
"My bro!"
Dion menepuk pundak Ivan dengan keras, membuat Ivan terkejut dan tersedak minuman yang akan dia telan.
"Sue Lo! bikin gue jantungan aja!" kesal Ivan.
Bukannya merasa bersalah, Dion malah tertawa lebar. Dia pun duduk persis di sebelah Ivan.
"Tangan Lo udah sembuh? kok gips nya sudah di lepas?"
"Baru di lepas tadi siang, sudah enakan sih..." Ivan menggerak-gerakkan tangannya yang sempat di gips karena kena pukul papan kayu saat di keroyok anak buah Daniel. Sudah tak terasa sakit lagi.
"Kalau gue ketemu Daniel nanti, bakal gue hajar dia! dari awal gue emang sudah nggak seneng sama tingkahnya. Ternyata emang bener dia itu gila, sinting, nggak waras..."
"Sudah lah! males gue ingat orang sinting itu!" Ivan mengibaskan tangannya lalu meminum cola yang ada di depannya.
Mengingat Daniel membuat Ivan teringat akan kata-kata Kepala Sekolah tentang larangan guru yang berhubungan dengan murid. Padahal Ivan dan Vin-vin sudah sedekat ini.
Mau tak mau Ivan harus terus menjalani hubungannya dengan Vin-vin secara sembunyi-sembunyi sampai Vin-vin lulus.
Tapi bisakah Ivan melakukannya? kalaupun Ivan bisa, dia tak yakin Vin-vin akan menurut.
Tadi saja, sebelum berangkat ke sini, Vin-vin sangat agresif saat membalas ciuman Ivan.
Entah bagaimana dia bisa belajar secepat itu saat membalas ciuman Ivan, padahal dulu saat pertama kali Ivan mengecup bibirnya, Vin-vin hanya diam tak memberikan balasan. Sekarang dia sudah sangat pintar dan itu membuat Ivan makin kalang kabut.
"Andai umurmu bukan 17, andai kamu bukan murid ku, aku pasti nggak akan menahan diri!" batin Ivan, dia masih kesal dengan dirinya sendiri yang begitu hebat menahan godaan dari Vin-vin.
"Eh! kok Lo malah ngelamun sih!" Dion mengikut perut Ivan.
Ivan hanya menghela napas sambil mengusap perut yang kena sikut lancip Dion barusan.
"Ada masalah apa Lo? kayak yang lagi mikirin utang negara aja!" Dion terkekeh sambil minum jus jeruknya.
"Kayaknya keputusan gue buat pacaran sama Vin-vin itu salah..." Ivan menatap gelasnya.
"Kenapa? ada apa?" Dion tampak serius menatap sahabatnya yang terlihat murung.
"Gue bingung..."
"Bingung bagaimana?! kalau ngomong jangan setengah-setengah woi! bikin penasaran aja Lo njir!"
"Bingung mau gimana kalau gue lagi pengen," Ivan terkekeh sendiri.
"Bangs*t! gue kira kalian lagi ada masalah apa!"
Ivan tergelak sambil memegangi perutnya karena berhasil mengerjai Dion.
"Lo bilang begitu,lah bagaimana gua yang belum ada pacar!"
"Pacaran aja sama pohon pisang!" jawab Ivan sambil melanjutkan tawanya.
"Sahabat macam apa Lo! bukannya cariin cewek buat gue!" Dion menggigit kentang goreng dengan kesal.
"Gue kapok comblangin Lo! gagal mulu! kaya dulu sama Rissa..." Ivan langsung terdiam.
"Shittt!!! kenapa gue ngomongin dia!" gerutu Ivan sambil memijat pelipisnya.
Dion terkekeh, "kayaknya Lo sudah lebih baik dari pada dulu! dulu mulut Lo sama sekali nggak bisa nyebut nama Rissa. Vin-vin benar-benar sudah nyembuhin sakit di hati Lo!"
Ivan menggeleng pelan, "gue masih nggak bisa... gue belum bisa lupa semuanya.Tapi memang Vin-vin sudah buat gue sedikit melupakan kejadian dulu. Dia sudah bikin gue happy..."
Ivan menoleh untuk menatap sahabatnya, "Rissa masih hubungi Lo?"
"Thanks bro! tolong rahasiakan tempat tinggal gue dari dia dan yang lainnya ya."
