Oh My Teacher

Oh My Teacher
Mutiara mencari cinta.


"Mut, nanti pulangnya bareng ya?" pinta Vin-vin saat dia sedang bersama Mutia dan Axel di kantin.


Mutia yang sedang melahap sebiji besar bakso hanya bisa mengangguk, dia tak bisa menjawab karena mulutnya penuh dengan bakso yang lumayan besar.


"Kenapa nggak pulang dengan Pak Ivan?" tanya Axel sambil menyerahkan selembar tissue ke arah Mutia.


Mutia pun menerimanya sambil tersenyum malu, lalu mulai membersihkan mulutnya yang mungkin berantakan oleh kuah bakso.


"Sejak kejadian penangkapan Pak Daniel, Pak Ivan jadi parno. Dia takut mau antar aku pulang sekolah. Dia bilang kami harus mulai berhati-hati jangan sampai ketahuan oleh pihak sekolah dan murid-murid sekolah ini," ucap Vin-vin lirih.


"Ada-ada aja! nggak bertanggungjawab!" kesal Axel sambil kembali mengambil tissue dan memberikannya pada Mutia.


Mutia nampak bingung tapi tetap menerimanya. Memangnya mulutnya masih kotor dan berantakan? seperti apa sih berantakannya sampai Axel bolak balik memberinya tissue? perasaan Mutia sudah membersihkan mulutnya dan tak menemukan apapun. Mulutnya bersih bahkan tak ada lemak bakso yang menempel di bibir manyunnya.


"Dia bertanggungjawab kok! buktinya dia selalu menyuruhku naik taksi dan selalu memberi aku uang untuk bayar taksi," Vin-vin mencoba melindungi pacar kesayangannya.


"Hallaah! dia itu cuma nggak mau aku mengantar kamu pulang! dasar nggak tahu terima kasih! tau begitu harusnya kemarin aku biarkan saja dia di hajar sampai babak belur."


"Axel!" Vin-vin memasang wajah cemberut sambil melotot ke arah Axel.


"Papi sudah janji akan membelikan aku motor matic jadi nggak masalah juga kalau aku pulang sendiri nantinya."


"Tetap nggak aman!" lagi-lagi Axel mengambil selembar tissue, kali ini dia tak menyerahkannya pada Mutia. Sejenak Axel mengalihkan pandangannya dari Vin-vin yang telah membuatnya kesal, dia beralih menatap Mutia yang masih tampak bingung dengan tissue yang terus menerus diberikan olehnya.


"Ini loh Mut..." ucapnya sambil mengusap pipi Mutia dengan tissue lalu dia menunjukkan sepotong daun bawang yang menempel dari tadi di pipi mulusnya.


"Oh... hahaha... kok bisa ini daun bawang jalan-jalan sampai pipi gue... hahaha..." Mutia tertawa malu.


"Dan lagi, memangnya kamu bisa bawa motor?" pandangan Axel kembali kepada Vin-vin.


"Ah, masalah sepele. Aku bisa minta di ajari Pak Ivan atau Mutia atau... kamu juga bisa kan ajari aku?" Vin-vin menatap Axel dengan tatapan puppy eyes penuh harap.


"Males!" Axel meminum collanya hingga tandas lalu beranjak dari duduknya.


"Aku duluan! kalian habiskan saja makanannya."


"Makasih ya Xel..." ucap Mutia saat melihat Axel mulai melangkah menjauh.


Axel hanya tersenyum sambil mengelus kepala Mutia sekejap lalu kembali berjalan meninggalkan dua sahabatnya itu.


Mutia terdiam, dia tak percaya bahwa Axel baru saja mengelus kepalanya, mengacak-acak rambutnya mungkin lebih tepatnya namun Mutia tak peduli. Ini pertama kalinya Axel dan dirinya melakukan kontak fisik. Saking senang dan kaget, Mutia sampai membeku di kursinya.


"Mut!"


"Mutiara!!!!" teriak Vin-vin di dekat telinga sahabatnya yang sedang membatu.


"Kenapa?" tanya Mutiara, tapi pandangan matanya masih kosong. Dia masih berada dalam dunia lamunannya sendiri


"Ayo balik kelas, sudah habis kan baksonya?"


"Ah... oh iya.. ayo..."


"Kenapa sih? kok kaya orang bingung!"


