
Vin-vin terus menarik tangan Pak Ivan, masuk ke sebuah ruangan lalu menutup pintu dengan rapat.
"Di.. dimana ini?" Pak Ivan celingukan, dia terlihat gusar karena berada di ruang tertutup dan hanya berdua dengan Vin-vin.
"Ini ruang kerja khusus Papah Kevin," jawab Vin-vin santai. Dia terlihat sangat senang dan terus memandangi guru kesayangannya.
"Ke.. kenapa?"
Vin-vin tersenyum lalu melepaskan topi baseball yang di pakai Ivan dan melemparnya begitu saja ke sembarang tempat. Lalu melepaskan masker yang menempel erat di wajah tampan sang guru.
"Ja.. jangan di buang.. aku masih butuh itu..." Ivan merebut maskernya dan menyelipkannya di saku celana.
Vin-vin menggigit bibir bawahnya dan terus tersenyum.
Ivan yang merasa sedang di permainkan bocah bau kencur itu pun menjadi kesal, dia menarik napas dalam untuk menghilangkan rasa gugup dan groginya.
"Kenapa kamu bawa Saya ke tempat sepi begini!" Ivan menonyor dahi Vin-vin dengan pelan.
"Aku ingin berduaan saja dengan Pak Ivan..." Vin-vin lagi-lagi tersenyum.
"Jangan lakukan hal seperti ini dengan orang lain! bahaya!" ingat Pak Ivan.
"Nggak mungkin lah, aku cuma berani sama Pak Ivan saja."
"Kenapa? nggak ada takut-takutnya sama Saya? Saya juga lelaki Vin!" Pak Ivan tampak kesal. Dia memang terlihat calm dan seperti tak terpengaruh pada apapun yang Vin-vin lakukan, tapi itu yang terlihat dari luar, dalam hati Ivan dia berusaha mati-matian menahan diri.
Tapi kalau Vin-vin terus memancingnya seperti ini, entah Ivan bisa bertahan berapa lama lagi, dia tak tahu.
"Pak Ivan kan beda, nggak sama kaya cowok lain," ucap Vin-vin sambil mulai membuka paper bag yang di bawa Pak Ivan tadi.
"Apa ini isinya?" tanyanya penasaran.
Ivan hanya tersenyum sambil memandangi murid cantiknya yang sedang berusaha membuka kado yang dia berikan.
Mata Vin-vin terbelalak saat membuka kotak perhiasan warna merah, "jangan bilang ini cincin?"
"Jangan berkhayal."
Vin-vin mencibir, "bikin seneng aja susah banget sih."
Ivan gemas, benar-benar gemas melihat bibir mungil itu mengerucut dengan lancip. Ingin rasanya dia kecup dan dia lum**t dalam-dalam.
Ivan kembali menarik napas, kali ini dia sampai mengangkat tangan ke dada dan mengusapnya perlahan. "Sabar Van..." batinnya.
"Wah, kalungnya cantik banget..."
"Kamu suka?"
"Suka banget! makasih Pak..." Vin-vin langsung memeluk Ivan dengan erat karena sangat bahagia.
"Sini aku pasang," Ivan menjauhkan bahu Vin-vin lalu meraih kalung pemberiannya.
Vin-vin mengangkat rambut hitam panjangnya yang tergerai indah, agar Pak Ivan dapat dengan mudah menyematkan kalung itu di lehernya.
Ivan terdiam sejenak melihat pemandangan indah di depannya. Sebelum Vin-vin mengangkat rambutnya pun Ivan sudah di suguhi pemandangan yang sangat indah, bahu halus seputih susu. Sekarang di tambah dia bisa melihat tengkuk mulus muridnya itu. Jiwa lelaki Ivan bergejolak. Mati-matian dia menahannya.
Dengan susah payah akhirnya Ivan bisa memasangkan kalung itu di leher mulus Vin-vin. Saat berhasil melakukannya, dia baru bernapas lega.
"Cantik?" tanya Vin-vin sambil menyentuh kalung yang ada di lehernya.
"Cantik... sekali..." ulang Ivan.
"Kamu.. harus cepat kembali, jangan sampai semua orang mencari-cari... kan kamu yang punya acara..."
"Aku masih ingin di sini sama Pak Ivan..." Vin-vin kembali memeluk Ivan. Tangannya melingkari pinggang Ivan dengan erat.
"Vin... kalau ada orang datang bagaimana?" Ivan berusaha melepaskan pelukan Vin-vin, namun Vin-vin tak membiarkannya, dia malah makin mengeratkan pelukan.
"Pak Ivan masih punya satu janji yang belum di tepati."
Ivan terdiam, dia tahu apa maksud Vin-vin.
"Bukannya kamu marah sama Saya, Saya pikir kamu sudah nggak mau..."
"Aku masih mau! aku masih nunggu..." ucap Vin-vin menyela.
Ivan tersenyum, dengan perlahan dia menjauhkan bahu Vin-vin agar mata mereka bisa saling bertatapan.
"Kamu serius, masih tetap mau jadi pacar Saya? setelah kejadian kemarin?"
