
"Kalian beneran mau pulang sekarang?" Vin-vin menatap kedua sahabatnya yang sudah bersiap untuk kembali ke negaranya.
"Kalian kan baru tiga hari di sini, kita belum sempat kemana-mana."
"Tak apa lah, Vin. Bila-bila masa kami boleh main kat sini lagi, don't worry, oke?" ucap Ami menenangkan.
"Ini semua sebab my aunty nak berkawin, kami sudah berjanji nak bantu dia masak-masak," lanjut Sofia.
"Apa aku juga ikut ya, bantu kalian?" tawar Vin-vin.
"Tak payah lah, awak tu mahal, kami tak payah nak bayar," canda Sofia.
"Apaan sih!" kesal Vin-vin sambil mencubit lengan Sofia.
"Awak tu kan juara di universiti, tak payah lah masak di tempat orang berkawin, awak harusnya jadi chef di hotel berbintang lima," jelas Sofia.
"Kalau kalian berdua nak kawin, tak boleh lupakan kami! kalian harus invite kami!" ingat Ami sambil melirik Ivan yang sejak tadi diam dan memperhatikan Vin-vin dan kedua temannya.
"Don't forget, abang owner hansem! awak wajib invite kami!
Ivan tersenyum tipis sambil mengangguk paham.
"Bye Vin.. bye uncle..." ucap Sofia mengakhiri celotehan Ami. Dia pun menarik Ami agar segera menuju loket untuk chek in.
"Kenapa aku di panggil 'uncle'? memangnya aku setua itu?" kesal Ivan sambil berkacak pinggang.
Vin-vin tak menjawab, dia hanya tersenyum tipis agar Ivan tak menyadarinya.
"Kenapa Pak Ivan repot-repot nganter, sih?"
"Aku nggak repot kok," jawab Ivan santai sambil berjalan perlahan menjejeri langkah kaki Vin-vin.
"Dari mana Pak Ivan tau, aku mau ke bandara pagi ini?" Vin-vin menghentikan langkah kakinya sambil menoleh untuk menatap Ivan.
Sejak pagi tadi, saat Ivan muncul di depan rumahnya bertepatan dengan Vin-vin, Ami dan Sofia hendak pergi, Vin-vin sudah merasa sangat penasaran, namun dia belum sempat bertanya karena dia masih sibuk dengan kedua temannya.
"Dari Devan," jawab Ivan dengan santai.
"Devan? sejak kapan sih kalian jadi akrab begini?" tanya Vin-vin penasaran.
"Sejak kamu pergi tiga tahun yang lalu, selama itu lah perjuanganku untuk mendapatkan hati seluruh anggota keluargamu," Ivan tersenyum getir sambil berusaha terlihat tegar. Terlihat sekali dia berjuang sangat keras untuk mendapatkan hati Papi dan Devan.
"Oh iya, aku penasaran..." ucap Ivan mengalihkan pembicaraan.
"Penasaran tentang apa?"
"Apa maksud Ami tadi? kenapa dia mau di undang waktu kita sedang kawin? memangnya dia mau nonton kita berkembang biak? gila ya temen kamu?"
Vin-vin terdiam sambil menatap Ivan bingung, lalu dia menggelengkakn kepala sambil menepuk-nepuk jidatnya.
"Maaf ya Vin, aku nggak setuju kalau dia mau menonton kita yang sedang..."
"Bukan itu maksudnya!" ketus Vin-vin, dia berusaha menghentikan ucapan Ivan yang ngawur.
"kawin itu maksudnya menikah, bukan kawin yang itu..." jelas Vin-vin sambil menahan suaranya agar tak terpancing emosi.
"Oohh seperti itu?" Ivan manggut-manggut mengerti.
Vin-vin melotot kesal karena Ivan terlihat sekali berpura-pura bodoh.
"Aku mau pulang!"
"Iya, ini mau aku antar. Tapi sebelum itu kita ke rumahku sebentar ya, ada yang mau aku ambil." Ivan membukakan pintu mobil untuk Vin-vin dan mempersilahkan nya masuk. Vin-vin bak ratu dan di perlakukan sangat istimewa oleh Ivan.
