Oh My Teacher

Oh My Teacher
I Luv U, Vincia.


"Sial!" Umpat Daniel sambil terus memperhatikan nomor lantai yang ada di bagian atas pintu lift. Dia menunggu untuk tau, di lantai berapa yang Rissa tuju.


"Ayo! cepat!" gumamnya tak sabar sambil terus memperhatikan lampu lift.


Entah kenapa, pada awalnya dia setuju bersekongkol dengan Rissa untuk menjauhkan Vin-vin dan Ivan. Namun yang ada di pikiran Daniel adalah penderitaan Ivan saat berpisah dengan Vin-vin, bukan penderitaannya yang harus berpisah dengan Rissa.


Jika tujuan Rissa berhasil, dan dia mendapatkan Ivan, bukankah Daniel yang rugi sendiri karena sudah tak bisa lagi bersenang-senang dengan Rissa?


Daniel menggelengkan kepala, "Nggak! nggak bisa! Ivan nggak boleh sama Rissa! gue pengennya Ivan menderita sendiri! bukan malah jadi dekat dengan Rissa!" gumamnya sambil masuk ke dalam Lift dan menekan tombol lantai yang menjadi tujuannya.


Rissa berhenti di lantai 1. Berarti jika bukan di lobi, dia pasti ke restoran. karena di lantai satu hotel ini terdapat restoran.


Dengan sedikit berlari, Daniel keluar dari lift dan mulai mencari keberadaan Rissa. Dan benar saja, dia melihat Rissa sedang duduk di dalam restoran, sambil melingkarkan tangannya di lengan Ivan. Rissa tampak tersenyum bahagia.


Mungkinkah mereka akhirnya bersama?


"Nggak bisa! gue belum puas sama Rissa! gue masih pengen menikmati tubuhnya!" batin Daniel.


Tanpa berpikir panjang, Daniel mengirim sebuah pesan suara pada Ivan.


Ya, walaupun sudah bersekutu dengan Rissa, Daniel merasa harus mempunyai pegangan agar dirinya bisa menyelamatkan diri jika terjadi sesuatu. Daniel selalu merekam ucapan Rissa, agar bisa menjadi bukti jika suatu saat di butuhkan.


"Kalau dengar ini, Lo pasti bakal ngejauhin Rissa! Rissa bakal jadi milik gue lagi!" gumam Daniel sambil memperhatikan gerak gerik Ivan dan Rissa dari kejauhan.


*


"Ngapain orang satu ini kirim pesan? pesan suara pula!" gumam Ivan sambil memperhatikan ponselnya.


"Van... kok Lo ngelamun?" tanya Rissa manja, dia bahkan merebahkan kepalanya di bahu Ivan.


Ivan menggeser duduknya, agar Rissa tak seenaknya menyandar di bahunya, Ivan benar-benar merasa risih. Lalu dia mendekatkan ponselnya ke telinga untuk mendengar pesan suara yang di kirim oleh Daniel.


Ivan benar-benar penasaran, karena menurutnya, Daniel bukan lah orang yang dekat bahkan sampai mengirimkan pesan suara. Bukankah dia dan Daniel berselisih paham beberapa waktu lalu?


"Gue penasaran, kok Ivan dulu bisa ngelakuin itu sama, Lo?" terdengar suara Daniel dari pesan suara yang Ivan dengar. Sontak Ivan mengatupkan rahangnya, dia marah saat tau ternyata Rissa benar-benar bermulut ular. Dengan mudahnya dia menceritakan hal memalukan itu kepada semua orang.


"Minuman dia, gue kasih obat perangsang. Yang super kuat... hahaha..."


Ivan mengepalkan tangannya saat mendengar suara Rissa yang begitu lepas tanpa beban. Dia membicarakan aibnya dengan begitu bahagia, benar-benar wanita gila!


"Nggak mungkin ada yang bisa mengelak dari pengaruh obat itu, walaupun orang alim sekalipun..." Lalu terdengar suara Rissa yang tertawa. Ivan makin naik pitam.


