
Vin-vin masuk ke dalam apartemen mungil milik Ivan. Meletakkan tas sekolahnya dan melepas sweater yang selalu dia pakai di luar seragamnya.
Seperti merasa di rumah sendiri, Vin-vin langsung berjalan menuju mini pantry dan membuka lemari es milik pacarnya. Dia lapar dan ingin membuat sesuatu dengan bahan makanan yang ada di dalam lemari es.
"Kenapa?" Ivan yang baru saja masuk ke dalam apartemennya, heran dengan tampang Vin-vin yang cemberut.
"Pak Ivan malas banget sih kalau di suruh belanja! kulkas pasti selalu kosong," gerutu Vin-vin sambil berjalan dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Tampangnya terlihat kesal, bahkan pipi chubby nya menggelembung lebih besar.
"Sudahlah kita pesan aja, kamu mau makan apa?" Ivan duduk di sebelah Vin-vin sambil menunjukkan aplikasi pesan makanan online miliknya.
Bukannya menjawab, Vin-vin malah mendengus keras.
"Kalau marah ntar tambah laper loh," Ivan tersenyum melihat tingkah Vin-vin yang sangat menggemaskan.
"Aku mau pizza!"
"Oke aku pesenin pizza deh, sama cola?"
"Iyalah!"
Ivan menggelengkan kepalanya, "kamu kalau laper gampang marah ya?" ucapnya sambil tertawa lirih.
"Tau ah!"
Ivan meletakkan ponselnya di meja, "sudah aku pesankan. Tinggal nunggu datang. Aku ganti baju dulu ya," lalu Ivan bangun dari duduknya dan berjalan menuju lemari pakaian dan mengambil beberapa lembar kaos dan celana kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Vin-vin pun dengan sabar menunggu, hingga pizza pesanannya datang.
"Pak... memangnya bisa habis pizza sebesar ini?" Vin-vin masih terpana dengan Pizza yang ada di hadapannya karena Ivan memesan pizza limo sepanjang satu meter.
"Biar kamu kenyang, soalnya kalau kamu laper menakutkan. Bawaannya marah-marah melulu." Ivan terkekeh sambil lalu duduk di sebelah Vin-vin.
"Memangnya aku serakus itu!" Vin-vin kesal sambil mencubiti perut Ivan.
"Hahaha... iya maaf, sudah makan dulu keburu dingin." Ivan mengambil sepotong pizza yang tergeletak di meja dan memberikannya pada Vin-vin.
"Kalau nggak habis gimana?" tanya Vin-vin lagi sambil mulai mengunyah pizza yang berselimut keju mozzarella.
"Nggak apa-apa, bisa aku panasin buat makan malam nanti." Ivan pun mengambil sepotong dan memakannya.
"Memangnya nggak bosan? siang makan pizza, malam makan pizza lagi?"
"Kalau aku gampang bosan, nggak mungkin masih di sini sama kamu," jawab Ivan acuh sambil meminum collanya langsung dari botolnya.
"Jangan samakan aku dengan makanan dong!" Vin-vin gemas sambil mencubiti perut Ivan.
"Aduduh... perut aku biru biru semua ini, aku laporin kdrt loh!" canda Ivan sambil tergelak.
"Jari semungil ini mana mungkin bikin biru!" Vin-vin menunjukkan jari lentiknya tepat di depan wajah Ivan. Ivan pun tertawa makin keras.
"Oh iya Pak, ada gosip kalau Pak Daniel pacaran dengan murid XI IPS 2. Pak Ivan sudah dengar?"
Ivan menggeleng pelan sambil meneguk collanya.
"Kamu dengar dari siapa?"
"Tadi sewaktu aku dan Mutiara ke kelas XI IPS 2, ada cewek yang lagi heboh cerita kalau dia baru jadian dengan Pak Daniel. Ada yang bilang dia mau pacaran supaya dia bisa dapat nilai bagus, dan..."
"Dan apa?" Ivan menatap Vin-vin yang ada di sebelahnya, menunggu kelanjutan dari cerita Vin-vin.
"Katanya di dadanya ada tanda merah seperti bekas kiss mark!" bisik Vin-vin.
"Nggak usah bisik-bisik, kita kan di dalam rumah. Nggak ada orang lain di sini." Ivan gemas dan mencubit pipi chuby Vin-vin.
"Oh iya ding, sepertinya aku terlalu menghayati jadi gosiper," ucap Vin-vin sambil nyengir.
"Gosiper?? bahasa apa itu?!" Ivan terkekeh sambil kembali meminum collanya.
Ada sedikit perasaan khawatir menyelinap di hatinya. Khawatir akan keamanan Vin-vin jika dia tak di sampingnya. Karena jika gosip yang di dengar Vin-vin benar, Pak Daniel patut untuk di awasi dengan ketat. Dia sangat meresahkan!
Apalagi melihat tingkahnya yang selalu cari perhatian dan terus mendekati Vin-vin.
