Oh My Teacher

Oh My Teacher
Salting.


Vin-vin duduk di kursinya. Di depannya, tepat di atas meja, ada sebuah buku yang terbuka, tangan Vin-vin pun di hiasi pulpen berhiaskan bola berbulu berwarna pink, namun tatapan Vin-vin kosong. Pikirannya melayang, entah kemana.


"Vin! Vin!" Mutia menggoyang-goyangkan pundak Vin-vin dengan keras, berusaha membangunkan sahabatnya yang sedang melamun.


"Apaan sih, Mut!" kesal Vin-vin karena terus menerus di ganggu Mutia.


"Nggak seneng amat, lihat temen ngelamun!"


"Lo tu ya! sekarang sudah jam berapa?! sudah waktunya ke kantin tau! perasaan dari pagi sampai sekarang Lo cuman bengong mulu! mikirin apa sih!" cerocos Mutia.


Mutia merasa sangat kesal karena dia sudah kelaparan, tapi Vin-vin malah bengong dan tak menggubris ajakannya untuk ke kantin.


Vin-vin tersenyum di kulum, "nggak, nggak ada apa-apa. Yuk ah, kita ke kantin. Udah laper nih..." Vin-vin beranjak dari duduknya sambil menarik tangan Mutia agar mengikutinya.


"Ye! dari tadi juga!" kesal Mutia.


"Nggak usah ngegas keleus! hehehe... ya udah, aku traktir bakso deh," rayu Vin-vin.


"Sama martabak!"


"Oke."


"Es jeruk juga!" lanjut Mutia.


"Siap," jawab Vin-vin, santai.


"Kacang atom sama kerupuk mi kuning, terus oiya, tahu goreng dan..."


Vin-vin berhenti berjalan dan menoleh ke arah Mutia sambil melotot.


"Hehe.. bercanda.. cukup bakso, martabak dan es jeruk. Udah itu doang." Mutia tersenyum sambil menjulurkan lidahnya.


"Lama-lama makin mirip sama Om Dion, tau nggak! yakin kamu nggak mau coba pacaran sama dia, cocok loh kalian." ucap Vin-vin sambil melanjutkan langkahnya di ikuti Mutia.


"Siapa? gue? sorry sorry stroberi! jodoh gue itu Axel, titik nggak pakai koma!"


"Pede!" pekik Vin-vin sambil tertawa lepas. Namun tiba-tiba matanya menangkap bayangan yang sangat dia kenal, berjalan di Koridor sekolah, tak jauh dari tempatnya berdiri.


Vin-vin langsung terdiam, sambil terus menatap sosok itu.


Orang yang tadinya berjalan santai sambil sesekali tersenyum pada anak muridnya yang menyapa di sepanjang koridor itu pun, tampak kaget saat tatapan matanya bertemu dengan tatapan Vin-vin.


Senyum yang tadinya mengembang ramah, berubah menjadi senyum kaku.


"Eh, Pak Ivan tuh," bisik Mutia sambil menggoyang-goyangkan lengan Vin-vin.


Vin-vin hanya diam, namun matanya masih tetap menatap kekasih hatinya itu.


Sepintas, bayangan kejadian semalam melintas dan sontak membuat wajahnya merona.


Vin-vin bahkan tak bisa tidur sampai pagi karena kejadian itu terus terulang dalam pikirannya.


"Si-siang Mut.. Vin..." ucap Pak Ivan. Terlihat sekali nada gugup di ucapannya.


"Siang, Pak! sudah makan belum, Pak? kita mau ke kantin loh," jawab Mutia, membalas salam dari gurunya yang juga merangkap sebagai kekasih sahabatnya.


"Oh iya, silahkan. Saya belum lapar..." Ivan masih tampak gugup, dia bahkan terus memandang ke arah lain, tak berani memandang Vin-vin yang tengah berada di depannya persis.


"Sa-saya.. saya duluan ya," ucapnya lagi, sambil terburu-buru meninggalkan anak didiknya.


