Vin-vin meluruskan kakinya dan duduk di atas karpet bulu yang terletak di lantai kamarnya.


"You're father is chef Kevin! not him!" lanjut Sofia.


"Chef Kevin is my Biologic father and papi Aldrich is my step father. Puas awak?" jawab Vin-vin acuh. Dia memang sudah terbiasa dengan keterkejutan orang-orang di sekitarnya.


"Oh My God! I harus meet your mother!" sambung Ami yang sejak tadi diam dan mendengarkan kedua temannya berbincang.


"Kenapa?" tanya Vin-vin bingung.


"I mau minta azimat, biar I bisa di kelilingi lelaki hansem macam dua papa awak!"


Vin-vin menepuk jidatnya. "Tolong Tuhan.. punya temen gini amat..." gerutu Vin-vin sambil merebahkan badanya.


"Mane Mama awak? Saya nak jumpa," tanya Ami sambil menggoyang-goyang tubuh Vin-vin.


"Nanti malam pas dinner kalian bisa ketemu Mama. Sudah ah, I mau tidur. Jangan ganggu!" Vin-vin menutup wajahnya dengan selimut agar kedua temannya tak mengganggunya lagi.


Walau sebenarnya di dalam selimut, Vin-vin tak tidur. Matanya memang terpejam, namun pikirannya masih berputar-putar dan tak bisa tenang. Satu nama yang terus mengganggunya sejak dia menginjakkan kaki di Indonesia- tidak, bahkan sejak dia menaiki pesawatnya saat masih berada di Singapore. Ya, nama itu adalah Ivan Xanders. Lelaki yang paling dia rindukan selama ini.


Tau kah dia bahwa sekarang Vin-vin sudah kembali? masih mau kah dia bertemu dengan Vin-vin? ataukah sekarang dia sudah mempunyai kekasih? atau malah dia sudah bersama dengan Rissa?


"Akh!!!" geram Vin-vin, suaranya tercekat di tenggorokan karena dia tak ingin kedua temannya mendengar.


"Aku harus tidur! nggak boleh begini!" gumamnya dan lalu berusaha untuk tidur.


***


"Sofia, Ami, aku mau jogging. Kalian mau ikut, tak?" tanya Vin-vin saat jam di dinding menunjukkan pukul enam pagi.


"Jet lag! Saya tak kuasa untuk jogging..." gumam Ami.


"Saya pun..." sahut Sofia.


Vin-vin mencibir, "jet lag kok semalam bisa makan kaya orang gila!" gerutunya. Lalu Vin-vin pun keluar dari kamarnya.


"Ma, Vin-vin mau jogging dulu ya," pamit Vin-vin pada Mama Luci saat berpapasan di teras.


Mama yang sedang asyik dengan tanaman hias nya tersenyum seraya berkata, "Hati-hati ya. Jangan lama-lama kamu belum sarapan."


"Iya, Ma," jawab Vin-vin sambil mulai berlari kecil keluar dari rumahnya.


Vin-vin berlari terus hingga langkah kakinya sampai di gerbang masuk komplek perumahan. Lalu secara terburu-buru dia menghentikan taxi yang lewat dan menaikinya.


"SMA Gemilang, ya Pak," ucapnya buru-buru.


"Siap, non," jawab si sopir taxi.


Vin-vin menatap smartwatch yang melingkar di pergelangan tangannya dan mendesah.


"Masih keburu nggak ya..." gumamnya saat melihat jamnya menunjuk di angka 6.15.


"Pak, sudah di sini aja," pinta Vin-vin saat mobil taxi yang membawanya sudah berada di dekat sekolah. Vin-vin pun turun dari mobil sambil buru-buru mengenakan masker dan menutup kepalanya dengan hoodie dari jaketnya.


Dia mencari lokasi yang aman dan berdiri di sana untuk mengintai. Dia penasaran dengan sosok Pak Ivan sekarang.


"Setelah melihat dia, aku bakal langsung pulang!" gumamnya meyakinkan dirinya sendiri.


Namun sayang, hingga jam menunjuk ke angka 7 lewat 5 menit, Vin-vin tak juga melihat kedatangan sang guru olah raganya.


Sedih, kesal dan kecewa rasanya. Akhirnya Vin-vin memutuskan untuk pulang.


