Oh My Teacher

Oh My Teacher
Seperti kencan?


"Pak...”


“Kenapa?” Ivan bertanya tapi dia tetap berjalan cepat seperti tak mau berjalan beriringan dengan muridnya itu.


“Pelan dong jalannya, Pak Ivan itu lagi jalan sama cewek loh! Bukan sama MRT!” Vin-vin cemberut sambil menatap tajam pada guru tampannya yang super cuek.


Ivan menghela napas sambil menatap wajah Vin-vin yang tampak memerah. Kulit putih susunya tampak kemerah-merahan entah karena lelah atau kepanasan, mungkin juga keduanya. Keringat bahkan sudah bercucuran di sekitar dahi  dan bahkan ada yang mengalir di leher jenjangnya.


Dan sejak kapan Vin-vin mengikat rambutnya model kuncir kuda? Mungkin dia kegerahan hingga mengikat rambut panjangnya. Tapi bukankah kulit lehernya yang putih dan cantik itu jadi semakin terbuka.


Lagi-lagi Ivan mendengus, entah untuk apa.


Saat Pak Ivan berhenti berjalan dan menunggunya, Vin-vin langsung tersenyum cerah.


“Kamu capek?”


“Kalau aku bilang ‘iya’?”


“Kalau capek, pulanglah naik taxi.”


“Ohh.. enggak! Aku sama sekali nggak capek Pak! Tenang aja, tenagaku masih penuh untuk berjalan sepuluh kilometer lagi!”


“Cih! Sepuluh kilo? Baru jalan lima meter aja sudah mandi keringat begitu!”


“Haahhh? Dari tadi kita baru jalan lima meter? Bukan lima kilo??” Vin-vin tampak syok karena dia sudah sangat kelelahan. Dia tak menyangka berjalan begitu melelahkan. Mungkin karena dia tidak terbiasa berjalan dibawah sinar matahari yang begitu terik di atas ubun-ubunnya.


“Masih jauh banget berarti Pak?” Tanyanya, dengan wajah memelas.


Ivan yang melihatnya malah merasa lucu, dia berusaha sekuat mungkin menahan senyum yang ingin muncul di bibir tipisnya.


“Mana yang tadi semangat bilang mau jalan sepuluh kilo?”


Vin-vin terdiam, tubuhnya merosot di pinggir jalan dan jatuh terduduk.


“Eh! Jangan duduk di sana! Kotor!” Ivan langsung menarik tangan Vin-vin agar bangun dari duduknya. Dengan enggan Vin-vin bangun, badannya sudah lemas hingga tanpa sengaja dia malah jatuh ke pelukan Pak Ivan.


“Kamu sengaja ya?” Ivan mencubit pipi chuby Vin-vin dan mendorongnya agar lepas dari pelukannya.


Vin-vin hanya tersenyum sambil sedikit menjulurkan lidahnya.


“Huft... kalau begini, kapan kita sampainya...” Ivan menyugar rambutnya lagi. “Ayo kita beli minuman,” ajaknya sambil berjalan menuju gerobak es boba yang ada di depan emperan minimarket.


“Aku mau! Aku mau!” Vin-vin langsung berlari dengan riang mengejar guru tampannya.


“Es americano satu, Mbak. Kamu apa Vin?”


“Aku mau rasa taro cheese, yang jumbo! Es nya yang banyak!”


Ivan melirik anak muridnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.


.


“Aaahhhh... segarnya... aku merasa hidup kembali...” riang Vin-vin.


“Memang nya dari tadi saya jalan sama zombi?” gerutu Pak Ivan.


Vin-vin hanya tersenyum sambil terus menyedot es porsi jumbo nya.


“Jangan minum sambil berdiri, kita duduk di taman itu sambil istirahat.” Pak Ivan menunjuk sebuah taman yang tampak sejuk karena di tumbuhi beberapa pohon yang rindang.


Vin-vin pun mengangguk tanda setuju. Lalu mereka berdua duduk di sebuah bangku yang ada di bawah pohon.


“Kita kaya lagi kencan ya Pak?” ucap Vin-vin tanpa malu-malu saat sudah duduk di samping guru tampannya.


“Uhhuuk!”


“Eh, Pak Ivan kenapa?” Vin-vin langsung mengambil selembar tissue yang ada di dalam kantong tas ranselnya dan menyerahkannya pada Pak Ivan.


Ivan menerimanya lalu dengan terburu-buru membersihkan mulutnya, “kamu jangan suka bicara sembarangan.”


Vin-vin hanya memanyunkan bibir mungilnya.


“Kapan-kapan... bisa kan kita pulang bareng seperti ini lagi?”


“Pak?”


“Ya Pak?”


Vin-vin yang dari tadi menunduk karena sedikit malu untuk mengajak Pak Ivan pulang bersama lagi langsung mendongak karena tak juga mendapatkan jawaban.


Saat dia melihat Pak Ivan, ternyata orangnya sedang melamun sambil melihat beberapa orang yang sedang asyik bermain basket di lapangan yang ada di tengah taman.


Wajahnya tampak serius menatap beberapa pemain basket itu, kadang dia tampak mengepalkan tangannya dan mengeratkan giginya.


“Pak?” lagi-lagi panggilan Vin-vin tak di gubris oleh Ivan, sampai akhirnya Vin-vin memberanikan diri menyentuh pundak kekar guru tampannya itu hingga membuat dia terhenyak dan bangun dari lamunannya.


“Eh, ke-kenapa Vin?”


“Pak Ivan kenapa? Kok ngeliatinnya gitu amat?”


“Oh.. enggak apa-apa.”