"Tenang aja, Lo aman. Dia nggak bakal bisa temuin Lo!" Dion menepuk pundak Ivan perlahan.
Dion merasa kasihan pada sahabatnya ini, dengan susah payah Ivan memulai hidupnya kembali dan melupakan masa lalu pahitnya perlahan-lahan. Untunglah Ivan bertemu Vin-vin. Vin-vin benar-benar menjadi obat untuk luka hati Ivan.
Dion ikut bahagia melihat sahabatnya sudah bisa move on dari masa lalu.
"Ngomong-ngomong Vin-vin tahu kalau Rina itu sudah meninggal?"
Ivan mengangguk, "dia tahu... tapi hanya sebatas itu," jawab Ivan lirih.
"Memang hanya itu! memangnya ada apa lagi?! Lo nggak usah dengerin omongan Rissa! semuanya sama sekali bukan salah Lo! Lo pantas hidup bahagia sekarang dan lupakan masa lalu itu! Rina dan Rissa hanya masa lalu!"
Ivan mengangguk pelan sambil menatap gelas minumannya yang sudah kosong.
"Oh ya, ngomong-ngomong..." Dion sengaja menggantungkan ucapannya hingga membuat Ivan menoleh dan menatapnya dengan penasaran.
"Lo sudah ngapain aja sama si imut itu? jangan bilang Lo sudah jebol gawang..."
"Jaga omongan Lo! gue nggak bakal macam-macam sama Vin-vin sampai waktunya nanti. Dia masih sekolah, baru umur 17. Gue nggak mau rusak anak gadis, apalagi sekarang gue itu guru! nggak boleh sembarangan!"
Dion mencebik, "serius amat sama si bocah! perasaan dulu sama Rina nggak se-protektif ini deh, Lo nggak pernah mikir jauh."
"Beda lah Yon, Vin-vin itu beda..." Ivan tersenyum penuh arti.
"Diih... yang lagi jatuh cinta! merinding gue lihat muka Lo!"
"Kenapa emangnya muka gue? ganteng?" Ivan terkekeh.
"Anjiir!" kesal Dion.
Ivan tertawa terbahak bahak. Nongkrong dengan Dion memang selalu Asik, makanya persahabatan mereka sangat awet. Hampir sepuluh tahun Ivan bersahabat dengan Dion. Dion adalah orang yang sangat bisa di percaya dan sangat loyal dengan sahabat. Itulah sifat yang sangat Ivan suka.
Dion lah yang selalu di sampingnya dan memberi semangat saat Ivan terpuruk karena kejadian tak enak di masa lalu.
Ivan berhutang banyak pada sahabatnya yang satu ini.
"Hai... boleh kenalan nggak?" seorang wanita cantik mendekati Ivan dan tersenyum manis padanya.
Ivan dan Dion serempak menoleh dan menatap si wanita cantik bergaun **** dengan warna merah menyala.
"Gue dari tadi perhatiin Lo berdua, asyik banget jadi pengen ikut gabung." Tanpa di persilahkan, si wanita tadi langsung duduk di sebelah Ivan.
"Nama gue Amara, nama Lo siapa?" tanyanya sambil tersenyum manis pada Ivan.
Ivan memang terlihat sangat tampan, makanya Vin-vin kesal saat tahu Pacarnya ini akan nongkrong dan takut akan ada wanita yang menggodanya. Ternyata kekhawatiran Vin-vin menjadi nyata.
"Nama gue Dion," jawab Dion. Dia tampak tertarik dengan Amara, namun dia paham jika incaran Amara itu Ivan bukan dirinya.
Amara tersenyum sambil menatap Dion sekejap lalu kembali menatap Ivan yang masih terdiam.
"Dia nggak bakalan berani kenalan sama cewek, istrinya bisa ngamuk nanti," ucap Dion sambil tersenyum di kulum.
"UPS, sudah ada yang punya ternyata. Sorry ya, gue cabut dulu..." Amara langsung bangkit dari duduknya. Dia enggan melanjutkan rencananya untuk mendekati Ivan.
"Tapi gue masih single," ingat Dion, namun Amara tak peduli. Dia tetap berjalan menjauh.
"Hmmm... dasar cewek!"
Ivan hanya terkekeh melihat kekecewaan di wajah sahabatnya.