
"Lho Pak Ivan?! Pak Ivan kenapa?!" teriakan Bu Yosephine membuat semua orang yang ada di ruang guru menoleh ke arah Ivan yang baru muncul dan duduk di kursinya. Sontak seluruh guru yang ada di ruang tersebut langsung mendekat dan mengerumuni Ivan.
"Kemarin ada sebuah insiden kecil Bu," jawab Ivan asal.
"Tangan di gips begitu kok insiden kecil?! itu wajah Pak Ivan juga memar semua loh."
"Pak Ivan kalau sakit nggak usah di paksa, mending ijin saja hari ini," ucap Pak Anis. Dia tampak khawatir dengan keadaan Ivan yang terlihat kacau.
Ivan tersenyum, "Saya nggak betah diam di rumah Pak."
Tatapan Ivan mengitari seluruh ruangan dan tak menemukan sosok Daniel.
"Lho, Pak Daniel kok belum kelihatan?" tanyanya.
"Paling sebentar lagi," jawab Bu Yosephine sambil melirik jam tangannya. Semua guru yang tadinya mengerumuni Ivan pun mulai kembali ke meja kerjanya masing-masing.
"Ahh panjang umur..." seru Bu Yosephine dengan ceria saat melihat Daniel memasuki ruangan.
Daniel sempat menghentikan langkahnya sekejap saat melihat Ivan, namun dia langsung berjalan kembali kemudian mendekati Ivan.
"Pak Ivan? kenapa?" tanyanya.
Ivan menatap Daniel dengan lekat, ingin rasanya dia meninju wajah licik orang yang sedang berada di depannya ini. Apalagi raut wajahnya terlihat sangat bahagia melihat kondisi Ivan.
Ivan tahu Daniel mencoba menutupi senyumnya, namun terlambat, Ivan sudah menyaksikan senyumnya sempat tersungging.
"Coba kita lihat, mau berapa lama senyuman itu ada di di wajahmu!" geram Ivan dalam hati.
"Kok bisa sampai seperti ini? apa yang sudah terjadi?!" Daniel berpura-pura cemas, padahal hatinya sedang bersorak gembira saat ini. Kenapa orang-orang suruhannya tak mengabarinya jika mereka berhasil menghajar Ivan? yah walaupun tidak sesuai permintaannya sih! Daniel berharap Ivan bisa sampai menginap di Rumah Sakit selama seminggu agar dia bisa dengan leluasa mendekati Vin-vin. Namun cedera seperti ini juga sudah lumayan membuat hati Daniel gembira. Dia sungguh senang melihat Ivan menderita, apalagi tangannya sampai di gips seperti itu.
"Kemarin saat pulang sekolah, tiba-tiba ada beberapa preman menghadang Saya dan menyerang Saya," Ivan bicara sambil terus menatap Daniel.
"Ya ampun! Pak Ivan sudah lapor sama polisi? kok bisa ada preman di sekitar lingkungan sekolah kita?! ini sangat berbahaya! bagaimana jika mereka mengganggu murid-murid sekolah ini?" cerocos Bu Yosephine.
"Saya juga nggak paham, padahal sebelumnya Saya nggak pernah mengalami hal seperti ini. Lingkungan sekolah ini dan sekitarnya sangat aman. Mungkin ada bos preman yang pindah ke lingkungan ini hingga membuat preman-preman itu mengikutinya dan membuat resah lingkungan sekolah kita."
"Tenang saja, mereka nggak akan berani mengganggu anak-anak murid kok," Daniel berusaha menenangkan.
"Kok Anda yakin sekali Pak Daniel? apa mungkin anda bos preman-preman itu?" Ivan tersenyum sambil menatap Daniel yang tampak sedikit terkejut dengan pernyataan Ivan.
"Bu-bukan begitu, Saya hanya yakin saja." Daniel berjalan menuju kursinya dan duduk lalu mukai mencari kesibukan dengan membuka tas kerjanya.
"Tenang saja Pak Daniel, Saya juga nggak bermaksud menuduh Anda. Kita akan tahu siapa bos preman yang sudah menyuruh orang-orang yang menyerang Saya kemarin, soalnya mereka sudah di tangkap polisi."
"Apa?!" Daniel terkejut, dia bahkan sampai menggebrak meja dan berdiri dari duduknya
"Anda kenapa Pak? kelihatannya cemas sekali?" Ivan tersenyum smirk.
