
Ivan melajukan motornya dengan cepat, terlalu cepat hingga Vin-vin merasa sedikit ketakutan.
Dia memeluk pinggang Ivan dengan erat.
"Pak! bisa pelan sedikit nggak?" pinta Vin-vin, dia sudah tak tahan lagi.
Ivan tak bergeming, dia tetap menatap lurus ke depan dan memicu motornya lebih cepat lagi.
"Pak!!" teriak Vin-vin.
Ivan pun melambatkan laju motornya, dia tahu Vin-vin ketakutan.
"Aku mau turun," pinta Vin-vin.
Tanpa bersuara, Ivan menepikan motornya dan berhenti di pinggir jalan.
Setelah motor berhenti, Vin-vin langsung turun lalu membuka helm nya dan menatap Ivan dengan kesal.
"Pak Ivan mau aku mati ya?! kok ngebut gitu bawa motornya!"
Ivan masih diam, dia tak menoleh ke arah Vin-vin sama sekali, matanya tetap lurus ke depan, bahkan helm nya masih menempel di kepalanya dengan kaca yang tertutup rapat.
"Pak..." Vin-vin menyentuh lengan Ivan yang masih lurus memegangi stang motor.
"Pak Ivan masih marah?"
"Masih lah! harusnya gue injak kepalanya, bukan dadanya!" Ivan memukul motornya sendiri karena kesal.
"Sudah lah, jangan marah..."
"Mana mungkin nggak marah! coba kalau aku terlambat sedikit saja..." Ivan tak melanjutkan ucapannya, dia tak berani membayangkan apa yang akan terjadi jika dia benar-benar terlambat.
"Sial!!!" umpatnya kesal.
"Yang penting kan nggak terjadi apa-apa, aku selamat, Pak Ivan datang tepat waktu."
Ivan mendesah sambil memandangi Vin-vin dari atas kepala hingga ujung kaki.
Pacarnya ini tidak memakai pakaian sekksi yang mengundang pikiran negatif pria hidung belang.
Vin-vin hanya memakai sweater yang besar dan skinny jeans serta sepatu kets.
sangat biasa, tapi memang wajah imut dan menggemaskannya selalu menarik perhatian setiap lelaki di sekitarnya walaupun dia tak menonjolkan dirinya.
Ivan jadi kesal sendiri, mulai sekarang dia harus benar-benar menjaga pacar kecilnya ini, nggak boleh meleng sedikitpun.
"Cepat naik, aku ingin cepat-cepat mengantar kamu pulang," ucap Ivan dengan masih menyimpan dongkol di harinya.
"Tapi jangan ngebut..."
Ivan menarik napas panjang lalu mengangguk.
Vin-vin tersenyum puas, lalu dengan segera naik ke jok belakang motor Ivan dan melingkarkan tangannya di perut sixpack Ivan.
Tak seperti biasanya, Ivan malah mengelus punggung tangan Vin-vin dan menggenggam nya sekejap sebelum mulai melanjutkan perjalanan.
Vin-vin tersenyum senang dengan sikap Ivan yang mulai menunjukkan perhatian kepada dirinya, dalam hati Vin-vin merasa bersyukur dengan kejadian buruk barusan.
Karena kejadian itu, sedikit demi sedikit, Ivan merubah sikap dinginnya saat mereka berduaan.
"Kita mau mampir ke mana dulu?"
"Nggak ada mampir mampir! kita langsung pulang!" Kesal Ivan sambil mencubit langan Vin-vin yang melingkari perutnya.
"Ah... sakit Pak..."
"Sudah di kancing helmnya?" tanya Ivan sebelum mulai melajukan motornya.
"Sudah," jawab Vin-vin ceria.
Ivan pun mulai melajukan motornya dan mengantarkan Vin-vin pulang ke rumahnya dengan selamat.
***
"I'm beggin', beggin' you...
so put your loving hand out baby..." Vin-vin menyanyi-nyanyi dengan ceria dari dalam kamar mandi.
Pagi ini, dia bangun dengan perasaan yang sangat bahagia. Yah walaupun kakinya terasa begitu pegal karena harus duduk di atas motor dengan jarak yang cukup jauh.
Tapi Vin-vin tetap bahagia, karena dia bersama kekasih hatinya.
Vin-vin melihat pantulan dirinya di cermin sambil memegangi kalung emas berwarna putih dengan inisial namanya.
Dia tersenyum lagi.
"I'm beggin', beggin' you...." Vin-vin kembali bernyanyi sambil melanjutkan aktivitas paginya di kamar mandi.
.
