
"Vin-vin! selamat ulang tahun ya..."
Vin-vin menoleh ke arah tiga orang teman sekolahnya yang datang ke pesta ulang tahunnya malam ini. Mereka berdandan sangat cantik, mengenakan short dress dan tak lupa memberikan kado ulang tahun pada Vin-vin. Setelah tersenyum dan mengucapkan terima kasih, mereka bertiga pun pergi, berkeliling berharap bertemu dengan papah Vin-vin yang merupakan chef artis.
Vin-vin memandang ke seluruh sudut cafe milik papah nya dan dia tak menemukan sosok yang di carinya dari tadi. Ini sangat aneh, saat di sekolah, mati-matian Vin-vin menghindarinya, namun sekarang dia pun mati-matian mencarinya.
"Aku kangen..." gumam Vin-vin lirih.
"Kalau kangen, kenapa jual mahal setiap Pak Ivan deketin?" tiba-tiba Mutiara sudah berdiri tepat di belakang Vin-vin.
Vin-vin memandangnya sambil cemberut.
"Aku kan ingin melihat keseriusannya? setelah semua yang aku lakukan untuk mendekatinya, dia masih saja ingat sama mantan tunangannya. Kan bikin bete."
"Mantan tunangannya itu meninggal Vin, bukan putus karena selingkuh atau lainnya. Kalau tunangannya masih hidup, mungkin mereka sudah menikah sekarang. Jadi bukan salah Pak Ivan kalau dia belum bisa melupakannya," jelas Mutiara panjang lebar.
Vin-vin menarik napas dan menghembuskannya dengan keras sambil melotot ke arah sahabatnya yang berhasil membuat hari bahagianya tambah mendung.
"Kenapa? ini memang kenyataannya. Kamu harus memaklumi lah. Kamu nggak boleh egois, kan dari awal kamu sudah tahu masa lalu Pak Ivan."
Lagi-lagi Vin-vin menarik napas nya lebih dalam. Dalam hati dia membenarkan ucapan Mutiara, tapi tetap saja hatinya tak bisa terima.
"Mungkin nggak, pelan-pelan Pak Ivan bisa melupakan mantannya itu dan hanya menyukaiku seorang saja..." gumam Vin-vin bertanya pada dirinya sendiri.
"Semua yang ada di dunia ini mungkin saja terjadi Vin, tergantung usaha kamu. Sekarang gimana kamu bisa tahu kalau Pak Ivan mendekat aja kamu menjauh... yah, terima saja kalau akhirnya nggak happy ending."
"Mutia!!!" Vin-vin kesal sambil memukuli pundak sahabatnya.
Mutiara memang sahabat terbaik Vin-vin, dia selalu mengucapkan kata-kata yang kadang orang lain sungkan untuk di ucapkan, tapi jika itu untuk kebaikan Vin-vin, Mutiara selalu jujur.
"Sayang," Papi Aldrich mendekat.
Mutiara tampak membelalakan matanya saat melihat Papi Vin-vin itu. Papi Vin-vin walaupun sudah berumur, namun ketampanannya memang tak ada duanya. Maklum lah model terkenal.
"Ayo kita foto-foto dulu, Om Bobby sama Tante Shanty nungguin itu."
"Iya Pih.." Vin-vin tersenyum sambil menggandeng lengan Papi nya yang super tampan malam itu karena menggunakan kasual jas yang lengannya di tarik hingga siku.
"Bentar ya Mut," ucap Vin-vin sebelum meninggalkan sahabatnya.
Mutiara hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Om, Saya ikut foto dong..." tiba-tiba Axel muncul dan mengejar Vin-vin dan Papi nya.
"Lo tadi sudah foto banyak, sekarang khusus keluarga," ucap Papi Aldrich diikuti tawa Vin-vin.
Papi nya memang senang sekali bercanda dengan Axel sejak dulu, Papi selaku bersikap tak menyukai Axel karena Axel sewaktu kecil berani mengaku-ngaku dirinya adalah pacar Vin-vin. Hingga sekarang Papi masih sedikit kesal padanya.
