
3 Tahun kemudian...
"Hallo, Papi, Vin-vin sudah sampai di Bandara. Papa jadi jemput nggak?"
"Iya, ini Papi sudah deket, bentar Vin, macet banget tadi..." Jawab Papi Al sedikit kesal, bukan pada Vincia putrinya, tapi pada kemacetan panjang di jalan yang dia lalui.
"Oh, Okey Pi, nggak apa-apa santai saja. Aku nggak buru-buru kok. Kalau sudah dekat kabari ya Pi, Aku mau cari makanan dekat-dekat sini."
"Ya."
Vin-vin menutup ponselnya dan tersenyum sambil menatap kedua temannya yang terus mengekor inya dari Singapore.
"Okey ledies... kita tunggu Papi aku jemput ya, " ucapnya.
"Cemana kita boleh makan dulu atau minum coffe?" ucap salah satu teman Vin-vin yang memakai kacamata bulat dan rambut tergerai berwarna pink dan ungu.
"lim kopi, let's go!" sahut perempuan lainnya yang rambutnya diikat messy bun.
"Astaga! kalian akan barusan minum kopi!" Vin-vin menepuk jidatnya, heran dengan kelakuan dua temannya. Namun mau bagaimana lagi, mereka langsung saja ngeloyor mencari kafe dan meninggalkan Vin-vin yang masih bengong.
"Dasar cewek-cewek, beban banget sih Lo pada! segala pengen ikut ke Indo!" kesalnya sambil berjalan cepat menyusul dua temannya.
"Hey! Wait for me, lah! berat nih!"
Akhirnya, Vin-vin dan kedua temannya menemukan kafe yang enak untuk duduk-duduk santai. Mereka asyik sambil meminum kopi dan makan beberapa cake manis sambil menunggu kedatangan Papi Al yang ternyata cukup lama.
Vin-vin tampak gelisah dan terus melihat jam tangannya.
"Tak ape lah, Vin. Jakarta kan memang macet. Kita faham," ucap si rambut warna warni.
"Iya, Mi..." jawab Vin-vin.
"Eh, eh. A'i penasaran, cemana boyfriend kamu tuh, sampai kamu tega tolak cinta Liam," si rambut messybun mulai berceloteh.
"Sofia... Aku nggak punya pacar, mantan lebih tepatnya... ah! tak tau lah! jangan di bahas!"
"Uhhh... sepertinya, dia orang masi cinta sama boyfriend nya," ledek Ami-si rambut warna warni.
"Betul betul betul!" jawab Sofia sambil manggut-manggut.
"Heh! Lo orang Singapore bukan orang Malaysia! ngapain jadi Upin Ipin?" ketus Vin-vin kesal.
"Betul itu!" sambung Ami.
Lalu tanpa di komando, mereka berdua, Ami dan Sofia menatap Vin-vin sambil serempak bicara, "betul betul betul," lalu ngakak bersama.
Vin-vin makin cemberut dengan tingkah konyol dua temannya itu.
Sambil menghela napas, Vin-vin menyeruput kopinya. Tatapan matanya kosong dan pikirannya terbang memikirkan Pak Ivan.
Bagaimana kabarnya sekarang? apakah dia masih mengajar di sekolah? atau bahkan sudah menikah?
Vin-vin kembali menghela napas sambil menyeruput kopinya.
Tiga tahun sudah berlalu, Pak Ivan pasti sudah berubah dan dia pasti sudah punya pacar lagi. Nggak mungkin kan, dia bakal memegang kata-katanya saat berpisah di bandara waktu itu?
"Huft..." Lagi-lagi Vin-vin menghela napas.
Jujur, setelah tinggal di Singapura dan berpisah dari Ivan, Vin-vin merasa menyesal. Dia sadar, bahwa dia benar-benar menyukai guru olah raganya itu. Perasaannya bukan sekedar cinta monyet. Vin-vin benar-benar jatuh cinta pada Ivan dan nggak bisa melupakannya, sama sekali!
Walaupun di Singapura sana ada beberapa lelaki yang mendekatinya bahkan menyatakan cinta padanya, namun Vin-vin selalu menolak mereka semua.
Tapi ada satu, lelaki yang pantang menyerah untuk mendapatkan cinta Vin-vin. Dia adalah Liam, lelaki berdarah Cina-Amerika yang sangat tampan. Tubuhnya atletis, karena dia rajin berolah raga, tentu saja dia rajin berolah raga, dia juga sangat pintar dalam memasak, persis seperti Papa Kevin. Wajahnya pun sempurna tanpa cela, sorot matanya tajam, berhidung mancung dan memiliki bibir tipis yang sangat menggoda.
Semua perempuan di sekolahnya, benar-benar memuja Liam dan mereka semua merasa kesal pada Vin-vin yang tega menolak cinta idola mereka.
"Kurangnya apa si Liam itu?" gumam Sofia, dia juga salah satu fans Liam.
"Saya pun penasaran, cemana ex boyfriend Vin-vin ini, kok cinta sangat dia, sampai menolak idola universiti..." timpal Ami.
"Eh, boleh lah, kita kenal dengan ex boyfriend awak," sambung Ami penuh harap.
"Nggak, di mana dia juga, aku nggak tau!" kesal Vin-vin.
"Cuba lah, awak kirim massage. Boleh lah bertemu."
"No way!" ucap Vin-vin tegas.
"Kalau kalian terus-terusan ngomong masalah itu, Aku tinggal nih! biar kalian tersesat di Jakarta." Vin-vin bangun dari duduknya sambil menjinjing tas tangannya.
"Iye! maaf! kita penasaran, je!" Ami langsung menarik Vin-vin agar kembali duduk di kursinya. Dia benar-benar takut, Vin-vin akan pergi meninggalkannya dan Sofia, karena mereka berdua memang belum pernah ke Jakarta sebelumnya, ini kali pertama mereka.
"Eh! eh! gays! ada Sugar Deddy! ada sugar daddy! arah jam dua belas gays!" pekik Sofia, heboh sendiri.
"kalau Sugar daddy macam tu, ai mau lah jadi sugar babby nya. Oh God! cemana lelaki bisa hensam macam tu!" gumam Sofia tak berhenti memuji seseorang yang baru muncul dan masuk ke dalam kafe.
"Mane?" Ami penasaran, dia pun memoleh ke arah yang di tunjukkan mata Sofia.
"Oh My God!" pekiknya. "Very verry hansem!"
"Ck! dasar cewek-cewek genit! nggak boleh liat cowok ganteng dikit!" Dengan jengah Vin-vin pun menoleh, sedikit penasaran memang. Seperti apa sih, lelaki yang kedua temannya hebohkan ini.
Dan saat Vin-vin melihat, pria yang di maksud, dia langsung menjitak kepala dua temannya itu.
"Auch! ape hal, ni!" kesal Ami sambil mengusap kepalanya.
"Why you so like that!"
(kenapa kamu seperti itu -singlish-)
Sofia pun merasa kesal.
"Bokap gue tuh! sembarangan aja Lo pada! gue timpuk juga, Lo!" geram Vin-vin sambil mengangkat tangannya yang menggenggam erat, seakan ingin menonjok kedua temannya.
"A-ape!!!" kaget Sofia dan Ami bebarengan.
"Papi!" Vin menatap Aldrich, dan merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Papinya yang baru datang. Aldrich pun tersenyum dan memeluk putri tercintanya.
Sedangkan Sofia dan Ami hanya melongo, tak percaya.