"Anak Mamah ceria sekali pagi ini.. ada kejadian yang bikin kamu seneng ya?" Mama Luci menggoda anak sulungnya yang nampak ceria pagi ini.
"Harus seneng dong..." Vin-vin mengambil sehelai roti tawar dan mengoleskan selai kacang di atasnya.
"Mau sarapan apa sayang?" tanya Mama.
"Nggak usah Ma, aku makan ini aja," Vin-vin menunjukkan rotinya lalu melahapnya dengan cepat.
"Papi mana?" tanyanya sambil celingukan.
"Ada yang manggil Papi?" Tiba-tiba Papi Al muncul dan duduk di sebelah anak perempuannya.
"Ada apa?"
"Papi, belikan aku motor matic dong," Vin-vin bergelayut manja pada Papi nya.
"Buat apa?"
"Buat berangkat sekolah... buat main... kalau pulang sekolah mau belajar kelompok aku selalu bingung cari tebengan, kasihan kan? ya Pi? boleh ya?"
Papi Al tampak berpikir, "memangnya kamu sudah nisa naik motor?"
Vin-vin memandang Papi nya, "belum, nanti aku kan bisa belajar."
"Iya, nanti Papi belikan motor matic buat kamu. Tapi ingat jangan jadi lupa pulang ke rumah!"
"Siap Bos!" Vin-vin tersenyum lebar. Dia sangat senang karena Papi nya akan membelikannya sebuah motor. Vin-vin bisa datang ke apartemen pacar nya setiap kali dia menginginkannya.
"Ayo Pi, kita berangkat." Vin-vin langsung beranjak dari duduknya sambil menyambar tas ranselnya.
"Ayo Papiii..." teriak Vin-vin karena Papinya belum juga beranjak dari duduknya.
Papi Aldrich yang sedang mencium pipi istrinya langsung cemberut, "dasar suka ganggu aja..." gumamnya sambil pura-pura cemberut.
Mama Luci hanya tersenyum sambil mencubit perut rata suami tampannya.
"Hati-hati Al..."
Aldrich berlalu sambil melambaikan tangannya.
.
"Vin-vin...!" Mutiara berlari mendekati sahabatnya saat dia melihatnya sedang berjalan sendirian di koridor sekolah.
"Duh senengnya yang udah 17 tahun... dapat kado istimewa apa nih dari Pak Ivan?' lanjut Mutia sambil berbisik.
"Ada deh, mau tau aja." Vin-vin tersenyum puas.
Mutia memandangi sahabatnya dan mengernyit heran, "kok kamu jalannya gitu?"
"Kenapa memangnya?"
"Kok jalanmu agak ngangkang? memangnya kamu abis ngapain? Pak Ivan nggak ngelakuin hal yang kelewat batas kan?"
"Gila ya!! nggak mungkin lah!" Vin-vin langsung mencak-mencak.
"Terus kenapa itu, ayo jelaskan?!" Mutia menghilangkan tangannya di dada sambil menatap Vin-vin dengan curiga.
Mutia berpikir, sahabatnya ini memang cantik dan banyak yang menyukainya. Namun pengalaman untuk berpacaran dia tak punya sama sekali. Mutia takut Vin-vin melewati batas dalam berpacaran, secara Pak Ivan kan pria dewasa.
"Kemarin aku ke puncak sama Pak Ivan naik motor," bisik Vin-vin.
"Apa?! ke pun..."
Vin-vin langsung membekap mulut Mutia.
"Stttt!!! bisa nggak sih nggak usah seheboh itu!" Vin-vin kesal jadinya
"Nekat kalian berdua? baru jadian sudah ke puncak! kamu itu baru 17 tahun. Hidup kamu masih panjang, apa kamu mau semuanya hancur gara-gara kamu hamil dan nggak bisa lanjutin sekolah."
"Apaan sih Mut? pikiranmu terlalu berlebihan! aku sama Pak Ivan nggak ngapa-ngapain! aku cuma naik motor nya dalam waktu lama bikin kaki ku pegel!"
"Beneran cuma itu?" Mutia melirik sinis tak percaya.
"Demi Tuhan!"
"Bagus lah kalau kamu masih bisa berpikir dengan normal."
"Gila ya.. kamu pikir aku cewek apaan..." Vin-vin kesal sambil menyusul sahabatnya yang sudah jalan duluan di depan dan mendahuluinya.
"Hai Vin-vin... wah dapat kado ultahnya apa tuh, kok sampai jalannya aneh," ucap seseorang yang berpapasan dengan Vin-vin di koridor sekolah.
"Gila ya! aku nggak ngapa-ngapain!!!" Teriak Vin-vin kesal.