
"Rissa?!"
Rissa menaikkan satu alisnya sambil menatap Vin-vin. "Dasar bocah nggak punya sopan santun! panggil orang yang lebih tua cuma nama doang!" ketusnya.
"Oh, maaf Bi."
Rissa makin geram, tangannya mengepal dan dia ayunkan ke udara.
Vin-vin spontan mengangkat tangannya untuk melindungi wajah yang mungkin saja akan di tampar oleh Rissa.
"Maaf! Anda siapa ya?!" tiba-tiba suara nyaring seorang guru wanita, mengurungkan niat Rissa untuk memukul Vin-vin.
Vin-vin membuka matanya dan melihat Bu Yosephine berjalan mendekatinya lalu berdiri tepat di depannya, seolah melindungi Vin-vin dari Rissa.
"Ada perlu apa? dengan murid Saya? dan kenapa orang asing bisa masuk ke lingkungan sekolah!" cerocos Bu Yosephine, tegas.
Rissa mencibir, "Gue tunangannya Ivan, gue mau ketemu tunangan gue sendiri, memangnya harus pakai ijin?"
Bu Yosephine tampak menelan saliva, wajahnya pun berubah sedikit suram mendengar ucapan Rissa.
"Tu-tunangan Pak Ivan?" ulangnya masih tak percaya.
"Bohong dia, Bu!" sela Vin-vin.
"Gue punya buktinya, gue punya foto pertunangan sama Ivan," Rissa merogoh tas tangannya dan mengambil selembar foto dari dalam sana.
"Itu bukan kamu!" sela Vin-vin lagi. Dia kesal karena Rissa menggunakan foto Rina dan Ivan untuk membohongi Bu Yosephine. Mentang-mentang kembar identik, dia bisa berbuat seenak jidatnya.
"Mohon maaf," tanpa menerima foto yang di berikan Rissa, Bu Yosephine lanjut berkata, "mau Anda tunangan Pak Ivan, mau Anda Istri Pak Ivan, itu terserah. Tapi di sini adalah lingkungan sekolah. Jika ingin membicarakan masalah pribadi, silahkan kalian bertemu di luar sekolah." Bu Yosephine mengulurkan tangan kanannya mengarahkan ke pintu keluar.
Vin-vin tersenyum senang sambil mengacungkan dua jempolnya ke arah guru matematika yang terkenal killler itu.
Baru kali ini, Vin-vin merasa hormat pada sang guru.
Rissa berdecih, lalu pergi meninggalkan Bu Yosephine dan Vin-vin. Namun bukan untuk keluar dari lingkungan sekolah, dia malah terus berjalan menuju ruang guru.
"Pak Ivan sudah datang belum, Bu?" tanya Vin-vin.
"Saya juga belum sampai ke ruang guru," jawab Bu Yosephine sambil berjalan cepat menuju ruang guru diikuti Vin-vin.
"Kenapa kamu ikut?"
"Saya penasaran, Bu. Ada apa sebenarnya?" tentu saja Vin-vin penasaran. Dia benar-benar tak tau apa maksud dan tujuan Rissa yang tiba-tiba datang ke sekolah.
Saat tiba di ruang guru, Vin-vin menghentikan langkahnya ketika melihat Rissa duduk sambil menangis tersedu-sedu di kelilingi oleh para guru.
Vin-vin tak berani masuk, dia hanya bersembunyi di dekat pintu yang terbuka lebar dan berusaha mendengar percakapan Rissa.
"Saya sedih..." ucap Rissa sambil tersedu.
"Pertunangan kami terancam batal, karena Ivan melirik wanita lain... hix..." Rissa menyapukan selembar tissue ke air mata buaya yang menetes di pipinya.
"Padahal kami sudah bertunangan selama dua tahun lamanya dan sebentar lagi kami akan menikah, tapi..." Rissa sengaja tak melanjutkan ucapannya, dia kembali terisak sambil menutup wajahnya dengan tissue.
Entah apa tujuan wanita itu.
Bu Yosephine tampak terkejut, dia pun terduduk di dekat Rissa.
"Pak Ivan bukan orang seperti itu," gumam Bu Yosephine, walau terkejut dia masih tak percaya dengan ucapan Rissa.
"Saya tidak bohong! dia selingkuh dengan muridnya sendiri! muridnya di sekolah ini! Gu-eh, Saya pernah memergoki mereka di bioskop! nama anak itu-"
"Rissa!" Teriakan lantang Ivan menghentikan celotehan Rissa.
Dengan penuh amarah, Ivan berjalan mendekati Risa dan menarik tangannya agar dia beranjak dari duduknya.
"Ah..." pekik Rissa, dia berakting kesakitan saat tangannya di cengkram Ivan.
"Jangan kasar, sayang. Aku sedang hamil..."
Seluruh guru di ruangan itu menganga tak percaya, mereka terkejut berjamaah dengan ucapan Rissa.
Ivan mengernyit, "Lo lagi bikin rencana gila apa sih, Ris?" geramnya.
"Aku nekat datang ke sini karena kamu susah di hubungi, aku hamil Van! anak ini butuh Ayahnya!" Risa mengelus perutnya yang rata.
"Jangan bercanda!"
"Pak Ivan!" Pak Kepala Sekolah menunjukkan wajah tak senangnya. Dia berjalan mendekati Ivan dan Rissa.
"Sudah cukup keributan yang pernah di buat Daniel. Saya tidak ingin ada keributan seperti ini di lingkungan Sekolah!" Ucapnya tegas.
"Maaf, Pak. Saya janji hal ini tidak akan terulang lagi," sesal Ivan.
Pak Kepala sekolah mengangguk, "Cepat selesaikan masalah kalian. Jangan sampai murid-murid atau siapapun tau dan membicarakan kalian nantinya!"
Ivan mengangguk lalu menarik Rissa agar keluar dari ruang guru. Saat melewati ambang pintu, mereka berpapasan dengan Vin-vin yang masih membeku di dekat pintu.
Ivan mendesah saat melihat wajah Vin-vin yang tampak kacau, dia sempatkan berbisik saat berjalan tepat di sebelah kekasih kecilnya itu, "janagan berpikir macam-macam," ucapnya mencoba menenangkan Vin-vin.
Lalu dia kembali berjalan sambil menarik Rissa menuju gerbang sekolah dan tentu saja, itu menjadi pemandangan yang membuat heboh seluruh murid yang sudah berada di lingkungan sekolah.
#bersambung...