
Malam ini Ivan benar-benar tak bisa tidur.
Dia hanya berguling-guling terus di atas ranjang empuknya.
Sesekali matanya melirik jam di dinding kemudian dia mendesah, gelisah.
"Sudah jam 2 pagi..." geramnya.
"Besok ada pelajaran olah raga di jam pertama, bisa gila gue kalau nggak tidur!" gerutunya.
Kenapa malam ini Ivan begitu sulit untuk tidur, pikirannya dipenuhi oleh sosok itu, sosok murid perempuannya yang selema beberapa hari ini dengan wajah ceria dan selalu tertawa mengganggunya, selalu muncul tak terduga di manapun Ivan berada.
Namun malam ini senyum itu hilang, bahkan wajah cerianya langsung berubah muram secara drastis.
Ivan jadi bertanya-tanya dalam hatinya, mungkinkah bocah bau kencur itu betul-betul menyukainya hingga dia begitu terpukul saat Ivan berkata sudah punya tunangan?
"Dasar bocah, baru cinta monyet aja sudah di bawa serius begitu!" gerutu Ivan.
Tapi setelah di pikir lagi, Ivan juga merasa sedikit menyesal.
"Kenapa juga gue harus bilang punya tunangan! gue kenapa sih!" Ivan mengusap wajahnya dengan kasar, sedikit menyesali perbuatannya tadi.
Mungkinkah semua itu dia lakukan karena dia merasa kesal pada Vin-vin yang sudah mengingkari janji, dan dia ingin membalas dengan mengucapkan kata-kata yang menyakitinya.
"Ivan... Lo kaya anak kecil aja!!!" geramnya lagi sambil menjambaki rambutnya sendiri.
"Arrgghh!! gue harus tidur!" perintahnya pada dirinya sendiri.
.
Dan, sampai pagi Ivan tak juga bisa memejamkan matanya. Dari pada mengendarai motor dan terjadi hal yang tidak di inginkan karena mengantuk di jalan, akhirnya Ivan memutuskan untuk naik taksi.
Di pikir lagi, jika dia naik taksi dan tidak membawa motornya, dia bisa mengelak ajakan para wanita yang minta di antarkan pulang, seperti Bu Yosephine misalnya dan... Vin-vin.
Ivan mendesah sambil kembali mengusap wajahnya, "kenapa gue nggak bisa membuang dia dari pikiran ini!" gumamnya lirih.
Ivan turun dari taksi, setelah sampai di gerbang sekolah. Dia berjalan sambil memperhatikan murid-muridnya yang lalu lalang sambil menyapa dirinya.
Ivan membalas sapaan para muridnya dengan senyum manisnya.
Tak lama, muncullah motor matic gede warna putih yang di kendarai oleh Axel, dan seperti yang Ivan duga, Vin-vin duduk di belakangnya, membonceng.
Ivan mendengus sambil tersenyum miring, merasa konyol karena semalaman tak bisa tidur memikirkan wajah sedih Vin-vin, nyatanya dia baik-baik saja, bahkan sudah bersama Axel lagi.
"Gue di permainkan bocah bau kencur, sialan!" gerutunya. Entah sudah berapa kali dalam pagi ini Ivan terus menggerutu, benar-benar di luar kebiasaannya.
Ivan terus berjalan menuju ruang guru, berusaha mengacuhkan Vin-vin, walaupun dia ingin sekali menoleh untuk melihatnya.
Dia berusaha keras untuk menjaga kepalanya tetap menghadap ke depan. Berusaha sangat keras.
.
Jam pelajaran pertama kelas XII IPS 2 adalah olah raga. Ivan mengumpulkan semua murid nya di aula sekolah dan mengatur matras dan beberapa peti jongkok untuk melakukan senam lantai.
Semua murid duduk memutar di pinggiran matras sambil menunggu giliran mereka.
Ivan berdiri sambil meniup peluitnya dan menilai satu-satu anak muridnya melakukan lompat jongkok dan lompat kangkang sesuai instruksinya.
"Lo liat tadi, mata si bocah kecentilan itu! matanya bengkak."
Ivan mendengar sayup-sayup beberapa murid wanita ngobrol dengan teman di sebelahnya.
"Mungkin dia ketakutan sampai nangis semalaman gara-gara gertakan Lo kemarin."
"Nggak mungkin, kalian nggak liat muka songong dia kemarin apalagi waktu Axel datang dan bantuin? Jadi cewek kecentilan amat mentang-mentang anak orang kaya! lihat aja nanti."
"Lo mau ngapain lagi? sejak kemarin si Axel itu nggak mau lepas dari dia, nempel terus kaya perangko."