Tanpa sadar, Ivan mendorong kepala Rissa dengan kasar, hingga Rissa terkejut dan hampir terjatuh.


"Kenapa sih, Van?" kaget Rissa.


"So-sorry. Gue... mau ke rumah Lo, buat ketemu orang tua Lo. Lo bisa temenin kan?" ucap Ivan setenang mungkin, padahal di dalam dadanya bergemuruh emosi yang sebentar lagi bakal meledak.


Rissa terbelalak tak percaya, dia yakin Ivan ingin membicarakan masa depan mereka berdua dengan orang tuanya, "ayo, kapan kita berangkat?" ucap Rissa dengan cepat. Tentu saja dia tak akan membiarkan kesempatan emas itu berlalu begitu saja.


"Besok pagi kita berangkat," jawab Ivan sambil bangun dari duduknya.


"Gue mau pulang! istirahat, perjalanan ke rumah orang tua Lo kan lumayan panjang."


"Istirahat di sini aja, biar aku temani, ya? nanti aku kasih pijatan spesial ku..."


Ivan menghentakkan tangan Rissa hingga dia melepaskan genggamannya, "Nggak perlu!" Lalu dengan cepat, Ivan berjalan menjauhi Rissa.


Saat sedang berjalan cepat, dia mengambil ponselnya dan menelpon Dion.


"Yon!"


"Eh, bro! gimana? Lo di mana? gue ke apartemen tapi Lo nggak ada," jawab Dion cepat.


"Besok, Lo temenin gue ke rumah orang tua Rina, ya?"


"Lo... mau apa? mo ngelamar Rissa?!"


"Kita lihat saja, besok." Lalu Ivan mematikan sambungan telponnya. Setelah itu, Ivan mencoba menelpon Vin-vin, tapi seperti yang dia duga, Vin-vin tak mau mengangkat telponnya.


Akhirnya Ivan memutuskan untuk mengirim pesan pada Vin-vin.


'Besok aku pergi, hanya beberapa hari. Setelah itu kita bicara lagi. Aku harap, kamu mau mendengarkan penjelasanku.'


'I luv u, Vincia.'


Cukup lama, Ivan memandangi pesannya, yang akhirnya bercentang biru namun tak di balas sama sekali.


Ivan mendesah, "Setelah semua ini selesai, kita akan bersama lagi, Vin. Aku nggak akan lepaskan kamu, walau harus berlutut sekalipun..." gumam Ivan, tatapannya terlihat sendu. Dia sudah sangat merindukan kekasih kecilnya yang sangat cerewet dan suka ngambek itu. Sungguh, keadaan ini membuat hati Ivan sakit dan pedih.


Vin-vin bagaikan candu kebahagiaan baginya dan Ivan tak ingin kehilangan dirinya. Tak akan!


*


Vin-vin membaca pesan dari Ivan dan menghela napas. Dia memang sangat menyukai gurunya itu, dan merasa sangat kesal pada dirinya sendiri karena masih saja menyukai Pak Ivan, walaupun sudah di perlakukan seperti ini.


"Vin! kamu itu sama sekali nggak dianggap sama Pak Ivan! jangan bodoh! mana ada orang pacaran tapi nggak ada kejujuran di dalamnya!" gerutu Vin-vin.


"Mungkin jika Rissa tak muncul dan tak mengatakan semuanya, sampai mati juga Pak Ivan nggak bakalan cerita masa lalunya!" geram Vin-vin.


"Aku nggak mau kaya orang bego!" Vin-vin memukul bantalnya dengan keras, lalu bangun dari tidurannya dan berjalan keluar untuk menemui Mama dan Papi Al yang saat ini sedang berada di ruang makan.


"Ma, Pih... Vin-vin pengen pindah sekolah!"


Mama Luci dan Papi Al, tersentak kaget dengan ucapan anak gadisnya itu. Papi Al bahkan hampir tersedak karena dia sedang meminum jus Apel buatan istrinya.


"Pindah sekolah kemana?" tanya Papi Al, yang masih tampak kaget.


"Ke Singapore, ke sekolah masak tempat Papah Kevin dulu."


"Apa!"