Ya, inilah yang dia tunggu-tunggu. Dia ingin sekali melihat wajah Daniel yang pucat saat di boyong oleh petugas kepolisian.
Ivan rela menahan sakit dan tetap berangkat ke sekolah alih-alih beristirahat di rumah atau rumah sakit karena momen ini.
"Ti... tidak, Saya tidak apa-apa..." Daniel duduk kembali sambil buru-buru memasukkan kembali buku-buku yang sudah dia keluarkan tadi.
"Lho, Anda mau kemana? bukannya Anda baru saja berangkat?"
"Sa... Saya... agak kurang enak badan... Saya mau permisi pulang saja..." keringat mulai bercucuran di dahi Daniel.
"Anda baik-baik saja Pak Daniel? apa perlu Saya antar?" Bu Yosephine khawatir saat melihat wajah Daniel yang sudah pucat pasi, bahkan keringat pun mulai bercucuran.
"Ti... tidak perlu," dengan tergesa-gesa Daniel beranjak dari duduknya, dia bahkan lupa mengunci tas kerjanya hingga buku-buku yang tersimpan di dalamnya berhamburan keluar. Daniel tampak tak peduli, dia pergi begitu saja, bahkan buku-buku yang berserakan tadi dia injak dengan sengaja.
"Tunggu Pak," Ivan dengan cepat menghadang Daniel, dia berdiri di ambang pintu hingga membuat Daniel tak bisa berjalan keluar.
"Minggir Pak Ivan, Saya buru-buru, ada keperluan mendesak!" Daniel semakin panik.
"Keperluan apa Pak? Saya bisa bantu kalau Pak Daniel mau," tawar Ivan.
"Saya nggak butuh!" Daniel berteriak dengan kalap.
"Selamat Pagi!"
Tiga orang lelaki berseragam polisi tiba-tiba muncul.
"Daniel Jatmiko? Anda kami tahan. Harap ikut kami ke kantor polisi."
Seluruh guru di dalam ruangan tampak terkejut, dengan rasa penasaran mereka mendekat untuk mengetahui lebih lengkap apa yang sedang terjadi.
"Memangnya salah Saya apa?!" teriak Daniel saat tangannya hendak di borgol.
"Anda sudah melakukan penyerangan kepada saudara Ivan Xander dan melakukan pelecehan kepada Indah Susanti."
Seluruh guru yang ada di dekat Ivan sontak terkejut.
"Pasti ada kesalahan Pak Polisi..." Bu Yosephine tampak sangat cemas dengan tuntutan yang di utarakan petugas polisi.
"Iya, ini pasti fitnah! siapa yang melaporkan ini semua? pasti Ivan kan?! dia fitnah Pak! dia hanya membenci Saya!"
"Saya tidak membenci siapapun," Ivan mengangkat kedua tangannya sambil menggelengkan kepala.
"Anda bisa menyewa pengacara untuk membela diri," ucap salah seorang polisis sambil menarik Daniel dengan paksa karena Daniel terus-menerus meronta.
"Saya tidak melakukan apapun! Saya di fitnah!" teriak Daniel saat di seret polisi dan menjadi tontonan seluruh murid dan guru-guru.
"Tadi polisi bilang apa? kasus pelecehan Indah? Pak Daniel benar-benar ada hubungan dengan Ibdah? dulu bukannya dia mengelak?" tanya Pak Anas pada Ivan.
Ivan mengangguk, "ini semua berkat murid-murid kita yang sangat memperhatikan teman-temannya."
"Maksud Pak Ivan?"
"Semua ini berkat Axel dan Vin-vin."
"Pak Daniel... kenapa ini semua bisa terjadi..." Bu Yosephine bergumam sambil menghapus air matanya dengan tissue. Hancur sudah harapannya agar bisa menjadi kekasih Daniel.
Dia sedih namun juga kecewa karena ternyata Daniel bukan lelaki baik seperti yang dia harapkan.
"Daniel akan di pecat dengan tidak hormat saat ini juga! Saya juga tak mau ada kejadian seperti ini lagi. Kalau sampai ada guru yang mendekati atau berpacaran dengan murid, Saya akan pecat saat itu juga!" teriak Pak Kepala sekolah. Teriakannya menggelegar menandakan kemarahannya bukan sembarangan.
Dia benar-benar marah karena Daniel yabg hanya seorang guru magang malah mencoret nama baik sekolah ini.
Ivan terdiam, dia hanya bisa menundukkan kepalanya. Mulai sekarang dia harus lebih berhati-hati saat bersama Vin-vin.