
"Vin, ayo temani aku," Mutia menarik tangan Vin-vin agar bangun dari duduknya dan mengukutinya.
"Kemana sih Mut?" Vin-vin merasa malas, dia enggan meninggalkan bangkunya.
Kejadian semalam benar-benar membuatnya nggak mood sehari ini, kejadian dengan Pak Daniel tentunya. Padahal sebelumnya Vin-vin sudah merasa sangat bahagia karena nyanyian Pak Ivan, tapi semuanya langsung sirna gara-gara si kuda nil!
Dia memang perusak suasana!
"Kita ke IPS 2, aku mau tanya masalah tugas Antropologi sama Sisca."
"Tugas Antropologi? oh iya aku juga belum buat. Ayo deh," akhirnya Vin-vin mengikuti sahabatnya.
Saat masuk ke kelas IPS 2, Vin-vin dan Mutiara melihat beberapa siswi berkerumun di sebuah meja. Meraka sedang kasak kusuk bergosip tentang sesuatu.
Tentu saja jiwa penasaran Mutiara meronta-ronta, dia langsung mendekat dan melupakan tujuannya untuk menemui Sisca.
Mutiara masuk ke dalam kerumunan dan melihat seorang murid perempuan yang menjadi pusat dari kerumunan itu. Ada apa gerangan dengan dirinya hingga membuat dia di kerumuni oleh sesama murid perempuan? perasaan cewek itu bukan artis!
"Lo bener udah jadian sama Pak Daniel?!" celetuk salah seorang siswi.
Mutiara terbelalak tak percaya, "serius?" teriaknya.
Semua mata langsung menatap dirinya, Mutiara pun meringis malu
"Sorry.. gue kaget, ayo lanjutin ceritanya."
"Lo bukan murid IPS 2 kan? ngapain nimbrung di sini?!"
"Gue penasaran, ayo lanjutin dong..." pinta Mutia.
"Nggak boleh! anak kelas lain nggak boleh denger! siapa tau Lo ember bocor! ngomong ke sana ke sini!" ucap si cewek yang di kerumuni itu.
Mutiara manyun, dia pun pergi menjauhi kerumunan yang mulai kasak kusuk lagi.
"Sial! harusnya gue diem aja tadi!" gerutunya penuh penyesalan.
"Kenapa? kok mukanya kusut?" Vin-vin tertawa melihat wajah temannya yang kusut kayak kanebo kering.
"Sini Vin!" Mutiara menarik Vin-vin dan mulai berbisik, "mereka di sana itu lagi ngobrol tentang Pak Daniel, katanya ada siswi yang udah jadian dengannya!"
"Serius?" Vin-vin kaget.
"Nggak tahu itu bener apa nggak? jangan-jangan tu cewek cuma nge-halu karena saking ngefans nya sama Pak Daniel. Tapi mereka kelihatan serius banget. Aku jadi curiga!"
"Ngapain curiga? biar aja Pak Daniel udah jadian sama cewek itu, bagus kan? jadi dia pasti nggak nawarin les terus ke aku!"
"Woi!!"
Vin-vin dan Mutiara melonjak kaget, "Sisca! bikin gue jantungan tauk!" kesal Mutiara sambil mencubit tangan Sisca, teman beda kelasnya
"Lagian kalian berdua ngapain si? ngegosip di kelas orang, emang di kelas kalian sendiri di larang bergosip ya?" Sisca tersenyum simpul sambil duduk di bangkunya.
Mutiara langsung berlari kecil mendekati Sisca dan duduk persis di depannya.
"Temen-temen Lo lagi ngegosipin Pak Daniel ya? beneran itu teman sekelas Lo udah jadian sama Pak Daniel?" bisik Mutiara.
Sisca mengangkat kedua bahunya, "entahlah.. cewek yang ngaku jadian sama Pak Daniel itu terkenal suka nge-halu, tapi..."
"Tapi apa?" Mutiara penasaran.
Vin-vin pun duduk di sebelah Mutiara dan mendengarkan obrolan dua temannya itu.
"Tapi aku lihat.. samar sih, ada tanda merah di atas dadanya. Waktu seragamnya sedikit bergeser, tanda itu sedikit menyembul," Sisca sedikit berbisik sambil melirik ke arah kerumunan yang makin rapat di pojokan kelas.
