
"Ini..." Axel masuk ke kelas Vin-vin sambil membawa sekantong kresek makanan.
"Kamu tadi belum sempat makan kan?" Axel menumpahkan semua isi yang ada di dalam kresek warna hitam di atas meja Vin-vin dan Mutia.
"Wuahh... banyak banget!" Mutia menganga melihat meja belajarnya penuh oleh makanan yang di bawa Axel.
"Ada roti pisang keju coklat kesukaanmu Vin, eh ada martabak asin juga, ada susu strowbery lalu..."
"Aku nggak napsu makan, kamu aja yang makan Mut," Vin-vin melipat kedua tangannya dan merebahkan kepalanya di atas meja.
"Nggak boleh! kamu harus makan! tadi kan kamu nggak makan!" Axel menarik sejumput rambut Vin-vin agar dia bangun namun Vin-vin tetap tak bergeming.
Vin-vin diam, kejadian saat Rissa berteriak-teriak di gerbang sekolah sungguh membuatnya shok. Ternyata Rissa memang wanita yang gila dan tak punya urat malu.
Dan yang membuatnya makin kepikiran hingga tak napsu makan adalah Pak Ivan yang tak juga mengabarinya hingga sekarang.
"Apa yang terjadi tadi? kenapa Pak Ivan belum ada kabar..." Gumam Vin-vin lirih.
"Aku kaget banget loh lihat Rissa tadi, dia teriak-teriak kayak orang gila di depan. Jadi tontonan pun dia nggak malu malah tambah kenceng teriaknya," Mutia mengambil sebuah roti dan mulai membuka bungkusnya.
"Kamu benar-benar harus hati-hati Vin," lanjut Mutia sambil menggigit roti pisang keju nya.
"Rissa itu kembaran tunangan Pak Ivan?" tanya Axel pada Mutia.
Mutia mengangguk.
"Aku nggak sempet liat wajahnya," Axel mengambil sekotak susu, lalu menancapkan sedotan di lubangnya dan memberikannya pada Mutia.
"Yang pasti dia nggak lebih cantik dari kamu Vin, aku yakin itu. Jadi kamu jangan minder," lanjut Axel sambil menatap Vin-vin.
Mutia yang mendapatkan perhatian Axel, langsung tersipu malu. Dengan perlahan dia meminum susu yang Axel beri tadi.
"Ini bukan soal siapa yang lebih cantik, Xel!" kesal Vin-vin.
"Aku yakin seyakin yakinnya, Pak Ivan pun nggak akan tertarik sama Rissa walau dia secantik miss Universe! tapi sikap gila Rissa yang membuat aku takut. Aku takut dia nyerocos di sekolah ini, teriak-teriak kalau aku sama Pak Ivan ada hubungan. Bisa bisa Pak Ivan di pecat seperti si Kuda Nil itu! eh ya ampun amit-amit!" Vin-vin mengetuk mejanya tiga kali karena sadar dengan ucapannya yang ngelantur, "masa aku samain Pak Ivan sama si Kuda Nil! amit-amit!"
Mutia ikut mengetuk meja tiga kali sambil komat kamit mengucapkan amit-amit.
Mana mungkin lah Pak Ivan yang sangat ganteng, baik dan bijaksana di samakan dengan makhluk macam Daniel.
"Ngomong-ngomong si Daniel itu bagaimana kabarnya ya?" lanjut Mutia penasaran.
"Kalau kamu kangen, tengokin sana di penjara," gerutu Vin-vin sambil kembali merebahkan kepalanya di meja.
"Idiihh! sorry ya gue kangen! amit-amit!" gerutu Mutia sambil mengetuk meja lagi.
Melihat Vin-vin yang tampak kacau, Axel hanya bisa menghela napas dan tersenyum tipis.
"Vin," Axel menepuk pundak Vin-vin.
"Kamu percaya saja sama Pak Ivan, aku yakin dia bisa menyelesaikan masalah Rissa. Kalau kamu stress begini malah jadi tambah beban pikiran buat Pak Ivan."