"Saya sudah memperlakukan kamu dengan buruk..."
"Jangan bicara formal Pak! aku nggak suka dengernya!"
Ivan tersenyum lagi. "Aku.. sudah memaksa dan mencium mu kemarin... apa kamu masih mau jadi pacar ku?"
"Sebenarnya bukan ciuman itu yang aku masalahkan, tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi... hati Pak Ivan yang sepertinya belum bisa utuh buat aku, Pak Ivan masih terus mengingat mantan Pak Ivan padahal dia sudah meninggal setahun yang lalu... itu yang membuat aku marah, sedih, kecewa.
Aku ingin hati Pak Ivan hanya menjadi milikku sendiri..."
Cup.
Dengan cepat Ivan mengecup bibir mungil Vin-vin.
"Beri aku waktu ya, aku janji nggak akan lama. Perlahan-lahan aku akan mencoba melupakan Clarina dan hanya akan ada kamu di hatiku," ucap Ivan serius sambil terus menatap manik mata hitam Vin-vin.
"Janji?" tanya Vin-vin lirih. Entah kenapa suara Vin-vin sangat sulit keluar dan tercekat di tenggorokannya. Mungkinkah itu karena ciuman tiba-tiba yang di lakukan Ivan padanya?
"Janji," ucap Ivan sambil menempelkan dahinya di dahi Vin-vin.
"Pak Ivan beneran suka sama aku, atau hanya memenuhi janji aja?"
Ivan menjauhkan wajahnya sambil menatap wajah cantik Vin-vin. "Maksudnya?"
"Ya... siapa tahu Pak Ivan terpaksa, jadi pacarku hanya karena sudah terlanjur berjanji..."
"Terus aku harus apa biar kamu percaya?"
Vin-vin tersenyum nakal sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kan tadi sudah..."
"Cuma nempel... bukan cium namanya..."
Ivan menarik napas, hanya menempel saja sudah sukses membuatnya sport jantung, bagaimana kalau dia menuruti keinginan Vin-vin?
"Jangan sekarang ya? tempat ini membuatku nggak..." belum selesai Ivan bicara, Vin-vin menarik leher Ivan dan mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir itu.
Ivan terkejut, dia tak menyangka mendapatkan serangan mendadak dari murid kecilnya itu.
"Buat aku lupa sama ciuman kasar Pak Ivan waktu itu..." bisik Vin-vin.
Ivan terdiam sejenak, benar juga, ciumannya waktu itu pasti melukai perasaan Vin-vin hingga membuat dia marah dan menjauhinya selama seminggu. Ivan harus bisa menghapus kenangan buruk itu dengan sesuatu yang indah yang tak bisa di lupakan.
Dengan perlahan Ivan mengangkat tangannya, lalu menyentuh pipi Vin-vin, mendekatkan bibirnya dan perlahan mulai mengecupnya dengan lembut.
Vin-vin merasa berbunga-bunga, dia pun mengangkat tangannya untuk memeluk punggung kekar Ivan dan meremasnya dengan lembut.
Ivan melepaskan ciumannya dan menatap Vin-vin yang terlihat masih mengharapkan ciuman dari Ivan.
Ivan tersenyum di kulum, sekarang mereka sudah resmi berpacaran, Vin-vin juga sudah berumur 17 tahun, saatnya Ivan memperlakukannya sebagai pacar yang sesungguhnya.
"Buka sedikit bibirmu..." bisiknya, setelah itu Ivan mulai melum**nya dengan mesra, membuat Vin-vin tanpa sadar melenguh karena mendapatkan ciuman yang begitu mesra dan memabukkan.
Ini adalah ciuman pertama bagi Vin-vin yang benar-benar membuatnya terbang sampai ke langit ke tujuh, Pak Ivan benar-benar lelaki dewasa yang sangat lembut dalam memperlakukan dirinya, dan Vin-vin menginginkan lebih.
Vin-vin mengikuti permainan lidah Ivan, namun tiba-tiba Ivan melepaskan ciuman nya.
"Kenapa?" tanya Vin-vin, dia belum puas, dia masih ingin terus menautkan bibir lembut itu di bibirnya.
"Lagi..." rengeknya sambil melompat-lompat kecil seperti anak kecil yang minta di belikan mainan.
"Sudah cukup Vin..." Ivan berusaha menjauh, hampir saja dia terbawa suasana dan melakukan hal yang lebih jauh lagi. Ini bahaya! dia harus bisa menahan diri!
"Mau lagi..." Vin-vin menarik-narik kaus yang di kenakan Ivan.
"Vin! kalau kamu paksa Saya, mending kita nggak usah lanjutkan hubungan ini!" ancam Ivan.
Vin-vin merengut.
"Sudah, ayo balik ke ruang pesta..." Ivan mendorong bahu Vin-vin agar menjauh darinya. Dengan kesal Vin-vin menurut dan Ivan lega karenanya.
Ivan mengurut dadanya pelan, "bahaya ini anak, bisa bikin aku hilang kendali kalau begini!"