Mutia tampak bingung dengan perubahan sikap gurunya itu. Biasanya Pak Ivan terlihat cool dan mempesona, tapi hari ini dia terlihat kikuk dan aneh.


"Pak Ivan kenapa, Vin?" bisik Mutia sambil menoleh memperhatikan Pak Ivan yang berjalan semakin menjauh.


'Brak' dia menabrak tong sampah dan membuat isinya berhamburan keluar.


Vin-vin spontan menoleh dan melihat keadaan kekasihnya.


"Pak Ivan nggak apa-apa? sebentar Saya bantu," Mutia sudah bersiap untuk berlari mendekati Ivan, namun Ivan melarangnya.


"Nggak usah, Mut! jangan. Kalian pergi saja ke kantin," lalu dengan terburu-buru, Pak Ivan membersihkan kekacauan yang sudah dia buat.


"Tapi..."


Vin-vin menarik tangan Mutia, "udah, ayo buruan ke kantin."


Mutia makin bingung dengan sikap sahabatnya dan si guru ganteng.


"Kalian nggak lagi bertengkar, kan?" bisiknya, penasaran.


Vin-vin menggelengkan kepalanya. "Enggak kok. Udah yuk ah, keburu ramai kantinnya."


"Kalian berdua aneh deh!" gumam Mutia.


Sedangkan Vin-vin hanya tersenyum di kulum.


Dia pun mengingat kejadian semalam, saat Pak Ivan mengantarnya pulang.


Sepanjang perjalanan pulang, Pak Ivan terus bersikap kikuk dan gugup. Dia bahkan terus menerus meminta maaf pada Vin-vin karena kejadian panas di apartemen nya.


Aneh, padahal Vin-vin tidak merasa marah sedikitpun kok.


Setelah menghabiskan makanannya, Vin-vin pamit ke toilet sebentar pada Mutia. Dan sesampainya di toilet, dia segera menelpon Pak Ivan, mumpung jam istirahat masih tersisa beberapa menit.


"Ya, halo? ada apa?" jawab Ivan dari seberang telepon.


"Pak Ivan kenapa sih? kok sikapnya begini terus?" tanya Vin-vin yang lama-lama jadi kesal.


"Maaf, Sa-eh, aku.. aku cuma ngerasa malu... sudah berperilaku seperti itu..." desis Ivan.


"Aku malu ketemu kamu, takut lebih tepatnya. Takut kamu ilfeel dan menjauh..."


Vin-vin menghela napas lembut, "Aku nggak marah, sayang. I love you... semalam adalah malam paling indah yang nggak akan pernah aku lupakan. Sayang di interupsi sama Papi!"


Ivan membuang napas dengan kasar, dia bahkan memijit pelipisnya yang berdenyut gara-gara mengingat kejadian semalam.


Kembali membayangkan tubuh indah Vin-vin yang terpampang di depan matanya, wajah Ivan sontak merona.


"Aku malah berterimakasih pada Om Aldrich. Dia memang penyelamat..." gumam Ivan lagi.


"Jadi kamu nggak mau ya, berhubungan lebih dekat sama aku! nggak suka ciuman ku? nggak suka bentuk..."


"Pak Ivan kenapa, kok wajahnya merah gitu. Demam ya?" terdengar seruan dari Bu Yosephin dari sebrang telpon, dan tiba-tiba saja panggilan telponnya di matikan oleh Pak Ivan.


"Halo! halo!" Vin-vin berteriak kesal, saat dengan teganya Ivan menutup telponnya tanpa ba bi bu.


"Awas kamu ya! berani nutup telpon ku!" geram Vin-vin sambil menatap nyalang layar ponselnya.


Tiba-tiba sebuah pesan muncul di layarnya, dari Pak Ivan tentunya.


"I Luv U, too sweetheart..." di tambah emotikon bentuk hati berwarna merah.


Emosi Vin-vin yang tadinya membara, seketika padam. Hatinya langsung terasa ringan, bahkan senyum langsung mengembang lebar di wajahnya.


"Muuaach..." gemasnya sambil menciumi layar HP nya sendiri.