Saat sesi foto-foto pun, Vin-vin tak fokus. Matanya selalu mencari-cari sosok yang di rindukannya. Mungkinkah Pak Ivan benar-benar tak datang ke pesta ulang tahunnya karena sikap Vin-vin seminggu ini.
Vin-vin hanya bisa mendesah pasrah.
...***...
Dia sengaja menggunakan mobil agar tak ada yang tahu dengan kedatangannya. Tamu pesta ini pasti kebanyakan murid-murid nya juga kan?
"Gimana caranya gue masuk? apa nggak masalah kalau ada murid yang lihat ya?" Ivan masih galau.
Berulang kali dia memandangi paper bag kecil warna biru yang di dalamnya terdapat kalung yang dia beli beberapa waktu yang lalu untuk hadiah ulang tahun Vin-vin.
Kado sudah ada, dia pun sudah datang namun untuk masuk ke dalam cafe, dia sedikit bimbang. Akhirnya Ivan memutuskan memakai topi baseball dan hampir menutupi matanya, tak lupa dia pun memakai masker untuk menutupi wajahnya.
Ivan hanya berpikir jauh ke depan, dia takut jika ada gosip tak enak tentang Vin-vin dan dirinya.
Setelah semua persiapan selesai, Ivan pun melangkah keluar dari mobil nya dan secara perlahan memasuki cafe milik chef Kevin yang malam ini sangat ramai padahal waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Ivan masuk dan pandangannya langsung tertuju pada Vin-vin yang sedang sibuk berfoto-foto dengan keluarga besarnya.
Vin-vin terlihat sangat cantik dengan dress berwarna putih dengan renda cantik di setiap ujungnya. Ivan bahkan tak berkedip saat menatapnya. Anak muridnya yang sejak kemarin masih dia anggap anak kecil, kini telah bertransformasi menjadi gadis yang sangat cantik.
Tapi gaun itu sangat menunjukkan lekuk tubuhnya yang indah, Ivan jadi sedikit kesal karenanya.
Karena Vin-vin tampak begitu sibuk dan sepertinya dia juga tak mengharapkan kehadiran Ivan, Ivan berpikir untuk meninggalkan saja kadonya dan pulang.
Ivan berjalan menuju meja yang berisi tumpukan kado ulang tahun dan meletakkan hadiahnya di sana, namun belum sampai dia melepaskan paper bag itu di atas meja, tangannya di raih oleh seseorang.
"Pak Ivan kan?" bisik orang itu yang ternyata adalah Vin-vin.
Ivan terkejut, barusan dia melihat Vin-vin ada di tengah ruangan sedang berfoto, kenapa sekarang gadis cantik ini sudah berdiri di dekatnya.
Ivan menarik ujung topinya ke bawah dan menunduk, agar wajahnya makin tertutup.
"Aku sudah tungguin dari tadi..." Vin-vin menatap Ivan sambil tersenyum, cantik sekali. Seketika wajah Ivan memerah, untung dia memakai masker jadi Vin-vin tak bisa melihatnya.
"Bukannya kamu sedang marah sama Saya," bisik Pak Ivan.
Vin-vin tersenyum, "marahku langsung hilang sejak lihat Pak Ivan masuk tadi."
"Ehm! ehm!" Ivan berdehem beberapa kali untuk menghilangkan kegugupannya.
Ya ampun, Ivan merasa sangat konyol. Dia pria dewasa, dan sudah pernah memiliki hubungan serius dengan wanita bahkan telah bertunangan, tapi entah kenapa saat ini hanya melihat senyum bocah ingusan ini dan mendengar rayuan gombalnya dia jadi salah tingkah.
"Pak Ivan bawa kado buat aku?"
"Oh.. iya, ini..." saking gugupnya Ivan hanya bisa bicara terbata-bata.
Vin-vin menerima paper bag warna biru dan membukanya, dia penasaran untuk melihat isinya.
"Jangan di buka di sini dong Vin," ingat Ivan.
Vin-vin celingukan lalu menarik tangan Ivan, "ayo iku aku..."
"Kemana?" Ivan bingung tapi tetap mengikuti langkah lebar Vin-vin.
#kira2 Vin-vin mau ajak Pak Ivan kemana tuh??? ðŸ¤