"Ah.. ng.. nggak apa-apa kok," Mutia bangun dari duduknya terlalu tergesa-gesa hingga kakinya terantuk kaki meja dan membuatnya hampir terjatuh. Untunglah Vin-vin berhasil memeganginya.


"Hey! hati-hati Mut!! kamu lagi kenapa sih!" kesal Vin-vin melihat tingkah Mutia yang tak seperti biasanya.


"Astaga! gara-gara itu toh!" Vin-vin memukul keningnya pelan.


"Makanya kalau suka itu ngomong! jangan di pendam terus, jadi linglung kan Lo!"


Mutia terdiam, "aku nggak percaya diri..." gumamnya putus asa.


"Kenapa?"


Mutia berdecih, "yang dia sukai itu loh kamu, cewek paling cantik di sekolah. Siapalah aku ini di mata dia, pasti dia anggap aku seperti kutu..."


"Iya, kutu raksasa..."


Mutia melotot sambil mencubit lengan Vin-vin.


"Lagian kamu belum coba sudah menyerah, payah banget sih."


"Malu lah... masa cewek nembak duluan. Apa kata dunia?!"


"Dunia nggak bilang apa-apa kok waktu aku nembak Pak Ivan..." jawab Vin-vin santai.


"Iyalah... hukum itu nggak berlaku sama cewek cantik!" kesal Mutia.


"Dari tadi bilang aku cantik mulu! kamu pikir kamu jelek banget apa Mut! heran deh jadi orang nggak ada rasa bersyukurnya. Kamu itu juga cantik apalagi kalau percaya diri. Kata Papi aku, cewek akan terlihat cantik kalau dia punya rasa percaya diri!" Vin-vin lama-lama jadi kesal karena Mutia terus menerus merasa rendah diri.


Mutia tertunduk mendengarkan celotehan Vin-vin. "Tapi kalau dia menolak aku gimana? kan malu, terus kita nanti jadi canggung..." gumamnya.


"Kalau dia nolak, jangan menyerah. Kejar terus, pepet terus. Lama-lama pasti luluh."


Lagi-lagi Mutia menunduk, beranikah dia menyatakan perasaannya pada Axel? cowok yang sudah hampir dua tahun mengisi hatinya.


"Iya, aku akan berusaha berani..." gumamnya lagi.


"Bagus!" Vin-vin mengacungkan jempolnya lalu berjalan masuk ke dalam kelas. Sedangkan Mutia tetap berdiri di ambang pintu sambil menatap kelas Axel yang berada tepat di sebrang kelasnya. Kelas mereka hanya di pisahkan oleh lapangan Volley, hingga Mutia bisa melihat dengan jelas Axel si kekasih hatinya yang sedang duduk di depan kelasnya dan mengobrol dengan beberapa teman sekelasnya.


Axel memang bagaikan magnet, keberadaannya selalu menarik perhatian banyak orang terutama para gadis-gadis termasuk dirinya.


Lihat saja sekarang, hampir semua murid cewek di kelasnya dan kelas sebelahnya berkumpul di dekat Axel. Mereka mencoba menarik perhatian sang pangeran tampan itu.


Mutia menatap dirinya sendiri lewat pantulan kaca jendela kelasnya dan mendengus kesal.


"Cupu... nggak modis..." gumamnya.


Lalu dia memandang Vin-vin yang berada di dalam kelas. Vin-vin memang cantik makanya mau pakai seragam sekolah pun dia tetap terlihat bak model karena body nya juga bagus.


"Aku... mau pakai baju apa juga tetap cupu..."


"Heh! ngapain Lo! gue nggak bisa lewat tau! dikira jalan milik nenek moyang Lo!" teman sekelas Mutia yang bernama Dodo mencak-mencak karena Mutia terus berdiri di ambang pintu membuatnya tak bisa masuk ke kelas.


"Yee! nggak usah nyolot deh! biasa aja nggak usah ngegas!" balas Mutia nggak kalah keras.


"Lo cewek apa toa sih! suara Lo kenceng amat! lebih kenceng dari pada toa masjid..." Dodo terus mengejek sambil berlari masuk ke dalam kelas.


"Apa Lo bilang? gue kepret ju..." Mutia terdiam, tangan yang tadinya sudah terangkat langsung dia turunkan saat ujung matanya melihat Axel yang ternyata sedang memandang ke arahnya.


"Aduh... parah... nggak ada manis-manisnya gue..." gerutu Mutia sambil menunduk dan berjalan gontai masuk ke dalam kelas.