"Kalaupun benar dia jadian dengan Pak Daniel, memangnya Pak Daniel 'seperti itu' ya?" Sisca tampak tak percaya.
"Katanya, dia di janjikan dapat nilai bagus kalau mau pacaran dengan Pak Daniel."
Vin-vin terbelalak tak percaya,dia menoleh dan memandang Mutiara. Mutiara pun melakukan hal yang sama.
"Ngomong-ngomong ada apaan kalian ke sini?" tanya Sisca karena dia belum tahu tujuan Mutiara dan Vin-vin mencarinya.
"Oh iya, itu tentang tugas Antropologi..."
***
"Apa itu bukan pelecehan anak di bawah umur ya?" tanya Axel.
Axel, Mutiara dan Vin-vin sedang asyik makan di kantin saat istirahat kedua sambil membahas gosip yang lagi anget-angetnya itu.
"Eh? ciuman dengan anak SMA namanya pelecehan di bawah umur?" Vin-vin membeo. Dia jadi ingat ciumannya dengan Pak Ivan. Vin-vin harus merahasiakannya dari siapapun! bisa-bisa Pak Ivan di tangkap polisi karena telah melecehkan anak di bawah umur seperti dirinya.
"Enggak lah, cewek yang di gosipkan itu kan sudah lebih dari 18 tahun, dia anak yang pernah tinggal kelas karena nilainya jelek. Makanya dia termakan rayuan Pak Daniel karena di iming-imingi nilai bagus.
"Memangnya kalau masih 17 tahun juga termasuk ke pelecehan anak di bawah umur?" tanya Vin-vin, dia lebih fokus pada dirinya sendiri dari pada cerita yang sedang di bahas oleh Mutia dan Axel.
"Sebenarnya sih, 17 tahun sudah bukan anak di bawah umur. Soalnya syarat bikin KTP kan sudah berusia 17 tahun...." Mutiara terdiam dan menatap Vin-vin.
"Kamu sudah melakukan sesuatu dengan Pak Ivan ya?" celetuk Mutiara.
"Hah? apaan... enggak kok..." wajah Vin-vin langsung merona.
"Haaa... pasti kalian sudah melakukan sesuatu! kenapa kamu tampak cemas? takut Pak Ivan di tangkap karena kasus pelecehan di bawah umur ya??"
"Diem Mutia! bisa nggak sih suaranya nggak usah kenceng gitu!" Vin-vin langsung membekap mulut sahabatnya.
"Wah, aku penasaran banget! sumpah!"
"Mut! bisa nggak fokus ke cerita Pak Daniel aja! bukan ke aku!"
"Yee! orang kamu yang mancing duluan!" Mutiara cengar-cengir sambil menatap Vin-vin, matanya mulai menjelajahi setiap sudut leher Vin-vin, mencari sesuatu yang membuatnya penasaran.
"Apaan sih Mut! aku nggak ngapa-ngapain kok! beneran!" Vin-vin kesal sambil menutupi lehernya. Entah kenapa Vin-vin merasa risih di selidiki oleh sahabatnya itu.
"Pak Ivan itu bukan cowok mesum tau! dia nggak mungkin macam-macam sama aku!"
"Aahh.. masa sih? siapa yang tau... kalian kan sering berduaan di apartemen Pak Ivan, jangan-jangan..."
"Nggak!" bentak Vin-vin, wajahnya sudah merah seperti tomat.
"Brak!!"
"Eh! ayam! ayam!" Mutiara yang latah, kaget karena suara gebrakan meja.
"Xel! kenapa sih? bikin kaget aja..." Mutiara langsung diam saat melihat wajah Axel yang merah padam.
"Xel? kamu kenapa?" tanya Mutia ragu.
"Gue... mau balik kelas dulu!" Axel langsung berbalik dan pergi meninggalkan Vin-vin dan Mutiara.
"Duh... mulut gue! harusnya tadi jangan bahas Pak Ivan dan ciuman... jangan-jangan Axel cemburu, dia belum ikhlas in kamu dan Pak Ivan," Mutiara menatap Vin-vin dan merasa sangat bersalah.
"Bagaimana ini Vin? dia pasti marah dan sedih."
Vin-vin menarik napas panjang, dia terus memandangi Axel lewat jendela kantin hingga Axel hilang dari pandangannya.