Oh My Teacher

Oh My Teacher
Ijin Mama


"Mah..."


Lucia, Mama Vin-vin menoleh melihat anak gadisnya yang sedang duduk di sampingnya. Kalau nada suaranya manja begini pasti ada sesuatu yang dia inginkan.


"Kenapa sayang?"


"Besok kan malam minggu, ada temennya temen aku mau nikahan, aku boleh ya datang ke sana."


Lucia menatap Vin-vin dengan heran, "temen nya temen kamu? nikah? memangnya umur berapa?"


"Ya... sudah cukup umur deh Mah," jawab Vin-vin sedikit gugup. Dia lupa kalau Pak Ivan kan orang dewasa, masa dia bilang temannya.


"Di mana acaranya?"


"Di gedung A."


"Ya udah nanti minta Papi anter kamu ke sana."


"Nggak, nggak perlu. Aku kan nanti pergi sama temen ku juga."


"Siapa?"


"Eemm.. itu.. Pak Ivan," jawab Vin-vin lirih.


Lucia menatap anaknya penuh selidik, "Pak Ivan? siapa dia? Mama kenal?"


"Pak Ivan itu... guru Olah raga Vin-vin di sekolah..." jawab Vin-vin makin lirih.


"Guru olah raga itu bukannya Pak Joko?"


"Pak Joko sudah pensiun, di ganti sama Pak Ivan... Vin-vin sedang dekat sama Pak Ivan," Vin-vin tertunduk, wajahnya memerah.


"Berapa umur Pak Ivan?" Lucia menatap putri cantiknya makin intens.


"Emmm... sekitar duapuluh lima..."


Mama Lucia terdiam sambil terus menatap anak gadisnya yang semakin menunduk.


"Boleh ya Mah?"


"Bilang sama Papi," jawab Mama Luci, dia bingung mau memberi ijin atau tidak pada anak gadisnya itu.


"Vin-vin janji nggak akan pulang terlalu malam. Please ya Ma?"


"Bilang sendiri sama Papi."


"Iya nanti aku bilang, tapi mama bantuin ngomongnya..." Vin-vin menatap Mama nya dengan tatapan memelas meminta di bantu.


"Tergantung, Mama mau ketemu dulu itu yang namanya Ivan."


Vin-vin terdiam, bagaimana caranya agar Mama nya mengijinkan dia pergi? apakah Pak Ivan mau datang ke rumah untuk meminta ijin ke Mama dan Papinya?


"Nanti aku coba bilang ke Pak Ivan ya Ma," ucap Vin-vin sambil mendesah pasrah.


"Kalau dia orang baik-baik pasti nggak akan keberatan untuk datang dan pamit ke Mama dan Papi."


Vin-vin mengangguk dan berjalan perlahan menuju kamar tidurnya.


Dia merebahkan tubuhnya di ranjangnya yang empuk lalu melirik jam yang ada di dinding.


"Baru jam 8 malam, kayaknya Pak Ivan belum tidur. Coba aku hubungi ah..." gumamnya sambil meraih ponsel dan menekan nomer telpon guru pujaannya.


'Pak Ivan...' tulisnya mengawali chat.


'Kenapa?'


Vin-vin tersenyum melihat balasan dari Pak Ivan yang sangat cepat.


'Besok jadi kan? Pak Ivan jemput aku jam berapa?'


'Jam 7.'


Vin-vin mulai mengetik tapi kemudian di hapus, lalu dia mengetik lagi dan di hapus lagi. Dia bingung bagaimana caranya meminta Oak Ivan agar mau masuk ke rumahnya dan meminta ijin ke Mama dan Papinya.


'Kenapa? kok g jadi terus?' tulis Pak Ivan, nampaknya dia penasaran karena Vin-vin terus menerus menghapus pesannya sebelum di kirim.


'Pak Ivan besok ketemu Mama sama Papi ya, buat minta ijin.'


Vin-vin menatap layar ponselnya, dari tadi Pak Ivan selalu menjawab dengan cepat chat darinya, namun sekarang dia begitu lama menjawab walaupun chatting nya sudah di baca sedari tadi.


Vin-vin khawatir jika Pak Ivan enggan meminta ijin pada orang tuanya. Nanti buntut-buntutnya malah Pak Ivan tak jadi mengajaknya ke acara pernikahan teman SMA nya itu.


