Oh My Teacher

Oh My Teacher
Healing malah pusing.


'Pak, sabtu nanti kita kencan ya. Aku ingin jalan-jalan terus makan jagung bakar.'


Vin-vin membaca pesan teks nya berulang kali sebelum akhirnya mengirimkannya pada Ivan.


"Oke, kirim," gumamnya sambil menekan lingkaran hijau.


"Ngapain sih, Vin? asyik banget. Bakso kamu sampai dingin, nih," Mutiara gemas melihat tingkah sahabatnya itu. Susah payah dia mendapatkan kursi di kantin yang penuh sesak ini, demi apa? Vin-vin malah asyik dengan ponselnya dan tak kunjung menghabiskan makanannya.


Vin-vin acuh, lebih tepatnya, tak mendengar celotehan Mutiara. Dia sedang fokus memelototi layar ponselnya, menunggu balasan dari sang kekasih hati.


"Lagi ngapain sih dia? kok nggak baca-baca w* ku!" gerutu Vin-vin.


Mutiara mendengus, "Aku nggak di anggap sama sekali, buset dah!"


"Eh! di baca! dia online! dia lagi ngetik!" Vin-vin berseru girang sambil menarik-narik lengan baju Mutiara yang duduk di sebelahnya.


"Bodo amat!" ketus Mutiara, kesal.


'Nggak bisa.' Jawaban Ivan begitu singkat.


Vin-vin spontan memukul meja, setelah membaca pesan singkat dari pacarnya itu.


"Dia mau ngajakin berantem ya?! kok, bisa-bisanya menolak ajakanku?!" Vin-vin geram dan menekan tuts dengan kasar.


'Kenapa? emangnya mau kencan dengan cewe lain?'


'Aku ada janji dengan Dion, mau kemping.'


'Aku ikut!'


'Aku cuma pergi berdua dengan Dion, apa kamu nyaman nanti?'


Vin-vin terdiam setelah membaca pesan dari Pak Ivan. Dia pun berpikir jika apa yang diucapkan Ivan ada benernya. Nggak asyik kan, kemping di gangguin Om Dion.


(Padahal dia yang gangguin Ivan dan Dion.)


"Kalian sudah selesai makan?" Tiba-tiba Axel muncul sambil membawa semangkuk bakso dan jus jeruk. Tanpa di persilahkan, dia langsung duduk di sebelah Mutiara. Mereka berdua saling melemparkan senyum malu-malu.


"Kamu makan bakso? kok nggak pakai lontong?" tanya Mutia sambil menyerahkan sendok pada Axel.


Axel tersenyum manis seraya mengucapkan Terima kasih.


Kali ini Mutiara bersyukur karena Vin-vin sangat sibuk dengan ponselnya, jika tidak, pasti dia tak akan duduk bersebelahan dengan kekasih hatinya ini.


Mutiara menatap Axel sambil tersenyum lebar, jantungnya berdebar sangat cepat karena Axel hanya berjarak lima senti dari dirinya duduk, bahkan kadang kulit lengan mereka saling bergesekan hingga membuat jantung Mutiara meletup-letup seperti air yang mendidih.


"Mut!"


Panggilan Vin-vin tak di gubris Mutiara. Bukan karena Mutiara ingin balas dendam karena Vin-vin melakukan hal yang sama padanya barusan, tetapi dia sekarang sedang sibuk memandangi wajah kekasih hatinya yang sedang makan bakso tepat di sebelahnya.


Axel tampak sempurna saat makan bakso dan menyeruput jusnya. Mutiara serasa sedang menonton vidio klip yang di bawakan oleh artis terkenal.


"Aku mau lah, jadi baksonya..." gumam Mutiara.


"Emuutt!!!" teriakan Vin-vin akhirnya berhasil membuyarkan lamunan Mutiara.


"Apa sih? ganggu aja orang lagi sibuk," kesal Mutiara.


"Besok sabtu, ikut aku kemping ya," ajak Vin-vin.


"Males! kamu suruh aku jadi obat nyamuk! kamu si enak berduaan sama Pak Ivan, lah aku?!"


"Pak Ivan datang sama Om Dion, kok. Jadi nanti kamu ada temennya.