"Lihat aja nan..." seketika kata-kata yang keluar dari mulut terhenti saat dia sadar, Pak Ivan sedang menatapnya.
Beberapa murid wanita yang tadi sedang bergosip langsung terdiam saat Pak Ivan berjalan mendekati mereka.
"Apa pelajaran saya kurang menarik sampai kalian asyik ngobrol sendiri?"
"Maaf Pak." jawab mereka kompak sambil tertunduk malu.
Ivan memperhatikan tiga murid wanita yang tertunduk karena ketahuan ngobrol sendiri di jam pelajarannya, namun dalam hati dia bertanya-tanya siapakah yang di bicarakan mereka? mungkinkah itu Vin-vin?
Ivan tak mungkin menanyakan hal itu pada mereka secara langsung, haruskah dia bertanya saja pada Vin-vin? Itu lebih tidak masuk akal.
Dan kenapa Ivan jadi begitu peduli dengan gosip murid-muridnya? tapi hatinya terasa makin tak tenang.
"Vin, ke kantin yuk, laper nih..." ajak Mutiara sambil menatap teman sebangkunya yang nampak enggan beranjak dari duduknya.
"Males ah..." jawab Vin-vin.
"Kamu kenapa sih? mata bengkak, nggak semangat... ada apaan, cerita dong.." pinta Mutiara sambil menarik-narik lengan baju Vin-vin.
"Mut..." Vin-vin merebahkan kepalanya di atas meja sambil menatap Mutiara yang duduk di sampingnya sambil terus menatap dirinya.
"Semalam aku ketemu Pak Ivan di cafe..."
"Terus?"
"Dia ganteng banget, apalagi waktu nyanyi di atas panggung. Suaranya enaaak banget... bikin aku melayang..." Vin-vin sampai memejamkan mata sambil membayangkan kejadian semalam.
"Terus???" Mutiara makin geregetan katena Vin-vin terus berputar-putar tanpa memperjelas inti ceritanya.
"Setelah selesai nyanyi, aku deketin dong... aku ajak ngobrol..."
"Terus apa Vin-vin!!! jangan bikin aku gemes doong!!!"
"Aku tanya, lagu tadi buat siapa? dia jawab buat tunangannya..." Vin-vin menutup wajahnya berusaha menyembunyikan wajah kecewa dan sedihnya.
"Kamu ketemu sama tunangan Pak Ivan di cafe?" tanya Mutiara terkejut.
"Enggak," Vin-vin menggeleng.
"Ngapain dia nyanyiin lagu buat orang yang nggak ada di sana?" tanya Mutiara bingung.
Vin-vin terdiam, otaknya mulai mencerna ucapan sahabatnya itu.
"Iya ya? ngapain dia nyanyi tapi yang di kasih lagu nggak ada?" Vin-vin bangun dari tidurannya.
"Mungkinkah Pak Ivan sengaja panas-panasin aku? bikin aku cemburu?" tiba-tiba wajah Vin-vin berubah cerah.
"Kalau dia nggak ada rasa ke aku, ngapain dia berusaha keras berbohong buat bikin aku cemburu?" Wajah Vin-vin makin terlihat ceria.
"Ya jangan terlalu Ge-er juga keuleus!" ingat Mutiara.
Vin-vin tersenyum lalu buru-buru mengambil ponselnya.
"Kamu mau ngapain?"
"Chat Pak Ivan," ucapnya lirih.
"Kamu punya nomernya?" Mutiara terbelalak tak percaya.
Vin-vin mengangguk sambil terus tersenyum sampai giginya kering.
"Aku mau ngajak dia pulang bareng, sama minta penjelasan tentang kata-katanya semalam. Jangan-jangan dia beneran bohong tentang tunangannya." Vin-vin terus bergumam sambil jarinya sibuk menari-nari di atas tuts ponselnya.
'Pak Ivan...'
Tulis Vin-vin memulai chating nya.
'Ya.'
Ternyata tak sampai lima detik sang guru pujaan langsung membalas chating nya.
'Nanti pulang sekolah bareng ya pak, dari kemarin gagal terus.'
'Bukannya kamu ya, yang batalin tanpa kabar.'
'Iya maaf Pak, hari ini pasti nggak gagal. Aku tunggu di cafe d'best ya.'
'Y'
"Yes!" teriak Vin-vin girang.
Mutiara hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan tingkah sahabatnya yang satu ini.
"Sekarang aku tinggal bilang ke Axel kalau aku nggak bisa pulang bareng dia." gumam Vin-vin.
"Apa ya alasannya..."
"Terserah lah! yang penting sekarang ayo ke kantin, aku laper!" Mutiara menarik tangan Vin-vin agar mengikutinya ke kantin.
"Iya iya..."