Oh My Teacher

Oh My Teacher
Hukuman membawa berkah.


"Papi, nanti anter Vin-vin berangkat kan?"


"Iya dong."


"Kamu lagi marahan sama Axel?" tanya Mama Lucy sambil menatap wajah putri cantiknya yang sedang asyik sarapan di meja makan.


"Nggak kok Mah, Vin-vin cuma ingin jaga jarak aja sama Axel... ya, gitu deh," Vin-vin mengangkat kedua pundaknya.


"Iya betul, Papi setuju. Mulai hari ini Papi aja yang antar kamu berangkat sekolah. Nanti kalau pulangnya Papi nggak bisa jemput, Papi bilang ke Bang Kevin."


"Tenang aja Pih, semua bisa Vin-vin atur, tenang aja..." jawab Vin-vin mencoba menenangkan orang tuanya. "Sebentar lagi kan Vin-vin sudah 17 tahun, sudah gede, sudah bisa jaga diri."


Aldrich hanya tersenyum sambil mengelus lembut kepala putri kesayangannya.


"Devan mana Mah? mau ikut sekalian berangkat sekolah nggak ya?"


"Devan nanti sama aku aja Pih," jawab Mama Lucy sambil membersihkan meja makan karena suami dan anaknya sudah selesai sarapan.


"Mah, Vin-vin berangkat dulu ya." Vin-vin menyalami tangan Mama nya dan berlari mengikuti Papi nya yang sudah berjalan jauh di depan.


"Hati-hati sayang," pesan Mama Lucy.


Vin-vin mengacungkan jempolnya sambil tersenyum riang.


Dia sangat bahagia hari ini, karena dia punya alasan untuk bertemu dengan Pak Ivan.


Buru-buru Vin-vin membuka tasnya dan mengecek apakah jaket Pak Ivan sudah dia bawa atau belum, kalau belum kan bahaya bisa gagal rencananya untuk ngobrol dan ketemu guru idamannya.


Saat melihat bungkusan di dalam tasnya Vin-vin mendesah lega, lalu dengan cepat mengejar Papi nya yang sudah berjalan lebih dahulu di depan.


.


Setelah sampai di gerbang sekolah, Vin-vin langsung berlari masuk setelah menyalami tangan Papi nya, dia sudah tak sabar.


Saat melewati parkiran motor, Vin-vin melirik ke dalam namun tak melihat ninja hijau milik Pak Ivan, dia pun menghela napas sambil memandang jam tangannya.


"Apa belum berangkat? padahal lima menit lagi bel masuk sekolah."


Vin-vin tetap berdiri di pintu parkiran motor sambil menunggu kemunculan Pak Ivan.


Namun yang muncul malah Hon*a PCX putih milik Axel.


Vin-vin serba salah dia pun menunduk dan berdiri agak menjauh agar memudahkan Axel untuk melewatinya.


"Kamu nunggu siapa? Pak Ivan?" tanya Axel yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingnya.


'Cepet banget parkir motornya?' batin Vin-vin.


"Ehmm.. i-iya mau mengembalikan sesuatu," jawab Vin-vin ragu-ragu.


"Ya udah, aku duluan ya. Bentar lagi masuk loh."


"Iya..." Vin-vin menatap Axel sambil tersenyum, walau mungkin senyumnya terlihat sangat di paksakan.


'Teeeeeet....'


"Duh, sudah bel masuk, kok Pak Ivan belum berangkat!" gumam Vin-vin, akhirnya dia pasrah dan meninggalkan tempat parkir motor dan berlari menuju ruang kelasnya.


Pelajaran pertama adalah matematika, dan dia tak boleh terlambat.


"Dari mana aja, kok baru nongol?" tanya Mutiara yang melihat temannya datang sambil ngos-ngosan.


"Aku, nungguin pak Ivan. Tapi orangnya nggak muncul-muncul," desis Vin-vin di tengah ngos-ngosan nya.


"Ngapain nungguin Pak Ivan, orangnya ada di ruang guru dari pagi."


"Hah? kok motornya nggak ada?"


"Mana aku tahu, emang aku emaknya..." cerocos Mutiara.


"Iih, ngeselin banget lah!" Vin-vin mengeluarkan buku pelajarannya dan melemparnya dengan keras di atas meja hingga bukunya terpental.