Mutiara menatap Vin-vin dengan kesal, "coba ulangi, aku takut telingaku salah dengar.


"Di sana nanti ada Om Dion, kan nanti kamu ada temen ngobrol."


"Excuse me! sejak kapan aku merasa bahagia bisa ngobrol sama om Dion itu?" kesal Mutiara.


"Sorry! gue nggak mau! titik!"


"Tapi kan kita nggak pernah kemping, kalau aku pergi sendiri, nanti aku tidur sama siapa dong, masa sama Pak Ivan.. nggak boleh lahh..., " Vin-vin meringis sambil menatap sahabatnya.


"Please Mut! tolongin aku kali ini aja," Vin-vin memohon sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Ogah!"


"Kalau gitu, aku ikut juga. Biar tambah rame. Boleh kan?" tanya Axel.


"Boleh dong," Vin-vin langsung ceria.


"Kapan kita berangkat?" tanya Mutiara yang tiba-tiba jadi antusias.


"Sabtu."


...****************...


"Kenapa kalian semua jadi ikut sih?" Ivan tampak kaget saat melihat Vin-vin, Mutiara dan Axel datang ke rumahnya pagi-pagi.


Kebetulan, hari sabtu ini adalah hari libur nasional, sehingga mereka bertiga tidak perlu berangkat ke sekolah dan bisa ikut acara kemping Ivan dan Dion.


"Aku mau ikut!" rengek Vin-vin.


"Aku nemenin Vin-vin, biar dia nggak cewek sendiri," sambung Mutiara.


"Aku nemenin mereka berdua, biar nggak ada yang gangguin," ucap Axel.


Ivan memijit pelipisnya, pusing dengan tingkah kekanak-kanakan Vin-vin.


"Memangnya kalian sudah pernah kemping?"


Saat Vin-vin membuka mulutnya untuk menjawab, Ivan sudah mendahuluinya dan berbicara dengan nada kesal.


"Jelas sekali, belum pernah!"


"Eh, kok Pak Ivan tau?" Vin-vin tetap ceria dan tak memperdulikan nada ketus dalam ucapan pacarnya itu.


"Ya tau lah! mana ada orang kemping pake koper!" Ivan menjambak rambutnya sendiri, frustasi.


"Memangnya kamu mau kemping di hotel? kita mau kemping di puncak, di deket hutan belantara. Gimana caranya kamu bawa koper itu di jalanan berbatu!" Ivan mencoba menahan emosinya.


"Terus kita harus pakai apa dong?" tanya Mutia, ikut bingung.


"Pakai tas ransel! syukur syukur tas ransel yang untuk naik gunung!" Ivan mendengus.


"Prepare aja kalian nggak tau, malah mau ikut! hadeuh..."


"Bro, yuk kita be... rang... kat? ngapain kalian ngumpul di sini? mau pada kemana?" Dion yang tiba-tiba muncul, terkejut, karena di depan kamar apartemen Ivan sudah berdiri tiga anak murid sahabatnya itu.


"Mau ikut kemping, Om," jawab Vin-vin ceria.


"Kemping? dengan koper dan flatshoes?" Dion terkejut.


Ivan menggelengkan kepala sambil menahan emosi, dia pun berjalan masuk ke dalam rumahnya.


"Sini, bawa barang-barang kalian!" titahnya.


Ivan membuka lemarinya dan mengeluarkan sebuah tas ransel jumbo yang biasa dia pakai untuk hiking dan kemping.


"Ambil barang barang yang penting saja, lalu masukkan sini.


Vin-vin melonjak senang dan buru-buru mendekati Ivan diikuti Mutiara dan Axel.


" Oh iya, nanti kita kemping di mana, Pak? aku harus kasih tau Papi alamatnya, supaya Papi dan Mama nggaak khawatir." Vin-vin mengambil ponselnya dan menunggu jawaban dari Ivan.


Ivan yang sedang sibuk menata barang barang Vin-vin ke dalam tas, mendengus makin kesal.


Sedang Dion hanya cekikikan sambil bersandar di kusen pintu, menyaksikan sahabatnya yang sibuk membereskan barang bawaan murid-murinya.


"Mau kemping, healing malah jadi pusing. Hahaaha..."


"Berisik Lo!" kesal Ivan.