Oh My Teacher

Oh My Teacher
Persiapan hati.


Ivan sengaja melambatkan langkahnya saat keluar dari area parkir motor, dia sengaja menunggu Vin-vin.


Kemarin sebenarnya dia hendak menyusul Vin-vin setelah Vin-vin pergi dengan marah-marah. Namun kepalanya masih sangat pusing, saat mencoba berdiri dia bahkan langsung sempoyongan dan jatuh terduduk. Akhirnya Ivan mengurungkan niatnya untuk menyusul Vin-vin.


Saat Ivan mencoba menelpon Vin-vin beberapa kali selalu di reject oleh  muridnya itu. Ivan jadi benar-benar merasa bersalah. Dia tak sengaja, dia juga tak tahu kenapa hari itu dia begitu merindukan Clarina dan merasa bersalah padanya karena hatinya sudah mendua pada murid manis yang selalu muncul di sekitarnya dan mengganggunya.


Ivan celingukan mencari sosok yang manis yang selalu tersenyum padanya, tapi tak jua dia temukan. Sampai akhirnya muncul sebuah motor matic besar warna putih milik Axel, namun sosok Vin-vin pun tak bersama dengannya.


Ivan jadi khawatir, mungkinkah terjadi sesuatu dengan Vin-vin?


“Xel!” Panggil Ivan pada murid yang juga saingannya itu.


Axel menoleh ke arah Ivan sambil mengerutkan alisnya, dia merasa aneh, kenapa guru olahraganya itu memanggilnya?


“Kenapa pak? Ada perlu apa dengan Saya?” tanyanya malas.


Ivan berjalan mendekati Axel, dia tak mau bicara terlalu keras dan di dengar oleh orang lain.


“Vin-vin nggak bareng kamu?” tanyanya dengan suara lirih, takut ada yang mendengar.


“Nggak!” jawab Axel ketus lalu dia berlalu begitu saja meninggalkan guru nya. Bukannya tak punya sopan santun pada seorang guru, tapi Axel nggak pernah menganggap Ivan sebagai guru, dia menganggap Ivan sebagai saingan cintanya dalam mendapatkan hati Vin-vin.


“Xel,” Ivan coba meraih tangan Axel, “dia baik-baik saja kan?”


Axel menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah gurunya dengan tatapan menyelidik, “memangnya Vin-vin kenapa? Ada apa dengan kalian?”


“Itu..” Ivan tampak gelisah, dia menunduk dan mengusap lehernya beberapa kali. “Nggak terjadi apa-apa, hanya saja Saya nggak bisa menghubungi dia dari kemarin.”


“Pak Ivan pasti sudah buat salah ke Vin-vin. Sepanjang yang Saya tahu, Vin-vin itu nggak pernah mendendam dan nggak pernah marah sampai berlarut-larut. Dia sangat pemaaf dan ceria dan selalu melupakan hal-hal nggak penting. Kalau dia sampai tak mau di hubungi oleh Pak Ivan, berarti Pak Ivan sudah berbuat sesuatu yang membuatnya sangat marah.”


Ivan terdiam.


“Ck!” Axel berdecih lalu melepaskan genggaman tangan Ivan di pergelangannya, kemudian dia berjalan menjauhi gurunya yang masih termenung di tempat.


Sesaat sebelum mengambil ponsel yang di simpan di saku baju OSIS nya, Axel melirik gurunya, meyakinkan dirinya jika gurunya tak melihat dia hendak menelpon Vin-vin.


Mendengar ucapan Ivan, Axel pun jadi ikut khawatir. Bagaimanapun hubungan persahabatan dirinya dan Vin-vin sudah berjalan sangat lama. Axel tak mungkin diam saja saat Vin-vin sedang dilanda masalah.


“Halo?” axel merasa lega saat telponnya di angkat pada dering pertama oleh Vin-vin.


“Ada apa Xel?” tanya Vin-vin. Nada suaranya biasa saja, dan itu membuat Axel merasa bertambah lega.


“Kamu di mana? Berangkat sekolah kan?”


“Hari ini aku ijin nggak berangkat sekolah Xel, kepalaku pusing. Semoga saja besok aku sudah bisa berangkat.”


“Kenapa pusing? Kamu sakit apa?”


“Nggak apa-apa kok, kayaknya semalam kurang tidur aja...”


“Kamu... lagi ada masalah sama Pak Ivan?” tanya Axel hati-hati. Dia sedikit penasaran juga.


“....”


“Vin?’


“Eh? Eemm... nggak kok, Cuma lagi kepengen istirahat aja di rumah. Udah dulu ya Xel. Aku ngantuk.” Dan Vin-vin pun langsung mematikan telponnya.


Axel menatap ponselnya yang sudah mati, lalu menarik napas dan melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti. Tapi bukan berjalan menuju ke arah kelasnya sendiri, dia justru berjalan menuju kelas Vin-vin. 


“Mutia!” panggil Axel sambil mendekati sahabat Vin-vin yang sedang asyik menulis di meja nya, sepertinya dia sedang mencontek tugas lagi, seperti biasa.


Melihat lelaki pujaannya mendekat, dengan segera Mutiara menutup buku tugasnya, dia takut Axel tahu kebiasaannya yang suka mencontek tugas sekolah. Padahal Axel sendiri tentu saja sudah tahu.


“Ada apa Xel?”


“Nanti pulang sekolah, kita ke rumah Vin-vin yuk. Kamu ada acara nggak?” tanya Axel sambil duduk di samping Mutiara.