"Pak!" Vin-vin menepuk bahu Ivan.
"Kok malah ngelamun."
"Eh? oh iya, maaf. Ayo makan lagi yang banyak."
***
Vin-vin berjalan di koridor sekolah bersama Mutiara. Dia selalu ingat wejangan Pak Ivan agar selalu bersama seseorang nggak boleh sendirian.
Vin-vin tersenyum mengingat ucapan Pak Ivan kemarin, kadang-kadang dia memang terlalu over ketakutan mungkin kejadian di kafe puncak beberapa waktu yang lalu jugalah salah satu pemicunya.
"Heh! ngapain kok senyam senyum sendiri!" Mutiara menyenggol lengan Vin-vin, "apa yang lucu?"
"Enggak... cuma lagi teringat sama Pak Ivan," jawab Vin-vin sambil tersenyum lagi.
"Hmmm iyalah yang lagi anget-angetnya! aku ke toilet dulu ya, kamu tunggu di sini?"
Vin-vin celingukan dan tak melihat sosok Pak Daniel, sepertinya aman kalau dia menunggu sendirian di sini. "Iya, aku tunggu di sini aja."
"Ya udah, aku cuma sebentar kok..." Mutiara langsung berlari, sepertinya dia sudah tak tahan lagi.
Vin-vin terkekeh sambil menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu.
"Eh, Axel!" Teriak Vin-vin saat melihat sosok Axel berjalan tak jauh darinya duduk.
Axel menoleh dan tersenyum, lalu dia berjalan mendekati Vin-vin.
"Lagi nunggu Mutia?"
Vin-vin mengangguk, "sini duduk sini." Vin-vin menepuk-nepuk bangku kosong di sampingnya.
"Aku harus ke ruang guru..." jawab Axel.
"Ada masalah apa?" tanya Vin-vin khawatir.
"Nggak ada apa-apa kok, cuma mau ngumpulin tugas aja," jawab Axel sambil menunjukkan beberapa lembar tugas.
"Oh... aku kira ada apaan," Vin-vin mendesah lega.
Tiba-tiba ada beberapa siswa dan siswi berlarian menuju lapangan basket sambil berteriak-teriak membuat Vin-vin dan Axel terkejut.
"Ada apaan Xel?"
Axel menggeleng tanda tak tahu.
"Ayo kita lihat!" Vin-vin langsung menggandeng tangan Axel dan mengajaknya pergi ke lapangan basket.
"Woi! Vin! kemana?!" Mutia yang baru keluar dari toilet langsung berlari mengejar Vin-vin.
"Tungguin dong!" kesalnya.
Di lapangan basket ternyata sudah banyak siswa yang berkerumun, Vin-vin, Axel dan Mutia yang penasaran akhirnya menerobos kerumunan dan akhirnya mereka bertiga bisa melihat kejadian yang membuat semua orang berkumpul.
Di tengah lapangan basket, ada dua orang siswi yang bertengkar bahkan rambut mereka sampai acak-acakan, dan herannya lagi dari sekian banyak orang tak ada satupun yang melerai.
Vin-vin langsung berjalan mendekati dua siswi yang sedang berselisih itu, mencoba menghentikan mereka berdua.
"Vin! jangan! ntar kamu kena pukul juga!" cegah Mutia namun tak diindahkan oleh Vin-vin.
Mana bisa Vin-vin diam melihat orang bertengkar di depannya, apalagi sesama murid! sungguh tak masuk akal!
"Berhenti kalian!" Teriak Vin-vin sambil menarik salah satu murid.
Namun sayang, murid yang satunya sedang mengangkat tangan hendak memukul. Bukan Vin-vin sasarannya namun karena Vin-vin tiba-tiba berdiri di depannya, bogem mentah itu otomatis mengarah ke pipi chubby nya.
"Vin-vin!!!" teriak Mutia kaget.
Vin-vin yang tak bisa mengelak lagi hanya bisa memejamkan matanya, untunglah Axel sigap dan langsung menangkis pukulan itu.
"Berhenti kalian berdua!" geramnya.
"Kenapa bertengkar dengan teman sendiri! memalukan sampai di tonton seperti ini!" Axel menghempaskan tangan yang tadi hendak memukul Vin-vin.
"Ini semua gara-gara dia!" teriak salah satu cewek.
"Enak aja! semu ini gara-gara Lo! ngapain Lo ganjen! Pak Daniel itu milik gue! kami udah jadian!" balas cewek satunya.
"Halu Lo! Pak Daniel itu sudah nembak gue tiga hari yang lalu!"
"Apa!" Semakin emosi, mereka hampir saling pukul lagi.
"Berhenti! ke ruang guru sekarang juga!" teriak Bu Yosephine yang baru saja muncul karena melihat keributan di lapangan basket.
Axel langsung menarik Vin-vin menjauh, "kita jangan ikut campur," bisiknya sambil mengajak Vin-vin menjauh.
Vin-vin mengangguk dan mengikuti Axel.