Bohong jika Vin-vin tak merasa Geer, tapi dia tetap bersikap santai karena tak mau Ivan tau jika dirinya merasa sangat bahagia.
Selama perjalanan, baik Ivan dan Vin-vin hanya diam. Mereka berdua seperti tak bisa menemukan hal untuk di bicarakan. Dan itu membuat Vin-vin merasa kesal dan canggung. Padahal dulu dia tak pernah merasa seperti ini saat bersama Ivan.
Vin-vin melirik Ivan sekilas dan jatungnya kembali berdebar tak karuan.
Ivan hanya memakai kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku, celana jeans warna biru dongker dan sepatu kets warna putih, namun itu saja sudah cukup membuat jantung Vin-vin akrobat di dalam sana.
Apalagi, bulu-bulu halus yang menghiasi dagu dan pipinya, benar-benar membuat Vin-vin gemas.
"Pak Ivan... masih mengajar di sekolah?" tanya Vin-vin berusaha mencari bahan untuk diobrolkan.
"Nggak, aku sudah resign 2 tahun yang lalu."
"Kenapa?"
"Calon istriku sepertinya tak suka aku jadi guru, jadi aku keluar."
Vin-vin mengerutkan alisnya, "siapa?"
"Siapa apa?"
"Siapa calon istri Pak Ivan yang nggak setuju Pak Ivan jadi guru?"
Bukannya menjawab, Ivan malah menatap Vin-vin bingung. "Kamu lah, siapa lagi?"
"Kapan? kapan aku pernah bilang nggak setuju?"
"Ck! kamu itu masih muda tapi daya ingatnya payah! waktu itu di apartemen ku, waktu kita makan pizza. Ahh.. sudahlah!" kesal Ivan.
"Ayo turun, kita sudah sampai." Ivan menepikan mobilnya lalu keluar untuk membuka pintu pagar sebuah rumah bergaya Mediterania bercat putih yang sangat indah.
"Rumah siapa lagi ini?" lirih Vin-vin.
Dengan perlahan Vin-vin turun dari mobil besar berwarna hitam pekat itu, lalu berjalan menuju pintu utama sambil terus menoleh ke kanan dan kiri, mengagumi rumah yang sangat indah itu.
"Ini rumah siapa?" tanyanya.
Jangan-jangan ini rumah Rissa, dan kenapa Ivan harus mengajak dia ke rumah Rissa?
"Ini rumah kita," jawab Ivan sambil tersenyum lebar.
"Kamu suka?"
"Suka... eh, kenapa? apa... apa maksudnya?!" Vin-vin terbata karena secara tak sadar mengakui jika dia suka rumah ini.
"Ya, ini rumah yang akan kita tempati dan membesarkan anak-anak kita nanti," lanjut Ivan sambil tersenyum penuh makna.
Melihat senyum Ivan yang masih menawan seperti dulu, tentu saja wajah Vin-vin langsung merona. Dia benar-benar tak dapat menyangkal lagi bahwa dia masih sangat menyukai mantan guru olahraga nya itu.
"Pak Ivan menghayal nya kejauhan!" Vin-vin berjalan menuju carport, dia berusaha pergi dari rumah ini.
"Vin!" Ivan meraih lengan Vin-vin lalu menariknya mendekat.
"Aku serius, jangan menolak terus. Aku tahu dalam hati mu masih cinta aku. Tapi kamu terlalu sombong. Entah apa yang membuatmu jadi seperti ini. Tolong, kembalilah jadi Vin-vin ku yang dulu lagi, yang manja, yang penyayang dan selalu di sisiku..."
"Aku bukan Vin-vin yang dulu!" Vin-vin melepaskan diri dari pelukan Ivan.
"Lalu aku harus bagaimana supaya kamu kembali seperti dulu?"
Vin-vin tak menjawab, dia hanya berjalan menjauh meninggalkan Ivan.
Saat melihat taksi melintas, Vin-vin buru-buru menyetop nya dan naik.
Dari dalam taksi, dia menatap Ivan yang masih terdiam di dekat mobilnya. Entah kenapa Vin-vin tiba-tiba terisak.
"Bukan.. Pak Ivan nggak salah... semua ini adalah karena aku terlalu egois dan malu untuk mengakuinya.. maaf Pak..." batin Vin-vin.