Bunyi pesan masuk membuat jantung Vin-vin berdebar kencang. Dia takut Pak Ivan akan menolak.


Dengan tangan sedikit gemetar, dia meraih ponselnya dan memejamkan mata. Membuka sedikit demi sedikit kelopak matanya untuk membaca balasan dari guru pujaannya.


'Ya.'


Vin-vin langsung melambung terbang ke langit ke tujuh karena bahagia.


Ternyata Pak Ivan memang lelaki sejati. Tadinya Vin-vin mengira Pak Ivan akan menolak dan nggak perduli dengan kegundahan hatinya, namun semua itu salah.


"Pak Ivan... I Love U..." Vin-vin membenamkan wajahnya di bantal sambil meneriakkan kata-kata itu.


"Oh iya!" Vin-vin teringat dan dengan cepat bangun dari tidurnya kemudian berlari menuju ruang TV untuk menemui Mama nya.


"Mah, besok temani Vin-vin ke butik Tante Shanty ya. Pilih baju buat kondangan," lalu Vin-vin berlari kembali masuk ke dalam kamarnya.


Mama Luci hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tingkah anak gadisnya yang sedang jatuh cinta.


"Suka dengan gurunya? bagaimana Al akan menanggapinya ya?" gumam Mama Luci sambil tersenyum sendiri.


...***...


"Tante Shanty..." Vin-vin berteriak memanggil teman baik Mamanya yang memiliki butik yang cukup terkenal.


"Eh, ada ponakan cantik." Seorang wanita cantik berambut pendek mendekati Vin-vin dan memeluknya.


"Ke sini sama siapa?"


"Sama Mama, itu Mama..." Vin-vin menunjuk Mama nya yang baru saja masuk ke dalam butik.


"Luci..." Tante Shanty melepaskan pelukannya dari Vin-vin lalu mendekati Luci kemudian(⁰ memeluknya dengan erat. Tante Shanty dan Mama Lucy memang berteman baik sejak Vin-vin masih kecil.


"Ada angin apa nih, sampai-sampai kalian berdua datang ke butik tanpa pemberitahuan dulu."


"Itu si Vin-vin nanti malam mau ada acara resepsi pernikahan, minta cari gaun yang bagus," ucap Mama Luci.


"Mau gaun yang kayak apa sayang?" tante Shanty langsung menatap keponakan cantiknya.


"Pilihkan ya Tante..."


"Oke, ayo ikut," Tante Shanty mengajak Vin-vin menuju lemari pajangan yang terdapat gaun-gaun keluaran terbaru yang sangat cantik.


"Shan..." panggil Mama Luci.


Tante Shanty menoleh, "iya aku tahu, jangan ****!"


Mama Luci mengacungkan jempolnya lalu mulai sibuk membaca majalah fashion yang ada di atas meja.


"Tan..." Vin-vin berbisik.


"Carikan aku gaun yang membuat lelaki dewasa makin jatuh cinta."


"Waaahhh... ponakan tante jatuh cinta sama lelaki dewasa kah?" goda Tante Shanty.


Vin-vin mengangguk sambil tersenyum malu.


"Harusnya sih pake yang ****, tapi Mama sama Papi mu yang cerewet pasti nggak bakal setuju," Tante Shanty mengusap dagunya sambil memperhatikan gaun-gaun miliknya yang terpajang di depannya.


"Nah, ini saja."


"Mana?" Vin-vin langsung antusias mendekati Tantenya untuk melihat gaun seperti apa yang di pilihnya.


Mata Vin-vin berbinar bahagia saat melihat gaun yanng di pilihkan Tantenya.


Off shoulder dress warna biru tua dengan bawahan melebar yang sangat cantik, cocok untuk gadis muda seperti Vin-vin.


"Aku mau ini Tan," ucap Vin-vin girang.


Dia tak bisa bayangkan bagaimana terpananya Pak Ivan nanti saat melihat dirinya.


Vin-vin benar-benar sudah tak sabar rasanya.


"Pak Ivan pasti terpesona.." gumam Vin-vin.


"Pasti lah, ponakan tante cantik begini. Sini Tante pilihkan aksesoris dan sepatu yang cocok," Tante Shanty mengajak Vin-vin ke rak pajangan sepatu.


"Pokoknya malam ini kamu bakal tampil spektakuler, sampai pasanganmu melongo."


"Aaahh.. Tante..." Vin-vin merona.