"Yah.. apa sih yang aku harapkan? kan aku yang ninggalin dia..." gumamnya sambil berjalan gontai meninggalkan tempat persembunyiannya.


***


"Eh! eh! tengok nih. Ada caffe viral di sini. Ownernya very hansem!" ucap Ami sambil menunjukkan sebuah video yang muncul di fyp nya.


"Jom kita ke sana, siapa tau I bisa kenalan sama tu owner hansem!" kelakar Sofia.


Kring! kring!


Sofia melirik ponselnya yang tiba-tiba berbunyi, "Oh My God! Liam call me! macam mane ni?" gugupnya.


"He just want to know about Vin-vin! don't flatter yourself!"


Sofia melirik sinis ke arah Ami yang bicara blak-blakan, lalu dia pun mengangkat telponnya, "Hallo Liam..."


"Ok."


Ami menatap Sofia sambil menaikan sebelah alisnya seolah bertanya, 'bagaimana'. Dan saat melihat raut wajah Sofia yang cemberut, dia pun tergelak.


"Nanti siang, kita ke caffe yang viral tu. Liam nak jumpa Vin-vin," gerutu Sofia.


Ami membelalakan matanya, "Liam kat sini? Indonesia? now?" pekiknya tak percaya.


Sofia mengangguk pelan.


Ami bertepuk tangan sambil menggelengkan kepalanya, "marvelous! marvelous!"


"Hentikan itu Jarjit!" kesal Sofia.


"Ape kau! cakap sekali lagi!" Ami langsung murka dan mendekati Sofia yang tergelak karena berhasil membuat Ami marah.


"Kalian ngapain, sih?" Tiba-tiba Vin-vin masuk ke dalam kamar dengan lemas. Dia pun duduk di lantai dan menyandarkan kepalanya di samping ranjang.


"Ape hal ni? awak gering (sakit) kah?" tanya Ami yang melihat Vin-vin sangat lesu.


"Nggak.. cuma nggak semangat aja," jawab Vin-vin.


"Macam mane kita kat caffe siang ni, lepas tu awak pasti semangat lagi," ajak Sofia sambil melirik Ami meminta bantuan.


"Betul itu, jom kita pergi!" balas Ami.


"Iya lah..." ucap Vin-vin sambil mendesah.


"Aku butuh healing juga. Nanti kita ke mall sekalian."


"Oke!" jawab Sofia dan Ami kompak.


"Aku mau mandi dulu," Vin-vin pun beranjak menuju kamar mandi.


Setelah Vin-vin masuk ke dalam kamar mandi, Ami dan Sofia langsung ber 'tos' ria.


***


"Aku baru tau ada kafe di sini," gumam Vin-vin saat Sofia menariknya masuk ke sebuah kafe.


"Kafe ni, viral sangat di tiktok. Ownernya hansem dan senang live show. Suaranya pun oke sangat!" puji Sofia habis-habisan.


"Liam mane?" bisik Ami.


"On The Way..." balas Sofia.


Vin-vin, Sofia dan Ami duduk di tempat yang telah di sediakan. Kafe ini begitu ramai dan sebagian besar pengunjungnya adalah wanita. Untunglah Sofia sudah reservasi tadi pagi, sehingga mereka bisa dapat tempat, jika tidak mungkin mereka tak akan bisa duduk senyaman ini.


Siiiing....


terdengar bunyi microfon yang dinyalakan.


"Hari ini, adalah hari yang sangat spesial..."


Vin-vin tersentak mendengar suara yang tak asing di telinganya. Jantungnya pun berdebar tak karuan.


"Seseorang yang sangat Saya rindukan, ada di sini. Dan Saya akan menyanyikan lagu yang spesial untuk dia..."


Vin-vin menelan ludahnya sendiri, lalu dia berusaha tenang dan dengan perlahan menoleh untuk melihat sosok orang dengan suara yang sangat dia kenal.


"Mungkinkah...." gumamnya.


Vin-vin menatap lelaki yang sedang duduk di panggung kecil sambil memegang gitar, tatapan mereka berdua beradu, dan jantung Vin-vin langsung melonjak lonjak ingin keluar dari tempatnya.


"Lagu ini, spesial buat kamu... sayang, dan selamat datang kembali..." ucap lelaki itu sambil menatap Vin-vin.


Vin-vin terdiam dan tak bisa berkata-kata.


Dia hanya bisa bergumam, "Pak... Ivan..."