"Iya Vin, kamu harus bisa menguatkan Pak Ivan, supaya dia bisa menyelesaikan masalah nya," Mutia pun ikut menyemangati Vin-vin yang tampak lesu.
Vin-vin mengangkat kepalanya dengan cepat saat mendengar notif chat masuk di ponselnya.
"Dari Pak Ivan," lirihnya sambil tersenyum.
'Sepulang sekolah kita jalan-jalan ya. Aku tunggu di kafe d'best.'
Wajah kusut Vin-vin sontak berubah jadi ceria setelah membaca pesan dari Pak Ivan.
"Hmmm! kita berdua sudah semangatin sampai berbusa dan Lo nggak gubris, eh begitu Pak Ivan chating, Lo langsung girang! dasar bucin!" Mutia kesal lalu menyedot susu kotaknya hingga habis dan mengeluarkan suara berisik.
Vin-vin kembali tersenyum sambil menatap sahabatnya yang tampak cemberut, "Iya makasih ya bestie, kalian memang the best!" ucap Vin-vin sambil memeluk manja sahabatnya.
"Bodo amat!" bentak Mutia sambil berpura-pura marah.
Axel tersenyum melihat Vin-vin kembali ceria. Ya, dia memang sudah tahu jika Vin-vin sangat menyukai guru olah raganya itu. Bahkan pendekatannya selama lebih dari sepuluh tahun tak berarti apa-apa di mata Vin-vin. Yang nampak bagi Vin-vin hanyalah Pak Ivan saja.
Awalnya memang sangat sakit, tapi lama-lama Axel juga menyadari jika perasaannya pada Vin-vin sudah tak sama seperti dulu, sekarang hanya ada perasaan sayang seperti seorang kakak pada adiknya. Dan itu lebih baik bagi mereka berdua, agar Axel dan Vin-vin bisa bahagia dengan jalannya masing-masing.
"Aku balik kelas dulu ya," Axel bangkit dari duduknya, keberadaannya sudah tak di perlukan lagi karena Vin-vin sudah nampak bersemangat.
"Iya," jawab Vin-vin tanpa menoleh, dia masih asyik menatap layar ponselnya.
"Kamu nggak makan dulu Xel, ini kan ada banyak..." Mutia mencoba meencegah lelaki pujaannya yang akan pergi.
"Aku beli itu buat kalian berdua kok, habiskan ya..." Axel tersenyum tipis sambil menatap Mutia, sebelum beranjak dia bahkan sempat mengelus pucuk kepala Mutia dan sukses membuat Mutia membeku di tempatnya.
"Ha.. Hati-hati ya Xel..." ucap Mutia Lirih karena suaranya seperti tercekat di tenggorokan. Sikap manis Axel sungguh membuat hatinya meleleh.
Axel kembali tersenyum lalu berjalan menjauh meninggalkan dua sahabat karib itu.
.
Saat berjalan di Koridor sekolah, Axel berpapasan dengan Pak Ivan. Mereka bertatapan cukup lama sampai Axel akhirnya membuka suara.
"Jangan buat Vin-vin cemas karena masalah pribadimu dengan Rissa! Jika Pak Ivan memang tak punya hubungan apa-apa dengannya, cepat selesaikan! Kasihan Vin-vin!" gertak Axel lalu dia pun berlalu meninggalkan Ivan yang masih terdiam.
Saat akhirnya tersadar, Ivan langsung berbalik untuk menatap Axel. Lebih tepatnya punggung Axel yang mulai menjauh, "Tenang saja Xel! Saya akan atasi masalah ini!" ucap Ivan setengah berteriak agar Axel bisa mendengar ucapannya dengan jelas.
Axel tak membalas, dia juga tak membalik badannya. Dia hanya mengangkat tangannya yang mengepal lalu memasukkaannya lagi ke dalam saku celana.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
🙏🙏 Mohon maaf lahir dan batin ya man teman....🙏🙏
(akoh cuma bisa minta maaf karena jarang up.. maaf sekali lagi maaf... 🙏🙏)
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...