“Pak Ivan mau main basket? Sana ikut aja, aku nungguin sambil nonton.”


“Nggak apa-apa? Kamu mau nungguin sebentar?” Ivan tampak berseri bahagia.


Pak Ivan langsung melepas kemeja coklatnya dan berlari ke tengah lapangan basket hanya mengenakan kaos olah raga tanpa lengan yang selalu dia pakai sebagai pakaian dalamnya.


Tak lama kemudian Ivan tampak asyik bermain basket dengan beberapa lelaki yang sejak tadi memang sedang bermain di lapangan.


Ivan tampak larut dalam permainannya hingga lupa waktu dan Vin-vin. Hari sudah semakin sore, Vin-vin melirik jam tangannya dan terkejut karena ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore.


Mereka bahkan belum melanjutkan perjalanan menuju bengkel motor, Vin-vin merasa serba salah bagaimana baiknya mengingatkan Pak Ivan agar berhenti.


Apalagi saat melihat wajahnya yang berpeluh keringat namun sangat bahagia, Vin-vin jadi tak tega menghentikan permainannya.


Pukul 16.20 akhirnya Pak Ivan dan teman-teman barunya berhenti. Mereka tampak kelelahan dan duduk di tengah lapangan basket untuk melepas lelah.


Vin-vin pun berlari mendekat sambil membawa botol air mineral dan membagikan kepada para lelaki yang tampak kelelahan, dan satu yang sangat spesial untuk guru pujaannya.


“Capek Pak?” tanyanya sambil duduk berjongkok di sebelah Pak Ivan sambil menyerahkan sebotol air mineral padanya.


Ivan menerimanya sambil mengucapkan terima kasih.


Saat melihat keringat bercucuran sangat banyak di kening, leher dan lengan kekar gurunya, Vin-vin langsung mengambil beberapa lembar tissue dan mencoba mengeringkannya.


Ivan kaget dan sedikit menghindar. “Jangan... jijik.” Ucapnya lirih.


“Aku nggak jijik kok.” Jawab Vin-vin sambil berusaha mengeringkan keringat di kening Pak Ivan.


“Pacar Lo imut banget Bang! Masih SMA ya?" celetuk salah satu pria yang tadi bermain basket bersama Ivan.”


“Dia bukan...”


“Aku kelas dua SMA,” ucap Vin-vin cepat memutus omongan Pak Ivan.


"Waahhh... gila, gue juga mau lah pacaran sama anak SMA.” Celetuk yaang lain.


“Muke lo udah nggak pantes bro! Muke tua!” celetuk yang lain.


“Eh, gue baru 20 tahun, masih bisa lah pacaran sama anak SMA.”


“Gue kira udah 30 tahun.. hahahahaa...”


Tawa langsung menggema di lapangan basket itu.


Hanya Ivan yang tak ikut tertawa, dia bangun dari duduknya sambil menarik tangan Vin-vin. “Ayo pulang.”


“Bro, thanks ya.. kapan-kapan kita main lagi. Gue pamit dulu.”


“Oke.” Jawab mereka kompak.


“Kapan mau main lagi? Aku ikut ya Pak,” pinta Vin-vin.


“Nggak!” jawab Ivan cepat.


“Kenapa?”


“Nggak apa-apa.” Ivan terus berjalan sambil menarik lengan Vin-vin, membuat Vin-vin berjalan pontang-panting mengikutinya.


“Taxi!" teriak Ivan memanggil taxi dan tak lama, taxi yang di panggilnya mendekat.


“Loh, kita ke bengkel naik taxi?" tanya Vin-vin bingung.


Ivan membuka pintu taxi dan menyuruh vin-vin agar masuk. “Nggak, kamu pulang aja. Sudah sore.”


“Nggak mau!” Vin-vin berusaha keluar dari taxi, namun di cegah oleh Ivan.


"Aku mau pulang sama Pak Ivan..." pintanya sambil menatap Ivan penuh permohonan.


“Oke.. oke... besok kita pulang bareng lagi. Sekarang kamu pulang saja ya.” Ivan berusaha  menenangkan Vin-vin yang tampak berontak dan tak mau menurut.


“Nggak! Pak Ivan pasti bohong! Tadi aja kalau aku nggak ke ruang guru, Pak Ivan lupa kan?”


“Lalu saya harus bagaimana supaya kamu percaya?”


“Bagi nomer HP!” ucap vin-vin sambil menyerahkan ponselnya pada Ivan.


“Huft!!!” Ivan mendengus, namun dia bisa apa? Akhirnya dia mengambil HP Vin-vin dan menuliskan nomernya di sana.


“Puas?”


“Bentar!” Vin-vin mencoba menelpon nomer yang di berikan Pak Ivan dan tak lama, ponsel yang ada di tas Pak Ivan berbunyi dengan nyaring.


Vin-vin tersenyum puas, “Siapa tahu Pak Ivan bohong!” ucapnya sambil menjulurkan lidah.


Lagi-lagi Ivan mendesah, “Hati-hati ya..” ucapnya.


Vin-vin mengangguk sambil tersenyum riang.


“Pak tolong antar sampai  rumahnya,” pesan Ivan pada sopir taxi sambil menyerahkan selembar uang berwarna merah.


"Siap Pak.” Jawab si sopir taxi.


“Dah Pak Ivan.. sampai besok...” Vin-vin melambaikan tangannya dengan riang.


Ivan hanya  memandangi taxi yaang terus berjalan menjauh sambil sesekali mendesah dan menyugar rambutnya dengan kasar


“Runyam! Runyam!!!" gerutunya..