“Nggak, nggak ada acara kok. Boleh aja.”


“Oke deh, ntar pulang sekolah tunggu aku ya,” Axel menepuk pundak Mutiara dan beranjak dari duduknya.


Mutiara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil nyengir kuda. Setelah Axel sudah tak nampak, Mutiara mengusap pundaknya yang tadi di sentuh Axel. Senyum langsung mengembang di bibirnya, dia sangat bahagia. 


.


Ivan menatap ponselnya, chat nya kemarin dan pagi hari ini belum di baca sama sekali oleh Vin-vin. Padahal saat ini Vin-vin sedang online.


Apakah dia begitu marah dan kecewa dengan dirinya?


Ivan mencoba menelpon, namun tak juga di angkat oleh Vin-vin. Dan semua ini membuat Ivan makin frustasi.


“Bagaimana aku mau minta maaf, kalau kamu nggak mau dihubungi Vin...” lirihnya sambil menatap ponselnya.


Ivan berpikir dan menimbang-nimbang, apakah terlalu berlebihan jika datang ke rumah Vin-vin dan menemuinya? 


“Ah, memalukan sekali orang setua aku harus mengejar-ngejar anak kecil bau kencur itu!” batin Ivan.


Ivan melempar ponselnya ke atas meja, “biar saja lah! Terserah!” gumamnya sedikit kesal.


***


Esoknya tanpa sengaja, Ivan dan Vin-vin bertemu pandang di gerbang sekolah. Ivan mendesah lega sambil tersenyum. Saat dia berjalan hendak mendekati Vin-vin, Vin-vin malah berlari kecil menjauh darinya.


Ivan terdiam dan mendesah kesal, “masih marah rupanya,” gumamnya.


Beberapa kali ada kesempatan Ivan dan Vin-vin bertemu namun Vin-vin selalu berusaha menjauh.


Dan yang paling membuat Ivan kesal adalah, Vin-vin selalu muncul bersama Axel, dia sepertinya benar-benar ingin menjaga jarak dengan Ivan dengan membawa Axel sebagai bodyguard nya.


Ivan hanya bisa memandang Vin-vin dari kejauhan, karena masih di lingkungan sekolah, dia harus menjaga perilakunya apalagi dia adalah seorang guru.


Tapi hati Ivan begitu kesal dan meronta-ronta ingin sekali rasanya dia mendekati Vin-vin dan menariknya untuk bicara dan menjernihkan semua masalah yang terjadi kemarin dulu.


Hari berganti hari tanpa terasa sudah seminggu berlalu, dan hubungan Vin-vin dan Ivan tak ada kemajuan sama sekali. Vin-vin masih terus menjauhi Ivan. Bahkan saat Ivan akan mendekat, dengan segera Vin-vin memanggil Axel atau Mutiara dengan suara keras hingga membuat banyak orang menatap, dan itu tentu saja membuat Ivan mengurungkan niatnya untuk mendekati Vin-vin lebih intens lagi.


Ivan benar-benar merasa jadi seorang lelaki abnormal yang sedang mengejar-ngejar anak kecil. Hati kecilnya merasa sangat malu dan marah namun di sisi lain dia juga merasa kehilangan sesuatu. Kehilangan senyum manis yang selalu di tunjukkan Vin-vin padanya, kehilangan kata-kata manis Vin-vin yang terdengar manja dan sangat merdu di telinganya. Ivan sudah benar-benar merindukan murid bau kencurnya yang selalu mengganggunya itu, Ivan rindu ingin di ganggu lagi seperti dulu.


Ivan memandang kalung emas berwarna putih dengan inisial ‘V’ yang akan dia hadiahkan di hari ulang tahun Vin-vin.


Hari ini pesta ulang tahun ke tujuh belas Vin-vin di adakan di cafe milik chef Kevin, dan Ivan masih merasa bingung apakah dia harus datang atau tidak, mengingat Vin-vin sepertinya sudah sangat membencinya.


Ivan bangkit dari duduknya dan berjalan mondar-mandir di dalam ruang apartemennya yang kecil. Sesekali dia memandang jam yang melingkar di pergelangan tangannya lalu mendesah.


Dia sudah melakukan ini berkali-kali dari pukul enam sore hingga sekarang waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Ivan masih galau.


Setelah diam sejenak, berpikir dengan matang, akhirnya Ivan bertekad untuk pergi ke acara ulang tahun Vin-vin. Malam ini dia ingin semua masalah clear, apapun hasilnya nanti Ivan siap, walaupun nantinya Vin-vin sudah tak menginginkannya lagi, Ivan akan terima.


Yang penting sekarang adalah Ivan harus menepati janjinya pada Vin-vin yaitu menjadikannya pacar walaupun nanti dia akan di tolak mentah-mentah karena Vin-vin sudah tak menginginkannya lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


#Hai readers kesayangan... maaf kan othor yg g bisa rajin up sprt dulu.. tapi othor sangat berterimakasih sekali buat kalian yg selalu setia menunggu othor gaje ini up.. 🤭


Semoga kalian bisa bersabar dgn kegaloan othor ini...


oiya, buat kalian yg punya apk GN dan suka baca di sana, mampir juga yuk ke karya othor yg nangkring di sana... judulnya 'after 30'


Sekali lagi, akoh ucapkan terimakasih sebesar-besarnya atas kesabaran kalian, othor janji novel2 akoh pasti tamat koh, g bakalan gantung atau d biarkan terbengkalai... 🤭