Pak Sri, guru matematika yang baru masuk pun sampai terkejut. Dia menatap marah ke arah Vin-vin.


"Kalau nggak suka pelajaran saya, silahkan keluar!" bentaknya marah.


"Keluar kamu!"


"Tapi pak..."


"Berdiri di lapangan upacara, selama pelajaran saya!" Bentak Pak Sri makin lantang.


Vin-vin tahu, jika dia mendebat terus, dia akan semakin di marahi. Akhirnya dengan perlahan, Vin-vin bangun dari duduknya dan berjalan keluar dari kelas menuju lapangan upacara yang terletak persis di depan ruang guru.


Vin-vin berdiri di tengah lapangan sambil terus menunduk, dia merasa malu.


Dia belum pernah mendapatkan hukuman seperti ini sebelumnya.


"Kenapa sih Pak Sri itu? kenapa sensi banget! lagi dapet apa? perasaan aku yang lagi dapet!!!" gerutu Vin-vin pada dirinya sendiri.


Dia berharap, hukuman ini hanya berlaku hari ini saja, dan besok saat pelajaran matematika dia sudah boleh mengikutinya kembali.


.


Tak lama kemudian, muncullah sosok yang Vin-vin cari sepanjang pagi ini. Ya, Pak Ivan keluar dari ruang guru dengan gagahnya mengenakan training warna biru Dongker, sangat cocok dengan kulitnya yang putih bersih.


Tanpa sengaja mata mereka bertatapan, Dan Vin-vin langsung menunduk mengalihkan pandangannya. Dia merasa malu karena Pak Ivan memergokinya sedang di hukum di tengah lapangan upacara.


Ivan tersenyum di kulum lalu berlari kecil ke arah Vin-vin.


Vin-vin yang tahu sedang di dekati Pak Ivan langsung berdebar-debar tak karuan. Wajahnya pasti sudah memerah karen malu, aahh.. seandainya di lapangan itu ada lubang, Vin-vin pasti nyemplung di sana dan bersembunyi.


"Kenapa berdiri di sini?"


Ucapan Pak Ivan mengejutkan Vin-vin, dia langsung mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk. Vin-vin memang tahu kalau Pak Ivan berlari mendekat, tapi dirinya tetap kaget saat mendengar suara beratnya menyapa dirinya.


"se-sedang di hukum..." ucap Vin-vin lirih.


Pak Ivan tertawa kecil.


"Ini semua gara-gara Pak Ivan!" ketus Vin-vin.


"Lho? kenapa?"


"Aku nungguin Pak Ivan lama banget di parkiran motor sampai terlambat masuk ke kelas, sampai akhirnya di hukum begini!"


"Kenapa kamu nungguin saya?" Pak Ivan terlihat bingung.


"Mau ngembalin jaket..."


"Hmm..."


"Aku kira Pak Ivan belum berangkat, karena aku nggak lihat motor milik Pak Ivan!"


"Motor saya sedang di service."


"Terus?"


"Terus apa?"


"Terus pulangnya gimana? kan aku mau nebeng."


"Memangnya aku janjiin buat anter kamu pulang?"


"Kan kemarin nggak jadi."


"Saya nggak mau berurusan sama Cowok kamu itu."


"Axel bukan pacar aku Pak.. suer! ya, nanti anterin aku pulang." Vin-vin mengusap-usap kedua tangannya di dada, memohon agar Pak Ivan mengabulkan keinginannya.


"Tapi dari sekolah ke bengkel motor, jalan kaki. Kamu mau?" Pak Ivan melipat tangannya di dada sambil memandang Vin-vin.


"Mau! mau! asal sama Pak Ivan mau jalan kaki sepuluh kilometer pun ayuk aja."


Pak Ivan terkekeh lalu berlari meninggalkan Vin-vin yang masih terpaku di tengah lapangan upacara. Dia harus buru-buru menuju lapangan Voli karena murid-murid nya sudah berkumpul dan menunggu di sana.


Vin-vin terus memandangi punggung guru tampannya yang berlalu dan terus menjauh sambil tersenyum-senyum persis orang b*go.


Entah kenapa, dia bersyukur bisa di hukum di tengah lapangan seperti ini, ini benar-benar hukuman membawa berkah buatnya, karena akhirnya dia bisa bertemu bahkan janjian pulang bareng dengan Pak Ivan, guru pujaannya.